
"Lama banget ya, kita gak liburan tipis-tipis gini," Celoteh Ivan saat mereka berada di sebuah cottage di daerah Puncak.
Alya terpaksa mengikuti keinginan suaminya itu untuk pergi ke sana, sebenarnya Alya malas sekali untuk pergi berdua dengan Ivan, apalagi setelah dia tahu tentang kedekatan Ivan dengan beberapa wanita di belakangnya, apalagi kalau ingat celana merah jambu itu, mual rasanya melihat wajah Ivan yang di matanya kini tak lebih dari seorang bajingan pemain wanita itu, namun mengingat betapa beberapa hari terakhir ini dirinya juga merasa stress dengan tekanan pekerjaan kantor dan masalah rumah tangganya yang terpaksa dia simpan sendiri membuatnya berpikir kalau tidak ada salahnya jika dirinya ikut pergi dengan suaminya itu untuk relaks sejenak, mengumpulkan energi, karena setelahnya Alya yakin masalah yang akan dia hadapi lebih besar dan lebih menguras energi lagi dari pada sekarang ini.
"Van, ponsel mu terus berbunyi, tuh!" Ujar Alya sambil menunjuk ke Arah ponsel Ivan yang tertelungkup di meja namun terlihat menyala dan bergetar sejak mereka dalam perjalanan ke tempat itu.
"Biar saja, itu orang kantor, aku sedang ingin menikmati kebersamaan kita tanpa di ganggu urusan kantor atau urusan apapun juga selain kita." Ivan merangkul bahu Alya dan merapatkan tubuh istrinya itu ke dadanya.
"Angkat, barangkali ada penting." Alya sudah mulai curiga dengan gelagat canggung Ivan, namun suaminya itu tak bergeming dia keukeuh untuk tidak mau menerima panggilan selama mereka liburan berdua,
Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Alya, ternyata dari Utari, "Dimana? Aku ke rumah mu tapi gak ada orang, mau nganter kue selamatan pindahan." begitu kira-kira isi pesan yang di kirim Utari padanya.
Akhirnya Alya menelpon Utari dan mengatakan kalau kini dirinya sedang berlibur dengan Ivan di daerah puncak, dan dia meminta maaf karena tidak bisa menemui temannya yang tiba-tiba datang secara dadakan tanpa mengabari terlebih dahulu itu.
"Katanya ngajakin aku liburan biar aku gak bete, kok kayaknya sekarang malah kamu yang terlihat suntuk dan gak antusias sama liburan kita?" Protes Alya, karena melihat wajah Ivan yang terus di tekuk sejak beberapa jam yang lalu setelah dia menerima telepon entah dari siapa, karena Ivan memilih menjauh darinya saat dia berbicara dengan orang yang menelponnya itu.
"Gak apa-apa, hanya ada sedikit masalah di kantor," kilah Ivan.
**
Senin pagi Alya sudah di panggil ke ruang atasannya, namun kali ini yang memanggilnya bukan Pak Joko, atasannya secara langsung, melainkan bos besarnya yang sampai saat ini, selama tiga tahun bekerja dia belum pernah bertemu dengan atasannya itu, karena ruang kerja bosnya itu berada di gedung paling atas bangunan kantornya, dan tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan pimpinan tertinggi PT Salim Grup itu, satu-satunya yang dia tahu hanya nama atasannya itu bernama Surya Salim , sementara seperti apa rupa bos besarnya itu pun, Alya sama sekali tidak tahu.
Ini pertama kalinya Alya menginjakan kaki di lantai 35, temat bos besarnya bekerja, dimana hanya para eksekutif dan jajaran direksi saja yang di izinkan datang ke ruangan itu, akuntan seperti dirinya meskipun di divisi keuangan menjabat sebagai kepala bagian, masih jauh untuk berinteraksi langsung dengan bos besar di perusahaan mereka.
Seorang pria berusia sekitar 30 tahunan yang berdiri di depan pintu kayu tinggi mengangguk dengan sopan saat Alya melangkah ke arahnya,
"Bu Alya? Silahkan, bos sudah menunggu anda di dalam." Ujar pria itu membuka pintu seraya mempersilahkan Alya untuk masuk ke ruangan itu, Alya mengangguk sambil melempar senyum tanda kesopanannya, lalu melangkah masuk.
"Anda masih bisa tersenyum, setelah kesalahan fatal yang anda ciptakan?" Tegur seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya dengan mata menyalang tajam ke arah Alya.
Sungguh dalam bayangan Alya kalau Salim itu adalah seorang pria tua yang ramah dan baik hati, namun siapa kira jika bos besarnya itu ternyata masih muda, kalau Alya tebak umurnya paling tak jauh dari dirinya yang kini menginjak usia 25 tahun itu, dan satu lagi meski bos besarnya itu sangat tampan, namun kesan pertama yang Alya dapat darinya sungguh menutupi ketampanannya, wajah tampan dan tubuh atletisnya yang di balut kemeja slim fit berwarna biru muda itu tiba-tiba menjadi tidak ada apa-apanya karena baru saja datang, Alya sudah mendapat kata-kata panas dari bibir atasannya itu.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak Surya, maaf saya tidak mengerti dengan maksud ucapan bapak barusan." Merasa tidak melakukan kesalahan seperti yang bosnya tuduhkan, Alya dengan berani membela dirinya, sambil tetap berusaha sopan dengan mengucapkan salam dan menyapa atasannya itu.
"Tidak usah berbasa basi, Anda yang di tugaskan Joko untuk mengaudit JT grup, bukan?" Tanya nya, yang lantas di angguki oleh Alya, "Anda tahu kalau itu proyek rahasia dan tidak boleh bocor ke karyawan JT?" Lanjut bosnya itu berapi-api.
"Saya tahu sejak awal, dan saya tidak pernah mencertitakan masalah tugas ini pada siapapun." Sanggah Alya yang memang tidak merasa menceritakan masalah ini pada siapapun kecuali pada kedua asistennya yang memang membantu nya selama menjalankan tugas mengaudit JT, selain itu dia tidak pernah menceritakan pada siapapun, dia juga yakin kalau Dinda dan Utari akan sangat menjaga kerahasiaan tugas ini, karena dirinya sudah sangat mewanti-wanti pada keduanya.
"Lantas bagaimana ceritanya cerita audit ini menjadi rumor di kalangan karyawan JT? Bahkan pihak mereka menuntut ganti rugi pada kita karena rumor itu telah menyebabkan beberapa klien besar mereka mundur dan berhenti bekerja sama." Tekan bosnya sambil mengurut keningnya sendiri, sepertinya dia terlihat sangat tertekan dengan masalah ini.
"Maaf Pak Surya, kenapa bapak harus menuduh saya, sementara yang tahu masalah audit ini ada Pak Joko dan juga kedua asisten saya, ini tidak adil jika tuduhan bapak langsung mengarah pada saya." Sangkal Alya melakukan pembelaan diri.
"Tapi penyebar rumor di JT adalah Manajer pengadaan barang yang baru, yang bernama Ivan Kusuma, seharusnya anda kenal dan sangat kenal siapa dia?"
Pertanyaan atasannya itu terdengar bak petir di siang bolong, bagaimana bisa Ivan berbuat seperti itu, sementara dirinya tidak pernah memberi tahu Ivan tentang masalah Ini, bahkan saat Ivan bertanya padnya mengenai Audit yang di lakukannya itu, dia tetap tutup mulut.
"Dia memang suami saya, tapi saya tidak pernah bercerita tentang masalah itu pada suami saya, saya bisa memisahkan antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi." Tampik Alya.
Brak,
"Marcel, keributan apa yang di buat JT grup sampai membuat ku merasa terganggu, apa kau tak becus menanganinya sampai-sampai JT terus menghubungi ku?" Teriak pria setengah baya yang menyerobot paksa masuk ke ruangan itu langsung menggebrak meja sampai-sampai Alya terjingkat kaget.
Eh, tapi tunggu, pria setengah baya itu memanggil pria yang tadi berdebat dengannya itu dengan sebutan Marcel? Apa Alya tidak salah dengar?
"Maaf, Marcel?" Alya mengernyit sambil bergumam.
"Ini siapa lagi, keadaan sedaang kacau seperti ini kau malah membawa wanita tidak jelas dan berduaan di ruangan mu pagi-pagi begini?" Pria tua itu membelalakan matanya ke arah Alya.
"Eh, siapa yang anda maksud wanita tidak jelas itu?" Alya membalas pelototan pria tua itu karena tidak terima dengan tuduhan pria itu padanya.
"Kau, siapa lagi? Apa ada wanita lain di ruangan ini?" Sembur pria tua itu.
"Tuan Surya, ini bu Alya, akuntan perusahaan kita," terang pria yang tadi berjaga di depan pintu ruangan itu menjelaskan.
__ADS_1
"Kau pacaran dengan akuntan perusahaan kita?" Oceh pria yang di panggil dengan nama Surya itu.
"Sebentar-sebentar, ini tuan Surya, lantas siapa ini?" Tunjuk Alya pada pria yang di panggilnya pak Surya sejak tadi, merasa dirinya telah berbincang dengan orang yang salah dan membuang-buang energinya sejak tadi.
"Ya, aku Surya Salim, dan ini putra ku Marcelino Salim, kenapa?" Ujar pria galak itu.
Ah, pantas saja, mereka sangat cocok sebagai ayah dan anak, sama-sama temprament, dan tukang menuduh, tapi tunggu, bukankah ini berarti sejak tadi dia salah mengenali dan memanggil nama, lantas kenapa pria bernama Marcel itu diam saja tidak protes saat dirinya memanggil dengan nama ayahnya? Apa dia sedang sengaja berpura-pura berperan sebagai Surya Salim?
"Mohon maaf, sebelumnya saya ingin bertanya, saya harus meluruskan tentang masalah Audit ini pada siapa? Pak Surya atau Pak Marcelino? Karena saya hanya akan berbicara dengan direktur utama Salim grup saja, bukan yang lain." Pagi-pagi di suguhi rentetan peristiwa yang menguji kesabarannya, ternyata membuat Alya tidak sabaran juga, kesabarannya habis, peduli setan dengan jabatan dua pria yang ada di hadapannya ini, mereka sudah lebih dahulu mengusiknya.
"Aku direktur utama perusahaan ini," ucap Marcel dengan tegasnya.
"Tapi aku ayah mu, aku juga pendiri perusahaan ini."Surya tak mau kalah.
Perdebatan ayah dan anak itu membuat Alya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak akan mampu jika berbicara dengan dua pria yang emosinya meledak-ledak seperti itu, menghadapi satu dari mereka saja kepalanya seperti mau meledak.
"Sebaiknya anda berdua selesaikan masalah keluarga anda sterlebih dahulu, saya permisi," Pamit Alya.
"Tunggu! Aku baru pernah melihat karyawan berani seperti mu, jujur saja, setelah selama satu tahun ini aku pensiun dan menyerahkan perusahaan pada anak ku, aku merasa dia tidak becus dalam menangani perusahaan, begini saja, jika kalian bisa menyelesaikan masalah JT grup ini, aku berjanji aku tak akan ikut campur lagi masalah perusahaan, dan sepenuhnya aku percayakan pada mu Marcel, jadi, silahkan kau bekerja sama dengan akuntan ini untuk menyelesaikan masalah ini." Pungkas Surya.
"Kenapa harus saya?" Tanya Alya.
"Karena kau yang menyebabkan masalah ini terjadi, karena mulut mu yang tidak bisa menjaga rahasia."Tuduh Marcel.
"Pak, saya sudah katakan sejak tadi, kalau saya tidak melakukan apa yang bapak tuduhkan," Suara Alya sudah terdengar bergetar karena dia terus di tuduh melakukan hal yang tidak dia lakukan.
"Kalau begitu, buktikan! Cari siapa yang membocorkan masalah ini pada suami mu, maka aku tak akan percaya dengan ucapan mu." Tantang Marcel.
"Saya akan membuktikannya! Permisi." Pamit Alya dadanya terasa sesak dengan masalah demi masalah yang datang padanya seakan tiada habis-habisnya,
'Cobaan apa lagi ini, Tuhan?' Jeritnya dalam hati.
__ADS_1