
"Kenapa sih, cemberut aja, mas?" Tanya Alya saat kekasihnya itu datang untuk menemuinya di firma.
"Kenapa harus pura-pura putus segala? Lagian kenapa aku harus menuruti kemauan Sita mengakui anak yang gak jelas bapaknya itu?" Protes Marcel merajuk. Apalagi saat dia tahu kalau Alya berniat tinggal sendiri untuk sementara waktu di sebuah rumah kontrakan demi memuluskan sandiwara perpisahannya.
"Kenapa gak tetap tinggal di apartemen saja, sih! Lagi pula Sita tidak tahu mengenai apartemen milik ku itu, apa kamu gak tahu kalau aku khawatir jika kamu harus hidup sendirian." Sambung Marcel lagi mengeluarkan semua unek-unek yang memenuhi dadanya.
"Mas, bukankah kita sudah sepakat? KIta harus melakukan ini semua jika kita berniat akan ke jenjang yang lebih serius dalam hubungan kita ini. Aku tidak mau jika esok atau lusa mantan istri mu itu menjadi duri dalam hubungan kita. Aku hanya ingin semuanya jelas dan tau apa yang di inginkan mbak Sita sebenarnya, aku mencintai mu, sangat ingin hidup tenang dengan mu setelah kita menikah nanti, jadi tolong bersabar melalui prosesnya." Urai Alya meminta pengertian dari Marcel.
Mungkin bisa di katakan Alya terlalu paranoid dengan sebuah hubungan, sehingga dia ingin memastikan kalau rumah tangga yang akan di jalaninya dengan Marcel kelak harus di pastikan baik-baik saja dari awal, saat ini dia merasa curiga kalau Sita akan menjadi 'ulat' dalam hubungan rumah tangga nya kelak dengan Marcel, tentu saja Alya tidak ingin kecolongan dan membiarkan seolah tutup mata dan megabaikan kecurigaannya yang bisa saja akan menjadi masalah fatak bagi dirinya dan Marcel kelak.
Pernah mengalami kegagalan dalam sebuah hubungan pernikahan memang tidak membuat Alya menjadi anti pati terhadap sebuah ikatan pernikahan, hanya saja kini dia menjadi lebih berhati-hati saat akan memulainya kembali, terserah orang akan mengatakan apa atas sikapnya ini, lebay atau parnoan atau apapun juga terserah, dia hanya ingin prepare untuk hubungan yang lebih baik dari sebelumnya, dia tidak trauma dalam sebuah pernikahan, namun demikian dia juga tidak ingin mengulang kegagalan dalam kembali dalam kehidupan percintaannya. Meskipun tentu saja takdir ada di tangan Tuhan, tapi bukankah kita juga harus tetap berikhtiar untuk takdir baik diri kita sendiri?
__ADS_1
"Hari ini aku di minta Pak Haryanto untuk datang ke kantor, katanya dia ingin membicarakan hal penting dengan ku." Kata Marcel sesaat setelah dia membaca satu pesan yang masuk ke ponselnya yang ternyata itu di kirim oleh mantan mertuanya, Haryanto.
Marcel memang sudah mengundurkan diri dari perusahaan dan menyerahkan jabatannya pada Haryanto, sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan, dia berhak untuk memilih siapapun untuk menggantikan posisinya, namun kabarnya sampai saat ini belum ada satu pun yang di tunjuk Haryanto untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin di perusahaan itu.
Sementara Salim yang memang sejak awal sebagai pendiri perusahaan, meskipun dia berulang kalai mengajukan diri untuk kembali memimpin menggantikan posisi putranya yang kini bahkan sudah tidak dia akui sebagai putra lagi akibat Marcel yang nekat bercerai dengan Sita dan meninggalkan perusahaan, pengajuan dirinya itu selalu di tolak oleh Haryanto yang sepertinya menyimpan rasa kecewa yang teramat mendalam pada sahabatnya itu akibat perceraian putra putri mereka.
"Bagaimana jika mantan mertua mu itu meminta kamu untuk kembali bekerja di Salim grup?" Tanya alya tiba-tiba.
"Apapun keputusan mu, aku akan selalu mendukung mu, mas.Temui saja mantan mertua mu itu, siapa tahu memang benar-benar ada hal penting yang ingin di katakan pada mu, mungkin kamu akan di minta untuk menikah kembali dengan putrinya!" Ledek Alya seraya tertawa mengejek sambil menjulurkan lidahnya ke arah Marcel.
"Ish, awas saja kamu jangan menangis kalau aku menerima tawaran untuk menikahinya kembali, apa kamu siap kehilangan aku?" Balas Marcel menggoda Alya yang langsung melemparkan tatapan tajam pada kekasihnya itu.
__ADS_1
"Tidak, dan tidak akan pernah siap. Aku juga tidak akan membiarkan siapapun mengambil mu dari ku." Alya berhambur memeluk Marcel yang tersenyum haru melihat akhirnya dia bisa tahu jika cintanya pada Alya tidak bertepuk sebelah tangan, selama ini Alya tidak pernah secara terang-terangan menunjukkan rasa cinta padanya, namun kali ini dia melihat dan merasakan secara langsung betapa Alya mencintainya.
"Aku pikir, kamu tidak benar-benar mencintai ku, kamu seperti tidak pernah terlihat cemburu dan kamu seperti sangat jauh dan tinggi untuk aku raih. Aku bahagia merasa di cintai dan di inginkan oleh mu." Kata Marcel membalas pelukan erat kekasihnya seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
**
Di sinilah Marcel berada kini, di perusahaan Salim grup, untuk memenuhi undangan pertemuan Haryanto.
Jujur saja Marcel agak sedikit terkejut saat ternyata tidak hanya ada mantan mertuanya saja di ruangan yang dulunya pernah menjadi ruang kerjanya itu, namun ada Sita yang juga sedang duduk di sofa, sepertinya dia juga sedang menunggunya, karena wajahnya langsung terlihat sumringah saat melihat kedatangannya di sana.
"Aku tidak ingin bertele-tele, aku hanya ingin memastikan, apa benar bayi yang ada di dalam perut putri ku kali ini adalah darah daging mu?" Tanya Haryanto yang tidak ingin membuang waktu dengan berbasa basi dalam pertemuan kali ini dengan Marcel dan Sita.
__ADS_1
Mendapat todongan pertenyaan seperti itu, tentu saja membuat Marcel kelabakan dan kebingungan harus menjawab apa, dia juga tidak tahu apa alasan dan tujuan Sita mengatakan hal itu pada ayahnya.