Celana merah jambu

Celana merah jambu
Kecelakaan manis


__ADS_3

"Kita sama-sama lelah, dan sama-sama harus bekerja besok pagi, anda juga tidak bisa tidur di sini karena sofa basah, ayo tidur bersama ku!" Ajak Alya yang sontak saja membuat Marcel membelalakan matanya selebar mungkin karena merasa tidak percaya dengan ajakan Alya padanya itu, dia bahkan berulang kali mencerna dan mengingat-ingat apa telinganya sedang tidak salah menangkap ajakan Alya itu.


"Maksudnya?" Gagap Marcel, bayangan dan pikiran nya kali ini sudah traveling entah kemana membayangkan dia akan tidur satu ranjang dengan Alya, ini benar-benar di luar dugaannya.


"Maksudnya anda tidur di kamar ku saja, tapi jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu." Ujar Alya yang sepertinya mulai paham dengan apa yang ada di pikiran Marcel saat ini.


"Ah,, apa kau terbiasa mengajak seorang pria tidur di kamar mu seperti ini?" Tiba-tiba saja Marcel mulai dengan prasangka buruknya, sungguh kecurigaan dan pikiran buruk yang barusan di sampaikannya itu membuat suasana yang tadinya akan sempurna membuat suasana menjadi tegang kembali.


"Kalau anda ingin tidur di dapur ya silahkan saja pak, tapi mbo ya jangan menuduh orang lain sembarangan seperti itu, aku juga bisa tersinggung lho, ya!" Kesal Alya yang lantas masuk ke dalam kamarnya tanpa ingin melanjutkan pembicaraan dengan Marcel lagi yang otaknya sudah mulai kembali error.


Marcel mendengus kesal, namun kali ini kekesalannya justru di tujukan pada dirinya sendiri yang selalu saja tidak bisa menjaga ucapan dan emosinya sat dia sedang merasa cemburu, jujur saja, saat Alya menawarinya untuk tidur di kamar pribadinya, pikiran Marcel justru membayangkan jika Alya melakukan halitu juga pada Rudy, sehingga seketika hatinya di bakar rasa cemburu yang membuat dirinya melontarkan kata-kata yang tidak sepatutnya pada Alya.


Menyesal? Tentu saj jawabannya iya, Marcel sangat menyesal karena lagi-lagi dia kalah dengan emosi dan egonya, dan lagi-lagi juga dia menyinggung perasaan Alya atau bahkan menyakitinya.


Lama Marcel terdiam, berdiri di ruang tamu yang kini benar-benar seperti korban banjir, dengan lantai dan barang-barang yang basah, air juga masih menetes karena hujan tak kunjung reda, sementara Alya sudah masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang kesal sekitar lima belas menit yang lau.


Rasa lelah dan kantuk itu kini menyerang dirinya, apalagi kini dirinya hanya bisa terdiam sendirian tanpa ada teman yang bisa di ajaknya bicara.

__ADS_1


Akhirnya Marcel memberanikan diri untuk memasuki kamar Alya, toh sebelumnya si pemilik kamar itu pernah menawari dirinya untuk berbagi tempat tidur dengannya, jadi mungkin tak akan menjadi masalah jika kini dia menerima tawaran itu, meski harus di bumbui dengan drama terlebih dahulu.


Marcel terlihat gugup saat melihat Alya yang sudah terbaring di atas kasurnya yang berukuran sedang, masih muast untuk dua orang, tapi mungkin mereka akan saling berhimpitan, Alya memang sengaja membeli kasur dengan ukuran yang tidak terlalu besar karena dia hanya tidur seorang diri, bagi tubuhnya yang mungil, itu sudah angat leluasa.


Marcel memindai seisi ruang kamar berukuran sekitar 4X4 meter itu, sangat sempit jika di bandingkan dengan ukuran kamarnya yang mungkin setengah ukuran rumah Alya keseluruhan, namun kamar yang bernuansa abu-abu itu terasa hangat dan nyaman, beberbeda dengan kamarnya yang setiap malam selalu terasa sepi, untungnya kamar itu hanya di jadikan nya tempat untuk tidur saja, selain itu dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.


Alya menggeliat saat Marcel mencoba menggeser tubuh janda muda itu agar Marcel bisa berbaring di sebelahnya, matanya benar-benar terasa kantuk, dan tubuhnya terasa remuk akibat membereskan barang-barang yang terkena tetesan air dari atap yang bocor.


Tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua selama semalaman, mungkin karena rsa lelah dan ngantuk yang sama-sama mereka rasakan, sehingga mereka hanya tertidur dengan pulasnya, terlebih guyuran hujan juga membuat suasana menjadikan mereka lebih lelap tanpa melkukan hal-hal 'aneh' bagi sepasang insan dewasa berlainan jenis yang tidur dalam satu ranjang.


Sampai saat pagi tiba, Alya merasa tubuhnya hangat namun berat, nafasnya terasa pengap namun wangi yang tercium di hidungnya begitu tidak asing di indra penciumannya, Alya berusaha menjauhkan diri dari sesuatu yang seperti menghimpit tubuhnya. Namun betapa terkejutnya saat ternyata dia tertidur di pelukan hangat Marcel yang masih terpejam dengan lelapnya.


"Awh,,, apa yang kau lakukan? Mengapa menendang ku?" Kesal Marcel sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa sakit akibat berbenturan dengan pinggir ranjang dan juga lantai.


"Ke-kenapa anda lancang sekali tidur di sini sambil memeluk ku?" Alya membelalak, dia juga mengambil sebuah bantal lantas di peluknya dengan erat untuk menutupi dadanya yang jika tidur tidak memakai dalam-an, tak terbayang berarti dada yang hanya terhalang piyama itu semalaman menempel di dada Marcel, betapa saat ini Alya sangat malu, meski dirinya sama sekali tidak menyadari dan tidak mengingat bagaimana mereka tiba-tiba bisa tidur satu ranjang.


"Hey,,, apa kau mulai pikun? Atau bangun tidur tiba-tiba amnesia? yang pertama, kau yang menyuruh ku untuk tidur di kamar mu semalam, dan yang kedua, harap di garis bawahi cetak miring huruf tebal, kau yang memeluk ku meski aku sudah berusaha menyingkirkan tubuh mu agar menjauh dari ku tapi kau seperti anak kucing yang kehilangan induknya, terus menenggelamkan tubuh mu di tubuh ku, kenapa tiba-tiba jadi aku yang di salahkan!" Protes Marcel menjelaskan dan tidak terima dengan penyataan Alya yang seolah menuduhnya berbuat kurang ajar padanya, padahal jika saja Alya tahu bagaimana Marcel harus menahan hasrat ke-lelakiannya saat menyadari jika Alya memeluknya dengan erat, Marcel bahkan sampai bercucuran keringat dingin di buatnya, namun dia tetap bertahan untuk tidak melakukan apapun, dan mencoba untuk tetap tertidur dan mengabaikan itu semua.

__ADS_1


"A-apa? Ya Tuhan,,, sepertinya ada miss komunikasi di antara kita, aku memang mempersilahkan anda untuk beristirahat di kamar ku, tapi--- saya akan menggelar karpet untuk anda tidur di lantai, bukan di kasur ini bersama ku, berhubung anda semalam tidak masuk-masuk ke dalam kamar, aku pikir anda benar-benar akan tidur di dapur, sehingga tidak jadi aku persiapkan tempat untuk anda tidur, dan untuk masalah memeluk anda---- aku tidak ingat, jadi aku menolak untuk mengakui kalau aku yang memeluk anda semalam." Ujar Alya tergagap saat mengatakan kalimat terakhir, sepertinya dirinya malu kalau harus menerima kenyataan jika dirinyalah yang memeluk Marcel semalam.


"Terserah, memang itu kenyataannya, kau yang memeluk ku, dan masalah tidur di ranjang atau di lantai, mana aku tahu, kau mengajak ku tanpa memberi tahu aku harus tidur di mana, lagi pula yang penting tidak ada yang terjadi di antara kita kan?" Ujar Marcel dengan santainya dia bangkit dari lantai dan hendak kembali naik ke atas ranjang.


"Eh,, kenapa naik lagi?" Panik Alya yang melihat Marcel kembali naik ke atas ranjangnya dengan santainya.


"Ini baru pukul setengah lima pagi, masih ada waktu untuk tdur, lagi pula kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri ku sendiri, yang perlu di khawatirkan adalah diri mu sendiri yang sepertinya sulit untuk mengendalikan diri jika berdekatan dengan ku!" Ejek Marcel sambil menunjuk ke arah jam dinding yang menggantung berhadapan dengan mereka kini.


"Ishh,,, sudahlah, lanjutkan tidur anda, sepertinya aku sudah tidak ngantuk lagi!" Kata Alya yang terburu-buru turun dari ranjangnya, bukan karena dia benar-benar tidak merasa ngantuuk lagi, hanya saja mana bisa dia tertidur bersebelahan dengan Marcel dalam keadaan sadar seperti ini, semlam terjadi karena dirinya sama sekali tidak menyadarinya, anggaplah sebuah kecelakaan manis yang terjadi.


Saat Marcel terbangun, beberapa masakan sudah tersaji di meja makan untuk sarapan, Marcel tersenyum getir, antara senang dan sedih, senangnya dia bisa merasakan dan membayangkan bagaimana rasanya jika dia dan Alya berumah tangga, mungkin akan se manis ini setiap harinya, namun yang membuatnya sedih, karena kini sudah ada Rudy di antara dia da Alya, dan sepertinya Alya sangat bahagia bersama pria pilihannya, yang perlu dia lakukan saat ini hanya tahu diri sebagai siapa dia berdiri.


Bukankah tahu diri seperti ini yang rasanya luar biasa dahsyat? Masih mencintai namun terhalang kata tidak mungkin.


"kenapa hanya berdiri di sana? Aku sudah memasak sarapan untuk anda, ayo sarapan bersama!" Ajak Alya.


Marcel mengangguk, tak banyak yang mereka bicarakan saat sarapan, terlebih Marcel yang mulai sibuk dengan ponselnya, entah siapa yang dia kirimi pesan se pagi ini.

__ADS_1


"Apa istri dan anak mu mencari mu? Maaf jika aku telah menimbulkan masalah untuk mu dan keluarga mu," sesal Alya yang mengira jika Marcel sedang berkirim pesan dengan Sita.


Ada asa cemburu yang mencubit-cubit hati Alya di sela penyesalan dan rasa canggungnya kini.


__ADS_2