Celana merah jambu

Celana merah jambu
Tamu tak di undang


__ADS_3

Suara ketukan pintu di kamar kost dari luar membuat Alya yang pagi itu masih bermalas-malasan di atas ranjangnya karena weekend dan tidak harus pergi ke kantor, dengan terpaksa beranjak dari tempat tidur nyamannya, dan berjalan ke arah pintu.


Begitu pintu di buka tampak Yuni sedang berkacak pinggang di depan pintu dengan wajah tidak bersahabat dengan di temani Hana yang berdiri di belakang tubuh wanita setengah baya itu seakan memperlihatkan pada Alya kalau ibu mertuanya kini sudah berhasil dia kuasai dan berada di pihaknya sekarang ini.


Namun Alya tak memperlihatkan rasa keterkejutannya sedikitpun, dia tetap terlihat tenang dan santai.


"Bu, apa kabar, kok bisa sampai ke sini," Alya berbasa basi, lantas pandangannya beralih ke arah Hana yang berdiri sambil terdiam di belakang punggung Yuni, "Owalah,,, Ivan ini keterlaluan, lagi weekend begini masa masih menyuruh sekretarisnya kerja, padahal Ivan bisa lho telpon Alya suruh jemput ibu kalau ibu pengen ketemu." Sambung Alya lagi dengan cueknya.


Tak ayal perkataan Alya yang sedikit banyak merendahkan Hana, membuat kekasih gelap Ivan memutar bola matanya dengan sinis, bagaimana bisa Alya mengira kalau kedatangannya itu karena dia di suruh mengantar Yuni oleh Ivan, apa sekacung itu dirinya di mata Alya? Kesalnya.


"Cih, jadi ini alasan mu minggat dari rumah, agar bisa bermalas-malasan, bangun siang, benar kata Ivan, kau itu terlalu sombong, di tawari kehidupan enak di rumah yang mewah, kau malahmemilih hidup miskin, seperti ini, mana sekarang bekerja hanya sebagai karyawan rendahan, pula. Itulah karmanya jika tidak menurut perkataan suami!" Oceh Yuni sambil me;angkah masuk ke dalam kamar kost sempit yang kini di tempati Alya, dia dan Hana bahkan sempat saling melempar pandangan sambil tersenyum merendahkan.


"Alya punya alasan sendiri kenapa keluar dari rumah itu, dan untuk kehidupan Alya yang sekarang ini, meski di mata orang lain mungkin kehidupan Alya menyedihkan, tapi buat Alya ini nyaman dan membahagiakan, lagi pula Alya bukan minggat dari rumah itu, tapi karena ada invasi besar-besaran di rumah itu yang membuat Alya tidak nyaman dan memilih pergi." Sindir Alya.


"Apa maksud mu mau mengatakan kalau aku menginvasi rumah kalian? Aku datang ke sana karena permintaan anak ku, lagi pula itu rumah anak ku, kenapa aku tidak boleh datang ke sana?" Sewot Yuni.


"Alya tidak melarang, silahkan, benar kata ibu, meskipun rumah itu di dp dari uang Alya penuh, namun Ivan beberapa kali ikut mencicil KPR-nya, jadi gak begitu salah-lah jika itu di katakan rumah Ivan juga." Nyinyir Alya sengaja mengatakan itu semua agar Hana tahu jika apa yang di miliki Ivan bukanlah sepenuhnya milik kekasihnya itu.


Yuni tak bisa berkutik untuk menanggapi ucapan Alya yang memang sepenuhnya benar, meskipun itu secara tidak langsung menjatuhkan harga diri Ivan di depan Hana.


"Aku datang ke sini untuk memberi tahu mu, Hana hamil." Kata Yuni to the point.

__ADS_1


"Oh ya? Selamat! Lantas, kenapa ibu harus repot-repot memberi tahukannya pada ku?" Ucap Alya dingin.


Perkataan Alya masih menujukkan ketenangannya meski jauh di dalam hatinya ada gemuruh bagai tsunami yang memporak porandakan semua kehidupannya, inikah kisah akhir rumah tangganya? Jeritnya perih di dalam batin.


"Ini anak mas Ivan," lirih Hana akhirnya membuka suaranya.


"Kau harus terima, Hana bisa memberikan Ivan sesuatu yang tidak bisa berikan, kamu kalah, kamu harus merelakan Ivan bersama Hana dan anak mereka." Perkataan itu seolah bukan keluar dari mulut perempuan, tega-teganya Yuni mengatakan hal semenyakitkan itu, dia lupa kalau Alya pernah menjadi menantu kesayangannya, yang selalu di puja pujinya karena jabatan yang bagus, uang yang selalu lancar mengalir padanya, namun kini seolah semua itu tidak pernah terjadi, dengan mudahnya kini dia memuja Hana yang bisa memberi mereka anak di luar pernikahan.


"Bu, sekarang Alya tidak penasaran lagi, dari mana sifat Ivan yang gampang berpaling dari satu hati ke hati yang lain menurun, rupanya gen ibu cukup kuat menurun pada Ivan, mudah berpaling, dan bermuka dua!" Sekuat-kuatnya Alya menahan, dia manusia biasa juga yang tetap bisa merasa marah juga.


"Kurang ajar, kau berani mengatai ibu mertua mu?" Yuni membelalak.


"Bu, aku tidak pernah merasa sedang berkompetisi dengannya, sehingga ibu tidak berhak untuk menyatakan kalau aku menang atau kalah, karena ibu juga bukan juri dalam rumah tangga ku, aku menghormati dan menyayangi ibu selama ini, bahkan sampai detik ini, meski aku tau kalau ibu bermuka dua, di depan ku ibu seolah menjadi ibu mertua yang menyayangi ku, padahal di belakang ku ibu mendukung perselingkuhan Ivan dan dia, bukankah selama ini aku diam bu? Apa pernah aku mengungkapkan ini sebelumnya? Itu semata karena aku masih menghormati ibu, tapi maaf, sabar ku juga berbatas, kalian semua keterlaluan." Alya beralih menatap tajam ke arah Hana.


"Jika kau pikir aku wanita bodoh yang tidak tau apa-apa tentang hubungan kalian, kau salah besar, aku hanya sengaja diam, bahkan saat kau dengan sengaja ingin menunjukkan hubungan kalian pada ku dengan barang-barang pribadi mu yang sengaja kau tinggalkan di mobil Ivan, bagi ku kau bukan masalah besar, karena godaan wanita gatal seperti mu akan selau ada dalam rumah tangga, yang menjadi masalah bagi ku, suami ku tergoda atau tidak? Jika tidak tergoda, aku yang akan menyingkirkan mu, tapi jika suami ku tergoda, maka aku yang akan menyingkirkan dia dari hidup ku." Tegas Alya, membuat Hana meradang dan ingin menampar wajah Alya karena tidak terima di katai sebagai wanita gatal penggoda, walaupu itu memang kenyataannya.


Namun seketika, keadaan menjadi kacau karena Yuni tiba-tiba tak sadrkan diri, sepertinya penyakit darah tinggi wanita paruh baya itu kambuh akibat dia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


"Bu, ibu!" Panik Alya.


Yuni segera di bawa ke rumah sakit oleh Alya dengan di bantu Darma, karena Alya tidak kuat menggendong tubuh subur mertuanya itu untuk masuk ke dalam mobil, sementara Hana menumpang dan mengikutinya ke rumah sakit, karena tadi mereka datang ke tempat kost Alya menggunakan taksi online.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Ivan yang sepertinya di hubungi oleh Hana tiba di rumah sakit, dia lantas langsung mendekati Hana dan menanyakan apa yang terjadi pada ibunya, dia bahkan memeluk tubuh hana yang tiba-tiba menagis saat Ivan datang dan mendekat padanya, tanpa Ivan sadari kalau ada Alya berdiri di sudut lainnya di depan ruang UGD tempat Yuni kini di tangani menatap perih pria yang masih berstatus suaminya dan semalam saja masih mengatakan kalau dia masih mencintainya dan masih ingi mempertahankan rumah tangga mereka, namun pagi ini justru terang-terangan memeluk wanita lain tepat di depan matanya.


Pintu kamar UGD yang memiliki kaca tembus pandang berukuran 20X20 cm itu kini menjadi tempatnya mengalihkan pandangan dari Ivan dan Hana yang dengan mesranya berpelukan, berpura-pura mengintip ke dalam ruangan di mana tempat Yuni sedang di tangani kini.


Hingga pintu ruangan itu terbuka, dan Ivan mendekat ke sana untuk menayakan keadaan ibunya, namun betapa tersentaknya Ivan kala dia melihat Alya berdiri di depan pintu itu tanpa dia sadari, karena sejak datang ke sana, selain fokusnya pada kesehatan ibunya, dia juga langsung di hadang oleh Hana yang terisak dan seperti ketakutan.


"A-Alya," cicit Ivan, dia kini bertanya-tanya dalam hatinya apakah Alya melihatnya memeluk Hana tadi? Dan kenapa Alya ada di sini, karena Ivan tidak tau kejadian yang sebenarnya kalau itu terjadi saat Yuni dan Hana mendatangi Alya ke tempat kostnya.


"Bagaimana keadaan ibu mertua saya," Tanya Alya, mengabaikan kehadiran Ivan yang alih-alih menayakan keadaan ibunya tapi malah bengong menatap kehadirannya di sana.


"Ibu anda sudah stabil sekarang, namun masih perlu pemantauan dari kami." Jawab dokter itu.


Mendapat jawaban seperti itu, Alya segera menjauh dari sana dan bergegas untuk meninggalkan rumah sakit, namun Ivan mengejarnya.


"Alya tunggu!"


Alya menghentikan langkahnya, tepat di depan Hana kini berada.


"Apa yang terjadi, kenapa kamu ada di sini juga?" Tanya Ivan bingung.


"Sebaiknya kamu tanyakan pada ibu dari calon anak mu ini, dalam rangka apa dia membawa ibu mu ke tempat kost ku?" Jari telunjuk Alya mengarah ke Hana yang kini gelagapan dan terlihat menjadi serba salah.

__ADS_1


__ADS_2