Celana merah jambu

Celana merah jambu
Ngidam mewah


__ADS_3

"Harusnya anda tidak menantang Ivan seperti tadi pak. Anda tidak harus terlibat dalam masalah saya, dia bisa saja melakukan ancamannya, dan itu akan menimbulkan masalah besar untuk kehidupan anda, tolong jangan biarkan saya menjadi merasa bersalah pada anda." Kata Alya merengut karena merasa tidak setuju dengan kenekatan Marcel yang terang-terangan menantang Ivan.


Alya sangat hafal dengan sifat nekat Ivan jika di tantang seperti itu, dia pasti akan melakukannya, apalagi sekarang di tambah Hana yang pasti menjadi kompornya, Alya tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya nanti jika Ivan benar-benar melakukan ancamannya dan dia sungguh akan sangat merasa bersalah pada Marcel.


"Lantas aku harus bagaimana? Membiarkan mu sok jagoan, seolah-olah kau wonder women yang harus melindungi semua mahluk di bumi dari semua kejahatan seorang diri? Kau pikir, setelah mendengar apa yang di katakan pria itu tentang bagaimana kau mengorbankan diri demi aku, lantas aku tidak merasa bersalah?" Sembur Marcel yang sejak tadi menahan marahnya.


Marah yang tidak jelas harus dia tujukan paa siapa, pada Alya atau malah pada dirinya sendiri yang tidak tau jika wanita itu berbuat begitu banyak untuknya.


"Saya tidak melakukan apapun untuk anda, saya melakukan semua itu untuk diri saya sendiri, Ivan hanya salah mengartikannya." Tepis Alya.


"Ceritakan pada ku semuanya, tentang apa yang terjadi, foto apa, dan ancaman apa yang kau terima!"


"Tidak ada yang terjadi, ini semua masalah saya dengan dia," Alya tetap bersikeras untuk tidak mengatakan apapun.


"Oke, aku akan menemuinya dan menanyakan langsung padanya." Ancam Marcel.


Rupanya ancaman itu berhasil juga, Alya langsung menahan lengan Marcel agar tidak pergi, Alya tidak ingin mereka terlibat perkelahian yang lebih parahj lagi dari tadi jika mereka bertemu lagi.


"Saya akan ceritakan, tolong jangan bertemu dia lagi." Mohon Alya.


Alya lantas menceritakan semua tentang foto-foto yang di jadikan senjata untuk mengancam dirinya untuk di berikan pada istri Marcel, dan hal itu juga yang membuat Alya akhirnya menyetujui dirinya membatalkan perceraian lantas memberi izin Ivan untuk menikah dengan Hana dan menjadikan gundik itu sebagai madunya.


"Berarti saat kau ke hotel Z itu untuk membicarakan hal ini?" Tanya Marcel, padahal dirinya sudah berprasangka buruk pada Alya saat itu.

__ADS_1


Alya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Marcel tentang kejadian di hotel itu, meskipun dirinya agak penasran, bagaimana Marcel bisa tau kalau dirinya bertemu Ivan di hotel Z saat itu.


"Harusnya kau tidak perlu melakukan itu semua, aku laki-laki, aku bisa melindungi diri ku sendiri, jika memang pria itu ingin menyeret ku sebagai alibi dari kesalahannya, aku akan hadapi sendiri, atau kau menganggap ku lemah sehingga sangat perlu kau lindungi?" Sinis Marcel.


"T-tidak seperti itu, aku--- emh, saya hanya tidak ingin anda terlibat dan di rugikan dari masalah kami, karena anda dalam hal ini sama sekalitidak bersalah, saya akan sangat merasa bersalah jika tiba-tiba anda mendapat masalah karena ini. Sangat tidak enak mengetahui suami ada affair dengan wanita lain, jadi saya tidak ingin istri anda merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan, selain itu berita ini juga bisa berpengaruh pada bisnis anda." Terang Alya.


"Kenapa harus takut, toh kita tidak ada affair apapun, dan untuk mengenai istri ku, dia tidak akan percaya apapun yang orang lain katakan, kecuali itu dari mulut ku sendiri, tidak usah terlalu memikirkan perasaan orang lain, baik itu istri ku ataupun aku, pikirkan perasaan mu sendiri, jangan terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain, itu bukan tugas mu, kau tak harus berkorban untuk siapapun jika itu hanya mencelakai diri mu sendiri." Tegas Marcel.


Ada rasa iri bercampur malu saat Marcel seolah memuji istrinya yang secara tidak langsung ingin menyampaikan padanya kalau istrinya itu sangat percaya dan patuh padanya, membuat Alya semakin merasa bersalah karena pernah hampir membuat hubungan suami istri yang menurut penilaiannya sangat harmonis itu terusik karena imbas dari permasalah rumah tangganya yang kini tengah carut-marut.


"Apa rencana mu selanjutnya? Maaf aku harus bertanya seperti ini pada mu, karena ini mungkin akan ada sangkut pautnya dengan ku." Sambung Marcel.


"Saya tetap pada keputusan yang tadi saya sampaikan pada dia, saya bersedia bercerai dan tidak menuntut harta gono-gini sepeser pun, asal dia mencoret nama anda dan tidak menyangkut pautkan anda dalam penyebab perceraian kami." Ujar Alya.


"Aku bisa membantu mu untuk mendapatkan hak mu, aku kenal pengacara bagus, dia pasti akan memenangkan kasus mu dengan sangat mudah. Kau tidak harus kehilangan apapun ataupun berkorban untuk siapapun." Ujar Marcel.


**


"Kamu kenapa mas?" Tanya Hana saat suaminya pulang dengan memar dan luka di sudut bibirnya.


"Pria sialan itu, awas saja. Aku pasti akan membalas semuanya, dan menghancurkannya!" Geram Ivan, ketika dia mengingat kembali bagaimana Marcel memaki dan memukulnya.


"Apa ini ulah selingkuhan istri mu, mas? Ish, istri seperti mbak Alya itu memang harus di beri pelajaran, pokoknya jangan biarkan dia mendapatkan sepeser pun dari perpisahan kalian, aku yakin jika mereka sebenarnya sudah selingkuh sejak lama, hanya saja kamu terlalu baik dan terlalu percaya pada istri mu itu, mas!" Ceroscos Hana mengata-ngatai Alya dan Marcel seolah-olah dirinya manusia paling suci dan tidak pernah berbuat dosa.

__ADS_1


"Sudahlah, cepat ambilkan kotak obat di lemari!" Titah Ivan, kepalanya semakin pusing mendengar ucapan-ucapan provokasi Hana.


Ivan mengeluarkan ponselnya, dia tahu, siapa yang harus di hubungi nya untuk membalas dendam pada Marcel.


"Aku ingin kau membantuku menghancurkan Marcelino Salim." Ucapnya penuh penekanan pada seseorang yang saat ini sedang berbicara dengannya di sambungan telepon.


"kamu berbicara dengan siapa, mas?" Tanya Hana yang baru saja datang membawa kotak obat yang di minta Ivan.


"Ah, bukan siapa-siapa, hanya masalah proyek." Kilah Ivan.


"Mas, kapan kita berbulan madu, katanya kamu mau mengajak ku bulan madu ke luar negeri, jika kita sudah menikah." Rengek Hana di tengah dia mengoleskan obat di sudut bibir Ivan yang terluka.


"Aku tidak ada waktu kalau untuk ke luar negeri, bagaimana jika ke Bali atau yang dekat-dekat saja?" Bujuk Ivan, bukan apa-apa, uang tabungan Ivan kini sudah semakin menipis, setelah biaya pernikahan kemarin, lantas permintaan barang seserahan Hana yang harus semuanya bermerek, belum lagi membayar cicilan rumah, kebutuhan dapur, listrik, air dan uang pegangan ibunya juga Hendri, yang dulu tidak pernah di pikirkannya karena semua di kelola Alya, bahkan dirinya masih bisa memegang uang banyak untuk bersenang-senang bersama Hana, namun kini setelah semua kebutuhan di atur olehnya, gajinya yang kini sudah naik beberapa kali lipat dari sebelumnya pu tidak dapat menutupi kebutuhan, apalagi biaya untuk makan juga sekarang bertambah, karena ibu, adik dan iparnya ikut tinggal bersama mereka.


"Kok Bali sih, dulu waktu mas bulan madu sama mbak Alya saja ke luar negeri, masa sama aku gak bisa, mas pilih kasih!" Rajuk Hana.


"Iya, maksud mas, karena sibuk jadi yang deket dulu, kamu kan tau banyak proyek yang harus di selesaikan, nanti kalau sudah waktu nya longgar, kita ke luar negeri."


"Ish, keburu perut ku buncit dan berojol nih bayi, gak bisa foto-foto buat pamer di sosmed, gak asik!" Kesal Hana.


"Tolong ngertiin ya sayang, mas kan harus kerja, ini semua demi kamu dan anak kita nantinya." Bujuk Ivan.


"Ya sudah, kita ke Bali, tapi sebagai tambahannya aku pengen beli mobil juga, yang sama kaya punya mbak Alya." Ujar Hana.

__ADS_1


Tentu saja hal itu semakin membuat kepala Ivan pening di buatnya, untuk kebutuhan sehari-hari saja dia sudah mulai keteteran, kini harus di tambah lagi dengan permintaan Hana yang tidak tanggung-tanggung, minta di belikan mobil.


"Mas, ini permintaan bayi lho, kalau gak di beliin nanti anaknya ileran, mau?" Kata-kata pamungkas yang saat ini menjadi senjatanya setiap dia minta di belikan baju atau tas, mengatas namakan ngidam, agar keinginnya di penuhi oleh Ivan, dan biasanya itu berhasil, Ivan langsung mengabulkan permintaannya, namun kali ini ngidamnya agak lain, membuat Ivan tidak bisa berkata-kata namun hanya bisa memegangi keningnya dengan kepala yang terasa nyut-nyutan seperti mau pecah akibat permintaan istri mudanya yang seolah tidak ada habisnya itu.


__ADS_2