
"Kau yakin hanya butuh sebuah pengakuan dan tidak lebih?" Tanya Marcel ragu.
"Hmmm, seburuk-buruknya aku, aku juga ingin anak-anak ku mempunyai ayah yang baik seperti mu." Ujar Sita.
"Cih aku tidak yakin kalau kau menyadari keburukan diri mu sendiri, bukankah sejak tadi ucapan mu terkesan kalau kau selalu merasa benar, alih-alih menyadari justru kau malah melimpahkan kesalahan pada ku? Mengatakan jika ini semua karena kesalahan ku sebagai suami yang tidak memenuhi kewajiban dalam memberi mu nafkan batin?" Decih Marcel masih tidak terima dengan perkataan Sita yang tadi malah melimpahkan kesalahan padanya.
"Aku tau, aku memang istri dan ibu yang buruk selama ini, tapi tolong, ini demi anak ku, bantulah aku, sekali ini lagi saja!" Ujar Sita memelas.
"Tak perlu berkoar-koar mengakui keburukan mu, jika kau memang merasa seperti itu, aku rasa yang harus kau lakukan asalah mencari tau keburukan dan kesalahan mu sendiri, lalu perbaiki. Buka malah mengulanginya!" Sinis Marcel.
Tring,,,
__ADS_1
Sebuah pesan masuk ke ponsel Marcel.
[Ikuti saja maunya, kita harus tahu apa yang sebenarnya sedang di rencanakan olehnya.]
Begitu isi pesan yang masuk ke ponsel Marcel yang di kirim oleh Alya, tanpa sepengetahuan Sita, Marcel memang diam-diam menghubungi Alya, sehingga percakapannya dengan Sita sejak tadi Alya juga bisa mendengarkannya dengan jelas.
Marcel tidak mau ada salah paham di antara dirinya dengan Alya di kemudian hari, bisa saja kan Sita mengarang cerita aneh tentang pembicaraan mereka saat ini, seperti halnya Sita mengarang cewrita pada Alya beberapa waktu yang lalu saat dia menunjukkan surat pemeriksaan kehamilannya itu.
Saat itu Sita mengatakan pada Alya jika Bayi yang di kandungnya saat itu adalah milik Marcel, namun dia mewanti-wanti Alya untuk tidak menceritakan hal itu pada Marcel karena dia sudah terlanjur menyetujui perceraian yang di minta Marcel, lagi pula Sita mengakui kalau hubungan di antara dirinya dan Marcel memang tidak mungkin untuk di teruskan.
Marcel berdecak kesal sesaat setelah membaca pesan yang dikirimkan Alya padanya, bagaimana bisa kekasihnya itu malah menyuruhnya untuk menyetujui permintaan konyol Sita, apa Alya tidak merasa cemburu sedikit pun jika Sita nantinya terus mencari-cari alasan untuk dekat dengannya katena dirinya yang menyetujui permintaan tidak masuk akal itu?
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu mau memenuhi janji mu, kan? Hanya pengakuan saja, tidak lebih." Pertanyaan Sita membuat Marcel tersadar kembali dari pikirannya sendiri yang sedang berdebat antara mengikuti saran Alya untuk meng-iya kan permintaan Sita, atau menolaknya.
"Kenapa harus aku? Bukankah kamu bisa mendapatkan pria mana pun untuk kau jadikan ayah dari anak mu, kau bisa membayar seseorang untuk itu, aku yakin banyak orang yang mau." Ujar Marcel cuek.
Namun ternyata mendengar pernkataan Marcel, tanpa di sangka Sita malah menangis tersedu-sedu.
"apa aku se buruk itu di mata mu? Apa aku sehina itu? Apa kamu tega anak ku mempunyai ayah yang sembarangan, ayah yang aku bayar untuk mengakui? Aku memilih mu untuk menjadikan mu ayah dari anak-anak ku karena kamu ayah yang baik untuk Daniel, dan aku yakin kamu juga pria yang tulus, apa aku salah menginginkan pria yang baik untuk menjadi ayah anak ku? Aku tau aku bodoh karena lagi dan lagi terjebak mulut manis pria yang ujung-ujungnya tidak mau bertanggung jawab, tapi sehina apapun aku, aku ingin yang terbaik untuk anak ku, tolong,,, kamu boleh benci aku, tapi jangan benci anak ku." Ujar Sita panjang lebar, yang pada intinya dia mencari pembenaran dirinya sendiri dan meminta belas kasih serta mer_angsang rasa iba Marcel agar mau menyetujui permintaannya.
Ada rencana besar yang akan gagal jika sampai Marcel menolak permintaannya ini, namun jika Marcel menerimanya, semua mimpinya akan terwujud dengan mudah dan mulus.
"Hmmm,,, oke. Hanya sebuah pengakuan saja, bukan, Tidak lebih?" Ujar Marcel dengan berat hati, dadanya penuh sesak saat mengungkapkan persetujuan nya, entahlah ini keputusan yang benar atau salah, namun benar kata Alya, dia harus tau apa rencana Sita sebenarnya, mungkin dengan begini dia akan lebih banyak tau segala hal tentang Sita.
__ADS_1
Senyuman mengembang di bibir Sita, impiannya kini seperti berada di ujung matanya, sangat dekat dan hampir terwujud dalam.waktu dekat, seiring keputusan Marcel yang akhirnya mau mengakui anak yang di perutnya sebagai anaknya.
"Terimakasih, mas." Ujarnya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.