
"Lantas bagaimana dengan Sita?"
"Aku akan mengajak mu bertemu dengannya saat aku mengunjungi mereka bulan depan, yang jelas aku saat ini hanya bisa mengatakan jika aku dan Sita benar-benar sudah tidak ada hubungan apapun." Tegas Marcel tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut lagi.
"Katakan, apa kamu masih mencintai ku?" Desak Marcel, sungguh dia tidak sabar menunggu jawaban dari bibir Alya yang masih terlihat seperti ragu-ragu untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Apa itu penting?" Tanya Alya.
"Tentu saja, jawaban mu akan menentukan bagaimana aku mengambil sikap agar aku tidak salah dalam melangkah. Cukup katakan iya atau tidak."
Setelah membuang nafasnya dengan kasar berulang kali, akhirnya Alya memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Marcel, "Ya, aku masih mencntai mu meski sekuat tenaga aku berulang kali mencoba untuk mengusir rasa itu agar pergi dari hati ku, namun rasa itu masih saja tetap ada di sini." Alya menunjuk dadanya sendiri.
Berat untuk mengatakan kejujuran jika dia masih mencintai Marcel, mengingat berapa banyak pria itu membuatnya bersedih dan terluka, namun bukankah cinta itu terkadang membuat kita tiba-tiba menjadi bodoh, mampu membuat kita melakukan hal-hal yang di luar nalar dan logika.
"Terimakasih,,,terimakasih," Marcel berhambur memeluk tubuh Alyayang hanya bisa mematung.
'Apa ini berarti aku kembali melanjutkan hubungan dengan Marcel? Lantas bagaimana dengan Rudy? Ah, bodohnya aku!' Batin Alya yang kini malah kebingungan sendiri.
"Apa kamu mau percaya pada ku, jika aku katakan kalau ada yang tidak beres dengan Rudy? Aku merasa curiga jika dia---"
Belum saja Marcel menyelesaikan ucapannya, Alya sudah memotong pembicaraannya.
"Aku memang masih menyimpan perasaan pada mu, tapi itu bukan berarti kamu bebas menjelek-jelekan Rudy pada ku, bagaimana pun, Rudy selama ini baik pada ku, dia menolong ku saat aku dalam keadaan paling terpuruk, jadi tolong,,, jika kamu mempunyai kecurigaan pada Rudy, simpan saja untuk mu sendiri, jika kira-kira kamu belum bisa membuktikan kecurigaan mu itu, aku tidak mau di cap sebagai manusia yang tidak tau membalas budi baik orang lain." potong Alya.
"Maaf, sungguh aku tidak bermaksud untuk mempengaruhi mu, hanya saja--- ah, lupakan saja, mungkin benar kata mu itu hanya kecurigaan ku yang tidak berbukti sama sekali karena aku merasa cemburu dia bisa dekat dengan mu." pungkas Marcel yang mengurungkan niatnya untuk memperingati Alya soal keanehan Rudy.
__ADS_1
Lagi pula, benar kata Alya jika dirinya belum mempunyai bukti apapun atas kecurigaannya, jika hanya bukti Rudy yang ternyata pecandu judi mungkin itu lemah, bisa saja Alya sudah tau atau bahkan tidak peduli akan itu.
"tak apa, aku hanya minta pengertian mu saja dengan posisi ku saat ini, sudah sampai, aku masuk dulu, terimakasih sudah mengantar ku." Ucap Alya.
Dari kejauhan Marcel bisa melihat Rudy yang tengah duduk di kursi teras rumah Alya, sepertinya dia sedang menunggu kepulangan Alya, sehingga Marcel memutuskan untuk tidak ikut turun dan hanya mengantarnya dari tepi jalan saja.
"Alya,,,!" panggil Marcel.
"Terimakasih sudah mau jujur pada ku, jangan lupa jaga diri!" ujarnya sambil melambaikan tangan sebelum dia menjauh dari rumah Alya, sementara Alya hanya membalasnya dengan senyuman tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa itu tadi Pak Marcel yang mengantar mu pulang?" Tanya Rudy yang menyambutnya di teras rumah. "Kenapa dia tidak mampir?" lanjutnya.
"Ah, iya,,, tadi dia ada sedikit perlu di daerah dekat sini, jadi aku sekalian ikut pulang." bohong Alya, entah mengapa dia memilih untuk tidak berkata jujur pada Rudy jika Marcel memang sengaja mengantarkan dirinya pulang, ada rasa tidak enak hati jika sampai Rudy tahu akan hal itu.
Namun sepertinya perasaan itu terlalu berlebihan di rasakan Alya, karena nyatanya Rudy tidak bereaksi apa-apa dengan alasannya, justru malah ada hal yang membuatnya sedikit terkejut saat Rudy mengatakan hal ini.
"Kembali dekat? Maksudnya?" Alya mengernyit.
"Ah,,, maksud ku lebih dekat. Mungkin aku terlalu lelah jadi bicara ku semakin gak karuan, aku membawakan mu makan malam, kamu belum makan , kan?" Rudy mengangkat sebuah bungkusan plastik yang dia simpan di meja teras.
"Kenapa aku harus lebih dekat dengan Pak Marcel?" Tanya Alya masih penasaran dengan ucapan Rudy yang di anggapnya aneh itu.
"Karena---karena, tentu saja harus dekat, jadi ketika kamu ada masalah menganai proyek kamu tidak sungkan untuk meminta tolong padanya, lagi pula, cepat atau lambat, jika kita menikah suatu hari nanti kamu harus sudah bisa menangani berbagai proyek Persada." ucapnya dengan penuh percaya diri jika Alya akan mau menikah dengan nya.
"Menikah?" Beo Alya lagi-lagi menunjukkan keterkejutannya atas ucapan Rudy malam ini.
__ADS_1
"Iya, menikah. Apa kamu hanya ingin terus berpacaran dengan ku, tentu saja kedepannya kita akan menikah bukan? Atau jangan-jangan kamu--"
"Maaf Rud, tapi aku belum berpikir sampai jauh ke arah sana, aku belum siap." Tolak Alya.
"Apa ini sebuah penolakan?" Rudy mendekati tubuh Alya, dan mulai mengintimidasinya dengan mengukung tubuh mungil Alya hingga punggung wanita itu menepel di tembok.
"Apa ada pria lain di sini, selain aku?" telunjuk Rudy menunjuk dada Alya dengan penuh curiga.
"Rudy lepaskan, jangan seperti ini," Alya mulai berontak, namun tenaganya kurang kuat untuk melawan tenaga Rudy yang terus berusaha mendominasi tubuhnya.
"Apa aku kurang baik pada mu? Apa kau lupa siapa yang menolong mu saat kamu terpuruk dan tak punya siapa-siapa?" tatapan Rudy kini terlihatv menyeramkan di mata Alya, seolah pria itu ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Sebenarnya apa mau mu?" tanya Alya.
"Pertanyaan cerdas, aku mau kamu membantu ku agar Marcel berinvestasi dalam proyek-proyek ku,"
"Tapi aku tidak bisa memaksanya, pak Marcel punya pertimbangan dan perhitungan sendiri untuk dia memutuskan berinvestasi atau tidak." kilah Alya.
"Aku tau kamu bisa, karena aku tau bagaimana hubungan mu dengan dia sebelumnya," Rudy menyeringai.
"Apa maksud mu?"
"Kamu pikir aku sebodoh itu membantu mu dengan cuma-cuma? Lihatlah, akhirnya pengorbanan ku membuahkan hasil, aku mendapatkan kerja sama dengan Salim grup, tapi semua itu belum cukup, aku masih butuh banyak proyek, dan kunci ku untuk mendapatkan itu semua adalah kamu!" bongkar Rudy.
"Kamu memperalat ku demi tujuan mu sendiri dengan berpura-pura baik dan berpura-pura menolong ku?" Kaget Alya.
__ADS_1
"Bukan memperalat, lebih tepatnya membodohi mu dengan gaya!" ujar Rudy seraya tertawa puas, membuat bulu kuduk Alya merinding di buatnya.