Celana merah jambu

Celana merah jambu
Anda sedang melawak?


__ADS_3

Ivan terdiam, matanya terus menatap ke arah cangkirnya yang hampir kosong, dia tetap harus berusaha untuk meluluhkan hati istrinya agar tidak melanjutkan gugatan perceraiannya.


"Ya, aku salah, aku telah bermain-main dengan wanita lain di belakang mu, tapi bukan berarti aku tidak bisa berubah, bukan? Aku mau memperbaiki diri ku, mari kita sama-sama memperbaiki diri, memperbaiki rumah tangga kita," Mohon Ivan, melupakan harga dirinya demi membuat Alya kembali ke pelukannya.


"Mari kita memperbaiki diri kita masing-masing dengan jalan kita sendiri-sendiri, dan bagi ku, tidak ada lagi yang bisa di perbaiki dari rumah tangga yang sudah terinfeksi penghiantan di dalamnya." Tolak Alya.


"Perselingkuhan ini terjadi bukan karena aku tidak mencintai atau tidak menginginkan mu lagi, tapi terkadang jiwa petualang ku hadir untuk menemukan warna baru dalam hidup ku, aku akui kalau aku salah karena aku tidak bisa menjaga rasa yang seharusnya hanya untuk mu, aku ingin merasa berguna dan di butuhkan sebagai suami, namun kamu terlalu mandiri dan seolah tidak membutuhkan ku, meski pun pada akhirnya aku sadar tidak ada satu pun wanita yang bisa sehebat mu untuk menjadi pendamping ku."


Hampir saja Alya benar-benar menyiramkan kopinya ke wajah Ivan setelah mendengarkan pengakuan dosa yang di katakan suaminya itu, bisa-bisanya dia masih sempat menyalahkan kemandiriannya demi pembenaran perselingkuhan yang telah dia lakukan, pria macam apa sebenarnya yang sudah dia nikahi ini.


"Selingkuh bukan sebuah pilihan di mana kamu merasa merasa rumah tangga mu berjalan tidak seperti yang kamu inginkan, lantas dengan entengnya melimpahkan kesalahan pada ku, seolah semua terjadi karena diri ku. Apa kau sedang melawak?" Alya tertawa nyinyir, dia sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ivan saat ini.


Penjelasan panjang lebar Ivan sepertinya hanya untuk mencari pembenaran atas ketidak mampuan dia mengimbangi sikap mandiri istrinya, meskipun mungkin Alya di rasa kurang di mata Ivan, perselingkuhan tetap bukan jalan terbaik yang dapat di ambil dalam sebuah hubungan.


"Terserah apa pun yang kamu katakan, pada intinya sampai kapan pun aku tak akan pernah setuju dengan perpisahan yang kau minta ini, perpisahan bukan satu satunya pilihan dalam menyelesaikan masalah, jika kita masih bisa memperbaikinya, lantas kenapa harus berpisah?" Ujar Ivan dengan memasang wajah yang sangat menyebalkan di mata Alya saat ini, bagaimana tidak menyebalkan, sudah salah, nyolot, ngotot dan tidak pernah merasa kalau dirinya bersalah, lagi, yang lebih parahnya dia malah melimpahkan kesalahannya pada Alya, siapa yang tidak kesal berhadapan dengan pria macam itu.


Ivan sepertinya tak ingin merubah keputusannya untuk tetap mempertahankan rumah tangga yang kini hanya sudah berupa kepingan puzzle yang terburai, bahkan beberapa part di antaranya mungkin sudah hilang, sehingga meski di satukan kembali, gambarnya tak akan utuh seperti semula.


"Van, namun terkadang, perpisahan akan menjadi pilihan dan keputusan buruk yang terbaik yang harus di ambil dalam sebuah hubungan yang rusak seperti yang kita punya, agar masing-masing dari kita bisa melanjutkan hidup dengan bahagia menurut versi kita masing-masing, percayalah,,, kita sudah tidak sejalan."

__ADS_1


**


Perbincangan alot Alya dengan Ivan akhirnya selesai juga, walaupun pada akhirnya tetap saja mereka tidak menemukan titik temu, karena Ivan keukeuh dengan pendiriannya untuk tidak bercerai, sementara Alya juga tetap mantap ingin berpisah dari Ivan, sehingga pembicaraan panjang lebar mereka hanya berakhir dengan ketidak pastian dan menggantung begitu saja dengan keinginannya sendiri-sendiri.


Alya melajukan mobilnya ke arah perusahaan Marcel, beberapa menit yang lalu pria itu menghubunginya, karena ada sesuatu yang harus di diskusikan mengenai masalah JT grup.


Dari kejauhan, rupanya Ivan terus mengikuti laju kendaraan Alya, tanpa Alya sadari. Ivan sungguh penasaran, kemana istrinya itu akan pergi.


Ivan mengernyitkan keningnya ketika mobil Alya masuk ke arah basement kantor tempat Alya bekerja dulu, padahal Ivan sudah bisa memastikan kalau Alya benar-benar sudah di berhentikan dari perusahaan semen terbesar itu.


Ivan segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, dia lantas sibuk berbicara dengan orang itu dan tak lagi memperhatikan Alya yang kini telah masuk ke dalam perusahaan besar itu, Ivan pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali ke kantornya.


Alya sengaja menggunakan lift khusus direktur, Marcel sudah memberinya kartu akses agar setiap kali datang ke perusahaan, tidak ada yang tau kedatangannya, karena kehadiran Alya di sana sifatnya rahasia, Marcel tidak mau jika rencananya mengaudit ulang dan memeriksa tentang JT grup akan bocor untuk ke dua kalinya.


"Eh, hai Al! Kok ada di sini?" Tanya Utari yang ternyata sudah berdiri di dekat mobil Alya di parkiran, tumben sekali dia masih di kantor sampai menjelang malam begini, padahal biasanya, puluk 5 sore dia sudah pulang duluan dengan alasan pengasuh anaknya akan segera pulang.


"Hai Tar, lembur? Iya nih, aku abis ngambil berkas-berkas ku yang masih tertinggal di HRD." Bohong Alya.


"Oh, harusnya kamu bilang aku saja, biar aku yang mengambilkannya untuk mu, jadi kamu tidak perlu repot-repot datang ke sini, o ya,, aku nebeng ya, kita kan , satu arah. Kamu mau pulang, kan?" Kata Utari.

__ADS_1


Alya bertanya-tanya dalam hatinya, apa maksud dari pertanyaan Utari yang terakhir, dia memang tidak tahu kalau dirinya sudah keluar dari rumah yang di tinggalinya bersama Ivan, atau dia tahu, tapi ingin mengolok-olok dirinya?


"Ah iya, aku pulang, ayo bareng aja, mau main ke rumah ku juga ayo, udah lama kan, kita gak ngerumpi di rumah ku?" Tantang Alya sekalian.


"Haha, kapan-kapan deh, Lea lagi rewel banget sekarang ini gak bisa di tinggal emaknya." Tolak Utari memakai alasan putrinya.


Mau tidak mau akhirnya Alya mengantarkan Utari ke rumahnya, padahal tempat dirinya tinggal berlainan arah, dan Alya harus putar balik setelah mengentarkan Utari untuk pulang ke rumah.


**


Tengah malam di sebuah kamar,


"Mas, bukankah kamu bilang kalau istri mu sudah tidak tinggal di rumah mu lagi? Apa kamu berbohong pada ku? Pantas saja kamu sekarang ini jarang datang ke sini." Tanya seorang wanita yang memakai pakaian tidur minim itu sambil merajuk di dada Arjuna, di sebuah ranjang luas yang sudah tampak berantakan akibat pergumulan mereka beberapa saat lalu.


"Sudah hampi satu bulan ini dia pergi dari rumah dan tidak pernah pulang, adapun aku selalu tidur di rumah akhir-akhir ini karena kesehatan ibu ku sedang kurang baik." Ujar Arjuna beralasan.


"Tapi kok, aku mendapat kabar kalau istri mu masih tinggal di rumah mu, mana janji mu untuk segera bercerai dengan istri mu setelah rencana kita berhasil? Aku ingin kita segera menikah." Rajuk wanita itu dengan manja.


"Sabar sayang, semua akan ada waktunya. Untuk sementara nikmati sja seperti ini, toh kita tidak di kejar apapun!" Elak Arjuna yang sesungguhnya hanya mencari alasan karena sesungguhnya dia tidak pernah mau bercerai dengan Alya.

__ADS_1


"Selalu seperti itu jawaban mu, aku merasa kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikahi ku, atau memang benar kamu hanya mempermainkan ku saja?" Cebik wanita itu cemberut.


"Tentu saja tidak seperti itu, mana mungkin aku mempermainkan wanita secantik kamu!" Rayu Ivan seraya memeluk tubuh ramping wanita itu dan menindihnya, mereka mengulangi pergulatan panas yang beberapa waktu lalu baru saja selesai mereka lakukan, namun mereka seperti tidak ada puasnya melakukan kegiatan yang penuh napsu itu.


__ADS_2