Celana merah jambu

Celana merah jambu
Kekasih yang baik dan perhatian


__ADS_3

Mata Marcel terus memutar memindai area sekitar rumah Alya yang mungil, namun terkesan asri karena halaman rumah yang cukup luas itu di tanami beberapa tanaman hias, Alya juga menanam beberapa tanaman sayur dan buah di sana, jika saat libur kerja dia sering menghabiskan waktunya di halaman rumah untuk mengurus tanaman-tanaman itu untuk membunuh sepi.


"Sejak kapan kau tinggal di sini?" Tanya Marcel.


Sungguh Marcel tidak menyangka jika Alya akan pindah se jauh itu dari pusat kota, dia jafi semakin merasa bersalah karena tadi sempat mengkritik Alya karena keterlambatannya, pantas saja dia terlambat, jarak rumahnya ke Salim grup lumayan cukup jauh, dengan mobil pribadi saja memerlukan waktu lebih dari satu jam lamanya perjalanan, apalagi menggunakan angkutan umun dan harus dua kali berganti bis, tentu saja itu akan menyita banyak waktu.


Penyesalan itu seolah semakin bertumpuk di dadanya, entah mengapa emosinya selalu saja mengalahkan akal sehatnya, bukankah seharusnya Marcel lebih bersikap baik agar setidaknya bisa berkomunikasi secara normal dengan Alya? Bukannya terus membuat masalah dengannya sehingga membuat Alya semakin menjauh darinya.


"Lumayan" singkat Alya. "Aku sudah sampai dengan selamat, terimakasih sudah mengantarkan ku, sekarang silahkan anda pulang saja, pak." Sambung Alya yang mulai berbicara formal lagi pada Marcel tidak berapiapi seperti sbelumnya, karena menurutnya percuma saja marah-marah pada Marcel, toh ujung-ujungnya dia masih harus bertemu dengan dia dalam waktu yang mungkin cukup panjang kedepannya, tidak mungkin kan, jika setiap bertemu mereka harus terus bersitegang, untuk itu Alya mengalah dengan menurunkan egonya dan kembali bersikap profesional demi hubungan kerja sama anatara Persada dan Salim grup.


"Aku haus, aku ingin minum, kau tau kan, perjalanan ke sini cukup jauh dan melelahan, setidaknya kau menawari ku minum!" Ujar Marcel tanpa tahu malu, dia juga langsung merebut kunci rumah Alya yang sejak tadi berada di genggaman Alya, perempuan itu tidak buru-buru masuk karena ingin memastikan jika Marcel akan pulang, namun sialnya malah Marcel merebut kunci rumahnya lantas membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya seolah dia sedang masuk ke rumahnya sendiri.


'Cih, apa dia sudah kehilangan rasa malunya? Bisa-bisanya masuk ke rumah orang dengan santainya?' Decih Alya lirih.


Meski agak sedikit merasa gondok, Alya mengikuti Marcel untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri, mengekor Marcel yang seharusnya menjadi tamu di sana.


"Kau duduk dan beristirahat saja, cukup tunjukkan pada ku di mana letak dapurnya dan aku akan mengambil minum ku sendiri, aku tidak ingin merepotkan mu!" Marcel menunjuk sofa panjang, satu-satunya kursi yang ada di ruang tamu rumah Alya.


Rumah Alya memang belum di isi banyak perabotan, selain dia memang sedang menghemat uang, dia juga hanya membeli barang-barang yang menurutnya penting saja, lagi pula rumahnya terbilang kecil, jadi lebih baik jika tidak begitu banyak barang agar terlihat lebih leluasa.

__ADS_1


"Tidak usah protes, kalau kau tak mau menunjukkan di mana dapur mu maka aku akan mencarinya sendiri, tapi jangan salahkan aku jika aku yasar ke kamar mu!" Potong Marcel saat Alya baru saja membuka mulutnya untuk protes ketika Marcel meminta dirinya menunjukkan di mana letak dapur rumahnya.


"Apa sebenarnya mau anda, Pak?" Tanya Alya putus asa, seraya mendudukan diri di sofa, rasanya dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan Marcel yang selalu bersikap semaunya sendiri itu.


"Minum! Sudah aku bilang aku ingin minum, tenggorokan ku kering rasanya." Jawab Marcel sambil berlalu, mencari di mana letak dapur, karena Alya tidak mau menunjukkan itu padanya.


Alya hanya menggelengkan kepalanya pelan, kali ini dia sudah berada di titik peduli amat dengan apa yang Marcel lakukan, kepalanya masih terasa pusing dan perutnya masih terasa tidak enak, sehingga dia lebih memilih untuk berbaring di atas sofanya kini, karena tidak mungkin jika dia meninggalkan Marcel ke dalam kamar tidurnya, bisa-bisa Marcel mengira jika dia ingin Marcel mengikutinya ke kamar tidurnya.


Entah apa yang marcel lakukan di dapurnya, lama di tunggu, pria iu tidak juga keluar dari dapur dan berpamitan pulang, sampai akhirnya Alya mengantuk dan tertidur di sofa akibat lama menunggu.


Hampir satu jam kemudian Marcel kembali dari dapur dan menghampiri Alya di ruang tamu dengan semangkuk sup dan bubur di tangan kiri dan kanannya, rupanya dia memasak karena tahu Alya belum makan apapun sementara wanita itu harus meminum obatnya untuk meredakan rasa sakitnya.


"Sssttt,,, Al, Alya!" Panggil Marcel menepu-nepuk pipi Alya pelan setelah dia menaruh kedua mangkuk di meja.


"Makan dulu, lalu minum obat mu!" Ujar Marcel lagi, dia bersimpuh di depan sofa tempat Alya berbaring saat ini, namun Alya tetap bergeming, sepertinya rasa ngantuknya mengalahkan segalanya.


"Hmm, baiklah, sepertinya kamu sangat lelah dan ngantuk, istirahatlah." Ujar Marcel, dia memasuki kamar satu-satunya yang berada di rumah itu, beruntung kamar tempat biasa Alya tidur itu tidak terkunci, jadi memudahkan Marcel untuk masuk dan mengambil selimut untuk menyelimuti Alya yang tertidur di sofa, dari pada dia memindahkan dia ke kamar dan malah akan membangunkan tidurnya.


"Aku pamit, istirahatlah. Semoga kamu lekas sembuh!" Bisik Marcel sesaat setelah dia berhasil menutup tubuh Alya dengan selimut.

__ADS_1


Sore ini Marcel masih harus menghadiri rapat penting, sehingga mau tidak mau dia harus segera kembali ke kantor, andai saja rapat itu bisa dia wakilkan, mungkin dia akan lebih memilih menunggui Alya sampai dia bangun dan memastikan dia memakan masakannya lalu meminum obatnya, namun rapat itu benar-benar tidak bisa dia tinggalkan dan juga tidakbisa dia wakilkan, sehingga dengan sangat terpaksa dia harus meninggalkan Alya yang tengah tertidur dengan pulas itu.


Cup!


Sebuah kecupan bahkan mendarat di kening Alya, sungguh saat itu Marcel tidak dapat menahan diri untuk tidak mengecup kening wanita yang samapai kini ternyata belum berhasil pergi dari hatinya itu, meski sekuat tenaga dia berusaha mengusirnya untuk pergi.


Baru saja mobil Marcel keluar dari pelataran rumah Alya, dari spionnya Marcel bisa melihat dengan jelas jika mobil Rudy masuk ke pelataran rumah Alya, hanya selisih sepersekian menit saja, membuat hati Marcel sedikit terasa galau, dia tidak tahu apakah dia harus merasa senang dengan kehadiran Rudy di sana saat ini karena akhirnya Alya ada yang menunggui, atau dia harus merasa kesal dan sedih karena sejujurnya dirinya sangat ingin berada di posisi itu saat ini, namun tidak bisa.


Tapi apapun itu, Marcel hanya bisa menerimanya sekarang ini, toh nyatanya dia memang sedang tidak bisa menjaga Alya hari ini, setidaknya dia sudah membantu Alya hari ini, terlepas di terima atau tidak, namun di balik sikap ketus dan dinginnya, niatnya membantu Alya sungguh tulus.


**


Keesokan harinya,


"Kenapa kau sudah masuk? Apa kau sudah sembuh? Maaf kemarin tidak pamit, karena sepertinya kau terlalu lelah dan aku tidak enak untuk membangunkan mu, padahal kemarin kau belum makan dan meminum obat mu." Tanya Marcel kaget saat dirinya sampai di kantor dan Alya sudah ada di ruang pertemuan, entah jam berapa wanita itu berangkat dari rumahnya sehingga datang se pagi ini.


"Ah iya, saya sudah baik-baik saja. Beruntung kemarin Rudy datang untuk membantu saya memasakkan bubur dan sup, setelah minum obat kemarin tubuh saya merasa enak kembali." Kata Alya yang langsung membuat dada Marcel terasa seperti di tonjok saking kagetnya.


"Kekasih mu memasak kan mu bubur dan sup?" Ulang Marcel, jelas-jelas dirinya yang memasak semua itu, kenapa tiba-tiba jadi Rudy?

__ADS_1


"Hmm, katanya dia merasa kasihan dengan saya." Jawab Alya sambil tersenyum hambar.


"Syukurlah, kekasih mu sangat baik dan perhatian!" Ujar Marcel yang tiba-tiba ucapannya bernada ketus, tanpa Alya tahu apa alasannya, padahal sejak tadi perasaan Alya tidak mengatakan hal-hal yang memancing emosi Marcel, pikirnya.


__ADS_2