Celana merah jambu

Celana merah jambu
Menjauh


__ADS_3

"Apa kau sedang menghindari ku?" Tanya Marcel pasda Alya yang saat itu sengaja dia panggil ke Salim grup karena ada suatu hal tentang pekerjaan yang membutuhkan keahlian Alya sebagai tenaga akuntan yang dia percaya, meskipun Utari sebagai kepala akuntan yang menjabat saat ini juga sudah mengerjakan hal itu, hanya saja, entah mengapa semenjak penghianatan Utari mengenai masalah JT, membuat Marcel hanya menahan Utari di perusahaannya agar tidak kabur dan tetap dalam jangkauannya sehingga saat kasus perseteruan perusahaannya dengn Jt mulai masuk ke ranah hukum, dia tidak akan susah untuk menggunakan Utari sebagai saksinya.


"Ah, tidak pak, mana saya berani. Saya hanya sedang banyak pekerjaan di firma, ada dua perusahaan besar yang meminta saya untuk meninjau ulang biaya proyek mereka." Kilah Alya.


Padahal apa yang di tuduhkan Marcel padanya itu adalah benar adanya, semenjak jatuh putusan cerai antara dia dan Ivan, dia semakin berhati-hati dalam bertindak dan berteman, menjadi seorang janda tidaklah mudah, pandangan dan stigma masyarakat mengenai janda itu lumayan sensitif, terlihat sedikit dekat dengan lawan jenis saja pasti sudah menjadi omongan, apalagi jika lawan jenis nya itu sudah berkeluarga, habis lah di tuduh menggoda laki orang, bahkan hanya karena bersolek saja sudah di cap janda gatel karena ingin tebar pesona, padahal ya gak ngapa-ngapain. Ah,,, serba salah memang (lha, kok curhat?).


Itulah yang membuat Alya juga memilih untuk menjaga jarak dengan Marcel, dia tidak ingin menimbulkan fitnah lagi dengan pertemanan mereka, apalagi sepertinya Ivan masih menyimpan dendam kesumat bagi Marcel yang kapan pun bisa menyerangnya, jika dia rasa mempunyai 'bahan' dan celah dengan menggunakan kedekatan dirnya dan Marcel yang tentu saja akan merugikan Marcel.


"Apa firma butuh di tambah karyawan? Sepertinya kau juga sudah jarang sekali pulang ke kost dan sering lembur di kantor?" Selidik Marcel, dia tidak yakin dengan alasan yang di berikan Alya barusan, sikap menjauh Alya pada dirinya terlalu kentara dan terlalu ekstrim, bahkan jika dirinya datang ke firma seperti biasanya saat sore hari, Alya memilih untuk pergi dengan berbagai alasan, dan Alya akan kembali lagi ke firma saat Marcel sudah tidak ada lagi di sana.


"Tidak usah, kami bertiga masih mampu menanganinya." Tolak Alya yang selama ini bekerja dengan di bantu dua orang ikut bekerja di firma, sebagai perusahaan yang terbilang masih baru merintis, Alya merasa tidak perlu menggunakan banyak pekerja, lagi pula, pekerjaan yang mereka dapat juga belum begitu banyak, masih bisa di tangani meski kadang Alya harus lembur sampai lewat tengah malam.


"Ada sebuah perusahaan baru yang menawarkan kerja sama, mereka baru saja memenangkan tender proyek besar, karena terkendala masalah keuangan, mereka menawarkan kerja sama supaya Salim grup yang mensuplay bahan bangunannya dan mereka yang menyediakan tenaga kerja, coba kau tinjau kembali berkas-berkas yang mereka ajukan dan hitung kembali keuntungan yang akan kita peroleh jika kita ambil penawaran mereka."

__ADS_1


Alya mengambil tumpukan dokumen dari atas meja kerja Marcel dan membacanya selembar demi selembar dengan teliti.


"Maaf pak, bukankah ini perusahaan yang menangani proyek mall yang samapai saat ini mangkrak itu?" Alya teringat dengan proyek yang di kerjakan Ivan terakhir kali sebelum dia naik jabatan menjadi manajer di JT.


"Aku dan Darma juga berpikir hal yang sama seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak begitu yakin karena saat pertemuan, orang-orangnya sudah ganti semua, makanya aku minta kamu untuk meninjau ulang." Terang Marcel.


"Baik, saya akan membawa berkas-berkas ini dan akan saya kerjakan di firma saja," Alya membereskan dokumen-dokumen itu untuk dia bawa dan kerjakan di kantornya.


Ada tatapan keragu-raguan yang terpancar dari sorot mata Alya, mati-matian dia menghindari Marcel, justru sekarang dirinya malah harus terjebak satu ruangan dengan pria yang sedang di hindarinya itu, dan kemungkinan ini akan berlangsung beberapa hari, karena pekerjaan ini bukan pekerjaan yang sederhana, perlu kejelian dan benar kata Marcel, pasti ada banyak hal yang harus dia diskusikan dengan pria itu dalam menanganinya.


"Emhh,,, baiklah, kalau begitu saya akan mengerjakannya di ruangan pak Damar," putus Alya mencari jalan tengah, toh ruangan Damar yang berhadap-hadapan dengan ruangan Maecel itu hanya berjarak beberapa langkah saja, sehingga jalau ada hal yang perlu di diskusikan dengan Marcel, akses dirinya masih terhitung mudah.


"Kau menghindariku. Apa masalahnya sekarang? Apa mantan suami mu mengancam mu lagi?" Marcel tersenyum miring, sangat terlihat jelas jika Alya memang menjauhinya.

__ADS_1


"T-tidak, tidak ada masalah apapun, tidak ada ancaman apapun, saya hanya hanya---hanya---" berat rasanya didah Alya untuk mengatakan kalau dirinya hanya tak ingin kebersamaan mereka menjadi rumor yang dapat merusak hubungan rumah tangga Marcel.


"Hanya apa? Hanya tidak mau menimbulkan gosip? Hanya tidak mau jika nantinya akan menjadi masalah dalam rumah tangga ku?" Tebak Marcel dengan sangat tepat dan telak, sehingga membuat Alya terdiam tidak bisa berkata-kata, dia tidak menyangkal ataupun mengiyakan tebakan Marcel.


"Kita hanya bekerja, ada yang salah? Bukankah kita tidak melakukan hal-hal yang di luar itu, untuk apa memperdulikan omongan orang, lagi pula siapa yang akan melihat mu di ruangan ini? Tidak ada yang berani masuk ke sini kecuali Darma, dan jika pun ada karyawan lain yang datang ke sini, tentu saja itu karena perintah ku, jadi tidak ada alasan lagi untuk mu, kau kerjakan di sini, tidak usah ada tawar-menawar!" Perintah Marcel terdengar seperti tidak menerima bantahan sepeti biasanya, yang akhirnya mau tidak mau membuat Alya tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Marcel.


"Baiklah, saya akan mengerjakannya di sofa." Lirih Alya sambil menunjuk sofa di seberang meja kerja Marcel, dan langsung melangkahkan kakinya ke sana, mencari pisi ternyaman untuknya bekerja, meskipun jujur saja dia tidak nyaman sama sekali bekerja dalam satu ruangan dengan Marcel, namun kali ini Marcel bisa di bilang klien nya, meskipun Marcel mempunyai saham di firma yang mereka kelola, bukankah kepuasan klien menjadi yang utama dalam perusahaan jasa seperti yang dia jalani saat ini.


"Jangan terlalu memikirkan omongan orang lain, hidup kita adalah milik kita sendiri, tidak harus terbatasi dan di atur oleh pendapat orang, lakukan apa yang ingin kau lakukan selama itu membuat mu bahagia, hidup hanya sekali, dan itu sangat singkat, buat perjalanan hidup mu bahagia, jangan mau di atur orang lain atau melakukan sesuatu karena suatu keterpaksaan, karena jika itu terjadi, sepanjang hidup mu akan terasa seperti penyiksaan batin yang tiada akhir, bahkan untuk sekedar menyesal pun tidak bisa." Ujar Marcel dengan mata yang memandang jauh ke jendela, alih-alih memberi wejangan pada Alya, namun semua kata-katanya terdengar bagai curahan hatinya sendiri, kisah hidup yang dia alami namun sengaja dia sembunyikan.


"Saya pasti akan berusaha untuk menggapai kebahagiaan saya, terimakasih bapak selalu mengingatkan dan memberi semangat pada saya, semoga kehidupan bapak juga selalu di beri kebahagiaan," ucap Alya yang menangkap raut kesedihan tersembunyi dan luka hati yang sengaja Marcel tutupi dengan sikap dingin dan angkuhnya selama ini.


"Hmm, aku bahagia, kok." Ujar Marcel dengan senyum satir yang dia tujukan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2