
"Apa kau sedang hamil?" Tanya Marcel tiba-tiba.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Marcel, meski Alya sedang dalam keadaan sakit, namun dia masih mampu untuk melayangkan tamparan yang membuat pipi Marcel terasa panas sekaligus perih.
"Apa aku se-rendah itu di mata mu?" Sinis Alya, ingin rasanya dia menyumpal mulut Marcel yang mengatakan hal kurang ajar padanya seolah-olah dirinya itu wanita murahan yang biasa berhubungan dengan semua pria yang dekat dengannya.
"A-aku hanya--" Marcel mulai merasa tidak enak hati karena mengatakan hal itu, jauh di dalam hatinya dia sebenarnya ingin bertanya 'apa kamu sakit?' Namun apa daya yang keluar dari mulutnya malah kalimat yang sama sekali berbeda.
Itulah pentingnya mengelola emosi, sehingga kita bisa mengontrol diri sehingga tindakan dan ucapan kita tidak menyakiti atau menyinggung orang lain.
"Jangan samakan semua wanita dengan pasangan mu yang bisa hamil dengan sembarang orang," sinis Alya yang entah mengapa saking emosinya dia justru malah mengatakan hal itu, tentu saja pasngan yang di maksud Alya adalah Sita yang di ketahuinya pernah beberapa kali hamil akibat pergaulan bebasnya.
"Jangan bawa-bawa orang lain, kalau mau marah karena ucapan ku, marah saja pada ku, ini tidak ada hubungannya dengan Sita!" Marcel justru malah membela Sita secara terang-terangan.
"Sebaiknya anda pergi, anda membuat saya semakin pusing dan perkataan anda membuat saya semakin merasa mual." Rupanya Alya pun tak kalah marahnya, jika untu masalah pekerjaan dia bisa masih bisa bersikap profesional dengan menahan diri dan tidak pernah melawan Marcel, kali ini dia tidak bisa diam jika marcel sudah mengusik masalah pribadi.
"Satu lagi, kita hanya sebatas partner kerja saja, jadi tolong jangan bawa-bawa masa lalu konyol kita, maaf,,, sepertinya saya harus pamit pagi ini, saya harus ke klinik, tim saya akan menanganinya dan nanti siang setelah saya selesai berobat, saya usahakan kembali ke kantor. "Alya melengos meninggalkan Marcel yang tidak mengira Alya akan se-marah itu padanya.
__ADS_1
Marcel baru menyadari jika ucapannya pada Alya memang keterlaluan, jika apa yang di ucapkan pada Alya itu sama saja dia merendahkan Alya sebagai perempuan, ada segumpal sesal dalam hatinya mengapa dirinya harus terbawa emosi, sehingga niat awal dirinya yang ingin memperbaiki hubungan dengan Alya, kini justru malahj semaki berantakan dan hubungan mereka malah semakin memburuk.
Marcel berlari mengejar Alya yang sepertinya belum jauh dari area proyek, matanya mencari-cari keberadaan Alya, syukurlah Alya masih berdiri tak jauh dari sana, sepertinya dia sedang menunggu angkutan umum untuk membawanya ke klinik terdekat.
"Ikut aku!" Ajak Marcel seraya menarik lengan Alya.
Alya yang merasa tubuhnya semakin lemas dan pusing hanya bisa menurut meski mulut dan hatinya terus menolak. "Lepaskan, aku tidak mau, aku bisa sendiri, aku sudah pesan ojek online!" Tolak Alya, namun sayangnya penolakan itu di abaikan Marcel begitu saja, pria itu seakan menulikan telinganya dan tetap keukeuh membawa Alya masuk ke dalam mobilnya yang kebetulan parkir di dekat mereka kini berdiri.
"Tidak usah banyak protes, aku hanya tidak mau kau beralasan tidak menjalankan tugas mu karena sakit mu ini, padahal kau pulang ke tempat pacar mu." Lagi-lagi Marcel malah mengucapkan kata-kata yang seharusnya bisa dia sampaikan lebih halus lagi meskipun dia tidak mau mengakui jika sikapnya kali ini sebagai bentuk rasa penyesalannya atas ucapan nya yang menyinggung tadi, dan juga karena dia merasa khawatir akan keadaan Alya sehingga dia tidak mungkin membiarkan Alya untukn pergi ke klinik dalam keadaan sakit seperti itu, namun sialnya lain di mulut lain di hati, karena lagi-lagi mulutnya tidak menyampaikan apa yang tengah di rasakan sebenarnya.
"Tidak usah repot-repot, aku juga pasti akan kembali, aku hanya minta izin ke klinik, itu saja." Tolak Alya lagi.
"Wajah mu merah sekali, (Marcel menempelkan punggung tangannya di dahi Alya, meski kemudian langsung Alya tepis) juga terasa panas, apa kau sedang demam?" Tanya Marcel.
"Tidak usah banyak bertanya, jika memang ingin mengantarkan ku ke klinik, maka cepatlah, apa kamu menunggu ku mati di sini?" Alya membuang wajahnya ke arah jendela, sungguh perasaan itu masih saja terselip datang meski dirinya sudah di perlakukan tidak baik oleh Marcel seperti tadi.
Marcel menghidupkan mesin lalu membawa Alya ke klinik yang letaknya lumayan agak jauh dari sana.
"Di kau tinggal? Kau tak perlu ke kantor lagi, beristirahatlah sampai tubuh mu terasa baikan, baru kembali bekerja lagi." Kata Marcel saat pemeriksaan dan penebusan obat selesai di lakukan, sebenarnya sejak tadi Alya sudah meminta Marcel untuk meninggalkannya saja dan tidak usah menungguinya, namun Marcel sepertinya benar-benar menjadi tuli, karena dia tidak menghiraukan apa yang di katakan Alya, sejak tadi malah justru Marcel lah yang terus aktif bertanya pada dokter yang menangani Alya, menanyakan apa yang terjadi pada Alya, penyakit apa, penyebabnya apa, lantas apa saja yang harus dan tidak boleh di lakukan, semua sangat detai Marcel tanyakan, sampai dokter mengira jika mereka adalah pasangan suami istri.
__ADS_1
"Anda beruntung punya suami yang sangat perhatian pada anda," Ucapan Dokter di klinik tadi seakan terus terngiang-ngiang di telinga Alya.
"Aku pulang naik angkutan umum saja, aku tidak mau merepotkan kamu atau siapapun, kembalilah bekerja, aku baik-baik saja." Tolak Alya, sungguh dia tidak mau memberi tahu Marcel di mana dia tinggal, susah payah dia berusaha menjauh dari Marcel, karena dia ingin melupakan semua tentang Marcel.
"Oke, kamu naik angkutan dan aku akan mengikuti mu dari belakang!" Ujar Marcel, membuat Alya berdecak kesal, bukan kah itu namanya sama saja.
"Kenapa kau selalu melakukan hal semau mu sendiri!" Kesal Alya.
"Kenapa? Apa kau takut kekasih mu melihat kita bersama? Aku akan bertanggung jawab dan menjelaskan padanya jika karena hal ini dia marah pada mu."
"Rudy bukan pria pemarah, dan dia juga sangat percaya pada ku, terlebih dia tidak akan percaya omongan siapapun karena dia akan menanyakan langsung pada ku jika ada yang mengganjal di hatinya, tidak hanya m menebak-nebak atau berpikiran sendiri." Sewot Alya yang sejujurnya kata-kata itu di tujukan untuk menyindir Marcel.
Marcel yang merasa tersindir hanya diam saja, bukan tidak merasa apapun, tapi karena merasa kalau apa yang di katakan Alya barusan adalah seribu persen memang kesalahan yang dia lakukan pada Alya,.
Andai Marcel harus jujur, tentu saja rasa penyesalan itu semakin besar di dadanya, andai saja dia tidak begitu egois, mungkin mereka kini masih bersama, dan sayangnya sudah ada pria lain yang lebih pengertian yang kini bersama Alya, entah dia harus marah atau merasa senang mengetahui jika Alya kini bersama pria yang dapat memperlakukan Alya dengan baik, seperti pujian yang di berikan Alya pada Rudy tadi.
"Aku hanya ingin memastikan kau sampai rumah dengan selamat, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian," ujar Marcel lirih.
Hal itu membuat Alya luluh, karena sejatinya sisa-sisa rasa di hati Alya untuk Marcel memang belum sepenuhnya hilang, maka semudah itu dia luluh.
__ADS_1
"Baiklah, hanya kali ini saja, tidak ada lain kali." Kata Alya pada akhirnya yang dengan suka rela masuk ke dalam mobil Marcel dengan kesadaran sendiri, setelah sebelumnya dia menolak mati-matian Marcel yang ingin mengantarkanya pulang ke rumah.