Celana merah jambu

Celana merah jambu
Jabatan yang di alihkan


__ADS_3

Hari ke tiga menjalani hari di rumah saja, dengan berbagai masalah yang datang silih berganti membuat Alya baru sadar kalau laptopnya yang dia cari-cari sejak pagi masih tertinggal di kantor, padahal ada banyak file penting dan pekerjaan-pekerjaan yang belum terselesaikan yang akan dia berikan pada Dinda atau Utari untuk di lanjutkan.


Dengan berbagai pertimbangan yang dia pikirkan selama beberapa menit, akhirnya Alya memutuskan untuk pergi ke kantornya, bahkan di saat dirinya sedang menjalani skorsing pun, dia masih memikirkan pekerjaan kantor yang belum selesai di kerjakannya, rasa tanggung jawabnya pada perkerjaan tidak bisa dia tinggalkan dan abaikan begitu saja.


**


"Bu Alya?" Sapa Dinda terlihat sumringah saat melihat kedatangan Alya di ruangan yang biasanya mereka tempati bersama itu, berbeda dengan Utari yang kini sedang duduk di meja yang biasa Alya tempati, wajahnya terlihat kaku dan agak terkejut namun tak ada raut senang atas kehadiran teman dekatnya itu di sana.


"Hai Din, Tar, aku hanya mampir untuk mengambil laptop ku saja, kebetulan banyak pekerjaan yang tertunda dan harus aku serahkan pada kalian untuk di lanjutkan pengerjaannya," Alya berjalan menuju ke arah meja kerja yang biasa di tempatinya yang kini sedang di tempati Utari.


"Maaf Al, barang barang mu sudah tidak di sini, semuanya sudah di ambil Pak Joko sejak hari pertama kamu menjalani skorsing." Kata Utari agak terbata.


"Di ambil Pak Joko? Aku hanya di skorsing, bukan di PHK. Bukankah ini masih ruang kerja ku saat aku selesai menjalani masa skorsing?" Alya menaikan sebelah alisnya.


"Maaf Al, aku tidak tau, sebaiknya kamu tanyakan langsung pada Pak Joko, dan mengenai meja kerja mu, maaf---Utari menjeda ucapannya beberap saat--- semenjak kamu di skors, ini menjadi meja kerja ku." Utari menunjukkan papan nama di atas mejanya yang bertuliskan nama Utari dengan jabatan kepala akuntan, dimana itu merupakan jabatannya sebelum terkena skorsing, bahkan tidak ada pemberitahuan padanya jika selain skorsing, jabatannya itu juga akan di alihkan pada orang lain tanpa sepengetahuan dirinya.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu?"


"Ya, Utari menggantikan posisi kamu, ini keputusan langsung dari bos besar, jika kamu mau protes, silahan langsung ke beliau, dan untuk barang-barang mu, sudah aku titipkan di recepsionis loby." Ujar Joko yang tiba-tiba saja berada di ruangan itu menjelaskan semua kepenasarannya.


"Oke, saya akan menemui bos besar sekarang juga, ini tidak adil!" Alya yang biasanya menaruh hormat pada Joko yang merupakan atasannya itu, kali ini bahkan menanggapi ucapan atasannya itu dengan ketus dan penuh emosi, meskipun marah dan emosinya sebenarnya entah di tujukan untuk siapa, yang jelas saat ini semua orang terasa menjahati dan menghianatinya secara kompak dan bersama-sama seolah semua orang sangat ingin melihat keterpurukan Alya, tidak Ivan, keluarga Ivan dan kini teman-teman kantor termasuk bosnya sendiri memperlakukannya sangat tidak adil dan berlaku sangat jahat padanya.


"Bu Alya!" Panggil Darma, asisten pribadi Marcel saat Alya melangkah dengan langkah terburu dan penuh marah menuju lift untuk naik ke lantai paling atas dimana ruangan bos besarnya berada.


"Ah kebetulan, apa Pak Marcel sedang berada di ruangannya? Saya ingin menemuinya." Tanya Alya.


"Kebetulan, saya ke sini juga di suruh Tuan untuk menyampaikan pada anda kalau beliau sedang menunggu Bu Alya di ruangannya." Terang Darma dengan sopan.


"Bu Alya! Tuan Marcel sudah menunggu!" Tegur Darma yang membuyarkan lamunan Alya, sampai-sampai dia tidak sadr kalau kini dia sudah berada di depan ruangan bos besarnya.


"Apa tiga hari di rumah sudah membuat mu merasa rindu dengan pekerjaan?" Ejek Marcel saat Alya baru saja melangkahkan sebelah kakinya melewati pintu ruang kerjanya.

__ADS_1


"Kenapa bapak menggantikan posisi pekerjaan saya dengan orang lain tanpa memberi tahu saya terlebih dahulu?" Sembuar Alya yang sejak tadi menahan marahnya, entah bagaimana Ivan dan keluarganya akan menertawakan dirinya jika sampai tahu kalau jabaran dirinya di gantikan orang lain dan kini dirinya terancam di keluarkan dari perusahaan karena jabatannya di perusahaan yang tidak jelas statusnya sebagai apa, jelas mereka akan bertepuk tangan dengan sangat keras dan mungkin mengadakan perta kemenangan atas keterpurukan yang di alaminya.


"Kenapa aku harus memberi tahu mu tentang itu, kamu hanya pegawai ku, bukan atasn ku, aku pemilik perusahaan, bebas melakukan apapun sesuai dengan pemikiran ku." Marcel balik bertanya dengan santainya, meskipun terdengar tengil dan agak menyakitkan di hati Alya, namun apa yang di katakan Marcel itu benar adanya, dia pemllik perusahaanm dan dia punya wewenang penuh atas pertukaran pegawai bahakan memberhentikan pegawai mana pun yang tidak dia kehendaki.


Alya menghembuskan nafasnya dengan panjang, mengeluarkan segala emosi yang ada dalam dadanya, dia tahu, berbicara dalam keadaan emosi seperti ini akan membuat logika dan akal sehatnya tak berjalan seperti seharusnya.


"Maksud saya, apa ini berarti saya di berhentikan dari perusahaan, atau hanya di pindah dari posisi saya sebelumnya? Karena tidak ada pemberi tahuan sama sekali tentang ini pada saya," Alya sudah mulai berbicara dengan tenang.


"Kau hanya pindah jabatan, sebagai gantinya kau bekerja untuk ku." Jawab Marcel santai.


"Bekerja untuk bapak? Bukankah selama ini juga saya bekerja di perusahaan ini untuk bapak?" Alya mulai berpikiran aneh-aneh tentang Marcel, dia mulai mengingat romansa perkantoran yang sering dia baca di novel atau dia lihat di serial drama, dimana sang atasan yang mencoba mendekati dan merayu karyawannya yang sedang bermasalah dengan menggunakan kekuasaan yang di milikinya, tiba-tiba Marcel menjadi sangat mesum di matanya, apalagi dia tahu kalau Marcel sudah menikah.


"Apa kau sangat menginginkan posisi jabatan itu? Tidak kah kamu ingin jabatan lain yang lebih baik? Punya perusahaan atau sendiri mungkin?" Ujar Marcel yang terdengar seperti sarkasme di pendengaran Alya.


"Pak satu-satunya keahlian yang saya punya hanya di bidang akuntan ini, dan saya mencintai pekerjaan saya ini, saya tidak tergiur untuk menjalani pekerjaan yang lain, apa bapak ingin menjadi seperti ceo-ceo di novel dan drama menjadikan saya sekretaris atau asisten pribadi bapak? Maaf saya tidak tertarik." Tolak Alya, membuat Marcel merasa bingung dengan jawaban Alya yang terkesan ngaco karena membawa-bawa novel dan drama segala rupa dalam obrolannya.

__ADS_1


"Maaf, tapi aku juga tidak berniat sama sekali untuk menjadikan mu sekretaris atau asisten pribadi ku, karena Darma sudah cukup bisa menghandle semua pekerjaan ku, aku yakin kau juga tidak akan mampu melakukan kedua pekerjaan yang kau sebuatkan tadi!"


Jawaban Marcel tentu saja membuat wajah Alya merah padam karena merasa sangat malu karena mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal pada atasannya itu dan tiba-tiba berprasangka buruk pada tawaran atasannya itu, padahal dia belum tahu apa yang akan di tawarkan Marcel padanya.


__ADS_2