
Alya sungguh ingin melepaskan sejenak permasalahan rumah tangga yang menurutnya sangat membebani dirinya dengan sangat berat itu, namun nyatanya sekuat apa dia mencoba, tetap saja itu mengganggu fokusnya.
Marcel meminta Alya untuk bertemu dengannya di sebuah kawasan perkantoran untuk meninjau sebuah ruko yang di janjikan Marcel untuk di jadikan kantor akuntan Alya, sebelumnya Alya sempat ragu ketika membayangkan harus memulai usahanya sendiri, sementara dirinya belum pernah punya pengalaman membuka bisnis dirinya sendiri, hanya saja Marcel yang seorang pengusaha secara turun temurun dan lebih berpengalaman di bidang itu, mampu meyakinkan Alya kalau dia akan membantu Alya.
Dalam memulai kariernya pun, Alya tidak di lepas begitu saja, Marcel tetap menjadikan Alya sebagai akuntan eksternal bagi perusahaannya, karena bagaimanapun, tentu saja dia tidak akan percaya dengan pekerjaan Utari yang menggantikan posisi Alya itu.
"Apa keluarga bapak tau kalau bangunan ini akan di pakai oleh saya?" Tanya Alya khawatir, bangunan ruko yang kini sedang di lihatnya itu sangat jauh dari bayangan tentang bentuk ruko yang ada di kepalanya. Jika dia membayangkan itu hanya senuah bangunan dua lantai sederhana, layaknya ruko-ruko yang sering dia lihat, ternyata bangunan ini justru lebih pantas di sebut bangunan perkantoran, banngunan tiga lantai itu bahkan sudah terisi segala perabot kebutuhan kantor seperti meja, kursi, lemari dan rak yang kesemuanya masih terlihat baru.
"Ini bangunan milik pribadi aku, yang aku beli saat aku kuliah dulu, keluarga ku tidak ada yang tau tentang tempat ini, lagi pula, anggap saja ini bisnis rahasia ku yang join dengan mu, aku juga ingin membuktikan pada ayah ku kalau aku bisa sukses tanpa bantuan darinya, semoga bisnis kita ibi lancar dan sukses, ya!" Urai Marcel.
"Anda seharusnya merasa bersyukur, masih punya ayah yang mau mendukung dan memperhatikan anda, kalau sudah yatim piatu seperti saya ini, saat merasa sedih dan butuh dukungan hanya bisa merasakannya sendirian, tidak ada keluarga untuk tempat pulang dan berbagi cerita," Alya tersenyum perih.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk mengungkit masalah orang tua mu!" Sesal Marcel karena merasa telah membuat Alya bersedih karena teringat orang tuanya yang sudah berpulang.
"Tidak apa, Pak. Nikmatilah kecerewetan orang tua kita, kebawelanya, karena suatu saat, hal itu akan sangat di rindukan ketika mereka sudah tidak bersama kita lagi, karena di balik itu semua, mereka lah yang paling tulus menyayangi kita dalam kondisi apapun."Mata Alya berkaca-kaca saat mengingat dirinya kini benar-benar sebatangkara, menghadapi permasalahan yang membelitnya dan juga orang terkasihnya yang kesemuanya menghianatinya, tidak ada belaian lembut ibu yang menenangkan nya, tidak ada pelukan ayah yang menguatkannya, tidak ada bahu orang tercinta untuknya bersandar, dia sendiri.
"Yah,,, melow deh, makan dulu aja yuk, ada kedai mie dekat sini yang enak banget, ayo!" Ajak Marcel, tak ingi Alya larut dalam kesedihannya, namun dia juga tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam permasalahan Alya, bagaimana pun dia harus menjaga jarak, Alya masih mempunyai suami, saat ini.
"Saya tidak lapar!" Tolak Alya, dia memang kehilangan nafsu makannya sejak masalah-masalah itu datang membelitnya.
"Apa kau sengaja mogok makan, agar kau sakit dan suami mu merasa bersalah?" Tuduh Marcel.
"Saya tidak selemah dan se-picik itu. Saya hanya sedang tidak ingin makan saja." Elak Alya, menepis tuduhan Marcel.
"Jangan merusak hidup mu untuk orang yang bahkan berbahagia setelah melukai hati mu dan menghancurkan hidup mu." Kata Marcel seraya berjalan ke luar gedung yang lantas di buntuti Alya dari belakang.
__ADS_1
Kata-kata Marcel barusan membuat hati Alya sedikit tersentil, Benar kata Marcel, betapa bodohnya dirinya yang merusak waktu tidur dan menghilangkan selera makan hanya karena memikirkan masalah rumah tangganya, sementara di luaran sana mungkin saja Ivan sedang tersenyum bahagia memeluk raga wanita lain, masih merasakan tidur nyenyak dan menikmati makanan enak sepuasnya tanpa sedikitpun memikirkan dirinya.
"Rekomendasikan pada saya menu paling favorit di sini, pak!" Ujar Alya sambil membolak balik buku menu di meja kedai mie yang letaknya tak jauh dari gedung yang akan di jadikan tempat nya merintis usaha.
Marcel mengulum senyumnya, sambil menyebutkan nama menu bakmi yang berukuran jumbo yang dia pesan untuk Alya dan dirinya.
"Pak, ini porsi makan untuk tiga orang, saya tidak akan sanggup untuk menghabiskannya." Pekik Alya terbelalak saat seorang pelayan menyodorkan mangkuk berukuran besar berisi mie yang masih mengepulkan bau asap sedap dengan toping sayur dan daging yang menggugah selera.
"Single fighter seperti mu harus makan banyak agar kuat menghadapi kenyataan," Ledek Marcel.
"Wah, kalau makan sebanyak ini, saya yakin akan sangat kuat bahkan sampai sepuluh tahun yang akan datang," Alya terkekeh.
"Aku senang kau masih bisa tertawa, makanlah!" Marcel mengambil mangkuknya dan menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Tertawa? Alya mengernyit, dia bahkan lupa kapan terakhir kali dia tertawa, hidupnya sudah terlalu tegang belakangan ini sehingga dia lupa bagaimana caranya tertawa.
Alya dan Marcel terjingkat kaget sat meja di haapannya di gebrak dengan kencang oleh seseorang.
"Oh, ini ternyata alasan mu meminta cerai dari anak ku? Kau menuduh Ivan berselingkuh tapi ternyata yang bermain serong sesungguhnya adalah kau sendiri, dan seolah-olah menjadi korban di depan kami, pantas saja kau bersikeras ingin pisah, ternyata sudah menemukan pria lain, rupanya!" Teriak Yuni yang berdiri sambil berkacak pinggang di depan Alya dan Marcel yang sedang menikmati makanan mereka, entah kutukan buruk apa yang sedang di alami Alya, baru saja dia menelan makanan beberapa sendok dan menikmatinya, selera makannya harus kembali sirna karena kedatangan ibu mertuanya yang tiba-tiba mencaci dirinya dan Marcel tanpa ampun.
"Bu, Ini---"
"Saya rekan kerjanya Alya." Sambar Marcel saat melihat gelagat Alya yang kebingungan harus memperkenalkan dirinya sebagai siapa.
"Rekan kerja? Dia itu sudah di pecat dari pekerjaannya, pake alasan rekan kerja segala rupa, rekan tidur, barangkali!" Sinis Yuni, tak peduli para pengunjung lain menonton dirinya yang sedang meneriaki Alya, seolah ada rasa kepuasan tersendiri karena berhasil mempermalukan menantunya di depan umum seperti itu.
__ADS_1
"Bu, ayo kita bicara di rumah atau di tempat lain, tak baik jadi tontonan seperti ini." Ajak Alya masih dengan nada halus.
"Kenapa, apa kamu malu kalau semua orang tau kelakuan busuk kamu, dasar wanita tukang selingkuh!" Maki Yuni lagi.
Merasa iba dengan tuduhan Yuni pada Alya dan di permalukan di depan umum seperti itu, Marco sudah berdiri dan hendak membela Alya, namun Alya langsung menahan tangan Marcel,
"Sudah pak, lebih baik kita cari tempat makan yang lain saja." Ajak Alya, dia tidak mau meladeni kemarahan Yuni dan tidak ingin menjadi tontonan orang-orang di sana.
Alya menggeret tangan Marcel untuk segera pergi dari tempat itu, tak peduli suara Yuni samar-samar masih berteriak memakinya.
Setelah meminta maaf pada Marcel, Alya berpamitan untuk pulang, dirinya sudah kembali tidak berselera makan karena ibu mertuanya itu.
**
Baru saja Alya keluar dari mobilnya dan memasuki halaman rumah, Ivan sudah menghadangnya, wajahnya terlihat marah dan mencengkeram lengan Alya dengan kencang.
"Baru pulang selingkuh, kau?" Teriak Ivan, rupanya kemarahannya ini karena Yuni mengadukan apa yang di lihatnya tadi di kedai bakmi.
"Van, lepaskan, ini sakit!" Alya berontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ivan.
"Siapa pria itu?" geram Ivan semakin mengencangkan cengkeramannya.
"Pria mana? Siapa yang selingkuh?" Alya melawan tatapan tajam Ivan tanpa rasa takut sedikit pun.
"Munafik! Kau teriak dengan lantang menuduh ku berselingkuh, ternyata jelas-jelas kau yang bermain api di belakang ku, untung saja Tuhan menunjukkan kebusukan mu itu," Maki Ivan dengan marah.
__ADS_1
"Cukup Van, ini sudah sangat keterlaluan, aku tidak pernah selingkuh, sudah jelas-jelas kau yang menginjak kepala ku, kau dan keluarga mu berkolaborasi membodohi ku, bersekongkol menipu ku, lantas aku masih punya alasan untuk bertahan dalam rumah tangga seperti ini? Setelah kau hancurkan hati ku, memusnahkan harapan ku, dan merusak semua mimpi yang selama ini aku perjuangkan? Cukup Van, mari kita selesaikan ini dengan benar, mari kita berpisah, Tidak ada lagi yang perlu kita pertahankan dalam rmah tangga ini." Tegas Alya.