
"Tuan Marcel tidak ada di kamarnya, Nyonya," lapor asisten rumah tangga yang di perintahkan Sita untuk membangunkan suaminya untuk sarapan.
"Hmm, ya sudah terimakasih." Jawab Sita seraya menatap berbagai menu masakan yang tersaji di meja, sepertinya dia terlalu senang karena Ivan pulang ke rumah, dan berharap bisa menikmati sarapan bersama suaminya, namun ternyata berbagai menu masakan yang dia siapkan itu lagi-lagi harus dia makan sendirian, dan sisanya mungkin akan menjadi rezeki para asisten rumah tangga di rumahnya untuk menghabiskan berbagai makanan enak itu.
Rumah tangga yang di jalaninya selama satu tahun ini tak seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, memang pernikahan mereka bukan atas dasar cinta, namun karena perjodohan orang tua mereka, bahkan sebelum menikah Marcel terang-terangan mengatakan kalau dia tidak bisa mencintainya, dan adapun dia bersedia menikahinya, itu semata karena paksaan orang tuanya, Sita kira seiring berjalannya waktu Marcel bisa menerimanya, namun ternyata setahun berlalu tidak ada perubahan berarti, Marcel tetap bersikap dingin padanya, bahkan semakin dingin dari sebelumnya.
Entahlah, apa yang di pertahankan dalam rumah tangga aneh ini, namun baik Marcel maupun Sita sepertinya punya alasan masing-masing untuk tetap bertahan dalam ikatan tanpa cinta itu.
**
"Dia tidak pulang kesini?" Tanya Marcel saat pagi sekali sudah datang ke rumah Darma hanya untuk memeriksa apakah Alya pulang ke kost atau tidak, semalaman bahkan dia tidak bisa tidur memikirkan hal itu.
"Siapa yang anda maksud bos?" Tanya Darma masih dengan wajah bantalnya, semalam dia baru sampai ke rumahnya jam 11 malam akibat mengantarkan Marcel ke firma yang berujung dia harus pulang sendirian, lantas pagi-pagi buta begini Marcel sudah datang lagi mengganggu tidurnya.
Mendapat pertanyaan balik seperti itu dari asistennya, Marcel lengsung memberikan tatapan galak padanya.
"Ada dua puluh tiga kamar kost di sana, mana saya tau penghuni kost yang mana yang bos maksud." Kilah Darma.
"Alya!" Sewot Marcel dengan kesal.
"Oh, Alya,,, lha bukannya semalaman bos tungguin dia di firma, kenapa jadi tanya saya, saya kan di usir bos, semalam." Ujar Darma masih merasa kesal dengan ulah bosnya semalam.
"Jangan banyak tanya, cepat ketuk pintu kamarnya, pastiin dia di dalam atau tidak!" Titah Marcel memaksa.
"Tapi bos, ini masih setengah enam lho, ya!"
"Cepat, kau bisa cari alasan apa kek, ngambil laporan atau apapun, pokoknya kau kesana sekarang juga!" Bentak Marcel yang membuat Darma mau tidak mau terpaksa melaksanakan perintahnya.
Beberapa menit kemudian,
"Kayaknya gak pulang deh bos, di ketuk-ketuk bahkan di gedor pintunya gak ada yang nyaut, malah di bawah pintu kamarnya saya nemuin ini." Darma menyodorkan sebuah undangan.
Marcel meraih undangan itu, tertulis nama Ivan dan Hana di muka undangan yang berwarna merah jambu itu.
"Oke, ini aku bawa," ujar Marcel melengos lantas pergi.
__ADS_1
"Bos, kemana? Itu undangan orang jangan di bawa pergi!" Teriak Darma.
"Ngasiin undangan ke penerimanya langsung." Ujarnya sambil berlalu.
"Astaga, punya bos kok ya gitu amat, datang pagi buta cuma buat melakukan hal konyol, hemhhh untung gaji ku gede, kalo gak, udah resign dari kapan taun!" Gerutu Darma, meski hanya bisa memendam kesalnya dalam hati saja.
Perasaan Marcel campur aduk, saat dia mengendarai mobilnya menuju firma, namun seketika perasaan itu hilang saat melihat mobil Alya masih terparkir di tempat yang sama seperti semalam di depan kantornya.
"Ah, aku pikir kau pergi bersama suami mu!" Gumamnya dengan perasaan lega.
Ingin rasanya Marcel masuk ke bangunan itu, meski dia memegang kunci cadangan firma, namun hal itu urung dia lakukan, dia hanya mengulang apa yang di lakukannya semalam, memantau dari dari dalam mobil, hanya saja, jika semalam dia lakukan di seberang jalan, sekarang dia lakukan tepat di depan kantor persis, dia juga memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan mobil milik Alya.
Tok,,,tok,,,tok,,,!
Suara ketukan kaca jendela mobil dari luar membangunkan Marcel yang tanpa sadar tertidur di balik kemudi.
Sosok Alya terpampang jelas di sampingnya, berdiri tepat di sebelah kanannya, dengan pandangan menyelidik ke dalam mobil.
"Kenapa Bapak tidur di sini?" Tanya Alya saat Marcel membuka kaca jendela mobilnya.
"Ah itu,,, tinggal sedikit lagi selesai pak, apa bapak mau menunggu sebentar, biar saya selesaikan?" Tanya Alya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, inilah yang marcel tunggu, "Oke, tapi jangan lama-lama ya, soalnya aku keburu-buru!" Kata Marcel sok jual mahal, padahal dalam hatinya dia berharap bisa berlama-lama bersama dengan istri orang itu.
"Apa yang kau bawa itu?" Sambung Marcel sambil menunjuk ke arah kantung plastik yang di berada di tangan Alya.
"Ini nasi uduk, beli di depan sana, bapak mau?" Tawar Alya.
"Belikan aku satu bungkus, biar kita sarapan bersama." Ujarnya sok cuek dan sok berlaga tidak butuh.
"Apa kedatangan bapak semalam ke sini juga berkaitan dengan laporan ini?" Tanya Alya polos, di sela sarapannya.
"Iya," jawab Marcel singkat, beruntung Alya punya pikiran seperti itu, sehingga dia tidak perlu repot mencari alasan kedatangannya ke tempat in selamam.
"Maaf ya pak, lagi-lagi saya malah merepotkan bapak, tapi bapak baik-baik saja, kan? Tidak terluka, kan?"
__ADS_1
Marcel menggeleng, lebih tepatnya tidak ada sedikitpun bagian tubuhnya yang terluka kecuali hatinya yang sampai saat ini masih terasa perih jika mengingat kejadian semalam.
"Kau pasti sangat mencintai suami mu, ya?" Ujar Marcel, menghentikan makannya, nasi uduk yang tadi terasa nikmat karena di makan bersama Alya tiba-tiba tidak bisa tertelan olehnya, akibat dadanya yang seketika saja terasa sesak dan penuh, sehingga selera makannya menghilang seketika.
"Eh, maksudnya?" Bengong Alya, tidak mengerti.
"Terbukti saat keadaan panik pun kau hanya mengingatnya untuk di hubungi dan di mintai pertolongan."
"Ah, itu,,, saya hanya menghubungi secara acak saja karena paniknya, dan sialnya malah tersambung dengan nomor Ivan, andai saya tidak panik seperti semalam, pasti saya akan memilih orang lain untuk di mintai pertolongan, pak Darma, misalnya. Atau siapapun yang penting bukan dia." Urai Alya.
"Darma? Kenapa aku tidak ada di opsi mu?" Protes Marcel.
"Saya kan tidak tahu nomor telepon bapak, setiap kali bapak menghubungi saya, pasti menggunakan nomor pak Darma, kalau tidak menggunakan nomor perusahaan." Terang Alya, membuat Marcel yang kini sedang minum langsung tersedak.
Padahal semalaman Marcel sudah overthingking dan sampai tidak bisa tidur karena memikirkan Alya yang memilih untuk menghubungi Ivan, ternyata jawabannya di luar prediksinya.
"Pak, Bapak baik-baik saja?" Alya bangkit dari tempat duduknya dan menepuk-nepuk pelan punggung dan juga tengkuk Marcel karena merasa kasihan mantan bosnya itu tersedak sampai wajahnya memerah.
"Aku baik-baik saja," Marcel menjauh dari Alya, seluruh tubuhnya merinding saat tangan Alya menyentuh punggung dan tengkuknya, kalau begini ceritanya, dia bukan mati karena tersedak, tapi bisa mati karena jantungan.
"Maaf, saya tidak bermaksud---" menyadari tindakannya mungkin melewati batas dan di anggap lancang, Alya segera meminta maaf, sungguh hal itu dia lakukan karena semata ingin menolong Marcel saja, tidak ada maksud lain.
'Oh ayolah Alya, tindakan mu tadi sungguh lancang, menyentuh suami orang dengan seenaknya.' Alya merutuki apa yang baru saja di lakukannya pada Marcel.
"Aku tadi mampir ke tempat kost mu, aku pikir kau pulang ke sana, dan aku menemukan ini di depan pintu kamar mu." Marcel menyodorkan undangan yang tadi dia dapatkan dari Darma.
Alya tersenyum kecut saat membaca undangan dengan nama suaminya dan juga selingkuhannya tertera di muka undangan itu, dia tidak menyangka jika pernikahan yang di jalani nya akan se-menyakitkan ini, pernikahan yang selalu dia harapkan hanya sekali seumur hidup dan memberinya kebahagiaan sampai maut memisahkan dirinya dan Ivan justru malah membuatnya merasa tersiksa seperti di neraka.
"Kau baik-baik saja? Apa kau tidak ingin sekedar melihat atau membacanya?" Tanya Marcel.
"Tidak. Lagi pula aku tak akan datang untuk menghadiri pernikahan mereka dan membiarkan mereka menghina dan mengejek ku, sehingga aku akan terlihat sangat menyedihkan di hadapan semua orang." Tegas Alya.
"Kalau boleh aku sarankan, sebaiknya kau datang, buktikan kalau hal itu tidak membuat mu terluka dan menangis, buktikan pada semua orang kalau pernikahan mereka tidak akan membuat mu terlihat menyedihkan, kau cantik, pintar, mandiri, jadilah kuat, sampai mereka tidak lagi mampu untuk menyakiti mu, aku percaya kau hebat, dan kau mampu!" Ujar Marcel dengan tatapannya yang seakan sedang men-transfer kekuatan penuh untuk Alya agar dia bangkit dan tidak pasrah terhadap keadaan.
Mendengar semua kata-kata semangat dari Marcel, membuat keyakinan dirinya kembali bangkit, benar kata Marcel dia tidak harus bersembunyi dari keadaan kerena takut akan penilaian orang lain terhadapa dirinya, sementara mereka yang berbuat dosa saja dengan percaya diri tampil di muka publik denganmengadakan pernikahan secara terbuka.
__ADS_1
"Benar kata anda pak, saya akan datang ke acara pernikahan mereka, saya tidak akan membalas luka dan tangisan yang pernah mereka berikan pada saya, namun akan saya pastikan, saya tidak akan pernah membiarkan mereka merasa bahagia ataupun tersenyum lagi." Geram Alya dengan kedua tangannya yang terkepal sempurna.