Celana merah jambu

Celana merah jambu
Kekasih ku


__ADS_3

Namun begitu, dia juga akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah di mana Alya dan Rudy berdiri, sudah satu jam lebih lamanya dia berdiri menunggu kedatangan Alya, dia tidak ingin kesempatan itu terbuang begitu saja, kakinya mantap melangkah mendekat, dan berhenti tepat di hadapan Alya yang sedang asik mengobrol dengan Rudy.


Seketika raut wajah Alya dan Marcel menegang, saat mereka beradu tatap ta pa sengaja, pertemuan pertama setelah lama mereka terpisah begitu saja tanpa ada kabar dan kepastia akan hubungan mereka membuat kini sikap mereka kembali menjadi canggung.


"Ah, pak Marcel,,, suatu kehormatan bisa berjumpa dengan anda di sini, saya dengar anda sekarang sudah kembali ke Salim grup?" Sapa Rudy yang tentu saja mengenal Marcel, yang namanya cukup berkibar di dunia bisnis, apalagi bisnis mereka termasuk di bidang yang saling berkaitan, Rudy yang merintis usaha di bidang property itu tentu saja membutuhkan Marcel yang perusahaannya di bidang pengadaan bahan bangunan.


"Maaf,,, anda??" Marcel mengerutkan dahinya seperti mengingat-ingat pria yang berada di sebelah Alya dan menyapanya, anmun seberapa besar usahanya untuk mengingat, Marcel tetap tidak dapat mengenali siapa pria yang menjadi lawan bicaranya ini.


Tentu saja Marcel tidak akan mengingat Rudy, karena memang dia tidak mengenalnya, Rudy hanya perintis perusahaan property kecil, sementara orang-orang yang di kenalnya rata-rata dari kalangan pebisnis besar.


"Oh maaf, saya Rudy, dari CV Persada. Mungkin anda tidaka kan mengenal saya atau bahkan baru pernah mendengar perusahaan saya, tapi sya sudah banyak mendengar nama besar dan kehebatan anda dalam dunia bisnis." Sanjung Rudy yang memang mengagumi kehebatan Marcel dalam berbisnis, sepertinya memang bukan hanya dirinya, semua orang di kalangan bisnis property akan mengakui jika Marcel adalah pebisnis hebat, dia mampu membuat nama besar Salim grup semakin meroket dan di perhitungkan di kancah dunia bisnis internasional.


"CV Persada?" Beo Marcel, kali ini sepertinya dia pernah membaca atau sedikit mengingat nama itu, sehingga dia seperti mulai mengingat-ingat lagi dimana dia mengenal nama itu.


"Perusahaan saya pernah mengajukan kerja sama pada Salim grup sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, namun sepertinya pihak anda sangat sibuk sehingga belum memberi tanggapan, tapi saya memaklumi kok, pak Marcel,,, Salim grup menangani banyak pekerjaan dan urusan, tentu saja ada banyak antrian panjang yang ingn bekerja sama dengan perusahaan besar anda selain perusahaan saya." Rudy merendah.


"Apa anda mengenal kekasih saya?" Rudy menunjuk Alya yang terperanjat kaget karena tiiba-tiba Rudy memperkenalkannya sebagai kekasih pada Marcel yang juga tak kalah kagetnya.


"Ke-kekasih? Ah itu,,, kekasih anda pernah bekerja di Salim grup cukup lama, tentu saja aku mengenalnya, dan aku berniat untuk menyapanya." Ujar Marcel yang berhasil menyembunyikan rasa gugupnya.

__ADS_1


"Iya kah? Aku sungguh tidak mengetahuinya, baiklah jika begitu, silahkan kalian berbicara, karena saya juga harus ke toilet sebentar." Kata Rudy yang malah meninggalkan Alya berdua bersama Marcel.


Gugup, canggung, deg-degan dan banyak lagi perasaan yang kini bercampur aduk di dada Alya saat harus berhadapan kembali dengan Marcel, matanya bahkan terus berkeliaran kesana kemari untuk menghindari beradu tatap dengan pria yang sempat dekat dengannya itu.


"Hai, apa kabar!" Marcel mengulurkan tangannya mengajak Alya bersalaman.


Tangan Alya mengambang canggung untuk menerima uluran tangan pria yang sampai saat ini kalau boleh jujur masih dia rindukan kehadirannya itu, bahkan wangi tubuh Marcel saat ini pun masih sangat familiar di penciuman Alya membuat dirinya beberapa kali menepis pikirannya yang memaksanya untuk kembali mengingat kebersamaan mereka di waktu sebelumnya.


Pahit dan manis persaan nya untuk Marcel kini seakan Alya rasakan dalam satu waktu yang bersamaan, namun sialnya itu hanya dalam bentuk kenangan yang menari-nari di kepalanya.


"Ah, harusnya aku tak perlu bertanya bagaimana kabar mu, tentu saja kabar mu sangat baik, kamu terlihat sangat bahagia bersama kekasih baru mu, selamat!" Ujar Marcel seraya menurunkan kembali tangannya yang tidak mendapat sambutan balik dari tangan Alya.


Entah terimakasih untuk apa, yang jelas hanya kata-kata itu yang mampu dia pikirkan dan diaucapkan untuk menjawab ucapan Marcel yang panjang lebar padanya, meskipun entah mengapa sebenarnya hatinya tidak sreg saat Rudy mengakui dirinya sebagai kekasih, sentah mengapa dia merasa kasihan dengan raut wajah Marcel yang terlihat sangat sedih dan kecewa saat mendengarnya.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian." Marcel mengangguk pelan seraya berpamitan dan melangkahkan kakinya yang terasa berat untuk menjauh dari Alya yang kini sudah menjadi mili orang lain itu.


Terkadang memang kita baru bisa merasa kehilangan saat orang itu benar-benar telah pergi dari kita, berjuta sesal yang menyesaki dadanya punkini seakan tiada guna lagi.Bukankah penyesalan seperti ini yang rasa perihnya luar biasa dahsyat?


Selalu ada yang berharga dalam setiap keputusan meski akibat yang di tanggungnya dari sebuah ke plin-planan dirinya adalah kepahitan, segala andai seakan sudah tidak berlaku lagi bagi Marcel dan Alya.

__ADS_1


"Kemana Pak Marcel?" Mata Rudy mencari sosok pebisnis hebat yang tadi dia tinggalkan bersama Alya.


"Dia sudah pergi, mungkin ada kesibukan lain," Jawab Alya datar.


"Hmmm, orang hebar sepertinya tentu super sibuk, beruntung sekali aku bisa bertemu dengannya secara langsung di sini, oh iya, kamu pernah bekerja di Salim grup, kenapa kamu keluar? Padahal banyak yang memimpikan untuk bekerja di sana." Tanya Rudy.


"Hanya ingin mencari suasana baru." Ujar Alya tampak seperti tidak bersemangat seperti sebelumnya setelah dia bertemu dengan Marcel.


"Owh,, oke." Rudy mengerti jika Alya tidak ingin membicarakan masalah itu.


"Rud, kenapa kamu memperkenalkan ku sebagai kekasih mu tadi?" Tanya Alya, terlihat agak kesal.


"Emmh,, apa aku salah? Aku pikir aku hanya mengikuti kemauan mu, kamu mengajak ku datang ke sini sebagai pasangan mu dan semua orang harus tahu jika aku kekasih mu agar kamu tidak terlihat menyedihkan di pesta pernikahan mantan suami mu, bukan kah itu yang kamu katakan pada ku tempo hari?" Kata Rudy.


Alya tersenyum kecut, dia ingat kalau dia pernah mengatakan guyonan itu, namun dia tidak menyangka jika Rudy menganggap hal itu sebagai ucapan serius, tapi ya sudahlah,, toh semua juga sudah terjadi, lagi pula Marcel juga mungkin sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri bersama Sita, apalagi dia mendengar jika pengacara Sita akhirnya dapat membebaskan Sita dari tahanan dengan jaminan sejumlah uang dan juga jaminan dari ayahnya, Sita hanya menjadi tahanan kota saja, entah apa yang terjadi, namun di kalangan orang berduit dan berkuasa tentu saja hal itu bukanlah hal yang aneh mustahil terjadi.


"Ah sudahlah, lupakan saja, tidak ada yang salah, kok." Alya mengibaskan tangannya seraya mengatakan kalau tidak masalah untuknya dan lupakan saja.


"Apa itu berarti aku boleh memperkenalkan mu sebagai kekasih ku pada siapapun setelah ini?" Rudy tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tentu saja tidak! Ini yang pertama dan terakhir kamu mengarang cerita seperti itu, ingat kita sudah sepakat kalau kita saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu, jangan aneh-aneh, deh!" Tolak Alya sambil tertawa meski hatinya masih terasa sedikit kesal pada Rudy.


__ADS_2