
"Kamu pernah selingkuh gak, Van?" Tanya Alya lagi, yang kali ini sukses membuat dahi Ivan tiba-tiba berkeringat saat di todong pertanyaan tak terduga seperti itu.
Tubuh Ivan terlihat kaku dan serba salah, matanya pun terus menghindari tatapan mata Alya yang terus berusaha menatapnya penuh selidik dan penuh keingin tahuan.
"Aku becanda kali van, serius amat. Mana mungkin lah, kamu selingkuh dari aku, kamu kan cinta mati sama aku, ya kan Van?"
Tawa renyah Alya akhirnya mencairkan kembali suasana yang sempat terasa tegang tadi.
"Haha iya lah, mana mungkin aku selingkuh dari kamu, ada-ada aja pertanyaan mu itu, konyol! Ayo tidur, besok aku ada meeting pagi." Ivan tertawa canggung, lantas dia menenggelamkan diri di balik selimut tebalnya, sepertinya Ivan merasa sangat lega karena Alya tidak benar-benar mencurigai dirinya melakukan perselingkuhan, hampir saja dirinya terkena serangan jantung karena saking kagetnya dengan pertanyaan yang di ajukan Alya padanya itu, beruntung ternyata itu hanya sebuah candaan Alya, meski sepertinya caandaan itu membuat Ivan menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak.
**
"Pagi pak, apa bapak memanggil saya?" Sapa Alya, ketika tadi pagi direktur keuangan di perusahaannya memanggilnya untuk menghadap.
Oh iya, silahkan duduk," pimpinan tertinggi divisi keuangan itu mempersilahkan Alya untuk duduk.
"Sebenarnya saya agak ragu menyampaikan tugas ini pada bu Alya, jadi semalam saya mendapat panggilan telepon dari bos besar kalau beliau berniat membeli beberapa persen saham JT grup, dan saya di tugaskan untuk melakukan audit eksternal di sana, sementara menurut saya, orang yang paling berkopenten untuk tugas ini hanya anda, tapi---" Atasan Alya yang bernama Joko itu menjeda ucapannya, pria paruh baya itu terlihat agak bingung bagaimana cara menyampaikan pada Alya untuk mengaudit perusahaan tempat suaminya bernaung itu.
"Saya bersedia, pak!" Alya langsung menyambar ucapan atasannya itu tanpa pikir panjang, dia tahu kalau atasannya itu merasa tidak enak hati saat ingin menugaskan dirinya.
"Bu Alya, perusahaannya JT grup, anda yakin?" Tanya atasannya mengulangi nama perusahaan yang akan di audit Alya itu, barangkali Alya sedang tidak fokus dan tak menyadari jika itu perusahaan tempat suaminya bekerja.
__ADS_1
"Tentu saja pak, meskipun suami saya bekerja di sana, tapi saya bisa memisahkan antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan, lagi pula yang saya audit itu perusahaannya bukan suami saya," seloroh Alya meyakinkan atasannya jika dirinya paham dan sadar sepenuhnya dengan apa yang di ucapkan dirinya mengenai persetujuannya pada atasannya itu.
"Ah, begitu ya, tadinya saya pikir anda akan menolak karena merasa tak enak dengan suami anda, jika anda menolak nya juga tidak apa, biar saya tugaskan orang lain," Direktur keuangan itu terlihat lega meskipun masih agak tak enak hati mendengar jawaban Alya yang memang di kenalnya selalu profesional dalam bekerja itu.
"Saya dan suami saling menghormati pekerjaan kami masing-masing, dan tidak pernah saling ikut campur dalam urusan pekerjaan kami." Alya meyakinkan kembali atasannya itu kalau semua itu tidak jadi masalah untuk dirinya, lagi pula bukankah hal ini juga membantunya menyelidiki barangkali wanita pemilik celana merah jambu itu salah satu rekan kerjanya Ivan di kantor. Anggap saja sambil menyelam minum air, sekali mendayung satu dua pulau terlampaui.
Hari ini Alya membawa Dinda untuk menemaninya ke JT grup tempat suaminya bekerja, karena Utari izin untuk berangkat siang karena dia ada urusan keluarga, Alya sudah bisa membayangkan bagaimana wajah Ivan jika tiba-tiba dia memergoki suaminya itu sedang bekerja di kantor pusat dan tidak lagi bekerja di proyek seperti yang suaminya akui, meskipun dia belum memikirkan kata-kata apa yang akan dia sampaikan pada suaminya saat dia bertemu Ivan di JT grup.
Sampai di perusahaan kontruksi JT grup, Alya langsung menuju bagian keuangan perusaan itu, tugas yang di embannya untuk memeriksa dan menganalisa apakah laporan keuangan tahunan perusaan itu menyajikan kondisi yang riil tentang keadaan finansial perusahaannya atau terdapat manipulasi di dalamnya, penelitian itu menjadi tanggung jawabnya, sehingga menjadi pertimbangan atau bahkan penentuan apakah bos besar perusahaannya itu harus membeli saham JT grup atau tidak.
Dengan tugas yang seberat itu, membuat Alya ternyata tidak bisa kemana-mana selain berada di ruangan tempatnya berkutat dengan angka itu, selain itu, dari pihak Jt grup juga menyampaikan kalau perihal audit eksternal dan penjualan saham ini harus di rahasiakan dari para karyawan JT yang lainnya, masalah keuangan yang tengah di alami JT saat ini akan menjadi gonjang-ganjing di kalangan karyawan dan akan berimbas pada klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan kontruksi yang lumayan besar itu dan tentu saja hal itu akan semakin memperburuk kondisi keuangan JT.
Saking di rahasiakannya masalah ini, tak heran jika untuk istrirahat makan siang saja Alya dan Dinda hanya boleh makan makanan yang di sediakan di ruangan itu dan tidak di perkenankan berkeliaran ke ruangan lain, sehingga rencana untuk mencari suaminya di sana harus kandas karena Alya saat ini bak tahanan yang bahkan tindak tanduknya pun di awasi ketat oleh pihak JT.
Masih ada dua hari lagi tugas di sana, karena banyaknya laporan yang harus di periksa, sehingga pemeriksaan yang sebelumnya di perkirakan akan selesai satu hari itu ternyata sepertinya akan selesai dalam tiga hari ke depan, dan apesnya dia tidak bisa menemui Ivan yang berada di gedung yang sama dengan dirinya itu karena larangan keras dan kerahasiaan yang harus terjaga, mau tidak mau, demi menjaga profesionalitas kerja, Alya harus mengubur sementara harapannya muncul di ruang kerja Ivan untuk membuatnya tak bisa berkelit lagi jika suaminya itu sudah naik jabatan dari sebulan yang lalu.
Alya mengedarkan pandangannya di parkiran kantor JT yang tidak seluas parkiran di kantornya itu, matanya memindai deretan mobil yang terparkir di sana, sejak kedatangannya ke kantor itu sampai dia akan pulang sore ini, dia baru menyadari kalau dia tidak menjumpai mobil Ivan terparkir di sana, sementara sepertinya tak ada tempat parkiran lain di kawasan perkantoran itu.
"Maaf, apa ada tempat parkir lain yang di khususkan bagi karyawan perusahaan ini? Untuk para direksi atau manajer, misalnya?" Tanya Alya pada petugas parkir yang membantunya keluar dari area parkir yang lumayan penuh itu.
"Tidak ada nona, hanya di sini saja, bos atau karyawan biasa semua parkir di sini, kalau motor di samping." Tunjuk juru parkir itu mengarah pada deretan motor yang berbaris rapi di samping bangunan gedung.
__ADS_1
"Hmm, oke!" Ujar Alya sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada petugas parkir yang langsung bersemangat dan sumringah saat menerima uang dari Alya yang mengatakan 'untuk uang rokok' sambil berlalu pergi.
"Baik amat bu, ngasih uang parkir lima puluh ribu, lagi pula, bukannya di sana parkir gratis ya?" Heran Dinda.
"Untuk investasi!" Jawab Alya sambil nyengir.
"Investasi?" Bingung Dinda.
"Gak usah di pikirin, gak bakal nyampe," kata Alya yang tak ingin membahas apa maksud dari perkataannya itu.
**
Alya tidak sedikitpun membahas masalah dirinya yang tengah melakukan audit di JT grup pada suaminya, meskipun mereka suami istri, terkadang memang ada hal-hal yang tak harus di sharing jika itu memang urusannya berkaitan dengan komitmen profesionalitas pekerjaan.
Namun tiba-tiba Alya justru di kejutkan dengan pertanyaan Ivan malam itu.
"Kamu lagi audit JT?" Tanya Ivan.
"Audit, kata siapa?" Alya tidak buru-buru mengiyakan pertanyaan suaminya itu, bisa saja kan jika Ivan hanya memancingnya untuk bercerita, padahal dia tidak tahu apa-apa.
"Kemarin aku melihat mobil mu di parkiran kantor, kebetulan aku di panggil bos kemarin untuk membicarakan masalah promosi ku, kabar baiknya, mulai besok aku sudah mulai bekerja di kantor pusat sebagai manajer, tidak di lapangan lagi." Ujar Ivan, mematahkan harapan Alya untuk membuka kebohongan Ivan mengenai jabatannya itu, karena Ivan tiba-tiba mengatakan mengenai posisi manajer yang di dapatnya pada Alya, seolah dia bisa membaca situasi, lantas dia mengaku kalau dia berada di JT sementara mobilnya tidak dia dapati di sana tadi dari pagi sampai sore.
__ADS_1
"Oh selamat! Tapi bagaimana bisa kamu menyimpulkan kalau aku sedang melakukan audit di sana, dengan hanya melihat mobil ku terparkir?" Alya merasa curiga, karena jelas jelas kepala bagian keuangan JT mengatakan kalau yang tahu mengenai audit ini hanya Anwar sang bos besar dan kepala keuangan itu sendiri, bahkan Kartika yang merupakan putri bosnya dan bagian dari perusaaan itu pun tidak si beri tahu mengenai masalah itu, tentu saja hal itu membuat Alya bertanya-tanya dari mana Ivan bisa tahu mengenai dirinya yang sedang melakukan audit di kantornya itu?