
Alya tidak menyangka jika di balik sikap dingin dan ketusnya Marcel juga masih memperhatikan dirinya, bahkan dia tahu jika siang tadi dia men-skip makan siangnya karena pekerjaan yang sangat banyak.
'Oh no,,,no,,,no,,, sadarlah Alya, percaya diri itu baik, tapi sadar diri itu lebih baik, dia sudah menjadi milik orang lain, stop baper!' ujar Alya pada hatinya sendiri yang mulai berbunga-bunga dan menghangat karena tak menyangka akan mendapat perhatian seperti itu dari Marcel.
Semesta seperti ingin ikut berperan dalam kebersamaan Alya dan Marcel kali ini yang sedang makan bersama namun saling diam satu sama lain tak saling bicara, hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya membuat Alya dan Marcel serentak menoleh ke arah luar lewat pintu utama yang sengaja di biarkan terbuka lebar.
"Di tutup saja!" Titah Alya karena kilat saling bersahutan dan membuat Alya ketakutan.
Marcel bangkit dari duduknya dan menutup pintu, sehingga membuat mereka kini semakin canggung karena terkutung dalam ruangan tertutup di mana hanya ada mereka berdua saja dengan suasana yang seperti ikut mendukung kebersamaan mereka, agar lebih dekat dan todak membiarkan Marcel untuk pergi dari rumah Alya.
Benar saja, selesai makan kini mereka semakin terlihat canggung, bingung apa yang harus mereka lakukan.
"Aku pulang saja!" Ujar Marcel yang terlihat kebingungan.
"Hujan sangat deras, belum lagi kita terus bergemuruh sejak tadi, apa tidak sebaiknya menunggu sedikit reda dulu saja?" Ujar Alya.
"Hmm, sepertinya tidak apa-apa, akan lebih baik jika aku pulang saja, kau pun bisa beristirahat." Tolak Marcel, bukan nya dia tidak ingin berada di sana lebih lama, hanya saja dia takut jika kehadirannya di sana mengganggu waktu istirahat Alya, dan sebenarnya ada hal yang lebih di takutkan oleh dirinya, yaitu takut kalau dirinya tidak bisa menahan diri saat berduaan dengan Alya, sementara dia tahu antara dirinya dan Alya sudah tidak mungkin.
"Sebenarnya saya takut, tapi kalau anda bersikeras untuk pulang,,, ya sudah!" Cicit Alya yang sebenarnya memang merasa takut jika harus di tinggal sendirian di rumah dalam keadaan hujan lebat seperti ini, bukan apa-apa, belakang rumahnya masih banyak terdapat pohon kelapa tinggi-tinggi, dia takut jika hujan yang di sertai kilat dan angin kencang ini merubuhkan salah satu atau bahkan beberapa pohon, lantas menimpa rumahnya, secara dia seorang wanita dan tinggal sendirian, terlebih rumahnya jauh dengan tetangga.
Marcel terdiam sejenak menimbang-nimbang apakah dirinya harus tetap tinggal atau pulang demi menghindari terjadinya hal-hal yang memang di inginkannya 😆.
Namun tiba-tiba, BRUAK!
Semesta memang tidak mengizinkan dirinya pulang cepat dan menginginkan kebersamaan mereka saat ini, hal yang sebelumnya di takutkan oleh Alya benar-benar terjadi, dimana satu buah kelapa yang berukuran cukup besar tiba-tiba menjatuhi atap ruang tamu di mana mereka duduk saat ini, membuat Alya terjingkat kaget dan reflek loncat memeluk Marcel yang juga sama-sama merasa kaget dengan suara dentuman kencang yang tepat di atas kepala mereka.
__ADS_1
Tes,,tes,,tes,,,
Tak selang berapa lama dari itu tetesan air menetes ke arah tubuh Alya dan Marcel seolah menyadarkan mereka darikekagetan.
"Ah, maaf!" Alya yang baru tersadar jika dirinya memeluk Marcel dengan eratnya langsung melepaskan pelukannya, begitu pun dengan Marcel yang lantas ikut reflek melepaskan tubuhnya dari tubuh Alya, suara dentuman kencang tadi membuat Marrcel spontan melindungi tubuh Alya dengan memeluknya erat, jadilah mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Atapnya sepertinya bocor, aku akan menggeser sofa agar tidak semakin basah." Ujar Marcel, menunjuk sofa yang kini sudah di genangi air dari atap rumah yang bocor, lantai juga sudah mulai banyak terdapat genangan air.
Niat Marcel untuk pulang akhirnya tertunda karena kini dia harus ikut kerja bakti membereskan rumah Alya yang bocor akibat atap rumahnya kejatuhan kelapa.
"Sepertinya kita istirahat saja dulu, biarkan saja seperti itu, lagi pula airnya akan terus menetes selama hujan masih belum reda." Ujar Alya, yang mulai merasa lelah karena menggeser dan menyelamatkan barang barang agar tidak terkena tetesan bocoran air hujan.
"Sebaiknya kau istirahat saja, biar aku yang berjaga di sini." Kata Marcel, sepertinya dia harus mengurungkan niatnya untuk pulang karena takut jika terjadi hal-hal lebih parah dari ini sepeninggal dirinya nanti.
"Emh,,, biar saya menemani anda di sini, lagi pula saya tidak mengantuk." Tolak Alya.
"Baju mu basah, aku akan mengambil handuk dan baju ganti untuk mu, jangan sampai kamu masuk angin." Ujar Alya sambil masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk dan baju ganti untuk Marcel karena Marcel kini sudah basah kuyup.
"Hanya ada ini!" Alya menyodorkan selembar sarung dan t-shirt dirinya yang ukurannya paling besar, biasanya t-shirt bergambar bunga-bunga itu di pakai Alya untuk tidur sebagai daster, hanya itu pakaian yang di rasa Alya akan muat di tubuh besar Marcel, karena baju-bajunya yang lain berukuran kecil sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil.
"Kau yakin aku harus memakai pakaian seperti ini?" Marcel membuka lipatan baju yang masih tercium wangi pewangi pakaian, karena baju itu merupakan baju favorit Alya dan sudah biasa cuci kering pakai setiap malamnya.
"Tidak ada baju lain yang akan muat di tubuh besar anda, pak." Alya meyakinkan.
Marcel menghela nafasnya berat, bajunya sudah terlanjur di berikan pada Alya untuk di masukkan ke mesin cuci, dan tidak mungkin jika dirinya hanya memakai sarung tanpa atasan di tengah cuaca yang cukup dingin seperti ini.
__ADS_1
Alya terlihat menahan tawanya saat melihat Marcel yang bertubuh kekar dan macho itu mengenakan t-shirt bunga-bunga miliknya yang berwarna kuning terang, di padukan dengan kain sarung yang melilit di pinggangnya.
"Apa kau sedang menertawakan ku?" Tegur Marcel dengan mulut yang cemberut.
"Tidak, anda terlihat imut dengan pakaian seperti itu, tapi bajunya terasa nyaman, kan? Aku biasa memakainya setiap malam, karena sangat nyaman jika di pakai tidur." Kata Alya.
"Kau memakainya setiap malam?" Beo Marcel.
"Hemh, aku mencuci dan memakainya setiap malam, tidak pakaibaju itu rasanya ada yang kurang kalau aku hendak tidur, dan mungkin aku tidak akan bisa tidur malam ini karena baju kesayangan ku di pakai oleh anda, pak." Canda Alya berusaha mencairkan suasana.
Marcel tersenyum dalam hatinya, entah mengapa hatinya tiba-tiba menghangat mendengar candaan Alya itu, dan membuat dia juga melupakan kemarahannya.
"Kau bisa memeluk ku jika ingin tidur dan masih merasakan kelembutan baju ini." Marcel membalas candaan Alya seraya merentangkan kedua tangannya seolah mempersilahkan Alya untuk memeluk tubuhnya.
"Haish,,, mana bisa begitu!" Ujar Alya dengan wajah yang memerah dan terasa panas karena menahan malu.
"Sebaiknya kau tidur, ini sudah sangat malam, biar aku yang berjaga jaga di sini." Titah Marcel.
"Tapi anda juga harus tidur, pak. Bukankah anda juga harus bekerja besok pagi?"
"Aku bisa tidur di sini." Kata Marcel, meskipun sebenarnya dia kebingungan, bagaimana caranya dia bisa tidur sementara sofa satu-satunya di rumah itu pun sudah basah, dan di rumah itu juga hanya ada satu kamar saja, tidak mungkin, kan jika dia tidur di dapur atau kamar mandi?
"Kita sama-sama lelah, dan sama-sama harus bekerja besok pagi, anda juga tidak bisa tidur di sini karena sofa basah, ayo tidur bersama ku!" Ajak Alya yang sontak saja membuat Marcel membelalakan matanya selebar mungkin karena merasa tidak percaya dengan ajakan Alya padanya itu, dia bahkan berulang kali mencerna dan mengingat-ingat apa telinganya sedang tidak salah menangkap ajakan Alya itu.
"Maksudnya?" Gagap Marcel, bayangan dan pikiran nya kali ini sudah traveling entah kemana membayangkan dia akan tidur satu ranjang dengan Alya, ini benar-benar di luar dugaannya.
__ADS_1
(Kalau rezeki mah, gak kemana ya, bang,,,? 😆🤭✌️)