
Tentu saja mendengar semua berita-berita ngawur dan fitnah-fitnah yang seolah semakin memojokan Alya, membuat Marcel mengeraskan rahangnya, dia yang tadinya ragu untuk kembali dalam waktu dekat kini seolah ingin segera pulang dan menghadapi mereka yang dengan seenaknya menjelek-jelekan kekasihnya.
"Kita akan pulang siang ini juga!" Kata Marcel dengan yakin.
Jika di bilang tidak takut sama sekali, ya tentu saja itu bohong besar ya, karena ketakutan itu sebenarnya ada dalam diri Alya maupun Marcel. Jika Alya takut jika nantinya dalam rapat perusahaan Marcel di jebak dan di tekan mrnggunakan dirinya karena mereka kini tahu kalau dirinya merupakan kelemahan Marcel, lain halnya dengan Marcel yang justru dalam diamnya merasa takut jika ayah dan juga mertuanya benar-benar serius ingin memenjarakan Alya.
Intinya mereka berusaha menunjukkan keberanian mereka padahal dalam diri mereka saling menghawatirkan pasangan mereka masing-masing.
"Kita akan menginap di hotel saja, karena tempat tinggal kita sepertinya sudah tidak aman, kasihan Daniel juga." Usul Marcel yang lantas di angguki Alya yang lebih ke merasa pasrah apapun yang menjadi keputusaan Marcel dia akan setuju dan percaya.
Hari sudah gelap saat mereka sampai di sebuah hotel yang berada di dekat perusahaan Salim grup, Marcel sengaja memilih tempat itu karena agar memudahkan akses dirinya saat akan menghadiri rapat perusahaan, dan dia juga akan lebih cepat bergerak jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi saat dirinya meninggalkan Alya ke perusahaan. Semua itu sudah di pikirkan Marcel sedemikian rupa, usul mengenai menempatkan penjagaan dan pengawal untuk Alya dari Marcel di tolak Alya, dia merasa kalau hal itu justru akan lebih menarik perhatian, lagi pula dirinya hanya perlu berdiam diri di kamar hotel bersama Daniel dan tidak perlu kemana pun, dia percaya dengan keamanan hotel sekelas hotel berbintang ini.
Marcel mengalah dan tidak memaksakan hal itu, sungguh ketegangan ini seperti mereka hendak menuju medan peperangan yang membutuhkan berbagai trik dan strategi dalam melawan dan mengecoh musuh.
Hari yang di Tunggu-tunggu tiba, di mana Marcel dengan berat hati harus meninggalkan Alya dan Daniel karena dirinya harus menghadiri rapat di perusahaan. Satu persatu masalalh harus di selesaikan, sehingga tidak terjadi penumpukan masalah di antara mereka yang nantinya mungkin
Akan lebih sulit untuk mereka atasi.
Ruangan rapat di Salim grup sudah di hadiri para pemegang saham, jajaran para direksi, termasuk Salim dan juga mertua Marcel yang menatapnya dengan tatapan sinis saat Marcel melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan itu, begitu pun dengan para peserta rapat yang lainnya mereka serentak memusatkan perhatian mereka pada Marcel yang beberapa hari terakhir ini menjadi buah bibir di hampir semua kalangan, akibat gosip skandalnya yang sembilan puluh persen hanya berisi fitnah yang mengada-ada saja.
__ADS_1
"Cih, akhirnya kau keluar juga dari persembunyian mu pengecut! Dasar anak tak tau diri!" Geram Salim saat Marcel mendudukan diri di kursi sebehnya setelah dia memberi hormat pada seluruh peserta rapat yang hadir.
Posisi kursi pimpinan yang seharusnya dia tempati kini telah di duduki oleh ayah mertuanya dengan wajah yang tak sedikit pun menampakan senyum padanya. Namun Marcel tidak sedikit pun mempermasalahkan hal itu, pun ketika kursi kosong yang tersisa hanya di sebelah ayahnya yang pasti akan terus mengeluarkan kata-kata sinis dan menyakitkan padanya seperti yang baru saja dia dengar barusan, untungnmya hal itu sudah tidak aneh lagi bagi Marcel, umpatan, cacian dan kemarahan Salim sudah kenyang dia makan sejak dulu, karena sifat Salim yang keras, tegas dan pemarah cenderung egois.
"Aku tidak bersembunyi ayah, aku hanya sedang melindungi orang-orang yang aku cintai dari orang-orang yang ingin menjahati dan mencelakainya." Jawab Marcel dengan santainya, yang sontak saja membuat wajah Salim memerah karena menahan amarah, jika saja ini bukan dalam acara rapat, mungkin pria setengah baya itu akan mengeluarkan kata-kata kasar dan sumpah serapahnya pada putra satu-satunya yang di harapkan bisa tetap mempertahankan perusahaannya itu bagaimana pun caranya, dan nyatanya Marcel malah menciptakan kegaduhan dengan skandal perselingkuhan yang dapat mengancam posisinya sebagai direktur Salim grup, dan tidak menutup kemungkinan juga hal itu akan membuat dirinya kehilangan perusahaan yang di rintis nya dari nol itu.
Perdebatan antara Marcel dan ayahnya harus terhenti karena Haryanto, yang merupakan ayah mertua Marcel atau atah dari Sita mulai membuka rapatnya.
Pada intinya, rapat kali ini Haryanto memutuskan untuk menghentikan kepemimpinan Marcel di perusahaan dan akan melakukan audit pada aset dan kekayaan Marcel karena Haryanto tidak ingin kecolongan jika ternyata Marcel melakukan penggelapan di perusahaan dan uang hasil korupsinya itu di gunakan menantunya untuk bersenang-senang dengan simpanannya, dan jika itu terjadi Haryanto bersumpahbtak akan melepaskan Marcel dari jerat hukum.
Haryanto juga menghentikan semua fasilitas perusahaan untuk Marcel, termasuk menghentikan gaji bulanan Marcel selama proses audit. Tak lupa Haryanto juga melarang Marcel untuk ikut campur dalam urusan perusahaan dalam bentuk apapun karena takut jika Marcel akan melakukan hal-hal yang mungkin merubah data dan sebagainya
Haryanto dengan tegasnya mengumumkan semua hal itu di hadapan semua peserta rapat, seolah dia lupa jika Marcel pernah menyelamatkan harga diri dan martabat keluarganya saat Marcel bersedia menikahi putrinya yang hamil di luar nikah tanpa tahu siapa yang menghamilinya, bahkan kekasih Sita pun tidak mau untuk mengambil tanggung jawab itu karena dia sangsi jika anaknyang di kandung Sita adalah benar anaknya, mengingat pergaulan bebas Sita saat dia berada dinluar negeri.
Tentu saja Marcel tidak merasa gentar sama sekali saat dirinya akan di hadapkan pada audit mengenai kekayaannya, karena dia tidak pernah mrlakukan kecurangan apapun pada perusahaan, sementara untuk penghentian dirinya, justru dia merasa bersyukur, dengan begitu dia tak harus repot-repot mengajukan resign karena memang dirinya berniat untuk berhenti dari pekerjaan itu, dan untuk penghentian fasilitas dan juga gaji untuknya, beruntungnya dia sudahnpernah membahas dan membicarakan hal itu dengan Alya sebelumnya, dan kekasihnya itu tidak merasankeberatan sama sekali jika mereka harus memulai semuanya dari awal lagi dan menjalani hidup dalam kesederhanaan.
Keputusan rapat sudah di tentukan, sehingga rapat pun segera di tutup dan di akhiri, numun saat Marcel hendak meninggalkan ruangan itu, Salim menghentikannya.
"Tunggu!" Cegah Salim, menghentikan langkah putranya yang seperti tergesa-gesa ingin meninggalkan ruangan itu, dada pria paruh baya itu terasa sesak dan kesal karena putra satu-satunya yang dia harap bisa mempertahankan perusahaan yang dia rintis dari nol itu ternyata hanya pasrah dan menerima saja saat Haryanto memberhentikannya dari kepemimpinan perusahaan itu, bahkan setelah pengorbanan yang telah Marcel lakukan sebelumnya, namun ternyata semuanya mungkin akan menjadi sia-sia karena Salim bisa saja kehilangan perusahaannya akibat ulah putranya itu.
__ADS_1
Marcel terpaksa menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya untuk duduk di ruangan rapat yang hanya menyisakan dirinya, Salim, dan juga Haryanto di sana, sementara para peserta rapat yang lainnya sudah membubarkan diei sejak tadi.
Sejujurnya Marcel ingin segera pulangbke hotrl dan menemui Alya juga Daniel di sana, sepanjang pelaksanaan rapat tadi dia merasa tidak enak hati dan seolah mempunyai firasat buruk mengenai kekasihnya itu, itulah mengapa sejak tadi dia lebih banyak terdiam. Sialnya lagi dia tidak bisa menghubungi Alya, meski hanya mengiriminya pesan untuk menanyakan keadaan mereka, karena dalam peraturan Salim grup, setiap rapat para peserta di larang membawa ponsel ke ruangan rapat, mereka harus menitipkan ponsel mereka saat akan masuk ruangan rapat di depan pintu pada petugas khusus, dalam hal ini Salim grup memang sangat ketat karena tidak ingin hal-hal yang di bicarakan dalam setiap rapat yang biasanya bersifat sangat rahasia dan penting itu akan bocor pada pihak perusahaan lawan sehingga akan menguntungkan mereka karena mengetahui strategi dan keadaan intern perusahaan.
"Ada apa lagi ayah? Apa tidak cukup kah dengan semua yang kalian putuskan pada ku? Bahkan aku menerimanya tanpa merasa keberatan sedikit pun. Apa lagi yang kalian inginkan?" Tanya Marcel terlihat tidak se-tenang sebelumnya karena kali ini hatinya terus-terusan memikirkan Alya, kata hatinya sungguh tidak bisa di bohongi lagi kalau saat ini dirinya merasa khawatir dengan keadaan kekasihnya.
"Aku masih bisa membatalkan apa yang tadi aku putuskan jika kau mau meninggalkan wanita itu." Kata Haryanto dengan percaya dirinya.
"Maaf, tapi dengan sangat menyesal saya harus memberitahukan jika antara saya dengan putri anda tidak bisa bersama kembali." Ujar Marcel masib menarih hormat pada mertuanya itu.
"Kau lebih memilih selingkuhan mu itu, di bandingkan dengan perusahaan?" Bentak Salim merasa kesal bercampur marah dengan keputusan bodoh yang di ambil putranya itu, padahal peluang itu sudah di buka Haryanto, jika Marcel mau menerimanya, kemungkinan dirinya untuk kehilangan perusahaan akan hilang.
"Maaf ayah, tapi aku tidaka berselingkuh dari siapapun, aku tidak menghianati siapapun dan Alya juga tidak merebut ku dari siapapun!" Tepis Marcel menolak jika dirinya di katakan selingkuh dengan Alya.
"Kau menghianati putri ku, pantas saja putri ku pergi, sepertinya dia sangat sakit hati dan membawa luka hatinya jauh karena merasa kecewa dengan sikap mu yang menduakannya." Ujar Haryanto sok tau.
"Saya dan Sita, putri anda sudah bercerai. maaf jika saya terpaksa haris menyampaikan ini, namun itunkenyataannya, dan perpisahan kami atas kesepakatan kami berdua, adapun mengenai Daniel, Sita memang menitipkannya pada ku, karena dia akan pergi dan tidak mengatakan kemana tujuannya, aku juga tidak menanyakan tuhuan dia pergi, kaminterbiasa hidup masing-masing dan tidak saling mencampuri urusan kami masing-masing." Beber Marcel pada akhirnya.
"Apa, bercerai?" Salim terlonjak kaget mendengar apa yang di sampaikan Marcel barusan, semua itu seakan meembuat harapannya untuknmempertahankan Salim grup dalam genggaman nya terbang dan hilangbtak bersisa.
__ADS_1
Sementara Haryanto hanya tersenyum miring saat mendengar semua itu, seakan tidak merasa kaget dengan apa yang di ucapkan menantunya.
"aku tau, tapi bukankah kalian bisa rujuk, dan kau tidak akan menempatkan kekasih mu dalam bahaya besar." Ujar Haryanto dengan senyum smirk nya, seolah dia sedang mengatakan pada Marcel kalau Alya dalam grnggamannya.