
Hari ke dua bertugas di JT grup, Ivan mengajak Alya untuk berangkat bersama denga alasan tujuan mereka sama, Alya sempat menolaknya dengan alasan tidak ingin kebersamaan mereka menimbulkan kecurigaan jika dirinya membocorkan masalah audit itu pada Ivan, apalagi mengingat Ivan mengetahui tentang penugasan dirinya yang terbilang sangat rahasia itu, bahkan sampai pagi itu Alya tidak pernah mengiyakan pertanyaan Ivan tentang audit yang tengah di lakukannya pada JT grup, Alya konsisten untuk menutup mulut mengenai hal itu, jikapun Ivan tau tentang masalah itu, setidaknya bukan keluar dari mulutnya dan dia tak perlu mempertanggung jawabkan apapun atas bocornya rahasia itu.
"Ayolah sayang, jarang-jarang kita bisa berangkat kerja bareng, mau ya? Lagi pula ini hari pertama ku bekerja sebagai manajer di kantor pusat, lho." Bujuk Ivan pagi itu saat mereka menyantap sarapannya.
Alya terdiam sejenak, " Oke," jawab Alya setelah beberapa saat memikirkan hal itu, "Hanya saja pulangnya mungkin kita tidak bisa bareng, karena aku harus kembali ke kantor ku dulu untuk menyetorkan laporan, nanti aku bisa naik taksi atau meminta jemputan orang kantor," sambung Alya yang kemudian di sambut wajah sumringah Ivan karena Alya menyetujui permintaannya untuk berangkat bersama.
"Turunkan aku di sini saja Van, biar aku jalan kaki ke kantor mu, takut ada yang lihat malah repot ntar." Ujar |Alya sengaja meminta di turunkan di tepi jalan yang agak jauh dari kantor JT grup untuk menghindari salah paham atas kebersamaan dirinya dan Ivan.
"Eh nona yang kemarin, kok tumben jalan kaki?" Petugas parkir yang kemarin Alya beri uang menyapanya.
"Nona karyawan baru di sini atau tamu?" Sambungnya lagi kepo.
"Ah, saya hanya tamu, kemarin mau bertemu pak Ivan, tapi saya tunggu sampai sore tidak kunjung datang," ujar Alya sengaja mengarang cerita.
"Oh, pak Ivan Kusuma, manajer yang baru itu? Kemarin memang sepertinya beliau tidak masuk kerja, kalau sekarang beliau ada, tuh mobilnya yang di ujung yang warna hitam!" Tunjuk petugas parkir itu menunjuk mobil sedan Ivan yang tadi Alya tumpangi untuk berangkat ke sana.
"Oh, pantas saja, kemarin saya tunggu tidak datang juga, ternyata tidak masuk, tho. Ya sudah saya mau menemui pak Ivan dulu, takutnya pergi lagi," pamit Alya bergegas meninggalkan petugas parkir itu.
"Itu, investasi yang di maksud bu Alya kemarin? Wah, anda luar biasa!" Entah sejak kapan Dinda ada di sana dan wanita yang biasanya tidak pernah berbicara di luar masalah pekerjaan itu tiba-tiba berkomentar tentang hal d luar pekerjaan untuk pertama kalinya dengan santainya, entah apa yang di pikirkan oleh Dianda saat ini tentang Alya.
"Eh, diem-diem doyan nguping juga, rupanya!" Seloroh Alya setengah meledek.
"Bukan nguping, tapi kebetulan kedengeran, bu." Dinda ngeles meski terlihat agak malu.
"Nanti kalau kamu sudah menikah juga akan mulai terlatih untuk berinvestasi seperti yang aku lakukan demi keutuhan rumah tangga, untuk sekarang investasi buat diri mu sendiri saja, senengin diri mu sepuasnya, mumpung masih single." Kata Alya dalam perjalanan mereka menuju ruang tempat kemarin mereka 'di kurung' seharian.
__ADS_1
"Apa itu berarti kalau sudah nikah kita tidak bisa menyenangkan diri sendiri?" Kepo Dinda yang memang belum menikah dan belum mempunyai kekasih itu.
"Tergantung, kalau kamu menemukan pasangan yang tepat, kamu tak harus mati-matian menyenangkan diri mu sendiri, karena setiap hari pasangan mu akan berusaha menyenangkan diri mu setiap waktunya." Jawab Alya.
"Apa Pak Ivan pasangan yang tepat buat bu Alya?" Tanya Dinda lagi yang tiba-tiba menjadi cerewet pagi itu, sepertinya antara dia salah minum obat atau tadi pagi sarapan kroto sehingga dia terus mengoceh dan berkicau sepanjang perjalanan.
Belum sempat Alya menjawab pertanyaan Dinda yang mempertanyakan tentang apakah Ivan pasangan yang tepat untuk dirinya atau bukan, mereka sudah sampai di ruang keuangan, sehingga obrolan mereka terpaksa harus berhenti begitu saja, karena kepala keuangan JT sudah menyambut mereka di depan pintu ruangan, dan tak kesempatan lagi untuk mereka mengobrol selain obrolan sekitar pekerjaan.
Tenggelam dalam pekerjaan mereka membuat Alya dan Dinda melupakan obrolan mereka tadi pagi, sore ini wajah mereka sudah terlihat kuyu akibat kelelahan dan tak punya energi lagi untuk membahas apapun, masalah keuangan yang di hadapi JT terlalu rumit membuat Alya dan Dinda harus menguras energinya seharian.
"Aku nebeng motor mu ke kantor ya, Din?" Pinta Alya, yang lantas di angguki Dinda.
"Bu, maaf. Bukannya itu---" Tunjuk Dinda ke arah parkiran mobil di mana Ivan baru saja akan masuk ke dalam mobil sedan hitam itu dengan seorang wanita.
Rasa-rasanya kecurigaan Alya mulai mengerucut dan mengarah pada satu nama, yaitu Kartika, sepanjang jalan perjalanan Alya sudah mencocok-cocokan semua evidence yang ada dalam kepalanya, untuk saat ini, kesemuanya mengarah pada Kartika.
Alya hanya tinggal lebih memfokuskan diri dalam menyelidiki sejauh mana hubungan Kartika dan suaminya, masih ada hari esok, satu hari tersisa untuk dia lebih memastikan kedekatan antara suaminya dan anak bosnya itu.
"Kusut amat, Al!" Seru Utari mengomentari wajah Alya yang tak bisa menyembunyikan lagi kekesalan dan kesedihannya.
Sepanjang perjalanan tadi, dia sudah menahan marah dan tangisnya, Dia tak mau di anggap aneh dan mempertontonkan tangisnya di sepanjang perjalanan dan membuat semua orang bertanya-tanya serta menaruh simpati untuk dirinya, Alya paling anti saat orang lain mengasihaninya dengan alasan apapun, tapi kali ini, dadanya terlalu sakit, dia tak bisa menahan tangisnya lagi, meski dia tahu ada Utari di ruangannya, dia hanya ingin menangis, karena terkadang dengan menanis kita bisa meluapkan kesedihan kita dan membuat hati kita lebih tenang.
"Kenapa Al, kamu di marahin bos? Ada kesalahan dalam pekerjaan? Aduh sorry banget dua hari ini gak bisa ikut bantuin kesana, kan jatahnya cuma dua orang, aku pikir Dinda lebih hebat dalam pengerjaan masalah seperti ini." Sesal Utari yang mengira kalau tangisan Alya di sebabkan oleh tuntutan masalah pekerjaan yang lumayan berat ini.
"Gak kok, gak ada maslah sama kerjaan, semua oke." Tepis Alya, namun air matanya masih terus saja berderai tanpa mau berhenti.
__ADS_1
"Lalu? Ada masalah apa? Masa gak ada apa-apa nangis?" Heran Utari.
"Tar, sepertinya Ivan selingkuh!" Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Alya yang masih terisak.
"Ah serius? Ivan? Gak mungkin lah, bukannya dia cinta banget sama kamu, dia juga sangat romantis, minggu kemarin saja masih ngirimin kamu bunga." Utari terbelalak tak percaya, semua orang di divisinya tahu kalau suami Alya itu sosok pria yang selain tampan juga sangat romantis, Ivan sering mengirim bunga lewat kurir untuk Alya hanya untuk memberinya support agar istrinya itu semangat dalam bekerja, atau tiba-tiba datang di jam makan siang hanya untuk mengajaknya makan bersama, membuat semua wanita di perusahaannya iri dengan sikap manis Ivan pada Alya.
"Hmm, aku yakin. Aku udah liat dengan mata kepala ku sendiri tadi, aku juga punya bukti lain yang lebih menjijikan." Urai Alya, untuk pertama kalinya menceritakan masalah rumah tangganya pada Utari, selama ini Alya hampir tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya pada sahabatnya di kantor itu karena memang dalam rumah tangganya hampir tidak pernah ada masalah yang berarti, yang sering dia ceritakan hanya yang manis-manis saja, dan itu bukan berarti karena Alya sengaja men-skip yang buruk-buruk dalam rumah tangganya, karena memang tidak ada.
"Oh,,, ayolah Al, jangan bercanda, selama ini masalah serius dalam rumah tangga mu hanya seputar Ivan yang menaruh handuk basahnya di setiap habis mandi, kenapa tiba-tiba ada drama selingkuh begini, jangan ngadi-ngadi dong, Al. Bisa aja kamu overthinking." Utari masih belum bisa percaya dengan apa yang di adukan Alya padanya.
"Aku gak bercanda, ini beneran, Dinda juga liat, Ivan sama cewek itu!" Keukeuh Alya.
"Siapa, siapa cewek itu?" Utari terlihat penasaran.
"Kartika." Jawab Alya dengan lugasnya, sambil dia menyeka sisa airmata yang membasahi pipinya, hatinya sudah sedikit lega setelah menumpahkan air mata dan sedikit bercerita pada sahabatnya itu meski tidak menceritakan secara gamblang tentang apa yang di temui dan di alaminya, terlalu memalukan baginya jika harus menceritakan tentang penemuan ****** ***** merah jambu di dalam mobil suaminya, bagaimana pun dirinya adalah atasan Utari, menceritakan hal-hal yang memalukan seperti itu akan membuat Alya kehilangan wibawa di mata Utari, pikirnya.
"Kartika, anaknya pak Anwar?" Tanya Utari lagi menyelidik.
"Hmmm, dia, aku yakin. Apalagi setelah melihat kemesraan mereka tadi," Jawab Alya lesu.
"Kok aku gak percaya, ya!" Gumam Utari.
"Aku juga tidak ingin percaya, tapi semua bukti mengarah padanya, hanya saja aku perlu sedikit lebih yakin lagi, mungkin setelah pekerjaan ini selesai, aku akn mencari tahu lebih dalam lagi tentang hubungan mereka." Kata Alya yang sudah mulai bisa bersikap lebih tenang karena berhasil mengontrol emosinya kembali.
"Aku akan membantu mu, tenang saja, kamu bisa mengandalkan ku!" Ujar Utari berapi-api, terlihat lebih marah dari pada Alya, seolah perselingkuhan itu terjadi pada dirinya sendiri.
__ADS_1