
Marcel sedikit terkejut ketika siang itu tiba-tiba Rudy menemui dirinya di kantor, padahal seharusnya pemilik Persada itu tahu jika untuk menemui Marcel setidaknya harus mempunyai janji bertemu sebelumnya, mengingat jadwal kerja Marcel yang cukup padat.
"Apa saya mengganggu waktu anda?" Tanya Rudy bersikap seolah mereka sangat akrab saat mereka berpapasan di lobby, saat Marcel hendak pergi untuk makan siang.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Marcel menghentikan langkahnya dan menerima uluran tangan Rudy yang di sodorkan ke hadapannya.
"Oh tidak, hanya saja niatnya saya ingin mengajak anda makan siang bersama ku dan juga Alya," kata Rudy cengengesan.
"Makan siang?" Beo Marcel sambil menaikkan sebelah alisnya, Marcel berpikir entah rencana apa yang kali ini Rudy akan lakukan padanya, hanya saja, menurutnya tidak ada salahnya jika dia menerima ajakan itu, kita tidak akan tau jika kita tidak mencobanya bukan?
Lagi pula, kapan lagi bisa makan siang bareng dengan Alya, pikirnya. "Oke!" Jawab Marcel singkat, namun terdengar lugas dan penuh percaya diri yang tinggi.
Alya yang tidak tahu jika Rudy sudah mengundang Marcel untuk makan sing bersamanya merasa kaget, karena tiba-tiba Marcel datang di tengah makan siang nya bersama Rudy di rumah makan di dekat Salim grup.
"Silahkan duduk pak Marcel." Ujar Rudy mempersilahkan, smentara Alya hanya diam sambil memperhatikan apa yang terjadi di hadapannya, lantas dia menoleh ke arah Rudy untuk meminta penjelasan bagaimana bisa Marcel tiba-tiba ikut bergabung di acara makan siang mereka.
"Ah, ini,,, tadi aku bertemu pak Marcel saat aku hendak menjemput mu makan siang, jadi aku ajak beliau untuk makan siang bersama kita, gak apa-apa kan, sayang?"
__ADS_1
"Uhukkk,,,,uhukkk!"
Alya langsung terbatuk saat mendengar sebuatan sayang yang di ucapkan Rudy padanya tepat di hadapan Marcel, entah apa yang terjadi dengan Rudy di hari ini, tadi mendadak saja dia mengajaknya makan siang bersama dengan alasan dia sedang ada sedikit urusan di dekat Salim grup, lantas ternyata dia juga tanpa meminta persetujuannya mengajak Marcel untuk ikut makan siang bersama mereka juga, lantas barusan tiba-tiba saja dia memanggilnya dengan sebutan sayang, membuatnya seketika merasa canggung bukan kepalang di hadapan Marcel.
Memang sih, di antara dirinya dan Marcel tidak ada hubungan apa-apa, hanya saja dia tetap saja merasa tidak enak hati dengan panggilan sayang Rudy itu, lagi pula dia tidak terbiasa dengan hal itu, jujur saja itu membuat Alya merinding mendengarnya.
Rudy dan Marcel spontan menyodorkan segelas air ke hadapan Alya, keduanya terlihat sigap saat melihat Alya tiba-tiba tersedak hanya karena mendengar panggilan sayang dari mulut Rudy.
"Terimakasih, saya minum ini saja." Alya mengangkat es teh yang tadi di pesannya dan meminumnya.
"Tidak, tentu saja tidak, saya tidak merasa terganggu." Jawab Alya.
"Sebenarnya ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda, hanya saja jika berbicara di kantor itu agak terlalu formal, saya di tawari menangani sebuah proyek besar, hanya saja saya terkendala biaya yang tidak mencukupi, apa anda bisa membantu memberikan Persada pinjaman dana, atau anda juga bisa berinvestasi dalam proyek ini, jujur saja proyek ini sangat bagus dan menguntungkan, jadi saya menawarkan hal ini pada anda terlebih dahulu, karena mengingat anda adalah teman dari kekasih saya." Urai Rudy yang berbicara seperti seorang sales marketing yang menawarkan produknya dan merayu agar Marcel tertarik dengan produk yang di tawarkannya itu.
'Ah, rupanya ada udang di balik batu, makanya dia mengajak ku makan siang bersama, pantas saja!' batin Marcel.
Mendengar apa yang di utarakan Rudy pada Marcel yang terkesan terlalu berani membuat Alya langsung menoleh ke arah Rudy dengan tatapan tidak suka, apalagi tadi Rudy sempat membawa-bawa namanya dalam pembicaraan yang menurut Alya sangat memalukan, Alya tidak mau jika Marcel merasa jika dirinya dan Rudy sengaja memanfaatkan nya.
__ADS_1
"Emh,, Rudy,, hubungan aku dan pak Marcel dulu hanya sebagai atasan dan bawahan, bukan sebagai teman seperti yang kamu pikirkan, rasanya itu terlalu berlebihan jika kamu meminta pak Marcel untuk terlibat di proyek mu, lagi pula pak Marcel pasti mempunyai kepentingan yang lebih banyak di banding proyek kecil itu." Kata Alya dengan nada yang terlihat canggung dan serba salah di hadapan Marcel yang sejak tadi hanya diam sambil mendengarkan.
"Kirim saja proposalnya, nanti aku atau Darma akan memeriksanya secara langsung." Kata Marcel tanpa di duga malah seperti memberi harapan pada Rudy.
"Tuh kan, pak Marcel aja gak keberatan kok." Timpal Rudy dengan tidak tahu malunya.
"Pak,, tapi,, Rudy,,, aku rasa, seharusnya kamu mendiskusikannya terlebih dahulu dengan ku sebelum kamu mengatakan itu pada Marcel, aku tidak mau di anggap memanfaatkan pak Marcel."Alya semakin terpojok di antara rasa tidak enak hatinya pada Marcel dan juga rasa kesalnya pada Rudy yang menurutnya seperti memanfaatkan dirinya untuk kepentingan dirinya sendiri.
"Sudahlah, mengingat karena kedekatan kita, aku tidak keberatan jika membantu proyek kekasih mu, lagi pula aku minta semuanya di jalankan sesuai prosedur." Ujar Marcel terlihat tenang dan santai.
"Tapi kita tidak sedekat itu, pak. Bapak tidak perlu memakskan diri, dan kamu Rud,, sebaiknya kamu jangan memanfaatkan kebaikan orang, apalagi membawa-bawa nama ku hanya untuk kepentingan mu." Kesal Alya yang langsung meninggalkan meja makan itu dengan suasana hati yang kesal, dia sudah tidak tahan berada di sana.
"Kekasih anda pergi, apa anda tidak mengejarnya?" Marcel menunjuk ke arah Alya yang semakin menjauh dari meja mereka, namun Rudy masih terlihat betah di tempat duduknya dan memilih untuk tetap berhadapan dengan Marcel dari pada mengejar Alya yang terlihat pergi dengan marah.
"Ah, wanita memang seperti itu,,, biar saja,, nanti juga reda sendiri, yang terpenting sat ini adalah proyek yang saya tawarkan tadi, bagaimana,,, apa anda tertarik?" Tanya Rudy yang di luar dugaan malah memilih membahas masalah proyeknya di banding mengejar dan menghampiri Alya.
"Tertarik,,, aku sangat tertarik!" Ujar Marcel dengan menarik ujung bibirnya, menyunggingkan senyum yang hanya dia sendiri yang tahu senyuman untuk apa, dan apa yang sebenarnya membuat Marcel sangat tertarik juga menjadi sebuah kata ambigu besar yang di lontarkan Marcel, apakah dia tertarik dengan proyeknya, atau dia tertarik dengan hal lain di luar proyek?
__ADS_1