Celana merah jambu

Celana merah jambu
Bukan muhrim


__ADS_3

Mendengar permintaan Alya yang keukeuh menginginkan perpisahan di antara mereka, Ivan justru semakin panas.


Sungguh niatnya di awal dia hanya ingin bermain-main saja dengan wanita selain istrinya itu, dan tidak ada niat sedikit pun untuk berpisah apalagi mel;epaskan Alya untuk di miliki pria lain, Tidak. Itu tidak akan terjadi, pikir Ivan.


"Tidak, aku tidak akan menceraikan mu, sampai kapan pun, kau akan tetap menjadi milik ku, apapun yang terjadi, aku mencintai mu dan aku tidak akan pernah melepaskan mu." Tegas Ivan.


"Van, tidak ada yang benar-benar menjadi milik mu di dunia ini, bahkan udara yang kau hirup saja harus kau hembuskan kembali, tidak kau tahan selamanya di dalam tenggorokan mu." Kata Alya mencoba bernegosiasi.


"Tidak! Kau milik ku, dan selamanya akan tetap menjadi milik ku, tidak akan pernah berubah, aku akan aku pastikan pria manapun tak akan pernah bisa memiliki mu karena sampai kapan pun kau tetap milik ku!" Tunjuk Ivan ke wajah Alya.


Pria yang tidak pernah marah dan selalu memperlakukannya dengan romantis itu bahkan kini terus berteriak dan memaki saat berbicara dengan nya. Konon katanya pria yang merasa bersalah akan membuat kemarahan sebagai tameng bagi dirinya, mungkin Ivan pikir dengan menunjukkan kemarahannya, maka nyali Alya akan merasa ciut dan tidak berani melawan atau menyerangnya.


"Van, jangan terus membentak dan mengasari ku, orang yang sudah kehilangan segalanya seperti ku ini tidak lagi kenal rasa takut terhadap apaun, apalagi takut terhadap mu, lebih baik kau kembali ke jal-lang mu, karena kau tidak di terima lagi di rumah ini." Usir Alya seraya menghentakkan tangannya saat Ivan lengah sehingga tangannya terlepas denga mudah.


"Alya, ini juga rumah ku, aku mempunyai hak yang sama untuk rumah ini, aku tdak sudi jika kamu membawa pria lain ke rumah kita!" Teriak Ivan seakan kehilangan akalnya.


"Teriaklah sesuka mu Van, aku lelah, setelah menghadapi makian ibu mu tadi siang, dan sekarang masih harus menghadapi kemarahan mu, lakukan apapun yang kamu mau!" Ujar Alya pada akhirnya, energinya sudah terkuras habis seharian ini, dan dia tidak mau semakin lelah karena terus meladeni kemarahan Ivan.


**


"Kemana kamu?" Tanya Ivan pagi itu, saat melihat Alya sudah berpakaian rapi, sepertinya Ivan tertidur di sofa ruang tv semalam, dia tidak berangkat ke kantor karena ini weekend.


"Jalan-jalan, shoping, ke salon, memanjakan diri, kenapa, ada masalah?" Ketus Alya yang terpaksa harus berbohong jika dirinya sebenarnya hendak mengurus firma akuntansi nya yang baru, belum saatnya Ivan atau siapapun tau tentang usahanya ini, dia hanya ingin berjuang agar kehidupannya lebih baik dan membuktikan kalau dia bisa tanpa bantuan Ivan, bukankah balas dendam terbaik menurut versi Alya adalah membuktikan kalau dirinya bisa sukses dan memuat Ivan menyesal telah menyia-nyiakannya.


"Aku antar!" Kata Ivan.

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa sendiri, dan aku juga punya uang sendiri." Tolak Alya.


Namun saat Ivan hendak memaksanya untuk ikut, ponselnya berbunyi, setelah berbicara beberapa saat dengan si penelpon, dia lantas terburu-buru pergi meninggalkan rumah, dan melupakan kalau tadi dia ngotot ingin mengatar Alya pergi.


Merasa penasaran kemana Ivan pergi di hari libur seperti ini, iseng-iseng Alya mengikuti mobil Ivan dari kejauhan, jantung Alya terasa berdegub sangat cepat saat ternyata mobil Ivan melaju ke arah komplek sektor 3 di mana rumah kontrakan yang baru di tempati Utari berada.


Jantungnya bahkan kini terasa berhenti berdetak saat di depan sebuah rumah tanpa pagar bergaya minimalis itu Utari berdiri dengan berkacak pinggang, terlihat Ivan langsung menghampri Utari dan mereka terlihat seperti sedang cekcok.


Apa ini berkaitan dengan pesan yang di kirimkan Utari padanya semalam? Pikir Alya.


Tak ada hujan tak ada angin, semalam tiba-tiba Utari mengiriminya pesan dan bertanya apa yang sedang Alya lakukan malam itu, iseng-iseng berhadiah, Alya turun ke ruang tv dan saat melihat Ivan tidur dengan lelap, dia mengambil foto Ivan yang sedang tertidur pulas itu, lantas mengirimkannya ke Utari dengan kata-kata 'Sedang nonton tv sama suami, tapi malah di tinggal bobok duluan sama dia, kayaknya dia kecapean, deh,'


Tak heran jika pagi ini Utari marah besar pada Ivan, sepertinya itu karena pesan Alya semalam padanya. Tapi Alya tidak ingin ambil pusing, meski rasa sakit itu masih ada dan terasa, namun saat ini bukan waktunya untuk meratapi kesedihannya, sudah jelas di depan matanya siapa yang kini menjadi prioritas dalam hidup Ivan, pria itu bahkan sampai pontang-panting pergi dari rumah hanya karena panggilan telepon dari wanita itu.


Bohong, jika hati Alya kini baik-baik saja setelah melihat Utari dan Ivan benar-benar dengan mata kepalanya sendiri, namun inilah kenyataannya, toh cepat atau lambat Alya juga pasti akan melihat hal itu, hanya saja apesnya, itu terjadi sekarang ini, dimana hati Alya masih merasakan sakit ketika melihat kenyataan pahit itu, Alya hanya bisa berharap jika suatu hari dia melihat hal yang sama atau bahkan lebih, hatinya sudah kebal dan tetap merasa baik-bak saja dengan itu semua.


"Maaf Pak, Saya---saya tadi--" Alya bahkan bingung memberikan alasan pada Marcel mengapa dirinya datang terlambat.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Marcel menangkap ada yang aneh dengan sikap Alya.


Alya hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, tenggorokannya bahkan terasa sakit hanya untuk menelan ludahnya sendiri, dadanya juga terasa penuh dan sesak, sementara hidung dan matanya terasa panas dan perih.


"Aku belum menunjukkan salah satu spot bagus bangunan ini, ayo ikut aku!" Marcel mengajak Alya untuk naik ke atap lantai tiga, rupanya ada bangunan rooftop dengan pemandangan yang sangat bagus di sana. "Ini spot favorit ku, mungkin nanti akan menjadi tempat favorit mu untuk menangis!" Ledek Marcel.


Alya hanya tersenyum simpul, itupun terlihat sangat di paksakan.

__ADS_1


"Ada dua cara yang bisa mengurangi beban di hati mu, yang pertama cerita, kalau kau percaya kau boleh bercerita pada ku, meski aku mungkin hanya akan menjadi pendengar yang baik, karena aku tak ingin ikut campur dalam kehidupan pribadi mu, anggap saja kau sedang berserita dengan tembok." Ujar Marcel, yang menebak kalau Alya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Yang kedua?" Tanya Alya.


"Yang kedua, menangis, ada kalanya air mata tidak menunjukkan berarti kamu lemah, ada saat-saat tertentu di mana kamu tak harus selalu terlihat kuat, terkadang Air mata juga bisa menghilangkan rasa sakit, dan membuat kita lega, maka menangislah!" Marcel menepuk-nepuk sandaran kursi yang sedang mereka duduki masing-masing ujung yang agak berjauhan.


"Ishh,,, bukankah kalau di drama-drama pria akan mengatakan itu sambil menepuk bahunya, agar si wanita menangis di bahunya, kenapa malah menepuk sandaran kursi?" Gerutu Alya.


"Bukan muhrim, lagian aku malas menonton orang nangis, kamu nangis sama sandaran kursi saja!" Ujar Marcel datar.


Alya menghela nafas panjang beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita,


"Saya melihat Ivan dengan Utari tadi, saya membuntuti Ivan yang terburu-buru keluar rumah sesaat setelah menerima panggilan telepon, dan ternyata menuju rumah kontrakan Utari."


"Oh,,," Gumam Marcel singkat.


"Hanya Oh?" Belalak Alya. Dirinya cerita panjang lebar dan Marcel hanya memberi tanggapan 'OH'.


"Kan aku udah bilang kalau aku hanya akan menjadi pendengar saja." Tepis Marcel.


"Ah iya, saya lupa kalau saya lagi bercerita dengan tembok." Alya terkekeh.


"Lagian, kenapa gak milih opsi yang ke dua aja sih, jadi gak ribet harus cerita, biasanya kan cewek paling doyan nangis." Ujar Marcel.


"Males tangis-tangisan sama sandaran kursi, gak asik, lagian bukannya bapak gak suka nonton orang nangis?" Kata Alya yang sepertinya kini mulai melupakan rasa sedihnya.

__ADS_1


Cara unik Marcel dalam menanganinya saat sedang bersedih, membuat Alya cepat untuk kembali ke mode normal, dan merasa lebih lega meski Marcel tidak memberinya saran apapun.


Terkadang saat kita bersedih atau sedang memikul beban berat, kita hanya perlu bercerita dan di dengarkan saja itu sudah cukup membuat kita kembali merasa baik.


__ADS_2