
"kenapa hanya berdiri di sana? Aku sudah memasak sarapan untuk anda, ayo sarapan bersama!" Ajak Alya.
Marcel mengangguk, tak banyak yang mereka bicarakan saat sarapan, terlebih Marcel yang mulai sibuk dengan ponselnya, entah siapa yang dia kirimi pesan se pagi ini.
"Apa istri dan anak mu mencari mu? Maaf jika aku telah menimbulkan masalah untuk mu dan keluarga mu," sesal Alya yang mengira jika Marcel sedang berkirim pesan dengan Sita.
Ada rasa cemburu yang mencubit-cubit hati Alya di sela penyesalan dan rasa canggungnya kini.
"tidak, aku sudah berpamitan, dan mereka pasti akan sangat mengerti." Jawab Marcel dengan pandangan yang masih terus tertuju ke arah layar ponsel yang berada di genggamannya.
"Sepertinya aku harus segera pulang, untuk bersiap ke kantor, hari ini aku ada jadwal ke luar kota selama dua hari." Ujar Marcel berpamitan seperti tergesa.
"ke luar kota?" Cicit Alya lirih, seperti belum rela jika harus berpisah dengan Marcel yang bahkan sudah menemaninya semalaman.
"Hmmm,,, Darma akan membantu pekerjaan mu, kau bisa bertanya padanya jika ada kesulitan, atau--- kau juga boleh menghubungi ku jika di rasa memerlukan bantuan ku," kata Marcel sambil berlalu pergi.
"Baiklah, hati-hati di jalan, dan terima kasih atas bantuan anda semalam," ujar Alya.
"Semalam?" Beo Marcel spontan menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Alya, perkataan Alya sungguh terdengar ambigu di telinga Marcel.
"Bantuan karena telah menjadi guling mu dan menghangatkan mu semalaman?" Goda Marcel, sepertinya suasna hati pria itu sedang sangat bai sehingga masih pagi sudah mengajak Alya bercanda, namun candaan Marcel membuat wajah Alya panas karena merasa malu.
"Haissss, bantuan membereskan bocor!" Timpal Alya cepat, seraya mengkoreksi pikiran sesat Marcel dalam mengartikan kata-katanya.
"Hahaha,,," Marcel hanya tertawa renyah dan puas karena sudah membuat Alya tersipu karena malu, lantas benar-benar meninggalkan Alya sendirian dengan rasa kesalnya.
__ADS_1
**
Ini hari ke dua Marcel tidak berada di kantor, membuat Alya terkadang merasa bosan akibat mulai merasakan kembali benih-benih rindu yang mulai bermekaran di hatinya seiring waktu kebersamaan mereka yang akhir-akhir ini semakin intens.
"Baru mau pulang, mbak?" Tanya Darma berbasa basi menyapa Alya yang kini berdiri di depan loby kantor Salim grup, kebetulan hari ini Rudy berjanji akan menjemputnya, sehingga dia menunggu kedatangan pria yang sampai saat ini belum mendapat jawaban pasti atas status apa yang terjalin di antara mereka, Alya seperti masih betah menggantungkan perasaan Rudy untuknya, terlebih kini sosok Marcel yang berusaha untuk di lupakannya kembali hadir dalam kesehariannya, sehingga rasanya semakin sulit saja untuk dirinya melupakan dan pergi dari kenangannya bersam Marcel.
"Ah iya pak Darma, kebetulan tadi menyekesaikan dulu sedikit pekerjaan. Oh iya, dokumen yang untuk kerja sama proyek sudah selesai saya kerjakan, kapan bisa di tanda tangani oleh pak Marcel, ya?" Tanya Alya, berpura-pura mengatas namakan dokumen yang sebenarnya tidak harus terburu-buru di tanda tangani oleh Marcel demi untuk mencari tahu kapan Marcel akan kembali dari luar kota.
"Hmmm,,, sepertinya besok pagi pak Marcel akan masuk kerja, karena siang ini beliau sudah terbang untuk pulang." Urai Darma.
"Oh, begitu ya. Pekerjaan pak Marcel sangat sibuk, apa dia meninjau proyek di luar kota?" Tiba-tiba saja jiwa kepo Alya meronta-ronta dan tidak bisa dia kendalikan karena sangat ingin tahu kemana Marcel pergi,dan untuk apa dia pergi.
"Oh, bukan. Ini bukan masalah pekerjaan, setiap sebulan sekali pak Marcel memang meluangkan waktunya untuk bertemu mbak Sita dan Daniel, hanya saja,, ini belum ada satu bulan, dia sudah kembali mengunjungi mereka, mungkin pak Marcel kang---" Darma tiba-tiba menghentikan kalimatnya, dia terus bercerita sampai lupa jika anatara Alya dan Marcel pernah terjalin hubungan spesial, dia lantas menutup mulutnya dengan sebelah tangannya karena merasa telah sal;ah bicara.
"Mhhh, mereka tidak tinggal di sini?" Tanya Alya lagi berusaha bersikap biasa saja meski perubahan mimik wajahnya nampak begitu jelas terlihat, ada raut kesal, kecewa, sedih dan terluka mendengar informasi yang di berikan Darma tentang Marcel, mesi sebetulnya dirinya tidak harus mempunyai perasan seperti itu karena di antara mereka berdua tidak lagi terikat hubungan apapun semenjak mereka sepakat untuk sama-sama saling menjauh meski tanpa sepatah kata pun yang terucap di antara mereka, adapun kedekatanya kali ini mungkin Alya harus kembali menyetel pengaturan hatinya agar terus mengingat dan sadar jika kedekatan mereka saat ini hanya sebatas pekerjaan, tidak lebih.
Namun tetap saja rasa cemburu dan sedikit terluka itu di rasakan Alya saat ini, apalagi saat mengingat bagaimana rona wajah Marcel yang begitu berseri-seri saat dirinya berkirim pesan pagi itu sebelum dia pergi ke luar kota yang ternyata untuk menemui Sita dan anaknya.
"Sebahagia itu kah kamu?" Gumam Alya lirih, bahka hanya dirinya saja yang bisa mendengar ucapan itu.
"Alya!" Panggil Rudy yang sudah datang di sana untuk memenuhi janjinya menjemput Alya. Pekerjaan Rudy memang sedang padat-padatnya akhir-akhir ini, terlebih setelah dia mendapatkan kerja sama dengan Salim grup, banyak perusahaan lain yang dulunya hanya menyepelekan perusahaan kecilnya kini berbondong-bondong untuk meminta kerja sama dengan perusahaannya.
"Hay Rud," Alya melambaikan tangannya dan menyambut kedatangan Rudy dengan senyum termanisnya.
"Apa kamu menunggu ku lama?" Tanya Rudy yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Alya.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada Darma, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran lobi Salim grup.
"Darma, mau pergi kemana kau?!" Suara tegas dan lantang menghentikan langkah Darma yang hendak menuju parkiran di depan lobi untuk pulang.
"Pak Marcel?" Gugup Darma yang tidak menyangka jika bosnya tiba-tiba muncul dari balik pintu loby yang tadi sudah tertutup karena seluruh karyawan sudah pulang sore itu, apalagi hari itu hari jum'at dimana para karyawan akan pulang lebih cepat.
Begitu pun denga Marcel yang tadi pulang lebih cepat karena sengaja ingin langsung ke kantor dan bertemu dengan Alya, padahal Sita memintanya untuk tinggal sampai weekend berakhir, namun Marcel bersikeras untuk tetap pulang, hati dan pikirannya terus saja tertuju pada Alya sehingga rasanya dia gelisah dan tidak menentu berada di sana.
Sialnya bukan karena dirinya yang terlambat datang ke kantor dia tidka dapat menemui Alya, namun karena saat dirinya menunggu Alya di ruang loby, untuk memberinya kejutan, justru dirinya malah di buat penasaran saat Alya bertanya tentang dirinya pada Darma, dia merasa penasaran dengan apa yang di bicarakan Alya dan Darma, terlebih mereka menyebut-nyebut nama dirinya, Marcel bersembunyi di balik pintu sambil mendengarkan percakapan mereka, hampir saja Marcel melempar bucket bunga yang di bawanya dan di persiapkannya untuk Alya ke wajah Darma karena asistennya itu sembarangan berucap, di tambah lagi menyinggung tentang Sita segala rupa yang seharusnya tidak Darma bicarakan pada Alya, karena hal itu bisa saja memicu kesalah pahaman di antara mereka.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Darma sudah terlanjur mengatakan hal itu, "Mungkin sudah saatnya aku jujur," batin Marcel saat menanggapi semua itu, namun selang berapa menit kemudian, di saat Marcel sudah berniat untuk menghampiri Alya dan keluar dari balik pintu loby, Rudy justru datang menjemput Alya, bahkan senyum manis Alya saat menyambut kedatangan Rudy menjadi suguhan terpahit untuk dirinya yang lagi-lagi gagal dalam usahanya untuk memperbaiki hubungan dengan Alya.
"Apa bapak baru saja datang?" Tanya darma lagi, perasaannya sudah mulai terasa tidak enak.
"Tidak, aku sudah lama berada di sini, dan mendengar semua obroaln sok tahu mu dengan Alya!" Bentak Marcel.
"Ma-maaf, saya tidak bermaksud mengatakan hal itu, lagi pula saya hanya mengatakan sejujurnya jika anda memang pergi untuk menemui Mbak Sita dan Daniel." Darma mencoba bertahan dengan pendiriannya yang merasa jika tidak ada yang salah dalam ucapannya pada Alya tadi.
"Lain kali kau lebih baik berpura-pura tidak tahu!" Kesal Marcel.
"Mengenai tugas yang aku berikan pada mu dua hari yang lalu, sudah langsung kau kerjakan bukan? Apa semua sudah beres?" Tanya Marcel lagi.
"Semua sudah beres, dan rapi kembali, tapi itu----" lapor Darma yang ucapannya harus terhenti akibat Marcel memotongnya.
"Tidak usah banyak bertanya, kau hanya perlu mengerjakan tugas yang ku berikan dengan baik, karena kau telah mengerjakan tugas yang aku berikan dengan baik, nih, aku beri kau bunga!" Sambar Marcel mengisyaratkan untuk asistenya itu tidak bertanya lebih lanjut lagi, Marcel juga memberikan bucket bunga yang tadinya akan di berikan pada Alya, kini sudah berada dalam dekapan Darma yang kebingungan, beberapa menit yang lalu bosnya itu tampak marah padanya, namun selang berapa menit kemudian wajahnya kembali ceria saat mendapatkan laporan jika dirinya sudah melakukan tugas yang dia berikan, bahkan Marcel memberinya se-buket bunga hanya untuk pekerjaan yang tidak penting yang dia tugaskan pada dirinya,.
__ADS_1