
"Kenapa kita tidak mengambil tindakan tegas atas perbuatan Utari dan Ivan?" Tanya Marcel pada Sita yang keukeuh tidak setuju jika masalah ini di lanjutkan ke jalur hukum.
"Hukuman apa yang kamu harapkan dari mereka? Jika itu kita lanjutkan ke jalur hukum, paling Utari hanya beberapa tahun saja dalam penjara karena penggelapan, sementara Ivan yang perannya tidak cukup memenuhi unsur pidana, mungkin bebas dari hukuman, karena dalam hal ini mereka hanya berselingkuh, menurut ku sangsi sosial seperti saat di pesta kemarin adalah hukuman paling pas untuk mereka, dan itu akan melekat ke diri mereka sepanjang hidup." Ujar Sita, yang akhirnya membuat Marcel ikut merasa setuju dengan pendapat wanita yang dalam beberapa hari ke depan akan berstatus sebagai mantan istrinya itu.
"Oh iya, ada beberapa hal penting yang harus aku urus, dan mungkin aku akan pergi selama satu atau dua hari," sambung Sita.
"Lantas bagaimana dengan Daniel, apa kau akan membawanya juga?" Protes Marcel, sungguh dia belum merasa siap harus berpisah dengan bayi itu, meskipun mau tidak mau saat mereka berpisah kelak, mungkin dia akan benar-benar berpisah dengan bayi laki-lakinya itu karena Sita pasti akan membawa Daniel bersamanya.
"Sepertinya aku tidak bisa membawanya, ada hal penting yang tidak memungkinkan aku untukmembawanya." Jawab Sita.
Marcel melongo, bagaimana bisa Sita se tega itu akan meninggalkan bayinya selama berhari-hari.
"Tolong, ini sangat penting bagi ku, aku mohon!" kata Sita lagi, meski tetap saja dia tak mengatakan akan kemana dia pergi.
Sebenarnya bukan karena kepergian Sita yang menjadi masalah, namun dalam hal ini Marcel lebih memikirkan bagaimana Daniel.
"T-tapi---" Marcel terdengar ragu-ragu untuk memutuskan, selama ini dia memang sering bermain bersama bayinya itu, kadang-kadang dia juga menjaganya beberapa jam, tapi dia tidak yakin jika harus menjaganya selama beberapa hari, sementara dia pun tidak ingin menanyakan kemana Sita pergi, sungguh dia tidak ingin tahu tentang itu.
__ADS_1
"Kamu bisa meminta tolong kekasih mu untuk ikut menjaga Daniel, aku yakin dia tidak akan keberatan, anggap saja itung-itung kalian belajar jadi orang tua," ujar Sita menggoda.
"Kekasih?" Tanya Marcel pura-pura tidak mengerti apa maksud perkataan Sita.
"Alya, bukankah kalian sudah resmi jadian?" Kata Sita dengan santainya, membuat Marcel mengernyit karena merasa bingung, dari mana Sita tahu mengenai kabar hubungan dirinya dengan Alya yang bahkan Darma saja tidak mengetahui hal itu.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Marcel.
"Tidak penting dari mana aku tahu, yang jelas aku hanya meminta tolong pada kalian untuk menjaga Daniel selama aku pergi." Ujarnya berteka-teki.
Mendengar seperti itu Marcel pun hanya bisa mengendikkan kedua bahunya, seperti biasa, dia tidak pernah mau terlibat percakapan terlalu panjang dengan Sita. Adapun dengan permintaan Sita kali ini mau tidak mau Marcel akhirnya menyetujuinya, hanya satu sampai dua hari, toh hal itu juga bisa di jadikannya alasan agar dirinya dan Alya bisa menjadi semakin dekat, sepertinya dia harus sedikit berterima kasih dengan ide Sita agar dirinya meminta pertolongan pada Alya dalam mengurus Daniel saat di tinggal Sita.
**
"Mas, apa tidak sebaiknya kamu mencari keberadan mbak Sita, aku agak khawatir," Ujar Alya yang kini sudah tidak menggunakan bahasa baku saat berbicara dengan Marcel, dia juga sudah tiak memanggil Marcel dengan sebutan Pak.
Oh iya, Alya juga kini menempati apartemen milik Marcel, semenjak Alya di mintai tolong Marcel untuk ikut mengurus Daniel, pria itu sama sekali tidak percaya Daniel di pegang orang lain, dia lebih tenang jika bayinya bersama Alya di banding di tinggal bersama pengasuhnya di rumah.
__ADS_1
"Ya, aku akan mulai coba mencarinya, aku juga tidak banyak tahu siapa saja temannya."Kata Marcel yang terlihat lebih tenang di banding Alya.
Alih-alih menghilangnya Sita, yang Marcel pikirkan saat in justru kelanjutan proses perceraiannya, karena Sita yang mengurus semuanya, jika Sita menghilang seperti ini, bukankah itu berarti proses perceraiannya juga akan ikut terhambat.
Sempat terbersit di benak Marcel, jika menghilangnya Sita kali ini memang di sengaja karena dia ingin mengulur perpisahan dengannya, tapi untuk apa? Bukankah mereka sudah sepakat, dan dia juga sudah 'merestui' secara tidak langsung hubungannya dengan Alya, jadi untuk apa lagi dia mempersulit proses perceraian mereka.
**
Di tempat lain, Ivan yang belum berani pulang ke rumahnya karena belum siap bertemu Hana dan mengadapi kemarahannya kini memilih untuk tinggal bersama Utari di sebuah apartemen tipe studio, meski sangat besar keinginannya untuk bertemu buah hatinya yang sampai saat ini belum sempat di temuinya, namun dia tetap memilih untuk menunda pertemuan dengan darah dagingnya itu, Ivan memang berniat akan menemui anak dan juga keluarganya kembali saat keadaan sudah memungkinkan, dalam hal ini saat dia sudah mendapatkan uang yang banyak, karena dia sangat tahu, kelemahan Hana hanyalah uang, semarah apapun dia jika di beri uang dengan jumlah yang sangat banyak, dia pasti akan luluh.
Semantara putri Utari di titipkan orang tuanya di kampung karena Utari kini tidak punya pekerjaan setelah di pecat dari Salim grup secara tidak hormat dan tidak mendapat tunjangan atau pesangon apapun, masih untung pihak perusahaan tidak menuntutnya, hanya saja dengan catatan hitam yang di perolehnya, pasti akan susah untuk dirinya mendapatkan kembali pekerjaan, perusahaan lain pasti akan menolak dirinya yang mempunyai back ground pernah menggelapkan uang perusahaan, kini dia hidup mengandalkan sisa-sisa uang tabungan yang dia punya untuk biaya hidup dirinya dengan Ivan.
"Bagaimana tadi hasil pertemuan mu dengan pak Anwar?" Tanya Utari saat Ivan yang baru saja masuk ke apartemen sewaan nya dengan wajah kusut dan cemberut.
Ivan baru saja janjian bertemu dengan Anwar, bosnya di JT grup, karena dua hari yang lalu saat Ivan kembali ke kantor, ruangannya ternyata sudah di isi oleh orang lain, posisinya sudah di gantikan oleh karyawan lainnya tanpa sepengetahuan Ivan. Tentu saja hal itu membuat Ivan sangat marah, sehingga dia meminta bertemu dengan orang nomor satu di perusahaannya itu, mengingat kedekatan mereka sebelumnya dan juga kejahatan yang pernah mereka lakukan bersma dalam menipu perusahaan-perusahaan lain termasuk Salim grup, Ivan kira Anwar akan mempertahankan posisinya, nyatanya selai pintar menghianati lwan bisnisnya, pria tua itu juga sangat lihai dalam menghianati sekutunya sendiri.
Bak habis manis sepah di buang, kini Anwar seolah tidak ingin terlibat apapun dengan Ivan yang saat pesta kemarin baru saja di kuliti dan di permalukan sampai ke akar-akarnya, sepertinya Anwar tidak ingin terseret dalam kasus yang tengah di hadapi Ivan saat ini.
__ADS_1
"Sialan, pria tua itu memecat ku, dan mengatakan kalau dia dan perusahaannya tak ingin lagi terlibat hal apapun dengan ku," umpat Ivan seraya memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing dengan sebelah tangannya.
"Kita tidak bisa membiarkan orang-orang menindas kita dengan seenaknya, kita harus segera menuntut balas, dan untuk sasaran kita yang petama adalah Anwar, bos mu itu harus tahu dengan siapa dia bermain, dia tidak bisa berlaku seenaknya, sementara kita mempunyai kartu as dia, setelah itu baru Alya, Marcel dan Sita si wanita ber_engsek itu." Kata Utari dengan mata penuh kebencian dan dendam, sepertinya ulah Sita kemarin sudah membuat Utari membenci hingga ke tulang-tulang pada Sita dan juga Alya yang menurutnya telah membuat hidup dan masa depannya hancur berantakan, tanpa dia mau sadari kalau semua itu adalah buah dari perbuatan jahatnya selama ini, namun alih-alih intrerospeksi diri dan menyadari kesalahannya,, justru Utari malah melimpahkan kesalahan pada orang lain yang menurutnya harus bertanggung jawab atas keterpurukan hidupnya sekarang ini.