Celana merah jambu

Celana merah jambu
Apa kamu masih mencintaiku?


__ADS_3

"Ada apa?" Marcel mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertuju pada lembaran dokumen di atas mejanya dan kini mengarahkan pandangannya ke arah Alya yang berdiri di ambang pintu ruangannya.


"Sa-saya ingin berbicara dengan anda." Gugup Alya.


"Silahkan duduk!" Marcel menunjuk sofa yang berada di dapan meja kerjanya, lantas dia bangkit dari kursi kebesarannya menuju sofa di mana Alya kini duduk.


"Tentang proyek yang Rudy bicarakan pada anda tadi, sungguh demi Tuhan saya tidak tahu menahu masalah itu, anda boleh menolaknya, jika memang anda tidak tertarik, jangan memaksakan diri untuk menerimanya." Ujar Alya.


"Tapi aku memang tertarik. Sebaiknya kau jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, aku tau apa yang aku lakukan." Kata Marcel yang sepertinya sangat memahami jika Alya kini merasa tidak enak hati dengan dirinya.


"Tapi---"


"Sudahlah, percaya pada ku. Aku benar-benar tau apa yang harus aku lakukan, sebaiknya mulai sekarang kau harus lebih menjaga diri mu sendiri, kau hidup sendirian jauh dari jangkauan ku dan juga pengawasan ku, aku minta kau lebih berhati-hati dalam semua hal." Kata arcel memotong ucapan alya.


Jujur, Alya tidak mengerti mengapa Marcel mengatakan semua itu padanya, apa maksud dari harus berhati-hati dari semua hal, apa sebenarnya yang ingin Marcel sampaikan padanya Alya benar-benar tidak mengerti, apa dan siapa yang harus Alya waspadai sungguh dia tidak tahu, namun yang jelas sepertinya Marcel mengetahui sesuatu yang tidak ingin dia tahu.


"Apa ada hal yang anda sembunyikan dari saya?" Tanya Alya.


Marcel menggeleng pelan, "Tidak," jawabnya singkat.


"Lantas mengenai proyek yang tadi---"


"Sudahlah aku menerimanya ataupun aku menolaknya nanti, yang jelas itu tidak ada hubungannya dengan mu, yang perlu kau lakukan hanya menjaga diri mu sendiri." Lagi-lagi Marcel hanya meminta Alya untuk menjaga dirinya sendiri, entah apa yang Marcel khawatirkan sebenarnya sampai dia mengatakan itu berulang-ulang pada Alya.

__ADS_1


"Terimakasih." Ujar Alya seraya mengangguk pelan seolah ingin mengatakan kalau dia akan menjaga dirinya sendiri.


"E,, Alya!" Panggil Marcel, menghentikan langkah Alya yang hampir keluar dari ruangannya.


"Sore ini biar aku yang mengantar mu pulang." Kata Marcel saat Alya membalikan tubuhnya menghadap ke arahnya.


"Hmm," Angguk Alya tanpa mengatakan sepatah kata pun, entah mengapa dia seolah tidak bisa menolak ajakan Marcel barusan.


Senyuman hangat pun Marcel lemparkan untuk Alya yang hanya bisa merona karena merasa gugup mendapatkan senyuman yang lama sekalitidak dia dapatkan dari Marcel semenjak perpisahan mereka.


**


"Apa kau benar-benar serius memilih Rudy untuk menjadi kekasih mu?" Tanya Marcel sore menjelang malam itu saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Alya.


"Aku hanya menjalani apa yang menjadi takdir ku saja,jika memang takdir Tuhan menginginkan aku bersama dia, ya sudah." Kata Alya terdengar pasrah.


"Ada hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan pada mu, mungkin terkesan basi, tapi aku tetap harus menyampaikannya, aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama, seperti dulu, aku bermain dengan logika dan pikiran ku sendiri, percaya jika kamu bahagia bersama Ivan dan melepas mu untuk bersama nya, namun ternyata aku salah," Marcel terkekeh, menertawakan kebodohannya sendiri di masa lalu.


"Aku dan Ivan?" Beo Alya dengan dahi yang mengerut.


"Iya, kebodohan ku dulu hanya percaya dengan mata ku, tanpa mau meminta penjelasan dari mu, saat aku melihat mu mengurusi Ivan di rumah sakit dan kalian terlihat sangat akrab, aku tiba-tiba merasa jika aku adalah roda ketiga bagi kalian sehingga diam-diam aku memutuskan untuk mundur, menghilang dari mu." Urai Marcel menceritakan kembali apa yang saat itu terjadi, bukan untuk mencari pembenaran atas sikap salahnya, hanya saja hal ini memang dia rasa harus di ceritakan pada Alya, meski terlambat.


"Pemikiran bodoh dari mana anda dapatkan itu? Aku pontang-panting menghubungi mu dan mencari mu, tau-tau kamu datang bermesraan dengan mantan istri mu," ejek Alya.

__ADS_1


"Aku tau, Ivan menceritakan semuanya padaku saat dia mengantarkan undangan pernikahannya pada ku, saat aku hendak memperbaiki semuanya, ternyata sudah terlambat, kau sudah bersama Rudy, aku tidak menyalahkan siapapun, aku satu-satunya orang yang bersalah di sini. Egois dan pecundang." ujarnya memaki dirinya sendiri.


"Aku---aku sebenarnya tidak ada hubungan apapun dengan Rudy saat itu, aku juga tidak tahu ide dari mana Rudy tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai kekasih ku." Jujur Alya, gaya bicaranya pun tiba-tiba tidak terdengar formal seperti sebelumnya.


Ciiitttt!


Tubuh Alya hampir saja terhempas ke depan jika saja dia tidak memakai seat belt.


"Oh shiiiiit! Bodohnya aku yang percaya dengan ucapan Rudy saat itu, apa itu berarti sampai saat ini kalian tidak benar-benar berpacaran?" tanya Marcel yang menginjak pedal rem dengan tiba-tiba karena saking bahagianya mendengar jika Alya dan Rudy saat itu bukanlah pasangan kekasih seperti yang Rudy akui sebelumnya.


"Aku tidak tau bagaimana aku mengartikan hubungan kami, dia menganggap ku sebagai kekasih, tapi aku belum bisa menerimanya, tapi---" gugup Alya yang kebingungan sendiri mengartikan hubungannya dengan Rudy saat ini.


"Aku mengerti, yang penting aku sudah tahu cerita sebenarnya mengenai hubungan mu dengan dia, aku merasa lebih tenang setelah mendengar semuanya dari mulut mu secara langsung. Satu hal yang tidak kalah penting untuk aku tanyakan pada mu saat ini adalah, apa kamu masih mencintai ku?" Tanya Marcel dengan tatapan mata yang mengunci tepat ke arah mata Alya yang juga sedang menatapnya saat ini.


"Apa itu masih penting?" ujar Alya membuang pandangannya terlebih dahulu saat dia mengingat sosok Sita yang sampai saat ini dia tidak pernah tahu seperti apa hubungan Marcel dan Sita setelah perpisahan mereka.


"Tentu saja, karena aku ingin tahu apa perasaan ku pada mu hanya perasan bertepuk sebelah tangan, atau kamu juga masih merasakan hal yang sama." Marcel kini sudah menggenggam tangan Alya yang terasa dingin.


"Lantas bagaimana dengan Sita?"


"Aku akan mengajak mu bertemu dengannya saat aku mengunjungi mereka bulan depan, yang jelas aku saat ini hanya bisa mengatakan jika aku dan Sita benar-benar sudah tidak ada hubungan apapun." Tegas Marcel.


"Katakan, apa kamu masih mencintai ku?" Desak Marcel, tidak sabar menunggu jawaban dari bibir Alya yang masih terlihat seperti ragu-ragu untuk menjawab pertanyaannya itu.

__ADS_1


__ADS_2