Celana merah jambu

Celana merah jambu
Pernah selingkuh, gak?


__ADS_3

"Sorry telat!" Cengir Alya merasa bersalah karena mebuat dua asistennya harus pulang terlambat karena menunggu dirinya kembali ke kantor dulu.


"Santai aja, kali Al, abis ini aku temenin lembur deh, mumpung ibu ku sedang ada di sini, jadi Lea ada yang jagain." Kata Utari.


"Wah, aku yang jadi gak enak nih Tar, aku kan udah janji mau gantiin lembur kalian karena tadi siang aku izin." Kata Alya.


"Ishhh bu bos ini, kaya sama siapa aja, sih!" celoteh Utari.


"Maaf bu, saya tidak bisa ikut lembur karena ada urusan keluarga, pekerjaan yang ibu tugaskan sudah saya selesaikan semuanya." Ucap Dinda, yang selalu bekerja sesuai sop.


"Gak apa-apa Din, ada Utari yang nanti bantu saya, makasih ya!" Alya mengangguk, lagi pula semua pekerjaan bagian Dinda sudah selesai dia kerjakan.


"Kerjaan mu belum selesai Tar?" Tanya Alya yang melihat pekerjaan Utari masih menumpuk di mejanya seperti tidak di sentuh seharian ini.


"I-iya, tadi siang aku jemput ibu ku di terminal sebentar, tenang aja, malam ini aku selesein, kok!" Kilahnya.


"Ishhh, ternyata modus ya, bilang mau temenin aku lembur, nyatanya mau ngejar kerjaan mu yang masih numpuk, lagian, kok gak bilang sih kalo mau pergi juga, kasian Dinda, kan!" Protes Alya yang meskipun dekat dengan Utari, tapi kalau untuk masalah tugas pekerjaan dia terbilang disiplin dantegas.


"Iya maaf bu bos!" Canda Utari.


Pukul sembilan malam pekerjaan Alya akhirnya berhasil di selesaikan, entah mengapa jika biasanya dia sangat bersemangat jika waktunya pulang, kini rasanya Alya sangat malas harus pulang ke rumah bertemu Ivan dan memasang wajah palsu seolah dirinya istri polos dan bego yang tak tau apa--apa dengan kelakuan suaminya di belakangnya.


Ternyata berpura-pura menjadi bodoh itu terkadang lebih sulit dari yang dia bayangkan, Alya pikir berpura-pura bodoh hanya perlu bersikap polos dan tak tau apa-apa saja, namun ternyata Alya lupa kalau dia juga harus berjuang setengah mati menahan ego dan amarahnya agar tak kelepasan muncul tiba-tiba saat terpancing seperti saat perbincangan Alya malam ini dengan Ivan.

__ADS_1


"Belum tidur, Van?" Tanya Alya berbasa basi saat dirinya baru sampai di rumah dan mendapati suaminya masih duduk di ruang tengah ruamahnya sambil mengotak-atik layar ponselnya, entah apa yang sedang di lakukan suaminya itu, selama ini Alya tak pernah ingin tahu, bahkan selama menikah Alya tak pernah sekalipun berkeinginan mengecek ponsel suaminya itu, namun saat menyadari ponsel suaminya selalu menempel di tangannya setiap saat, hal itu tiba-tiba membuat Alya menjadi tertarik dan berencana suatu saat dia akan mengecek ponsel suaminya itu, barangkali ada 'temuan' baru yang menunjukkan siapa waita selingkuhan suaminya itu.


"Aku nungguin kamu sayang, sambil cek-cek kerjaan, ini." Ujanya sambil segera memasukan ponselnya ke dalam saku celana seolah benda pipih itu sangat berharga dan keramat sehingga tak boleh ada siapapun yang melihat ataupun memegangnya.


Memang di era yang semakin modern ini, ponsel bisa di bilang menyimpan sebagian besar rahasia hidup pemiliknya, mulai dari pekerjaan, uang digital, termasuk perselingkuhan dan perbuatan kriminal bisa di cari tahu dari ponselnya, tak heran jika sebagian orang menganggap ponselnya adalah benda pribadi yang tidak boleh di sentuh orang lain.


"Hmm, gimana proyek mu di santosa, lancar?" Tanya Alya datar.


Namun meskipun pertanyaan Alya di sampaikan secara datar dan terdengar seolah pertanyaan yang biasa saja, bagi Ivan itu aneh, tidak biasanya Alya bertanya masalah pekerjaannya, bukankah selama ini dia terkesan cuek dengan semua masalah pekerjaannya, membuat Ivan sempat timbul pikiran kalau Alya mulai curiga dengan pekerjaannya yang kini sudah pindah tak lagi di lapangan, melainkan sudah menjadi manajer di kantor pusat.


"Emhh, lancar. Tapi aku punya sedikit kejutan untuk mu, aku dapat bocoran sepertinya aku akan mendapatkan promosi untuk jabatan manajer di kantor pusat, sayang." Urai Ivan buru-buru mengatakan hal itu sebelum Alya mengetahuinya, meskipun tanpa sepengetahuannya, sebenarnya Alya sudah terlebih dahulu mendapat kabar itu dari petugas keamanan proyek tadi siang.


"Oh ya, hebat sekali, selamat sayang!" Alya menampakkan senyuman palsunya yang jauh dari kata tulus dan ikut berbahagia, atas kabar baik itu.


"Berkat doa istri solehah seperti kamu ini sayang," Ivan mendekatkan bibirnya hendak mencium pipi Alya, namun tanpa sadar Alya justru memundurkan tubuhnya, menolak perlakuan suaminya itu.


Melihat gelagat suaminya yang memandanganya dengan tatapan aneh, Alya langsung berkata, "aku belum mandi sayang, badan ku lengket semua." Ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kesan kalau alasannya itu memang benar adanya tanpa di buat-buat sehingga tatapan Ivan pun kembali normal padanya.


"Van, jangan-jangan kamu naik pangkat karena anak bos kamu naksir, lagi sama kamu," seloroh Alya, berusaha memancing suaminya dengan di balut candaan.


"Hah, mba Kartika maksud mu? Kalau aku mau udah aku sikat sejak dulu yang, tapi kan aku setia orangnya sayang, cinta ku sama kamu tuh, gak gampang tergoyahkan demi apapun , apalagi hanya demi harta dan jabatan, ingat,,, harta bisa di cari, istri kaya kamu cuma satu gak ada gantinya, spesial edition." Ivan menepuk gemas bok-ong seksi Alya yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan jubah mandinya.


'Hueeekkkk!'

__ADS_1


Ingin muntah di wajah suaminya itu rasanya saat Alya mendengar kata-kata pujian yang terdengar manis jika itu dia dengar sebelumnya, sebelum dia tahu kelakuan minus suaminya itu, wajah Alya terlihat merona merah, bukan karena malu atau tersanjung dengan kata-kata suaminya, namun karena dia menahan mual karena mendengar gombalan palsu suaminya itu.


"Oh iya sayang, bagaimana kamu bisa tau Kartika?" Ivan mengerutkan keningnya.


"Kamu lupa kalau semua bos kontruksi sering datang ke kantor ku, untuk beramah tamah dengan bos besar ku, demi agar mendapatkan produk dari perusahaan kami dengan harga yang cukup miring, bahkan mengemis agar bisa membayarnya dengan cara mencicil atau tempo, dan aku beberapa kali pernah melihat pak Awar, bos mu itu datang ke kantor dengan putri nya, mungkin berharap bisa besanan dengan bos besar ku, namun gosipnya, keinginannya itu di tolak mentah-mentah oleh bos ku." Urai Alya bercerita panjang lebar bagaimana dirinya bisa tau sosok Kartika.


"Cih, tidak tahu malu." Decih Ivan, matanya terlihat seperti sedang menerawang sesuatu nun jauh di sana, entah apa yang ada di pikirannya kini setelah mendengar cerita tentang Kartika dari Alya.


Sempat terbersit di benak Alya, apa wanita itu adalah Kartika? Dan apakah Ivan menjadi marah karena tahu Kartika pernah akan di jodohkan dengan anak bosnya oleh ayahnya? Hal itu membuat Alya menjadi semakin bersemangat untuk memanas-manasi Ivan.


"Ya lagian, Kartikanya mau aja, bahkan denger-denger, Kartikanya yang minta di jodohkan dengan dengan anak bos ku, katanya sih, dia tergila-gila dengan anak bos ku gitu, bahkan dia rela menjadi istri ke dua karena anak bos ku itu sudah beristri." Untuk yang ini, Alya sengaja melebih-lebihkan ceritanya agar semakin buruk saja pandangan Ivan terhadap si Kartika itu.


"Terserahlah, toh ukan urusan kita ini, ngapain kita ikut repot, mau dia jadi istri kedua kek, jadi simpanan kek, selingkuhan kek, yang penting bukan dengan ku!" Kata Ivan terlihat jengah mendengar cerita Alya, entah apa yang membuat pria itu tiba-tiba terlihat sangat kesal, Alya hanya bisa mengendikkan kedua bahunya sambil mengulum senyum.


"Emang kamu gak selingkuh, Van?" Todong Alya.


"Sama Kartika? Gak lah!" Nada bicara Ivan tiba-tiba meninggi.


"Kalau sama wanita lain selain Kartika?"


"Apa sih yang, serem amat bahasannya masalah selingkuh." Elak Ivan.


"Kamu pernah selingkuh gak, Van?" Tanya Alya lagi yang sukses membuat dahi Ivan tiba-tiba berkeringat saat di todong pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2