Celana merah jambu

Celana merah jambu
Dilema


__ADS_3

Alya tiba-tiba merasa tidak enak hati saat salah satu staf di firma-nya menyampaikan kalau ada pria bernama Ivan Kusuma meminta untuk bertemu dengannya, dua hari semenjak terakhir kali Ivan mendatanginya di tempat kost-nya dan terjadi cekcok mulut, dia tidak datang maupun menghubunginya, Alya bahkan sudah merasa senang karena dia pikir, Ivan tidak mau lagi mengganggunya karenja akan mendapat anak dario Hana, dan Ivan akan melupakan dirinya karena terlalu asik dengan kesenangannya, bukankah kata Hana kalau saat ini Ivan sedang sanat berbahagia karena akan mendapatkan keturunan yang sudah lama dia nantikan.


Alya juga tidak berusaha untuk menengok ibu mertuanya lagi, karena tidak ingin jika kehadirannya yang tidak di inginkan Yuni akan membuat kesehatan wanita paruh baya itu malah semakin drop saat melihat dirinya datang menjenguk.


Dengan langkah yang agak gamang, Alya berjalan menuju pelataran parkir kantornya, karena Ivan tidak mau menemuinya di dalam kantor, lagi pula Alya juga tidak ingin kalau sampai Ivan masuk ke dalam kantor barunya dan mengetahui kalau dirinya menjabat sebagai direktur pelaksana di sana, karena semua staff kantor taunya kalau pemilik firma itu adalah Darma, sementara marcel, tidak ada yang tau mengenai keterlibatan Marcel dalam firma itu, dan hal itu memang sagat di rahasiakan.


"Ada apa kamu datang menemui ku?" Tanya Alya dingin.


"Jangan judes-judes sama suami sendiri." Ledek Ivan dengan senyumnya yang sangat menyebalkan di mata Alya.


"Apa mau mu?" Sepertinya Alya terlalu malas untuk berbasa basi dengan Ivan, dia langsung menanyakan apa keperluan Ivan mencarinya sampai ke kantor, pastiny ada hal yang sangat serius untuk di bicarakan.


"Aku hanya mau meminta tanda tangan mu pada surat pernyataan kalau kamu mengizinkan ku menikah lagi, aku akan menikahi Hana." Kata Ivan.


"O ya, selamat! Tapi sepertinya kamu tak memerlukan surat izin itu dari ku, karena surat gugatan perceraian kita sudah di lanjutkan dan surat panggilan sidang perceraian kita mungkin akan tiba ke rumah mu dalam minggu ini." Terang Alya.

__ADS_1


"Aku sudah katakan, kalau aku tak akan pernah menceraikan mu, dan itu tidak akan berubah sampai kapan pun, jangan mimpi kau akan menikah atau di miliki oleh pria lain selain aku, kau ingin cepat-cepat bercerai dari aku karena ingin bersama mantan bos mu itu, kan? Jangan mimpi!" Kata Ivan dengan egoisnya melarang Alya untuk bersama pria lain, sementara kedatangan dirinya ke tempat itu justru untguk meminta surat izin pernyataan kepada Alya agar dirinya bisa bersama wanita lain.


"Jika kau datang ke sini hanya untuk bicara ngelantur, maaf aku tak ada waktu, lebih baik kita tidak usah beremu lagi, dan sampai jumpa di pengadilan saat sidang perceraian kita!" Alya membalikkan badannya, dia terlalu malas untuk meladeni omong kosong dan kemarahan Ivan yang tanpa alasan itu, dia hanya ingin segera terbebas dari pria toxic itu dengan bercerai se-segera mungkin.


"Tunggu, bagaimana jika foto-foto kebersamaan mu dengan Marcelino Salim aku kirimkan ke istrinya, sepertinya ini akan terasa adil, jika rumah tangga kita harus bubar, maka begitu pun dengan rumah tangga nya!" Ancam Ivan dengan senyum smirknya.


Sontak saja Alya langsung berbalik dan membelalak ke arah Ivan, sungguh dia tidak menyangka jika Ivan akan berpikiran sejahat itu.


"Aku dan Pak Marcel tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan pekerjaan, jangan libatkan orang lain yang tidak berdosa dalam kisruh rumah tangga kita, satu-satunya orang yang patut di persalahkan atas kandasnya rumah tangga kita adalah kamu sendiri, ulahmu yang bermain gila dengan jal-lang sialan mu itu!" Teriak Alya penuh emosi, sungguh dia kehilangan batas kesabaran dirinya dalam menghadapi Ivan yang kini bertindak di luar logika.


Bagaimana bisa dia diam saja ketika Marcel hendak di libatkan dalam pusaran masalah rumah tangganya yang jelas-jelas tidak ada hubungannya sama sekali, bagaimana dia bisa mengangkat wajahnya di hadapan Marcel yang telah banyak membantunya itu jika Ivan justru mendorong Marcel ke dalam masalah yang dia tidak pernah terlibat sedikit pun.


Plakkk!


Satu tamparan mendarat di pipi Ivan, kata-kata Ivan yang menyebutnya sama-sama jal-lang seperti Hana membuat harga diri dan batin Alya terluka parah, pria yang selama ini selalu berbicara padanya penuh cinta itu bahkan memandang dirinya tak ubahnya hanya wanita murahan penggoda suami orang, tak apa jika itu memang kenyataan, tapi dalam hal ini, Alya tidak merasa melakukan apa yang di tuduhkan Ivan itu, sehingga itu membuatnya sangat merasa sakit dan kecewa.

__ADS_1


"Berengsek! Demi pria itu kau bahkan rela menampar ku!" Ivan mengusap-usap pipi kirinya yang terasa perih dan panas akibat tamparan Alya, ini tamparan pertama seumur hidupnya yang pernah dia terima, dan ironisnya lagi tamparan itu berasal dari istrinya sendiri yang dia cintai sekaligus di bencinya saat ini.


"Kau yang duluan menampar ku dengan kata-kata biadab dan menyebut ku jal-lang, aku hanya membalasnya, lagi pula aku rasa hanya sebuah tamparan, terlalu ringan untuk memberi pelajaran mulut busuk mu!"


Tak ada rasa takut sama sekali dalam diri Alya dalam menghadapi Ivan, jika itu hanya melibatkan dirinya sendiri, yang menjadi bahan pikiran Alya adalah jika Ivan nekat melakukan ancamannya untuk melibatkan Marcel dalam masalah ini, dia tidak bisa membiarkan Ivan merusak rumah tangga Marcel karena dirinya.


"Kau akan lihat berita tentang perselingkuhan bos besar perusahaan ternama Salim grup yang berselingkuh dengan mantan karyawannya yang juga sudah bersuami, di setiap portal berita hari ini, aku rasa dengan begitu, bukan hanya rumah tangganya saja yang akan hancur, namun juga akan bepengaruh buruk pada bisnisnya, dia akan hancur karena mengusik ku." Ancam Ivan lagi.


"Hentikan! Kau keterlaluan, tak ada hubungan apapun antara aku dan dia, kau gila!" Teriak Alya yang kini mulai ketakutan dengan ancaman Ivan, sungguh dirinya akan merasa sangat bersalah pada Marcel jika itu benar-benar terjadi.


"Aku tak akan menghentikannya, kecuali kau melakukan satu hal!" Ivan tersenyum penuh kemenangan karena dia merasa dirinya telah memegang kendali dalam pertikaian ini.


"Apa? Apa yang kau inginkan agar kau menghentikan kegilaan mu itu?" Alya putus asa, dia merasa kini dirinya benar-benar tersudut dan berada di posisi yang sangat tidak menguntungkannya, sehingga tidak ada pilihan lain selain melakukan apa yang di inginkan Ivan agar suami gilanya itu tidak mengusik Marcel.


Alya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Marcel sampai ikut menanggung masalah karena dirinya, sehingga Alya akan berusaha sekuat yang dia bisa untuk melindungi mantan bosnya itu.

__ADS_1


"Datang ke hotel Z jam tujuh malam ini, untuk nomor kamarnya nanti aku kirim lewat chat, ingat untuk datang sendirian, jika kamu terlambat satu menit saja, maka berita itu akan segera kamu lihat di berbagai laman berita utama." Ivan mengelus pipi Alya dengan senyum mengejek, sementara Alya langsung menepisnya dengan kasar, sungguh ini pilihan yang sangat sulit, tapi harus Alya lakukan demi nama baik orang yang telah banyak membantunya selama ini, mungkin hanya ini yang bisa Alya lakukan sebagai bentuk terimakasih pada Marcel, pikirnya.


"Ingat untuk datang sendirian, dan berdandan yang cantik!" Ivan mengedipkan sebelah matanya lantas menaiki kembali mobilnya dan meninggalkan pelataran parkir firma dengan senyum penuh kemenangan, meninggalkan Alya yang kini berada dalam dilema.


__ADS_2