
Hari pertama tidak berangkat bekerja membuat Alya merasa kebingungan harus berbuat apa, setelah mendatangi rumah mertuanya secara diam-diam, kini Alya sudah kembali berada di rumah, menghabiskan waktu di kamar saja, dan berusaha melakukan apapun yang bisa membuatnya sibuk agar dirinya tak harus memikirkan masalah yang tengah membelitnya untuk sejenak.
Saat Alya membereskan laci meja riasnya, dia merasa kaget karena dia menemukan gantungan kunci kupu-kupu yang pernah dia beli dari Utari ada di sana, sementara dia ingat betul kalau gantungan kunci miliknya itu dia simpan di laci meja kerjanya, karena menjadi gantungan kunci cadangan ruang kerjanya, sementara ini tidak ada kuncinya sama sekali, yang lebih aneh lagi, di sayap kupu-kupu sebelah kanan atasnya ada tulisan 'IK' membuat Alya menyimpulkan kalau itu adalah inisial nama yang sering Ivan pakai dalam menyingkat namanya sendiri, yaitu Ivan Kusuma, tapi----
Brak!
Sedang asik melamun dan memandangi gantungan kunci itu, tiba-tiba Ivan datang ke kamar itu.
"Kamu tidak jadi berangkat kerja?" Tanya Ivan santai.
Alya menggeleng, "Aku di skors!" Jawab Alya tak kalah santai.
"Gara-gara masalah itu?" Tanya nya dengan enteng.
'What, gara-gara masalah itu, dia bilang? Gara-gara fitnahan mu, lah berengsek!' Batin Alya kesal.
"Gara-gara bualan mu lah, kalau bukan kamu yang mendorongku ke jurang masalah, mana mungkin aku mendapat masalah seperti ini."
Rasa-rasanya jika Alya harus mengikuti ego dan nafsu amarah di dadanya, ingin sekali dirinya meluapkan kemarahan pada suaminya yang menunjukan wajah seolah tak pernah melakukan kesalahan sedikitpun padanya.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan kemarin kalau apa yang aku lakukan akan aku tanggung sendiri akibatnya, kenapa bos mu itu masih saja men-skors mu?" Pertanyaan konyol dan menjengkelkan itu keluar begitu saja dari kulut Ivan, seorang suami durjana yang dengan teganya mendorong istrinya sendiri ke tepi jurang.
Namun dari perkataannyaIvan seolah amnesia jika semua permasalahan yang Alya hadapi sekarang ini adalah buah karyanya seutuhnya, sehingga dia masih bisa menyalahkan orang lain atas apa yang di alami Alya sekarang ini.
"Van apa ini milik mu?" Alya menunjukkan gantungan kunci kupu-kupu yang di temukannya tadi, Alya merasa percakapannya dengan Ivan tentang masalah itu malah membuatnya semakin muak, apalagi dengan wajah tanpa dosa Ivan, sehingga dia mengalihkan pembicaraan pada hal lain, kebetulan gantungan itu cukup membuatnya tertarik dan penasaran.
"Bukankah aku sudah mengatakan kalau itu sengaja aku belikan untuk mu, saat kamu menemukannya di mobil ku?" Ivan malah balik bertanya, dia merasa kalau istrinya itu sudah pernah membahas tentang gantungan kunci itu.
"Ah iya, mungkin aku lupa, beli dimana? Imut banget?" Tanya Alya, dia yakin betul kalau gantungan kunci kupu-kupu itu sama seperti hasil dari kerajinan tangan Utari yang di jual ke teman-teman kantornya.
"Emhhhh,,, aku lupa, sepertinya ada penjual yang datang ke kantor, aku hanya tau kamu suka kupu-kupu, jadi aku beli itu untuk mu, karena kasian juga sama penjualnya. Kenapa, ada masalah?"
"Apa kamu tak mengajukan pengunduran diri saja dari perusahaan mu? Aku bisa menghidupi mu dan mencukupi kebutuhan kita meski kamu tidak bekerja, aku sudah naik jabatan."
"Van, apa sebenarnya yang kau inginkan dengan memfitnah ku seperti kemarin? Apa yang sedang kamu coba lakukan pada ku? Apa salah ku pada mu sampai kamu setega ini pada ku?" Cecar Alya pada akhirnya.
"Aku tak ingin kamu bekerja, aku tak ingin penghasilan mu lebih besar dari ku, aku tak ingin merasa minder dari mu, aku tak ingin kamu bersikap sombong, aku kepala keluarga, tapi selalu seolah tak ada apa-apanya di mata kamu!" Untaian kata-kata penuh emosi terucap begitu saja dari mulut Ivan.
"Apa maksud mu Van? Aku, bersikap sombong? Dalam hal apa aku pernah menyombongkan diri? Kapan aku pernah mengeluh masalah keuangan atau penghasilan mu?" Alya merasa semua yang di katakan Ivan hanya terdengar seperti omong kosong dan hanya mengada-ada di telinganya.
__ADS_1
"Aku tau gaji mu lebih besar dari penghasilan ku, meski kamu menutupinya dari ku, kamu terlalu mandiri, mengerjakan semua hal sendiri, sehingga aku merasa tak berguna sebagai suami, aku seolah tak di perlukan di mata mu, membuat ku merasa kalau kamu terkesan sombong di mata ku." Beber Ivan mengeluarkan unek-unek yang sepertinya sudah lama dia simpan sendiri.
"Van, sejak kapan kamu jadi overthinking seperti ini? Bukankah dari jaman kita pacaran dulu aku memang seperti ini, aku tak pernah memintya pertolongan siapapun jika aku bisa melakukannya sendiri, Van aku yatim piatu sejak aku remaja, aku terbiasa melakukan semuanya sendirian dan tidak terbiasa manja, kenapa tiba-tiba ini menjadi masalah besar buat mu?" Marah Alya yang tak bisa menerima dengan alasan konyol yang di buat oleh Ivan.
Ivan seolah mencari-cari alasan dan kekurangan dirinya hanya untuk pembenaran tindakan nya yang jelas-jelas salah, sejak kapan sikap mandirinya menjadi masalah? Setelah hampir dua tahun menikah dia baru mengungkit dan mengeluh masalah konyol ini? Sementara selama ini dia diam dan menikmati hasil dari kemandiriannya yang bisa membantu pengeluaran keuangan rumah tangga mereka yang tak mampu dia penuhi semuanya, bahkan Alya tak pernah mengeluh tentang itu.
"Kamu bahkan memanggil suami mu hanya dengan sebutan nama saja, Van, Van, Ivan, apa itu pantas, hah?" Ivan semakin membabi buta dengan alasan kemarahan yang tak masuk akal menurut Alya.
"Lantas kamu ingin aku panggil apa, Paduka? Yang mulya? Please, kamu gak masuk akal, jangan melemparkan kesalahan yang kamu buat seolah-olah semua itu bersumber dari ku, aku juga gak bisa jika harus berhenti bekerja, aku mencintai pekerjaan ku, jangan jadi pria primitif yang berharap istrinya hanya bergantung pada mu dan terpenjara di rumah, hanya agar tak mengetahui kelakuan busuk suaminya di luaran!" Sembur Alya tak kuasa lagi untuk tetap bersabar menghadapi suaminya.
"Apa sekarang kamu sedang memfitnah ku bermain wanita lain di belakang mu? Apa kau punya bukti? Atau hanya asal menuduh?"
"Aku tak pernah mengatakan kau bermain wanita di belakang ku, tapi syukurlah kau mengaku dengan sendirinya, dan aku yakin kamu tau persis siapa aku, aku orang yang tak pernah menuduh tanpa bukti, aku bukan tukang fitnah seperti mu," Sinis Alya.
"Terserah kamu saja lah, apapun yang kamu pikirkan tentang aku, nyatanya kamu memang sombong, keras kepala, dan tak pernah mau mendengar apa kata suami, jangan menyesal jika kamu kehilangan segalanya, pekerjaan , suami, jangan harap aku akan berbelas kasihan pada mu, karena aku sudah pernah menawarkan kebaikan pad mu, aku hanya ingin meratukan mu dngan hanya duduk manis di rumah biar aku yang mencari nafkah seperti umumnya kebanyakan para suami, tapi kamu tetap sombong dengan karir yang bahkan kini di ambang kehancuran!"
Untuk pertama kalinya pertengakaran besar di rumah tangga mereka terjadi hari ini, bahkan Ivan sampai menunjuk-nunjuk wajah Alya dengan penuh emosi, entah karena terlalu banyak em,osi yang di pendamnya selama hampir dua tahun ini, atau memang dia sedang menunjukkan wajah aslinya.
"Aku akan tetap pada pendirian ku untuk menjadi wanita mandiri, aku masih mampu menghidupi diri ku sendiri dari pada harus duduk manis dan di jadikan ratu oleh mu di rumah, dan menutup mata akan selir-selir mu di luaran sana, tidak. Terimakasih!" Tegas Alya.
__ADS_1
"Oke, see and wait, sampai kapan kamu bertahan!" Tantang Ivan seraya membanting pintu dan meninggalkan Alya kembali sendirian di kamar.