
"Ini berkas-berkas yang anda minta bos," Darma menyodorkan sebuah map dan beberapa lembar kertas ke atas meja kerja Marcel, dan langsung di sambar bos nya itu dengan terburu-buru seperti tidak sabaran.
Hampir se-perempat jam lamanya Marcel terdiam sambil terus serius membolak balikkan kertas yang ad di tangannya, sesekali bibirnya bergumam, namun entah apa yang dia gumamkan, sepertinya hanya dirinya sendiri saja yang tahua apa yang saat ini sedang di kerjakannya, sebab Darma pu di buat bingung dengan permintaan bosnya itu sejak tadi pagi.
"Bos, kenapa tiba-tiba begitu tertarik dengan perusahaan kecil seperti CV Persada?" Tanya Darma karena merasa penasaran mengapa Marcel tiba-tiba meminta dirinya mencari tahu segala informasi mengenai CV Persada yang di nilainya hanya perusahaan kecil dan tidak mungkin jika Marcel akan bersaing dengan perusahaan sekecil semut jika di bandingkan dengan Salim grup.
"Siapa yang mengantarkan proposal kerja sama ini? Dan siapa yang menerimanya?" Alih-alih menjawab pertanyaan Darma, Marcel justru malah mempertanyakan proposal kerja sama yang pernah di ajukan perusahaan milik Rudy itu beberapa bulan yang lalu.
Rudy dan segala hal tentang nya kini menjadi sangat menarik untuk di ketahui olehnya setelah pria itu mengaku kalau dia sebagai kekasih Alya yang baru.
"Sepertinya proposal itu di antarkan langsung oleh pimpinan CV Persada itu sendiri, kalau tidak salah bernama---" Darma terlihat mengernyit mengingat-ingat nama pemilik CV Persada yang kini menjadi topik hangat dan tema utama dalam setiap pembicaraan Marcel bahkan dari sejak semalam, bos nya itu sudah menelponnya untuk di carikan berkas-berkas dan informasi mengenai CV Persada padanya.
"Rudy,,, apa namanya Rudy?" Tanya Marcel.
"Ah iya, Rudy, itu namanya aku ingat sekarang, kebetulan saat itu aku yang menerima proposal itu dengan tangan ku sendiri, ada masalah apa sebenarnya, bos?" Darma semakin penasaran.
"Kenapa proposalnya tidak pernah sampai ke meja ku?" Tanya Marcel lagi.
"Banyak hal-hal yang tidak memenuhi syarat dan tidak begitu menguntungkan, jadi untuk apa aku ajukan pada anda, bos? Itu juga bukan proposal pertama yang mereka ajukan, mereka sempat mengajukan proposal yan sama sekitar setengah tahun yang lalu, namun ya begitulah,,,seperti yang bos baca itu isinya, mana mungkin aku berani menyodorkannya ke hadapan anda," Ujar Darma yang merasa jika apa yang di lakukannya sudah benar dan sesuai dengan ketentuan peusahaan, salah-salah, jika dirinya tetap menyodorkan proposal itu, Marcel akan marah dan menganggap dirinya bekerja sama dengan CV tersebut karena meloloskan proposal yang jelas-jelas tidak memenuhi syarat.
__ADS_1
"Apa saya salah, bos? Apa itu perusahaan milik teman atau kerabat anda?" Tanya Damar lagi, padahal sejauh ini Marcel orang yang tegas dan disiplin jika mengenai pekerjaan, tidak peduli teman atau saudara jika tidak memenuhi persyaratan maka Marcel tidaka akan menerima proposal kerja sama dalam bentuk apapun.
"Tidak, kau tidak salah. Apa kau punya informasi lain yang menarik mengenai personal Rudy Mahendra, pemilik CV Persada ini?" Tanya Marcel lagi.
Darma menggelengkan kepalanya, "Tapi akan aku carikan jika memang bos menginginkannya." Sambung Darma.
"Tidak, biar aku cari sendiri. Lebih baik kau sekarang membuat undangan untuk tiga pemilik CV kecil yang pernah mengajukan kerja sama pada kita dan belum ter acc, kita akan memberi mereka kesempatan, jangan lupa untuk memasukan CV Persada salah satu dari tiga itu." Titah Marcel, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu, yang hanya dirinya sendiri yang tahu maksud dan tujuannya untuk apa.
**
Satu minggu setelahnya di CV Persada,
"Wah, selamat!" Ujar Alya singkat, meskipun dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah ada maksud dan rencana lain di balik undangan yang tiba-tiba Salim Grup berikan untuk perusahaan milik Rudy ini, secara ini terjadi setelah pertemuan mereka di pesta pernikahan Irwan kemarin, bahkan menurut cerita Rudy proposal kerja sama yang pernah dia ajukan pada Salim Grup pernah di tolak sebanyak dua kali, ini terlalu aneh dan mencurigakan, namun Alya tidak ingin mengatakan kecurigaannya itu pada Rudy yang terlihat sangat bahagia, dia tidak ingin mematahkan semangat Rudy, karena bisa saja kan, jika ini memang murni ajakan kerja sama karena prestasi dan proposal perusahaan Rudy yang memang menarik.
"Aku sangat bahagia, ini impian ku, bekerja sama dengan perusahaan se-besar Salim grup adalah obsesi terbesar ku,aku harus berterima kasih pada mu, sungguh sangat berterima kasih pada mu yang seolah bagai keberuntungan bagi ku dan perusahaan ku." Ujar Rudy tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya, dia terus tertawa dan wajahnya sangat bersinar.
"Ke-kenapa aku?" Gugup Alya.
"Tentu saja karena kamu, jika kemarin kamu tidak mengajak ku ke pesta pernikahan itu, da bertemu pak Marcel, mungkin ini tidak akan terjadi, apalagi setelah tahu jika CV Persada adalah milik kekasih mantan anak buahnya, dia pasti memperhitungkan itu dari sana, pokoknya ini semua berkat kamu, terimakasih Alya!" Ucap Rudy yang terus-terusan mengucap terimakasih tiada henti pada Alya yang tentu saja malah membuat Alya merasa tidak enak sendiri, terlebih jika Rudy sampai tau hubungan apa yang pernah terjadi antara dirinya dengan Marcel sebelumnya.
__ADS_1
Jujur saja kali ini Alya merasa bingung dan agak khawatir, dia takut jika marcel melakukan semua ini karena berdasarkan hubungan mereka sebelumnya, karena Alya merasa jika hubungan dirinya dengan Marcel di rasa kurang baik saat ini, dia takut jika itu juga berdampak pada kerja sama yang di rasanya begitu menddak itu, sementara dia juga melihat bagaimana bersemangat dan bahagianya Rudy mendapat kesempatan ini dari Salim Grup.
"Ah,, mana ada karena aku, perusahaan Salim grup itu sangat ketat, setahu ku Mar--- emh, Pak Marcel juga tidak pernah menjalin kerja sama atas dasar peremanan dan saudara, semua harus lewat veryfikasi yang sesuai aturan ,jadi aku rasa ini semua karena perusahaan mu memang hebar dan bagus,makanya terpilih." Kata Alya mengelak jika di katakan dirinya lah yang membuat kerja sama itu terjadi.
"Apapun alasannya, kamu adalah keberuntungan ku, sejak kamu bekerja di sini, perusahaan ku ini semain baik dri hari ke hari," Puji Rudy.
"Kamu terlalu berlebihan, bahkan aku belum ada tiga bulan bekerja di sini." Elak Alya lagi dia merasa tidak terus-terusan di sanjung dan di puji secara berlebihan oleh Rudy, sementara kontribusinya untuk perusahaan milik Rudy ini menurutnya belum terlihat apa-apa, hanya biasa saja.
"Tidak, kau tetap keberuntungan untuk ku, jadi aku minta pada mu, untuk proyek kerja sama dengan Salim rup ini aku ingin kamu menjadi pemimpin tim dan mengurusi semuanya, apalagi kamu sudah sangat hafal selub beluk Salim grup, juga kenal banyak orang-orang di sana," Kata Rudy.
"Eh,, kenapa jadi aku? Banyak karyawan mu yang lebih berkompeten, aku hanya seorang admin biasa di kantor mu, sebaiknya kamu pilih yang lain saja." Tolak Alya, selain dirinya tidak terlalu menguasai tentang proyek seperti itu, dia juga merasa malas jika harus berhubungan kembali dan sering-sering bertemu dengan Marcel nantinya.
"Aku mohon, ini impian ku, aku yakin proyek ini akan berhasil jika di bawah kepemimpinan mu, kamu keberuntungan ku, aku sangat percaya itu, tolong aku sekali ini saja!" Mohon Rudy memelas.
"Ta-tapi aku,,," Alya terlihat serba salah dan kebingungan.
"Tidak ada tapi-tapian, aku yakin kamu bisa dan kamu mampu, kamu tidak sendiri, ada tim yang mendampingi mu, dan aku juga tidak melepas mu begitu saja, tolonglah, ini keinginan dan obsesi terbesar ku, bantu aku mewujudkan mimpi ku!" Mohon Rudy lagi yang membuat Alya tidak tega untuk berkatata tidak saat melihat harapan yang berkobar di matanya dan tidak mungkin untuk dia padam kan begitu saja hanya karena keegoisan dirinya.
Terlalu jahat rasanya jika hubungan masa lalunya dengan Marcel harus menjadi penghambat Rudy untuk meraih impian terbesarnya, lagi pula Rudy sudah baik padanya selama ini, apa masih pantas dan tega dirinya menolak permintaan Rudy itu.
__ADS_1
'Semoga ini benar-benar kerja sama yang tulus karena profesional pekerjaan, tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan rumit kami di masa lalu.' Batin Alya dengan segala harapnya.