
Pulang kantor Alya terlihat kebingungan, Marcel yang saat itu kebetulan datang untuk mengecek firma ketika semua pegawai sudah bubar, memperhatikan Alya seperti tidak bersikap biasanya.
"Ada masalah?" Tanya Marcel, mengalihkan matanya yang sejak tadi menatap lembar demi lembar bundelan kertas di tangannya ke arah Alya yang seperti gelisah.
"Ah, tidak." Geleng Alya, dia bingung mencari alasan untuk di berikan pada Marcel kalau sore ini dirinya harus segera pergi.
"Kau mau pergi?" Tanya Marcel lagi, karena Alya terlihat memegangi tasnya sedari tadi.
"Ah, hemh. I-iya pak." Gugup Alya.
"Tak apa, tinggalkan saja aku di sini, nanti aku yang mengunci tempat ini dan kuncinya aku antar ke kost mu, emh,,, maksud ku, ke Damar." Ujar Marcel meralat ucapannya.
"I-iya pak, terimakasih." Angguk Alya.
Mendapat izin dari Marcel, langsung saja Alya bergegas pergi, waktu tersisa tinggal empat puluh menit lagi, dari yang di tentukan Ivan, Alya hanya berharap semoga jalanan tidak macet dan dia bisa sampai tepat waktu, sehingga Ivan tidak melakukan ancaman gila nya.
Sampailah Alya di hotel Z, dia segera menghubungi Ivan kalau dirinya sudah sampai, agar Ivan tau dan tidak melakukan hal-hal konyol mengenai foto dirinya dan Marcel.
Ivan yang kini menunggu Alya di sebuah kamar sweet room hotel itu tersenyum puas, tidak sia-sia selama dua hari ini dia mencari tahu siapa sosok Marcel sebenarnya, dan dia tidak menyangka jika status Marcelino Salim yang ternyata sudah menikah itu bisa menjadi jackpot dan juga senjata pamungkas untuk dirinya menaklukan Alya, sehingga istrinya itu seperti kerbau yang di cocok hidungnya dalam melakukan apapun yang dia minta.
Suara bel pintu kamarnya berbunyi, Ivan seegera mematut diri di cermin, dia ingin penampilannya maksimal dalam pertemuannya dengan Alya malam ini, dia mengintip dari kaca pengintip pintu, setelah di pastikan kalau itu benar-benar Alya yang datang, Ivan segera membuka pintu perlahan.
__ADS_1
"Sepertinya kau sangat takut jika affair mu dengan lelaki mu itu terungkap, sehingga kau buru-buru datang ke sini, bahkan tidak sempat mengganti baju kerja mu, bukankah aku bilang kalau kau harus tampil cantik malam ini saat menemui ku?" Cicit Ivan sambil menarik lengan Alya dan mengungkung tubuh ramping itu di tembok.
Jika itu terjadi ketika Alya belum tahu tabiat asli suaminya, mungkin Alya lah yang akan berinisiatif menjatuhkan diri ke pelukan suaminya dan 'menyerang' suaminya itu dengan ciuman dan sentuhan nakal, namun kali ini situasi sudah berbeda, Alya bahkan beberapa kali memalingkan wajahnya saat Ivan berusaha membelai pipinya dan juga berusaha menciumnya.
"Aku merindukan mu!" Bisik Ivan dengan suara yang terdengar 'ingin'.
Alya menatap tajam wajah suaminya yang juga sedang memandanginya penuh napsu.
"Katakan apa maksud mu menginginkan kita bertemu di tempat seperti ini? Bukankah kita akan membicarakan tentang kesepakatan mengenai ancaman mu itu?"Suara Alya terdengar ketus dan dingin.
Demi apapun, Ivan yang sejak dulu di matanya selalu tampan dan sempurna itu kini tidak bernilai sama sekali di matanya saat ini, jangan kan rindu, melihat wajahnya pun jika ini bukan demi Marcel, rasanya dia malas untuk menemui Ivan sekarang, di tempat ini.
"Oh ayolah, kenapa terburu buru, bukankah sebaiknya kita menikmati malam ini dulu, lama rasanya kita tidak menghabiskan malam berdua, aku rindu dengan wangi tubuh mu," Ivan menciumi leher Alya yang saat ini benar-benar merasa tidak nyaman.
"Apa kau sangat menginginkan tubuh ku? Kenapa, tak kau dapatkan tubuh indah seperti ku dari gundik mu?" Cibir Alya, lantas dia melepaskan bajunya satu persatu, mulai dari blous lantas celana kerjanya dengan wajah marah dan menahan tangis, hingga hanya menyisakan pakaian dal-lam nya saja.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan pada ku, lakukan sepuas mu, jika ini bisa membuat mu tidak mengusik kehidupan Pak Marcel, dia tidak bersalah!" Tantang Alya mendekatkan tubuh hampir polosnya itu ke hadapan Ivan yang hanya bisa terbengong-bengong melihat apa yang di lakukan Alya, sungguh itu di luar ekspektasinya, alih-alih ingin mengintimidasi Alya dan mengambil keuntungan dari istrinya itu, dirinya malah di suguhkan adegan di luar perkiraannya dimana Alya terlihat dengan emosional mempertaruhkan segalanya bahkan harga diri dan juga tubuhnya secara mati matian hanya untuk melindungi pria lain.
Sakit, itu yang kini di rasakan Ivan, sehingga dia tidak mampu berkata-kata, cintanya untuk Alya masihkah sangat besar, dan tentang perselingkuhan dirinya di luaran, tadinya dia hanya ingin bertualang tanpa hati, sebagai selingan untuk membuat kehidupannya lebih berwarna, namun ternyata semua tak semulus yang dia rencanakan dan di bayangkannya, perselingkuhannya itu justru melunturkan semua warna indah dalam hidupnya, bahkan rumah tangganya kini di ambang kehancuran, yang lebih parah, dia sepertinya tidak akan mempunyai harapan lagi untuk bersama Alya.
Melihat bagaimana Alya memperjuangkan nama baik Marcel dengan sebegitu gigihnya, membuat dirinya merasa kini dia sudah benar-benar kehilangan Alya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa lagi yang kau tunggu? Ayo selesaikan semuanya dengan cepat. Atau kau ingin aku yang melayani mu layaknya jal-lang seperti sebutan yang kau sematkan pada ku tadi siang?" Merasa tak ada respon dari Ivan yang tadinya sangat menggebu-gebu ingin mencumbunya, akhirnya Alya menarik kemeja yang di pakai Ivan dan membuka semua kancinya, dia beraksi bagai wanita liar namun tanpa rasa dan hanya ada marah juga emosi di sana.
"Cukup, hentikan!" Ivan menghentikan dan menahan tangan Alya yang masih berusaha membuka kancing baju nya.
"Apa kau sejatuh cinta itu padanya, sehingga kau melakukan semua ini demi melindunginya?" Sambung Ivan.
"Percuma aku menjelaskannya pada mu, kau hanya mempercayai pikiran mu sendiri, sekuat apa aku menjelaskan kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan dia, kau tidak akan pernah mempercayainya, jadi silahkan berpikir sesuka mu, aku hanya tidak ingin orang yang tidak bersalah menjadi korban salah sasaran kegilaan mu." Urai Alya.
"Pakailah! Aku tidak kekurangan stok wanita untuk aku tiduri, sehingga aku tak perlu memaksa mu." Ivan memunguti baju Alya dan memberikannya untuk di kenakan kembali.
Meski melakukan hubungan badan dengan Ivan bukanlah suatu dosa karena mereka masih terikat tali pernikahan, namun hati Alya benar-benar sudah tidak bisa melakukannya, penghianatan Ivan yang bahkan sampai menghasilkan janin di perut Hana, membuat Alya selalu terbayang saat Ivan tidur bersama wanita itu, dan jujur saja itu semua membuatnya jijik dan trauma dengan sebuah hubungan.
"Aku akan menikahi Hana, aku harap kamu jangan menghalangi atau mempersulitnya, aku hanya perlu tanda tangan pernyataan izin dari mu." Ivan mengeluarkan selembar kertas berisi surat pernyataan yang harus di tanda tangani Alya bahwa dia tidak keberatan jika suaminya berpoligami.
"Bukankah akan lebih mudah jika kita bercerai dulu, sehingga pernikahan kalian tak perlu melibatkan ku lagi?" Alya membaca surat pernyataan itu dengan seksama, dia tidak ingin ada poin-poin yang mengecoh atau merugikan dirinya di lain hari.
"Aku belum siap bercerai dengan mu." Ujar Ivan.
"Baiklah!" Singkat Alya yang setelah membaca surat itu langsung menanda tanganinya tanpa beban, toh bukankah itu lebih baik, tak ada alasan juga untuk dirinya menghalang-halangi Ivan untuk menikahi selingkuhannya yang tengah berbadan dua itu, kurang baik hati bagaimana coba, Alya ini pada mereka.
"Semudah itu? Kau langsung menanda tanganinya? Kau benar-benar ikhlas?" Ivan melongo melihat Alya yang seolah tanpa beban menyerahkan dirinya pada wanita lain.
__ADS_1
"Van, dulu kamu adalah amin ku yang paling serius, namun sekarang, kamu adalah ikhlas ku yang paling tulus, aku tak ingin menangisi lagi kepergian dan penghianatan mu, justru aku ingin berterima kasih karena kamu memberi warna dan pengalaman baru yang mungkin tak akan pernah aku dapatkan dari orang lain, karena pengalaman menyakitkan ini hanya bisa aku dapatkan dari orang sejahat kamu, ya,,, karena orang sejahat itu dan mampu melakukan ini semua, aku yakin hanya kamu!"
Tidak ada teriakan, tidak ada nada sinis, atau pun marah, semua kata-kata itu Alya ucapkan dengan sangat tenang bahkan nyaris tanpa emosi sama sekali, namun tajamnya kata-kata Alya melebihi tajamnya pedang yang menusuk tepat di jantung Ivan, sehingga membuat dia mati kutu menelan semua kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut istrinya itu.