Celana merah jambu

Celana merah jambu
Dibalik rencana Utari


__ADS_3

Ivan yang melihat Hana kesakitan sambil memegangi perutnya dengan darah yang mengalir di sela-sela pahanya, tentu saja langsung membuatnya terlihat panik, dia menggendong Hana sambil berteriak meminta penjaga membukakan pintu untuknya dan memberi akses untuk keluar dari ruangan itu.


Selain memang dirinya harus segera membawa Hana ke rumah sakit, dengan begitu dia juga bisa membebaskan diri dari ruangan itu, dan menyelamatkan dirinya dari orang-orang yang kini menatapnya dengan tatapan aneh, jijik dan sebagian geram.


Ini memang di luar prediksi dari semua orang, termasuk para penjaga yang akhirnya memberikan jalan bagi Ivan untuk segera membawa istrinya ke rumah sakit, dalam hal ini ada dua nyawa yang membutuhkan pertolongan dan berada di antara hidup dan mati sehingga pihak Salim grup membiarkan Ivan menyelamatkan istri dan anaknya terlebih dahulu, dan untuk masalah tanggung jawab atas apa yang di lakukannya bersama Utari akan tetap berlanjut di kemudian hari, dia tidak akan di lepaskan begitu saja dari semua kejahatan yang sudah di perbuatnya.


Utari kini di bawa ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari aula tempat di adakannya acara, karena acara perayaan uang tahun Salim grup harus tepa berjalan sebagai mana mestinya, adapun tentang keributan yang baru saja terjadi, anggap saja sebagai selingan, atau bagian hiburan dari rangkaian acara.


Wajah Utari terlihat sangat marah, tidak ada raut penyesalan sedikit pun yang tampak di antara guratan kemarahan di wajahnya itu, keningnya berkerut, bagaimana bisa senjata yang dia bidikkan dan seharusnya terarah pada Marcel dan Alya kini malah berbalik menyerang dirinya, padahal, selain dirinya dan Ivan, dia yakin tidak ada lagi orang yang tahu dengan semua rencananya itu, lagi pula dalam hal ini dia juga tidak mungkin menuduh Ivan yang berhianat, tidak mungkin dia dengan bodohnya mempermalukan dirinya sendiri dengan memutar video panas mereka berdua.


"Bagaimana, rasanya menjadi ratu pesta? Kau menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan, apa itu menyenangkan?" Tanya Sita yang tiba-tiba saja datang ke ruangan tempat Utari kini di amankan.


Utari menoleh ke arah sumber suara, wajah wanita ini terasa asing baginya, bisa di katakan baru hari ini dia melihat Sita, dan hal yang paling di ingat oleh Utari tentang Sita adalah saat wanita itu di perkenalkan pembawa acara sebagai istri dari Marcel, lalu saat Sita tiba-tiba membuka suara dan memberi kode pada Darma sebelum video dirinya dan Ivan di putar, ya,,, tidak salah lagi, kini Utari yakin kalau semua ini ada hubungannya dengan wanita asing yang ternyata istri dari Marcel sang atasannya itu.

__ADS_1


"Anda istri dari pak Marcelino?" Utari balik bertanya untuk lebih meyakinkan dengan siapa dirinya kini berhadapan.


"Ya, kau benar, dan aku juga yang sudah merencanakan hadiah besar ini untuk mu." Jawab Sita dingin dan datar.


"Apa masalah anda dengan ku? Dan bukankah seharusnya anda tidak menghalangi apalagi merusak rencana ku ini?" Tanya Utari dengan tatapan yangtajam seolah tidak menyimpan rasa takut sedikitpun pada wanita yang merupakan anak pemilik saham terbesar di Salim grup ini.


"Aku tidak ada masalah pribadi dengan mu, hanya saja pria yang ingin kau fitnah dan kau rusak reputasinya itu kebetulan adalah suami ku," Jawab Sita masih dengan nada datar dan dinginnya.


"Sejujurnya aku tidak akan ikut campur jika kau tidak melibatkan suami ku, bahkan masalah penggelapan dana perusahaan yang kau lakukan di Salim grup pun aku tidak akan mengusiknya, hanya saja kau terlalu lancang mengusik suami ku." Kata Sita seraya menyilangkan kakinya di kursi yang berhadapan dengan Utari.


"Nah, dia,,, dia orang yang sebenarnya sudah sangat lancang merayu dan menggoda suami anda, dia--- dia wanita yang yang seharusnya menjadi musuh anda, bukan aku yang jelas-jelas berada di pihak mu, aku hanya ingin menunjukkan pada anda betapa suami anda itu tidak setia, karena suami anda mempunyai hubungan terlarang dengan dia!" Utari menunjuk ke arah Alya yang baru saja masuk ke ruangan itu karena Darma menyuruhnya untuk datang ke sana, Alya bahkan tidak tau jika di ruangan itu ternyata ada Utari dan Sita.


"Masuklah Alya," Kata Sita dengan senyuman ramah, tanpa memperdulikan ocehan Utari yang mencoba mempengaruhi dirinya dengan tuduhan perselingkuhan yang di lakukan Alya dengan suaminya.

__ADS_1


Alya mengangguk pelan, dan berjalan mendekat ke arah Sita, tanpa berniat untuk menoleh sedikit pun ke arah Utari yang duduk berhadap-hadapan dengan Sita di ruangan itu.


"Bagaimana? Aku sudah membuktikan pada mu kalau aku akan menyelamatkan nama baik mu dan juga Marcel, apakali ini kamu masih ragu jika aku tidak berniat jahat pada mu, dalam hal ini aku bisa saja membiarkan dia menunjukkan video yang akan menggiring fitnah antara kamu dan Marcel jika memang aku mempunyai niat buruk pada mu." Ujar Sita, membuat Alya seperti terdiam kebingungan.


Beberapa saat lalu, beberapa jam sebelum pesta perayaan ulang tahun Salim grup, Sita datang ke firma untuk menemuinya, karena Alya beberapa kali menghubunginya dan mengatakan kalau dia merasa terus di kejar rasa bersalah karena telah memberikan laporan keuangan Salim grup pada Sita, dia terus menayakan untuk apa Sita meminta itu darinya, dia takut jika itu di salah gunakan oleh Sita dan mungkin saja di gunakan untuk menyerang Marcel, sehingga Sita datang ke sana untuk menjelaskan dan sekalian membicarakan tentang rencana Utari yang akan mempermalukan dirinya dan juga Marcel di acara itu.


Sita bercerita kalau dirinya tidak sengaja mendengar rencana jahat Utari itu sat dirinya berada di kafetaria rumah sakit, dan Utari juga Ivan yang tidak tahu juga tidak mengenal siapa dirinya yang berada tepat di kursi belakang mereka dengan santainya membicarakan masalah rencana penyerangan terhadap Alya dan Marcel di hari ulang taun Salim grup, sehingga Sita langsung bergerak cepat di bantu Darma tanpa sepengetahuan Marcel tentu saja untuk menyiapkan serangan balik untuk Utari dan Ivan.


"Hah,, apa aku tidak salah dengar? Ja-jadi sebenarnya kau tau sejak awal tentang semua ini, dan sejak tadi kau berpura-pura tidak tau apa-apa di hadapan ku? Seolah kau masih menganggap ku teman seperti biasanya? Rupanya kau cukup mengerikan juga, Alya!" Utari membelalak ke arah Alya, bagai mana bisa dirinya tadi sempat trtipu dengan sikap Alya yang sama sekali tidak menunjukkan jika dirinya tau kalau Utari mempunyai niat menjahatinya di pesta itu.


"Kau tau, kenapa aku bertahan untuk berpura-pura menjadi teman yang baik, bahkan saat aku tau kau akan menikam ku diam-diam? Itu semua aku lakukan karena aku sangat ingin melihat detik-detik kehancuran mu, TEMAN!" Ujar Alya yang kini tak lagi ingin berpura-pura dan memasang topeng tersenyum di hadapan Utari.


"Hahaha, kau pikir kau berhasil? Aku yang sudah berhasil, akulah pemenangnya dlam hal ini, aku benci pada mu yang selalu mendapat keberuntungan dalam hidup mu, aku menjadi karyawan di Salim grup jauh sebelum kau, tapi tiba-tiba kau yang terpilih menjadi kepala akuntan, rumah tangga ku hancur, namun kau selalu memanasi ku dengan keromantisan yang dilakukan suami mu, kirim bunga lah, kirim makanan lah ke kantor, itu membuat ku sangat membenci mu, tapi bukankah kini semua milik mu sudah ku ambil alih, jabatan mu, dan juga rumah tangga mu yang berhasil aku hancurkan, dengan menggunakan adik sepupu bodoh ku yang kegatelan, tapi apa kau tau,,, aku dan Ivan sudah menjalin hubungan bahkan sejak bulan-bulan awal pernikahan kalian, hahaha,,,," tawa Utari kembali terdengar begitu puas dan bahagia menumpahkan semua rasa iri, dengki, dan kebencian yang lama dia pendam dalam hatinya pada Alya yang selama ini justru selalu menganggap dirinya sebagai sahabat.

__ADS_1


__ADS_2