
"Ya Tuhan, bos macam apa yang masih mempekerjakan karyawannya sampai tengah malam begini, aku rasa bos mu itu gila!" Kesal Ivan karena sampai tengah malam begini Alya masih berada di kantor.
"Pak, tunggu!" Panggil Alya yang melihat Marcel melengos lantas pergi tanpa kata-kata berbalik badan meninggalkan dirinya bersama Ivan.
"Aku sudah menghubungi pihak keamanan gedung, mungkin sebentar lagi mereka akan kesini mengurus para preman sialan ini." Ujar Marcel, entah untuk siapa kata sialan yang dia ucapkan penuh penekanan itu, apakah benar untuk para preman yang sudah tergeletak tak berdaya, atau untuk Ivan yang membuat dirinya tiba-tiba merasa kesal setengah mati.
Rupanya Ivan baru menyadari jika di sana ada Marcel juga, saking gugupnya dia tadi hanya memikirkan Alya dan langsung berhambur memeluk Alya saat sampai di tempat itu tanpa memperhatikan yang lainnya.
Ivan menoleh ke arah Marcel yang langkahnya terhenti karena di panggil Alya.
" Apa salahnya memberikan uang pada mereka, tidak perlu membuat kegaduhan yang malah membuat istri ku ketakutan seperti ini, apa kau kini kehabisan uang karena untuk membayar ganti rugi ke perusahaan JT?" Ledek Ivan dengan sinisnya, sungguh dia tidak menyangka jika pria yang dia curigai ada hubungan dengan istrinya itu ternyata sudah terlebih dahulu berada di sana dan menjadi pahlawan bagi Alya, sementara dirinya seperti polisi dalam film India yang datang ketika masalah sudah berhasil terselesaikan.
Ada rasa keki dan kesal karena dirinya kalah cepat dari Marcel, sehingga dia mencari-cari celah untuk mencari kesalahan, bahkan untuk membuat pria yang di duganya sebagai kekasih dari Alya itu merasa kesal.
"Kalau tidak ingin istri mu berada dalam situasi berbahaya, bersikaplah layaknya suami, jaga dan lindungi istri mu!" Sinis Marcel.
Sontak saja ucapan sinis Marcel memicu percikan amarah di hati Ivan yang seakan di siram bensin dan langsung berkobar.
__ADS_1
"Baji-ngan kau, tau apa kau tentang kami, apapun yang terjadi di antara kami bukan berarti kau bisa dengan lancang mendekati istri ku, uruslah istri mu sendiri, apa kau tidak punya kesibukan sehingga jam segini masih bersama istri orang? Lantas apa bedanya kau dan aku? Tukang selingkuh!" Kecam Ivan yang secara tidak langsung meng-klaim kalau dirinya adalah tukang selingkuh.
"Waktu ku sangat luang, tapi aku menjadi sangat sibuk jika harus meladeni mu!" Marcel bergegas pergi, karena tidak ingin semakin masuk dalam drama rumah tangga Alya, meski dirinya mulai merasakan getaran-getaran aneh di hatinya untuk Alya, namun dia sadar betul jika perasaannya pada Alya terhalang dinding yang teramat tinggi.
"Pak Marcel," panggil Alya lirih, bahkan nyaris tak terdengar, ingin rasanya dia memnggil pria itu dengan kencang dan menahannya untuk tidak pergi meninggalkan dirinya bersama Ivan, namun dia tau diri, hal itu tak pantas untuk di lakukannya, lagi pula jika dirinya menahan Marcel untuk tetap di sana, besar kemungkinan perkelahian sekali lagi akan terjadi, bukan Marcel melawan preman, namun melawan Ivan.
'Ah bodohnya aku!' Alya merutuki kebodohannya karena melakukan panggilan random yang ternyata malah memanggil Ivan untuk datang ke tempat itu saking paniknya melihat Marcel menghadapi dua preman, kini Marcel pergi bahkan dirinya belum sempat mengucapkan terimakasih pada pria penolongnya itu.
"Penyangkalan apa lagi yang ingin kau sampaikan pada ku sekarang ini? Jelas-jelas kau bersama pria itu sampai tengah malam seperti ini, pantas saja kalian di gerebek dan di palak preman." Omel Ivan.
"Aku tidak akan meninggalkan mu, kau harus pulang dengan ku, aku tidak mau kejadian tadi sampai terulang lagi, bagaimana jika ada orang jahat mengganggu mu lagi?" Ivan bergeming.
"Van, tidak ada orang lain yang menyakiti ku sejahat kamu, jadi tenang saja, aku pasti aman, karena satu-satunya orang yang paling berpotensi menyakiti ku itu cuma kamu." Ketus Alya.
Tentu saja Alya tidak akan mau mengikuti permintaan Ivan untuk pulang bersama dirinya ke rumah mereka, sementara dia tau kalau Hana kini tinggal di rumah itu, beberapa tetangganya di sana memberi tahu dirinya mengenai hal itu, dan Yuni bahkan dengan percaya diri memperkenalkan Hana pada para tetangga di sana sebagai calon menantunya.
"Mata mu memang sudah di butakan oleh si Marcel sial-an itu, sehingga apaun yang aku lakukan selalu salah dan tidak berarti untuk mu, aku menghawatirkanmu, dan aku langsung berkendara ke sini saat kamu menelpon ku meminta bantuan, ternyata semua itu terjadi karena kau sedang berbuat mesum di tempat kerja, pantas saja kau mendapat karma!" Ucapan penuh marah dan cemburu itu terus saja englir dari mulut Ivan membuat telinga Alya terasa panas mendengarnya.
__ADS_1
"Terserah apapun yang kau pikirkan Van, terimakasih sudah datang ke sini, aku terima kebaikan mu, dan ngomong-ngomong tentang karma, aku penasaran, karma apa yang akan di dapat oleh suami yang berselingkuh sampai gundiknya hamil dan mendzolimi istrinya bahkan sampai memfitnahnya, sepertinya itu layak untuk di tunggu, dan aku akan menjadi penonton paling depan untuk menyaksikan saat karma itu tiba pada kalian." Alya masuk kembali ke dalam kantornya dan mengunci pintu kantor, rasa takutnya akan kejadian preman yang mendatanginya tadi seketika hilang, berganti dengan rasa marah dan kesal pada suaminya yang terus menuduhnya berbuat buruk.
Di tempat lain, Marcel masih berkendara, dia belum ingin pulang, hatinya masih merasa kesal dengan kejadian Alya yang di peluk Ivan tadi, tanpa di sadari hal itu membaut hatinya terasa sakit bagai di remas kuat.
Hidup itu memang aneh dan terkesan ironis baginya, bagaimana bisa orang yang mati-matian dia lindungi dari bahaya justru ternyata orang yang menikam dan menyakitinya, namun lebih aneh lagi dia tidak bisa benar-benar membenci Alya, sesakit apapun yang kini dia terima.
Buktinya, belum habis rasa kesalnya akibat beberapa hari lalu mengikuti Alya diam-diam yang ternyata pergi ke sebuah hotel untuk bertemu Ivan, yang membuat dirinya bertekat untuk menjauhi Alya, karena dia rasa Alya masih mencintai suaminya, namun nyatanya dia masih sering mencari Alya walau diam-diam karena tak kuasa menahan rindu, dan terakhir kejadian tadi, mana bisa dia diam begitu saja melihat Alya berada salam bahaya, meskipun hasil akhirnya, sakit hati lagi, karena Alya memilih untuk menghubungi Ivan untuk menolongnya.
Puas berkendara dan menghilangkan rasa kesalnya, dia memarkirkan mobilnya di sebuah halaman rumah mewah, tempat dirinya tinggal selama setahun ini sebagai hadiah perkawinan dari ayahnya.
"Baru pulang Mas?" Sambut seorang wanita di depan pintu saat Marcel baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"hemh," angguk Marcel, "Kenapa belum tidur?" Sambung Marcel, melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Ah, itu aku terbangun tadi."Jawabnya canggung.
Namun sepertinya Marcel tidak terlalu ingin tahu, karena pertanyaannya itu pun hanya sebagai basa basi saja, dia dan Sita, istrinya sudah terbiasa hanya berbicara seperlunya saja sejak mereka menikah setahun yang lalu.
__ADS_1