
Tiga hari berlalu semenjak kejadian di hotel itu tak ada kabar lebih lanjut sama sekali dari Ivan, surat gugatan cerai dari pengadilan yang seharusnya sudah sampai pun sepertinya tidak mendapatkan tanggapan apapun dari pihak Ivan sebagai pihak tergugat.
Begitupun dengan Marcel, sudah tiga hari ini dia tidak pernah lagi datang ke firma, biasanya setiap sore dia mengecek dokumen firma, pun ketika Alya datang ke perusahaan Salim grup untuk melakukan tugasnya sebagai akuntan eksternal di sana yang datang setiap tiga hari sekali untuk menyetorkan laporannya, dia hanya di temui oleh Darma di ruangannya, padahal biasanya dia selalu di suruh untuk datang langsung ke ruangan Marcel untuk menyerahkan laporan-laporan itu.
Sejujurnya dia penasaran dengan apa yang terjadi pada Marcel, apakah dia baik-baik saja? Pria yang biasanya selalu menyempatkan untuk hadir meskipun di sela jadwalnya yang padat baik di firma ataupun di tempat kost milik Darma dimana kini tempat dirinya tinggal kini seakan hilang begitu saja tanpa kabar tanpa berita.
Seperti ada sesuatu yang kurang atau bahkan hilang saat Alya tidak melihat Marcel beberapa hari ini, namun bagaimana pu dia tidak berani menanyakan keberadaan Marcel baik itu pada Darma, apalagi pada Marcel, dia cukup tau dan sadar diri kalau dia bukan siapa-siapanya, hanya saja Alya takut jika menghilangnya Marcel beberapa hari ini, karena Ivan benar-benar melakukan ancamannya, mungkin tidak di ekspose ke media, namun jika foto-foto itu sampai ke tagan istri Marcel, bukan tidak mungkin hal itu akan menjadi permasalahan di dalam rumah tangga mantan bos besarnya itu.
"Ah, Pak Damar, Bapak sendirian?" Tanya Alya, saat Damar datang ke firma malam itu, matanya mencari-cari sosok yang tiga hari ini menghilang dari pandangannya.
"Iya, tadi kebetulan lewat sini dan melihat lampu kantormasih menyala, jadi iseng ngecek." Ujar Damar.
"Ah iya, saya sedang menyelesaikan pengerjaan audit ulang JT grup, oh iya, sepertinya saya akan tidur di sini dan tidak pulang ke kost." Jawab Alya, yang lantas di jawab anggukan Damar tanpa ucapan apapun.
Karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 9 malam, akhirnya Damar berpamitan untuk pulang dan meninggalkan Alya di sana menyelesaikan pekerjaannya.
**
"GImana gimana, apa dia ada di dalam? Sedang apa?" Cecar Marcel saat Damar baru saja masuk ke dalam mobilnya.
Rupanya kedatangannya ke firma kali ini bukanlah ketidak sengajaan seperti alasan yang dia kemukakan pada Alya, namun atas paksaan Marcel yang penasaran karena Alya belum juga pulang ke kost padahal sudah malam, setiap sore Marcel memang diam-diam selalu menunggu dan memperhatikan Alya di rumah Damar yang belakang rumahnya menghadap langsung ke arah tempat kost milik asistennya itu, dan di sanalah biasanya Marcel betah berdiam diri melihat ke arah kamar kost Alya meski kadang dia hanya memandangi pintu kamar Alya yang tertutup.
"Kenapa gak bos samperin aja sih, tanya sendiri. Gengsi amat." Oceh Darma.
Menanggapi pertanyaan asistennya, Marcel hanya melengos sepertinya dia tidak punya jawaban untuk pertanyan Darma itu, atau memang sengaja menghindari untuk menjawabnya.
"Bagaimana bos, apa kita langsung pulang?" Tanya Darma karena Marcel hanya terdiam dengan mata yang terus terkunci ke arah firma yang lampunya masih menyala.
__ADS_1
"Kau pulang dulu, aku masih ingin di sini beberapa saat." Jawab Marcel.
"Maksudnya?"
"Ya kau pulanglah naik taksi kek, ojek, apa kereta atau pesawat, terserah mau mu, ini kan mobil ku," Kata Marcel dengan entengnya.
"Ishhhh, habis manis sepah di buang, udah di tolongin, sekarang malah di usir." Kesal Darma yang hanya bisa menggerutu pelan, karena bagaimana pun Marcel adalah bosnya, mana berani dia mengomel pada bos nya yang tak punya hati itu.
"Ya di buanglah, masa di telen, sudah sana, aku gak mau di ganggu!" Usir Marcel.
Darma yang memang sudah sangat paham dengan tabiat bosnya, hanya bisa patuh dan pasrah, dengan hati yang gondok dia turun dari mobil setelah memesan ojek online sebelumnya untuk pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih, tapi lampu firma masih menyala, sementara Marcel masih betah memperhatikan itu semua dari seberang firma di dalam mobilnya.
Hatinya terus gelisah, apalagi setelah dia lihat ada dua orang berkendara motor berhenti tepat di depan firma dan menggedor-gedor pintu kaca Firma.
Terlihat juga dari balik pintu kaca, Alya sedang berdiri ketakutan sambil memegangi ponselnya, entah siapa yang dia hubungi saat ini.
"Ada apa ini?" Tegur Ivan pada dua preman yang masih menggedor-gedor pintu kaca itu karena Alya tidak membukanya.
"Jangan ikut campur urusan ku, ini wilayah kami, dan kami hanya ingin meminta uang keamanan pada nona yang ada di dalam sana." Tunjuk salah satu preman yang bahkan bicaranya saja sudah terlihat kesulitan akibat terlalu banyak menenggak minuman keras.
"Aku pemilik bangunan ini, aku sudah membayar semua kewjiban ku kepada pengelola gedung di daerah ini setiap bulannya, apa kalian ingin memeras ku?" Lawan Marcel tanpa rasa takut sama sekali.
Ini bukan soal uang, mungkin pera preman itu di beri selembar uang merah saja sudah pergi, namun siapa yang menjamin kalau dia tidak akan datang lagi untuk melakukan hal yang sama dengan yang di lakukannya sekarang ini, mungkin sekarang beruntung karena ada dirinya di dekat firma, bagaimana jika lain kali mereka datang saat Alya benar-benar sendiri, tentu saja itu akan sangat membahayakan Alya, dan Marcel tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Banyak bac-cot kau, cepat berikan kami uang keamanan, kalau tidak, jangan harap para karyawan kantor ini akan merasa nyaman bekerja di sini!" Ancam preman itu sambil mengeluarkan sebilah pisau yang dia sembunyikan di balik pinggangnya.
__ADS_1
Tampak Ayla semakinketakutan menyaksikan semua itu, dia tidak ingin jika Marcel harus terluka atau bahkan lebih parah dari itu karena menolongnya, Alya juga tak habis pikir bagaimana bisa mantan bos nya itu tiba-tiba berada di sana, saat ini.
Berbeda dengan Alya, Marcel sama sekali tidak menunjukkan rasa takutnya sedikit pun, selain dirinya memang menguasai bela diri dengan baik, melawan dua orang preman yang sedang mabuk bukan hal yang sulit baginya, jalan saja mereka sempoyongan, bagaimana mau berkelahi melawan Marcel, sehingga hanya dalam beberapa serangan saja dua preman itu sudah bisa di lumpuhkan dengan mudahnya.
Alya bergegas lari ke luar ruangan dan menghampiri Marcel.
"Bapak baik-baik saja, kan? Bapak tidak terluka?" Alya secara tidak sadar membolak balikan tubuh Marcel dan menelitinya dengan seksama memeriksa apa pria yang lagi-lagi menjadi penolongnya di saat yang tepat itu terluka atau tidak.
"Aku baik-baik saja, tidak terluka sama sekali, mereka yang tidak baik-baik saja sekarang ini." Tunjuk Marcel pada dua preman yang tergeletak di pelataran firma.
"Apa mereka mati?" Tanya Alya dengan pandangan yang kini beralih ke arah dua preman yang sudah tidak berdaya itu.
"Apa kau menyumpahi ku untuk masuk penjara karena membunuh orang?"
"Bu-bukan begitu, mereka seperti tidak bergerak." Cicit Alya.
"Mereka hanya pingsan." Tukas Marcel.
"Bapak kenapa ada di sini?" Pertanyaan yang sejak tadi ingin di tanyakannya itu akhirnya keluar juga.
"Lha, kau sendiri, kenapa tengah malam masih berada di kantor, apa kau tak tau kalau itu berbahaya, bagaimana jika preman itu nekat mendobrak masuk, bagaimana jika ada rampok, bagaiana jika---"
"Alya, kamu baik-baik saja?" Suara pria yang terengah karena sepertinya berlari terburu-buru datang ke sana dan memeluk Alya, membuat Marcel tidak meneruskan kata-katanya karena melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya itu.
"Aku baik-baik saja, Van." Jawab Alya seraya mengurai pelukan Ivan yang terburu-buru datang ke sana karena Alya menelponnya dengan panik, dia tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa tadi, sehingga dia menelpon secara acak, dan ternyata itu nomor Ivan, dia hanya tidak ingin Marcel kenapa-napa dalam melawan dua preman itu, namun ternyata Marcel tak selemah yang dia bayangkan, pria itu dengan mudah melumpuhkan dua preman itu.
Semua kata-kata Marcel seakan tertahan di tengorokannya, membuat dia tidak bisa berkata-kata lagi selain hanya diam tergugu melihat bagaimana Ivan memeluk Alya, dan betapa Ivan masih berarti dalam kehidupan Alya, karena di saat terjepit seperti ini pun, Ivanlah yang Alya hubungi, setidaknya itu yang Marcel pikirkan sekarang ini, apakah saat ini dia sedang berperan sebagai 'sad boy' seperti pecundang di drama--drama?
__ADS_1