
Alya kemudian sadar jika dirinya kini tengah di bius, namun apa daya Alya tidak sempat melawannya, hanya beberapa detik dari itu, Alya sudah tidak sadarkan diri dan tergeletak lemah di kursi penumpang belakang.
Entah berapa lama Alya berada dalam ketidak sadarannya, yang jelas saat dirinya mulai tersadar dan berusaha membuka matanya, kini dia sudah berada di sebuah kamar yang terasa asing, entah berada di rumah siapa saat ini dirinya berada.
Alya memutarkan pandangannya, mencoba memindai keadaan sekitar, hqnya ada kasur ukuran sedang, sebuah lemari kayu dua pintu dan meja rias sederhana, dia yakin kalau ini bukanlah sebuah kamar hotel, terlihat dari tatanannya yang seperti tatanan rumah biasa.
Cekrek,
Handle pintu kayu itu di putar dan di buka dari luar, Alya bersiaga melihat apapun yang nanti bisa di jadikannya alat untuk perlindungan diri, namun tidak ada satu barang pun yang bisa di gunakan untuk menyerang di sana, namun sialnya tak ada satu benda pun yang dapat dia gunakan sebagai senjata untuk melindungi dirinya, yang mampu dia lakukan saat ini hanyalah waspada.
"Kamu sudah bangun sayang?" Suara dan wajah yang sangat familiar bagi Alya kini muncul dari balik pintu dengan senyuman di wajahnya seolah tak ada terjadi satu hal pun di antara mereka.
"I-Ivan?" Gumam Alya merasa kaget bercampur bingung, bagaimana bisa ada Ivan di kamarvtpat dirinya berada sekarang ini, sementara sebelumnya, sejauh yang dia ingat, dirinya mempunyai janji bertemu dengan Sita.
"Iya sayang, ini aku. Bahagia rasanya bisa berada di satu ruangan lagi bersama mu, aku tau jika hanya kamu yang paling pantas dan paling mengerti untuk ku. Mari kita perbaiki lagi semuanya dari awal, aku yakin kita akan menjadi pasangan yang paling bahagia dan membuat iri semua orang seperti dulu." Ivan berjalan semakin mendekat ke arah Alya yang duduk di tepi ranjang dengan penuh kewaspadaan.
__ADS_1
"Membuat semua orang iri? Apa yang kamu maksud itu Utari? Yang lantas akhirnya kamu pacari juga di belakang ku? Van, tidak ada yang bisa di perbaiki lagi dalam hubungan kita, semua sudah rusak tak bersisa." Sinis Alya.
"Beri aku kesempatan, aku ingin berusaha memperbaiki semuanya, karena aku sadar kalau semua ini terjadi karena kesalahan ku, biar aku menebus semuanya untuk kita." Ivan mendudukan dirinya tepat di sping Alya.
Alya beringsut menjauh dengan menggeserkan bokongnya kenarah berlawanan di mana kini Ivan berada.
"Van, apa yang ingin kamu perbaiki? Sementara cara mu membawa ku ke tempat ini saja sudah di luar nalar, kamu menculik ku, ini kejahatan." Gertak Alya.
"Aku tidak peduli, karena hanya dengan cara ini aku bisa bersama mu kembali." Ujar Ivan dengan mimik wajah yang serius.
Ivan terdiam, bibirnya seakan terkunci rapat untuk tak mengatakan sepatah kata pun, sepertinya dia dan Sita memang sudah mempunyai perjanjian tersendiri di mana mereka tidak akan saling membuka rahasia mereka.
"Kenapa? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?" Tanya Alya lagi mendesak Ivan yang tetap memilih untuk diam.
"Kalau kamu sudah tau jawabannya, sebaiknya tak usah mempertanyakan nya lagi pada ku." Elak Ivan yang keukeuh dengan pendiriannya untuk tidak membuka mulut.
__ADS_1
"Apa maksud mu dengan membawa ku secara paksa ke tempat ini? Kita sudah bercerai, tidak baik jika kita berada dalam satu rumah seperti ini." Kata Alya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dari ku untuk yang ke dua kalinya. Kamu harus tetap berada di sini, bersama ku, bersama Nayla." Tolak Ivan tidak setuju dengan kata-kata yang di ucapkan Alya yang mengibgatkan kembali status mereka berdua yang kenyataannya sudah bercerai.
"Nayla?" Beo Alya yang merasa bingung dan asing dengan nama yang di sebutkan mantan suaminya itu.
"Iya, Nayla, dia akan akan menjadi pelengkap keluarga kecil kita, dia akan menjadi putri kecil kita yang menambah keharmonisan rumah tangga kita kelak." Mata Ivan berbinar terang saat menjelaskan pada Alya mengenai putri kecilnya bersama Hana, betapa dalam bayangannya dirinya, Alya dan juga Nayla akan hidup bahagia di rumah yang berada di pinggiran kota dengan suasana yang damai dan sejuk ini.
"Apa dia putri mu bersama Hana?" Tebak Alya, yang lantas di jawab dengan anggukan dan senyuman manis dari Ivan.
"Ah, gila! Dimana otak mu sebenarnya, bagaimana bisa kau berangan-angan agar aku membesarkan putri selingkuhan mu? Apa kau masih waras?" Nada suara Alya tiba-tiba berubah meninggi seiring dengan anggukan Ivan yang mengiyakan jika dirinya menginginkan Alya untuk mengurus putri madunya.
"Kenapa? Kamu dengan suka rela mau mengurus anak dari kekasih mu dan istrinya, lantas apa masalahnya dengan putri ku?" Protes Ivan yang seilah ingin mengatakan dan membandingkan putrinya dengan Daniel.
"Itu kasus yang berbeda, dan bukan untuk di bandingkan. Lagi pula dalam hal ini aku tidak membenci putri mu, hanya saja bukankah seharusnya kau tidak boleh melempar tanggung jawab atas putri mu bersama Hana pada ku? Bukankah dengan begitu itu sama saja kau ingin memyiksa ku?" Kata Alya.
__ADS_1
"Aku mohon, aku tau kamu wanita yang baik dan tulus, akubrasa hanya kamu wanita yang pantas menjadi ibu dari Nayla, dia butuh sosok wanita baik seperti mu, tolong aku untuk mendidik dan membesarkannya bersama-sama dengan ku." Pinta Ivan tanpa tau malu.