
Jawaban Marcel yang menyatakan kalau pikirannya tentang bos besarnya itu salah besar, tentu saja membuat wajah Alya merah padam karena merasa sangat malu karena mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal pada atasannya itu dan tiba-tiba berprasangka buruk pada tawaran atasannya itu tanpa alasan, padahal dia belum tahu apa yang akan di tawarkan Marcel padanya.
"Ini bukan adegan novel atau drama yang kau pikirkan, aku hanya melihat kinerja mu bagus dan aku ingin membantu mengembangkan bakat mu, menempatkan mu pada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar kepala akuntan." Ujar Marcel lagi.
"Ups,,, itu!" Alya menunjuk laptopnya yang kini berada di meja kerja Marcel.
"Bukankah itu---"
"iya, ini milik mu, aku hanya melihat pekerjaan mu, dantidak tertarik pada file lainnya." Kata Marcel dengan entengnya.
"Tapi itu privasi saya lho, Pak!" Alya meraih laptop miliknya dari atas meja Marcel.
"Laporan akhir bulan hanya kau yang punya, sementara laporan itu aku perlukan untuk melengkapi dokumen bulanan milik ku," Ujar Marcel beralasan.
"Anda bisa menyuruh orang untuk menelpon ku untuk memberikannya seperti biasa pada Pak Joko."
"Andai ada orang yang bisa menghubungi mu, semua orang tidak bisa menghubungi mu, makanya satu-satunya cara hanya dengan ini." Kelit Marcel.
Lagi-lagi Alya harus mengakui kesalahannya, karena benar apa yang di katakan Marcel, selama di rumah dia mematikan ponselnya, karena tidak ingin di ganggu dan tak ingin berbicara dengan siapapun.
"Aku tak akan menyuruh mu untuk mengerjakan sesuatu yang bukan di bidang mu, karena kau hebat di bidang mu, dan aku kagum dengan kemampuan mu, jadi aku ingin kau berkembang dengan menjadi akuntan independen." Ujar Marcel dengan mimik serius.
__ADS_1
"Akuntan independen? Bukankah itu sama saja berarti anda memecat dan mengusir saya dari perusahaan anda ini?" Protes Alya.
*Akuntan independen adalah seorang akuntan yang bekerja secara independen atau melakukan tugasnya secara bebas, tanpa ada campur tangan dari pihak mana pun dalam melakukan pekerjaannya, biasanya jasanya bisa dipakai oleh masyarakat umum, dan karena mereka independen, mereka biasanya mempunyai kantor sendiri, (kurang lebih seperti itu, CMIIW)*
"Tenang dulu, jangan terburu emosi, semua yang aku lakukan dan aku rencanakan tentu saja sudah di pikirkan baik-baik, ini semua untuk kepentingan bersama, aku curiga kalau yang membocorkan hasil audit itu, adalah Utari." Ujar Marcel yang tentu saja membuat Alya hampir terlonjak kaget dari tempat duduknya.
"Utari?" Beo Alya seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Hemh, sorry kalau aku harus mengatakan ini, seseorang yang ku percaya pernah beberapa kali melihat Utari dan suami mu bertemu di JT dan juga---" Marcel tak melanjutkan kata-katanya, dia sekilas menoleh ke wajah Alya yang terlihat tegang, marah dan sangat penasaran menantikan kelanjutan kalimatnya.
"Dia juga apa?" Desak Alya tak bisa lagi menyembunyikan rasa kepenasarannya pada kalimat Marcel yang menggantung.
"Tempat lain seperti apa maksudnya?" Tanya Alya lagi yang terlihat tidak cukup puas dengan penjelasan Marcel.
Namun alih-alih menjawab, Marcel justru menunjukkan beberapa lembar foto pada Alya yang duduk berhadapan di sebrang meja kerjanya.
Alya menahan nafasnya saat melihat foto sahabatnya ternyata diam-diam mendatangi suaminya di JT grup, seberapa dekat mereka, kenapa dirinya sampai tak tau dan tak menyadari kedekatan mereka itu? Namun hanya dalam hitungan detik saja, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Aliya terjawab sudah, saat beberapa lembar foto terakhir menunjukkan gambar Utari yang sedang berdiri dengan Ivan di depan bangunan sebuah hotel, ada juga kebersamaan Utari dan Ivan di depan sebuah rumah, tiba-tiba saja dia ingat dengan gantungan kunci kupu-kupu yang Ivan katakan sengaja dia beli untuknya, membuat Alya semakin yakin kalau antara Utari dan Ivan memang ada hubungan tersembunyi di belakangnya.
Kenapa Utari, kenapa justru teman terdekatnya sendiri yang menikam dirinya dan menjadi penghianat bagi karir dan kehidupan rumah tangganya, betapa kini Alya semakin tidak percaya pad siapapun di dunia ini, karena seolah semua orang memakai topeng yang tak bisa dia lihat bagaimana bentuk wajah aslinya, seolah tersenyum padanya namun di baliknya mengejek, seolah merangkul tapi ternyata menikam, semua seolah terasa palsu di mata Alya.
"Itu rumah baru Utari, dia baru saja pindah beberapa hari yang lalu ke tempat itu, menurut pemilik rumah kontrakan itu, si penyewa atas nama Ivan Kusuma, namun tak di ketahui status apa yang di miliki oleh si penyewa dengan Utari yang menempati rumah itu, pada dasarnya pemilik rumah orangnya cuek dan tidak mau tahu, yang penting baginya uang sewa full, selain itu tidak masalah." Terang Marcel mendetail dan panjang lebar.
__ADS_1
"Bukan maksud ku untuk ikut campur masalah rumah tangga mu, aku hanya menyelidiki kasus audit ini, hanya saja secara kebetulan dan tidak sengaja menemukan hal-hal seperti ini, jadi---jangan berpikiran kalau aku mempengaruhi rumah tangga mu, bisa saja mereka hanya teman, atau sebatas hubungan kerja sama yang saling menguntungkan, bukan?" Gagap Marcel merasa tak enak hati karena terkesan ikut masuk ke ranah rumah tangga orang lain.
"Emhh, lagi pula aku tidak hanya menyuruh orang untuk memata-matai Utari saja, namun Joko, Dinda dan juga termasuk kamu, namun di antara semuanya yang mencurigakan hanya Utari, dan yang lain bisa di nyatakan bersih." Sambung Marcel lagi, tak ingin Alya merasa teringgung dan salah paham dengan apa yang di lakukannya itu.
"Saya mengerti, namun yang saya tidak mengerti, setelah anda tau semua itu, mengapa anda justru memberikan promosi pada Utari?" Jelas terlihat ekspresi bingung di wajah Alya, kenapa justru Marcel memberi penghianat kenaikan jabatan dan berusaha mengeluarkan dirinya yang jelas-jelas bekerja dengan jujur dari perusahaan.
"Aku akan menceritakannya pada mu jika kau bersedia menerima usul ku tentang Akuntan independen." Kata Marcel bermain teka teki dengannya.
"Pak, anda jangan bercanda seperti itu dengan saya, membuka kantor akuntan tidak semudah yang anda bayangkan, selain butuh modal, butuh tengaha dan waktu untuk mengurus surat-surat dan perizinan yang sangat rumit."
"ku akan membantu mu, aku akan membantu dalam pengurusan izin dan segala macamnya, aku ada ruko yang bisa kamu jadikan kantor untuk sementara, jika kamu merasa tak enak hati kamu bisa bayar sewa pada ku, jika tidak, anggap saja itu sebagai investasiku di usaha mu, bagaimana?" Marcel terlihat sangat semangat menawarkan kerja sma dengan Alya yang di nilainya cukup berkompeten di bidang itu, jujur saja, selain dia punya rencana dalam menyelesaikan kasus dirinya dengan JT grup, dia juga memang melihat bakat Alya yang bagus dan tak ingin jika Alya hanya berakhir sebagai karyawannya sampai usia tidak produktif, padahal Alya bisa lebih dari sekedar menjadi karyawan biasa, dan berpotensi untuk lebih maju jika dia berdiri sendiri.
Terlebih, setelah melihat perlakuan Ivan di Jt yang memfitnah Alya dengan kejinya, sisi batin Marcel tiba-tiba terentuh dan terderak untuk menolong Alya dengan caranya sendiri.
"Saya tertarik dengan tawaran anda, tapi saya juga tak ingin ada salah paham dengan istri anda, jadi saya harap ini semua atas sepengetahuan istri anda, bagaimana?" Ujar Alya yang tidak ingin menemui masalah di kemudian hari karena melakukan kerja sama dengan suami orang, salah-salah istri Marcel akan salah paham padanya.
"Baik, itu bisa di atur dan bukan masalah bagi ku." kata Marcel santai.
"Oke, kalau begitu saya bersedia, apa yang harus saya lakukan?" Putus Alya akhirnya, tidak ada lagi ganjalan dalam hatinya dalam menerima tawaran dari Marcel, lagi pula benar kata Marcel, itu semua bukan hanya untuk kepentingan dirinya saja, tapi juga untuk kepentingan semuanya.
Alya juga sangat penasaran ingin membongkar apa yang sebenarnya terjadi pada Utari dan Ivan, dia tahu kalau dia tak akan bisa membongkarnya sendirian, mungkin Tuhan memberikan uluran tangan-Nya lewat Marcel, who know? Yang jelas, kesempatan tidak akan pernah datang untuk ke dua kalinya, selain itu, dia juga sudah berencana untuk bercerai dengan Ivan, jadi sebelum dirinya benar-benar menjalani kehidupan sendiri, dia harus memastikan kalau kondisinya memang sudah benar-benar siap untuk menjalani kehidupan sebagai seorang janda dalam berbagai sisi, baik itu materi maupun mental.
__ADS_1