
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kau menghawatirkan anak-anak ku, ayah? Bukan kah anak ku itu adalah aib bagi mu? Bukankah kau bahkan tidak sudi mengakui mereka sebagai cucu mu? Tidak usah sok peduli, lagi pula dalam hal ini sudah lagi mengenai uang dan perusahaan, tapi tentang harga diri, aku harus menyingkirkan wanita ini untuk dapat memiliki Marcel, Maaf Alya,,, anak-anak ku lebih membutuhkan Marcel untuk menjadi ayahnya, jadi relakan dia untuk ku!" Sita sempat tersenyum miring sebelum akhirnya dia meletuskan senjata ke arah Alya yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar tempatnya di sekap sebelumnya.
Dor!
Suara tembakan terdengar sangat kencang membuat semua orang yang ada di sana terdiam membeku untuk beberapa saat karena merasa kaget.
"Alya!" Suara Marcel dan Ivan serentak memanggil nama Alya setelah mereka semua tersadar dari kekagetan yang mereka alami saat tadi.
Namun Alya yang di panggil seperti terkesima dengan keadaan dan hanya bisa terdiam karena syok, bahkan saat Ivan yang lebih dekat dengannya berhasil memeluk dirinya dengan erat, kesadaran Alya kembali datang saat dia melihat darah yang mengucur dari bahu kiri bagian belakang Ivan, dan dia baru menyadari jika Ivan lah yang terkena tembakan Sita.
Mantan suaminya itu refleks memeluk Alya dan nekat menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk menghalangi Alya dari muntahan timah panas yang melesat dari senjata yang di gengam Sita dan di bidik kan padanya.
__ADS_1
"Ivan, bahu mu berdarah," panik Alya seraya melepaskan pelukan Ivan, namun sepertinya Ivan mulai kehilangan kesadarannya dan tubuhnya merosot dan lunglai ke lantai akibat Alya yang tidak sanggup menopang tubuh mantan suaminya itu.
Sungguh Alya tidak menyangka jika Ivan akan melakukan hal se nekat itu untuk melindungi dirinya.
"Van, Ivan,,, tolong sadarlah, bangun Van!" Alya menepuk-nepuk pipi Ivan yang mulai terasa dingin dan wajah yang terlihat pucat.
Sementara mengetahui jika bidikannya meleset, Sita berniat hendak membidikkan senjatanya sekali lagi, 'kali ini tak boleh meleset,' gumam nya.
Melihat kekacauan yang terjadi di sana semakin tidak terkendali, Haryanto berinisiatif menarik putrinya menjauh dari sana, saat perhatian semua orang tertuju pada Ivan yang tergeletak lemah tidak berdaya dan sibuk mengurusinya, hal itu di jadikan Haryanto untuk membawa Sita pergi jauh dari sana, bagaimana pun dia tidak mau jika putrinya harus meringkuk di balik jeruji besi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah menyekap Alya dan lebih jauh menembak Ivan di tambah lagi dengan kepemilikan senjata api ilegal, pasal yang akan di tuntutkan padanya tentu saja bukan pasal yang ringan sehingga Haryanto lebih memilih menyembunyikan putrinya itu.
Tidak ada yang menyadari dengan kepergian Sita dan Haryanto dari sana, karena Marcel dan Alya sibuk mengurus Ivan, setelah ambulan datang dan membawa Ivan ke rumah sakit, barulah mereka menyadari jika Sita sudah melarikan diri, untunglah mereka segera melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwajib, sehingga aparat kepolisian berjanji akan segera mencari dan menemukan keberadaan Sita secepatnya.
__ADS_1
Alya terus menangis sepanjang menunggui Ivan operasi pengangkatan peluru di bahunyam, dia merasa sangat bersalah karena apa yang di alami Ivan saat ini di tambah lagi kini Yuni datang di temani Fitri yang membawa bayi perempuan Ivan ke rumah sakit karena polisi mengabari mereka.
Yuni terus saja menyalahkan Alya, " Lihatlah, lihat bayi tidak berdosa itu, dia di tinggalkan ibunya semenjak di lahirkan ke dunia, yang dia punya saat ini hanya ayahnya, jika ayahnya juga harus pergi, bayi tak berdosa itu tak punya siapa-siapa lagi selain aku sebagai neneknya yang mungkin hidup ku pun tidak akan lama lagi, kenapa,,, kenapa kau lakukan semua ini pada anak dan cucu ku?" Ratap Yuni yang mendapatkan keterangan dari poisi jika Ivan tertembak akibat menyelamatkan Alya yang menjadi sasarantembak Sita.
"Bu, Alya tidak bermaksud mencelakakan Ivan, sungguh Alya tidak tahu jika Ivan akan melakukan hal itu, andai saja bisa memilih, mungkin Alya memilih membiarkan tubuh Alya saja yang di tembus timah panas dari pada Alya harus merasa bersalah dan berhutang budi pada Ivan, pada ibu, dan pada bayi tak berdosa itu, maafkan Alya bu!" Alya kini bersimpuh di hadapan mantan ibu mertuanya memohon ampunan wanita paruh baya yang terus memakinya itu.
Sementara Marcel yang sejak tadi mendampingi Alya hanya bisa terdiam, sungguh dia tidak tahu harus berbuat apa, hatinya terasa sakit saat melihat Alya terus menangisi Ivan, terlebih saat melihat Alya sampai bersimpuh untuk mendapatkan kata maaf dari mantan mertuanya.
Kali ini Marcel merasa dirinya tidak berguna dan tidak becus menjaga Alya seperti halnya Ivan yang rela berkorban demi Alya. Terbersit dalam hati Marcel pertanyaan yang lumayan menggelitik hatinya 'Apakah Alya akan menangis seperti ini juga jika yang tertembak saat ini adalah dirinya?'
Hal itu sungguh sangat mengganggu pikirannya, bahkan dia merasa jika sebenarnya Alya dan Ivan masih saling mencintai selama ini, terbukti dari pengorbanan Ivan yang sebegitu besarnya untuk Alya, dan tangis kesedihan yang di tunjukkan Alya atas keselamatan Ivan, sehingga saat ini Marcel merasa mejnjadi satu-satunya orang asing di antara keluarga yang seharusnya tidak terpisah.
__ADS_1