
Marcel berjalan tergesa di sebuah lorong rumah sakit, wajahnya terlihat sangat cemas.
"Bagaimana keadaan Daniel?" Tanya Marcel pada Sita yang kini tengah dudukdambil menatap bayi laki-laki berusia hampir lima bulan di ranjang rumah sakit.
Sementara Marcel langsung mendekat ke sisi ranjang lain untuk melihat kondisi bayi laki-laki yang di panggil dengan nama Daniel oleh Marcel itu.
"Sudah tidak kejang lagi, sekarang dia lebih tenang." Jawab Sita. "Maaf, aku panik dan terpaksa mengganggu waktu kerja mu," sambung Sita.
"Ckk, untuk urusan Daniel, kau boleh menghubungi ku 24 jam," decak Marcel, matanya tetap tertuju pada bayi mungil yang tampan itu dengan tatapan sendu, tak sedetik pun dia beralih pandangan pada Sita yang mungkin saat ini sama sedihnya seperti apa yang dirasakan Marcel.
"Maafkan ayah, beberapa hari ini ayah sibuk, sampai tak sempat bermain dengan mu." Ujar Marcel lirih seolah bayi yang sedang terlelap itu dapat mendengar dan mengerti pembicarannya, dia merasa bersalah karena dua hari ini dia tidak bertemu putranya sama sekali, biasanya meskipun hanya sebentar, dia pasti menyempatkan untuk sekedar bercanda atau menggendong bayi menggemaskan itu.
"Maaf, mungkin aku yang tidak becus menjaganya," sesal Sita.
"Tak ada yang menyalahkan mu, dan tidak ada yang perlu di salahkan dalam hal ini, tidak usah memperpanjang masalah, lebih baik kau pulang dan istirahat di rumah, biar aku yang menjaga Daniel di sini." Kata Marcel.
Tidak ada penolakan atau bantahan dari Sita, seperti biasanya dia selalu akan nurut dan mengikuti apapun yang Marcel katakan padanya tanpa protes sedikitpun, meski itu bertentangan dengan hatinya.
"Apa aku perlu membelikan mu makanan, untuk mu makan malam?" Tanya Sita berbalik saat dirinya baru sampai pintu dan teringat kalau Marcel barangkali belum makan.
"Usia ku sudah mau tiga puluh tahun, aku cukup paham cara membeli dan memesan makanan sendiri, tidak usah memikirkan ku!" Ketus Marcel, padahal istrinya hanya menawarkan kebaikan saja.
Sikap Marcel yang bisa banyak berbicara dengan nyamannya pada Alya dengan kalimat-kalimat menenangkan nya, sungguh berbanding terbalik dengan sikapnya pada Sita, sepertinya Marcel sangat enggan terlibat percakapan panjang dengan istrinya itu.
Mndapat jawaban yang ketus, dingin dan terkadang sinis memang sudah makanan sehari-hari Sita jika berbicara dengan Marcel, hal itu sudah tidak membuatnya merasa aneh dan seolah sudah kebal dengan tempramen buruk suaminya itu padanya, sehingga dia langsung bergegas pergi tanpa menimpali ucapan Marcel lagi.
Sebagai seorang ibu yang melahirkan Daniel, sebenarnya Sita berharap ingin berada di sisi bayinya saat ini, menjaganya bersama-sama, bukankah itu juga akan menjadi waktu yang baik dirinya bisa menghabiskan waktu bersama Marcel, namun ternyata Marcel malah menyuruhnya untuk pulang, dan dia tidak berani untuk membantahnya.
**
"Kemana pak Marcel, kok dua hari ini tidak terlihat sama sekali?" Tanya Alya pada Darma saat asisten Marcel itu datang ke firma untuk mengurus beberapa dokumen yang seharusnya di tangani Marcel.
__ADS_1
Semenjak malam itu, saat Marcel pamit untuk ke rumah sakit, pria itu tidak pernah terlihat muncuk baik di perusaan saat Alya mengantarkan laporan, maupun di firma, namun Alya tetap bertahan untuk tidak menanyakan kabar pada orangnya langsung, meski terkadang dia penasaran dan hampir mengirimkan pesan sekedar bertanya pada Marcel, karena dia kini sudah memiliki nomor ponselnya, namun hal itu tak pernah dia lakukan.
"Hmmm, pak Marcel ada urusan ke luar kota." Jawab Darma sedikit berpikir.
"Maaf, terakhir kali dia ke sini, dia terburu-buru untuk ke rumah sakit, apa semua baik-baik saja?" Untuk membunuh rasa penasarannya, Alya akhirnya menayakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya.
"Oh itu, sudah aman, tidak ada masalah." Jawab Darma.
"O,, syukurlah," ujar Alya, tidak ingin bertenya terlalu jauh lagi, tentang siapa yang sakit atau lain sebagainya, jawaban Darma sudah cukup membunuh rasa kepenasarannya.
Saat Alya baru saja sampai di tempat kostnya, dia di kejutkan dengan seorang perempuan yang berdiri di depan pintu kamar kostnya sendirian, dengan wajah tertunduk.
"Wina!" Sapa Alya, saat dirinya menyadari kalau sosok peremuan yang kini berdiri di depan pintu kamar kostnya itu adalah Wina, istri dari hendri, adik iparnya.
"Mbak Alya!" Lirih Wina, dia berhambur memeluk tubuh Alya dengan erat dan tiba-tiba menangis sesenggukan di balik bahu Alya.
Alya yang kebingungan karena tidak tau apa yang terjadi pada adik iparnya itu akhirnya membawa Wina untuk masuk ke dalam kamar kostnya.
"Maafkan aku mbak, sepertinya aku sedang menuai karma ku. Dulu aku memilih untuk diam dan tidak ikut campur saat Mas Ivan sering membawa wanita lain ke rumah ibu, karena aku tidak cukup berani untuk bersuara dan memberitahukannya pada mbak, sekarang giliran aku yang di selingkuhi oleh suami ku." Adu Wina di tengah isak tangisnya.
"Hendri selingkuh?" Alya terbelalak tak percaya, hidup aja masih bergantung pada ibu dan kakaknya kok ya, selingkuh, lebih ke gak tau diri sih ya, kalau itu.
Ya,,, meskipun yang namanya selingkuh kini sudah bukan hal aneh dan banyak di temui di sekitar kehidupan kita, bahkan di anggap lumrah bagi sebagian orang, tapi ya mbok ngaca, maksudnya. Kalau kira-kira belum bisa membahagiakan istri dengan materi, minimal jangan sakitin istri dengan selingkuh, lah. Gerutu Alya dalam batinnya.
"Kamu yakin? Bisa aja cuma kecurigaan mu saja, kan?" Sambung Alya.
"Aku sering nemuin barang-barang cewek di mobil Mas Hendri, aku gak tau harus cerita sama siapa, dalam kasus mas Ivan dan mbak Alya saja seluruh keluarganya kompak menutupi, padahal mbak Alya keren, apalagi aku yang hanya menantu yang selalu di pandang sebelah mata sejak awal." Ucapnya lesu.
"Bukankah suami mu sekarang jadi sopir taksi online, bisa aja kan itu barang-barang penumpangnya yang tertinggal? Kamu cuma parnoan aja kali." Alya mencoba untuk tetap berpikiran positif.
"Ini feeling istri mbak, aku yakin mbak Alya juga pernah mempunyai perasaan seperti ini saat mas Ivan selingkuh." Tepis Wina.
__ADS_1
"Terus maunya kamu gimana? Aku juga gak bisa bantu banyak, kamu tau sendiri kan, bagaimana hubungan ku dengan keluarga Ivan, lagi pula, masalah rumah tangga mu sebaiknya kalian bicarakan dulu berdua." Saran Alya.
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar kos di ketuk. Alya dan Wina sontak menengok ke arah pintu yang setengah terbuka.
"Pak Marcel?" Pekik Alya tertahan, entah mengapa dirinya merasa sangat bahagia saat pria itu muncul di hadapannya, namun dia juga harus menyembunyikan rasa bahagianya itu di hadapan Marcel dan Wina, sehingga dia berpura-pura untuk terlihat biasa saja.
"Ah, lagi ada tamu rupanya, maaf, aku ganggu, sebaiknya kalian lanjut saja dulu." Marcel mengurungkan niatnya saat melihat ada Wina duduk di sofa bersama Alya.
"Eh, pak, sebentar!" Alya menyusul Marcel yang memilih untuk meninggalkan tempat itu.
"Bapak ada perlu sama saya?" Tanya Alya saat Marcel meghentikan langkahnya dan berbalik menghadap padanya.
"Emhhh, bukan sesuatu yang penting, hanya ingin menayakan kelanjutan JT, tapi sebaiknya kita bicarakan lain waktu saja." Ujar Marcel.
"Mbak, aku pulang dulu aja, soalnya ini sudah malam, dan takut kalau ibu sama mas Hendri nyariin," pamit Wina, seperti tahu kalau kehadirannya mungkin saja mengganggu Alya dan tamunya.
"Eh, gak gitu, aku antar ya,!" Alya terlihat menjadi serba salah.
"Gak usah mbak, aku udah pesen ojol kok." Tolak Wina, yang mau tidak mau membuat Alya pasrah melepas adik iparnya yang tiba-tiba datang untuk curhat masalah rumah tangganya itu, padahal, selama ini Wina selalu tertutup mengenai masalah rumah tangganya, bahkan dia juga terkesan memberi jarak pada Alya, meski Alya selalu mendekatinya karena merasa kasihan selalu menjadi bulan-bulanan Yuni.
*
"Bagaimana?" Seorang pria dan wanita yang sejak tadi menunggu di dalam mobil tak jauh dari tempat kost Alya langsung antusias dan tidak sabar saat menyambut kedatangan Wina yang sejak tadi di tunggunya.
"Beres, aku bahkan dapet video bagus, aku yakin video yang aku ambil menunjukkan seolah-olah mbak Alya dengan pria itu sedang mengobrol mesra di depan kamar kostnya." Wina menunjukkan layar ponselnya dengan tak kalah bersemangatnya.
"Kerja bagus," puji mereka.
"Jangan lupa bonus yang di janjikan!" Ujar Wina menengadahkan tangannya.
"Beres,,, bonus besar siap meluncur ke rekening mu!"
__ADS_1
Tawa mereka bertiga terdengar sangat puas dan bahagia.