Celana merah jambu

Celana merah jambu
Ini fitnah!


__ADS_3

"Yang ingin saya tau, siapa yang memberikan anda informasi tentang hasil audit itu, bukan yang lainnya, katakan siapa orangnya!" Bentak Anwar pada Ivan, membuat Ivan semakin ketakutan.


Semua mata tertuju pada Ivan, kata demi kata sangat di nanti keluar dari mulut Ivan, demi terbukanya kebenaran tentang siapa orang yang sudah dengan sembrononya mengungkap hasil audit pada Ivan.


"Emhh,,, yang memberi saya informasi tentang hasil audit itu--- Ivan menjeda ucapannya untuk menghela nafas yang sangat dalam--- A-Alya istri saya." Ivan menoleh sekilas ke wajah Alya lantas menundukan wajahnya segera.


"What? Van, apa maksudnya ini? Tolong jangan bercanda, kapan aku memberi tahu masalah itu pada mu?" Alya tersentak hebat dan langsung membelalak, bagaimana bisa justru namanya yang keluar dari mulut Ivan, sementara dia sangat yakin tidak pernah membocorkan rahasia itu padanya.


Mata Anwar dan Marcel langsung tertuju pada Alya yang kini meminta penjelasan pada Ivan, mengapa jadi namanya yang dia sebut.


"Ini semua salah saya, kami terbiasa mengobrolkan masalah apapun ketika kami akan tidur, kami saling percaya satu sama lain, begitu pun dengan Alya yang sangat percaya pada saya, sungguh semua ini salah saya, seharusnya saya tidak menceritakannya lagi tentang hasil audit itu pada orang lain, jika ada yang harus di hukum, maka itu saya lah orangnya." Ivan mengiba, meskipun di mata Alya semua itu penuh drama dan kebohongan, mereka tidak pernah bertukar cerita masalah pekerjaan, karena masalah pekerjaan sangat di larang di bawa ke rumah, itu peraturan yang mereka sepakati dari awal mereka menikah.


"Van, kamu yakin ingin menuduh ku? Ah, shiiiit, aku tak menyangka kamu tega melakukan ini semua pada ku, Van!" Alya tersenyum getir mendengat kata demi kata kebohongan Ivan yang di ucapkan di hadapan dua orang pimpinan perusahaan yang kini berseteru itu.


"Cukup, bagi ku semuanya sudah jelas, dan anda bisa mendengarnya sendiri, Tuan Marcel, semua kesalahan ada di pihak anda, jadi tuntutan ganti rugi saya terhadap perusahaan anda, memenuhi syarat, bukan?" Sepertinya Anwar tak ingin lagi mendengar penjelasan Alya yang lebih menjadi seperti sebuah pertengkaran rumah tangga di matanya.


"Tapi, ini tidak benar, saya tidak melakukan apa yang di tuduhkan olehnya." Keukeuh Alya, dia tidak sudi menjadi tersangka satu-satunya di sana, sementara dia tidak merasa melakukan semua yang di tuduhkan.

__ADS_1


"Masih untung aku tidak menuntut anda, bu Alya, atas pelanggaran kerja yang anda lakukan, anda tidak tau berapa banyak perusahaan kami menanggung rugi karena mulut anda yang tidak bisa menjaga rahasia itu, banyak klien saya membatalkan kerja samanya, apa anda bisa mengganti kerugian kami, huh?" Bentak Anwar yang akhirnya tidak bisa menahan kemarahannya.


"Baik, bagaimana kalau begini saja, masalah kerugian perusahaan mu, itu akan kita bicarakan antara kita saja, lantas untuk akuntan ku ini, biar perusahaan kami yang menangani, sebaiknya anda juga menangani karyawan anda yang suka bergosip seperti perempuan!" Potong Marcel, bukan berniat membela atau membenarkan Alya, namun dalam hal ini dia tidak bisa terima jika hanya karyawannya saja yang di persalahkan, padahal jelas-jelas Ivan tadi sudah mengakui kesalahannya telah menyebar luaskan hasil audit pada karyawan lain.


"Van, aku gak nyangka kalau kamu bisa menjerumuskan istri mu sendiri dalam masalah yang jelas-jelas kamu tau aku tidak bersalah!" Alya masih terlihat ngotot dan ingin berdebat dengan Ivan.


"Sebaiknya perdebatan kalian berdua di lanjutkan di rumah saja, aku sudah cukup pusing dengan masalah ini, jangan buat aku bertambah pusing karena masalah ruamah tangga kalian, ayo kembali ke perusahaan di mana tempat kamu bekerja, jika kamu masih ingin bekerja di sana!" Ketus Marcel, menarik lengan Alya agar segera keluar dari ruangan itu.


"Pak, tapi saya tidak bersalah, saya tidak mau pergi sebagai tertuduh, saya di fitnah." Rengek Alya menahan langkahnya yang terus di geret paksa oleh bos besarnya agar segera menjauh dari ruangan itu.


Namun Marcel tak bergeming, dia tetap menyeret paksa Alya, hingga mereka kini sampai parkiran JT, "Mana kunci mobil mu?" Marcel menengadahkan tangannya.


"Ganti rugi yang JT minta sebesar 2,5 milyar, aku rasa harga mobil mu masih jauh jika harus di jual untuk membayar ganti rugi." Ketus Marcel.


"Lantas untuk apa meminta kunci mobil saya?" Alya menyembunyikan kunci mobilnya di balik punggungnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu,"

__ADS_1


"Memangnya Bapak gak bawa mobil, kesini?" Tanya Alya, agak aneh rasanya jika bos besarnya itu memilih untuk satu mobil dengannya.


"Aku di antar sopir tadi, ayo cepat jangan banyak tanya!" Marcel merebut kunci mobil dari tangan Alya yang di sembunyikan di balik punggungnya.


Dari kejauhan, Ivan memandangi bagaimana Marcel dan Alya berinteraksi, mereka memang terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar jika di liaht oleh orang awam, ada rasa kesal di hati Ivan melihat semua itu, selama ini dia mengenal Alya yang selalu menjaga jarak dengan lawan jenis, apalagi Ivan juga tergolong suami yang posesiv, sehingga untuk menghindari salah paham suaminya, Alya lebih banyak berteman dengan wanita dari pada dengan pria, meskipun Alya selalu membebaskan Ivan untuk berteman dengan siapapun.


Ivan mengepalkan tangannya hatinya terasa lebih panas saat melihat Pria asing masuk ke dalam mobil istrinya, seeingatnya selain dirinya dan Hendrik sang adik, tak pernah ada pria yang di izinkan masuk ke dalam mobil Alya, membuat Ivan bertanya-tanya ada hubungan apa Alya dengan pria bernama Marcel itu?


Namun sayangnya saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sadar, dia telah membuat kebohongan besar yang mungkin tidak bisa Alya maafkan, Ivan tau ini fatal, tapi dia harus melakukan itu semua, menciptakan kebohongan itu untuk demi melindungi orang yang sebenarnya memberi dia informasi hasil audit itu.


**


"Pak, saya tidak membocorkan hasil audit itu, saya tidak bersalah, ini fitnah!" Alya kembali meyakinkan Marcel bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah.


"Maksud mu, suami mu memfitnah mu? Apa itu tidak terdengar aneh?" Marcel hanya menanggapinya dengan datar dan dingin.


"Tapi itu kenyataannya, saya tidak pernah membicarakan masalah pekerjaan, apalagi itu bersifat rahasia, bukan saya yang membocorkannya, pak!" Suara Alya kini terdengar sangat putus asa, bahkan tangis yang sejak tadi di tahannya pecah juga, masalah demi masalah datang silaih berganti pada dirinya, bahkan belum selesai masalah satu sudah datang masalah lainnya, membuat emosinya seakan di aduk-aduk, dia tak peduli jika dia harus menangis di depan bos besarnya, dia tak peduli jika bosnya itu mengira dirinya cengeng atau malah sedang berakting sekalipun, dia hanya ingin menangis, di saat dunia terasa seakan memusuhinya.

__ADS_1


"Saya tidak bersalah, pak." Ucap Alya sambil sesenggukan di sela isak tangisnya, wanita yang biasanya sekuat baja itu terlihat rapuh, ada kalanya memang manusia terkuat sekalipun harus menangis dalam mengekspresikan kesedihannya, kemarahannya, kekecewaannya, karena kalau terus di tahan akan menjadi luka batin yang sulit untuk di sembuhkan.


"Aku tau, Aku percaya!" Ujar Marcel pelan.


__ADS_2