
Setelah tadi siang dia sengaja mengirimkan makanan lewat layanan pesan antar ke kantornya, sore ini di jam pulang kantor, Alya mengajak Ivan untuk bertemu di salah satu mall besar, untuk sekedar makan dan nonton, pokoknya Alya ingin membuat waktu kebersamaan Ivan dengan Hana tersita untuknya.
Namun saat Ivan dan Alya sedang melihat film yang akan mereka tonton, tiba-tiba "Eh Pak Ivan, Bu Alya, lagi mau nonton juga ya?" Sapa Hana yang sudah seperti mahluk gaib, karena tiba-tiba saja muncul di antara mereka.
Sontak saja wajah Ivan terlihat kaku, tadi dia pamit pulang terlebih dahulu pada Hana karena ada urusan di rumah, namun ternyata dirinya malah tertangkap basah hendak pergi nonton dengan Alya.
"Eh, Hana. Sama siapa?" Tanya Alya ramah sambil melihat sekitar Hana yang memang tampak sendirian, Alya sudah bisa menebak kalau Hana sebenarnya sengaja mengikuti Ivan sampai ke sini, hanya saja dia biarkan saja kekasih gelap suaminya itu memainkan perannya, cukup di tonton saja, ikuti alurnya, pikir Alya.
"Saya sendirian, bu. Maklum lah jomblo." Ujar Hana dengan senyum nya yang sok akrab pada Alya, namun matanya beberapa kali terlihat sedang mencuri-curi pandang ke arah Ivan yang masih tetap terdiam tak ikut berkomentar sama sekali bahkan Ivan tidak berani menatap ke arah Hana.
"Ah, kalau begitu, gabung saja. Iya kan Van? Kasian sekretris mu itu masa nonton sendirian." Cicit Alya sambil menoleh ke arah Ivan yang kini malah gelagapan hanya untuk menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Tidak, tidak. Tidak usah bu, saya tidak mau mengganggu anda berdua, lagi pula pak Ivan juga sepertinya ingin berduaan saja dengan Anda," Hana segaja melirik sambil melempar senyuman yang entah berarti apa untuk Ivan, yang jelas, senyuman itu telah mampu membuat Ivan merinding ketakutan.
"Ti-tidak, aku sama sekali tidak keberatan, ayo bergabung saja!" Ucap Ivan Akhirnya.
Mendapat izin dari Ivan dan Alya, dengan tidak tahu malunya Hana langsung bergabung dengan pasangan suami istri itu, bahkan jika tidak mendapat izin sekali pun, dia tetap akan mengikuti kemana Ivan dan Alya pergi, mengesampingkan rasa malunya demi dirinya tetap bisa memantau apa saja yang di lakukan Ivan bersama kekasihnya.
Meski harus menahan perih hati sepanjang mengikuti Ivan dan Alya, Hana tetap bertahan, benar kata Utari, kalau Hana merupakan orang yang gigih dalam memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya, meski dalam hal ini, dia sadar betul kalau apa yang sedang dia perjuangkan nya adalah sesuatu yang keliru.
Selesai menonton film dan makan malam, Ivan langsung mengantarkan Alya pulang ke tempat kostnya, kali ini dia buru-buru langsung pamit tanpa mampir seperti biasanya, sepertinya dia ingin cepat-cepat menyusul Hana ke tempat kontrakannya, karena tidak ingin kekasihnya itu semakin marah jika dirinya berlama-lama bersama Alya.
__ADS_1
Meskipun Ivan menggunakan alasan ingin menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk, Alya jelas paham jika itu hanyalah alasan akal-akalan Ivan saja, dari sini Alya semakin paham jika Tuhan memang benar-benar menyayanginya, sehingga dia di pisahkan dengan pria bermuka dua, manis di mulut seolah memberinya cinta tulus, namun pada kenyataannya tak pernah bisa menjadi setia.
Tidak munafik, rasa sedih dan sakit itu tetap masih tersisa, dan terasa di hati Alya saat menerima kenyataan Ivan lebih memilih pergi mengejar selingkuhannya dari pada dirinya, sehingga wajahnya kini terlihat agak masam.
"Jangan menjadi munafik, jika masih mencintainya, kejar dan pertahankan rumah tangga mu, tapi jika tidak, lepaskan!" Suara Marcel membuat Alya tersentak dari lamunan, rupanya sejak tadi Marcel berada di sana dan melihat dirinya yang berwajah muram karena Ivan lebih memilih pergi menemui selingkuhannya dari pada dirinya.
"Saya sudah tidak punya alasan apapun untuk mempertahankan dan memperjuangkan rumah tangga saya, pak. Sepertinya saya memang tidak beruntung dalam hal percintaan dan rumah tangga," keluh Alya dengan pasrahnya.
"Kau bukan kurang beruntung, tapi kurang bersyukur, bukankah dengan semua kejadian ini seharusnya kamu merasa bersyukur, meski kejujuran dari Tuhan ini terasa menyakitkan, tapi setidaknya kamu tidak terjebak dalam cinta palsu suami mu. Atau kau lebih senang hidup dalam kepalsuan?" Sinis Marcel yang membuat Alya kini meras tertampar dengan ucapan nya yang terkesan sadis namun itu kenyataan.
Meski ucapan Marcel terkesan sadis, namun entah kenapa itu terasa lebih mengena dan bermakna di hati Alya, dari pada ucapan manis namun ternyata hanya menipu dan menyakitinya.
**
"Kamu masih mencintai istri mu?" Tanya Hana masih dengan posisi membelakangi Ivan, sambil terisak.
"T-tidak." Jawab Ivan, dia terpaksa harus mengatakan kebohongan itu, demi agar kekasihnya tidak lagi marah padanya, dan meyakinkannya kalau hanya Hana lah yang dia cintai saat ini.
"Lantas kenapa masih bersamanya, bukankah kamu berjanji akan menceraikannya? Kapan kamu akan tepati ucapan mu itu?" Tagih Hana.
"Aku hanya tidak tega, dia sudah tidak punya orang tua, dia juga tidak punya saudara, jadi terkadang aku tidak tega untuk mengatakan itu padanya." Lagi-lagi Ivan beralasan.
__ADS_1
"Apa perlu aku yang harus mengatakan pada nya?" Ancam Hana.
"Aku tidak mau kamu ikut terkena masalah, biar ini aku selesaikan sendiri, tolong beri aku waktu,"
"Waktu lagi? Sampai kapan? Aku sudah tidak bisa menunggu lagi sekarang, Mas!" Hana kini berbalik dan menghadap ke arah Ivan dengan tatapan tajamnya.
"Sabar!" Lirih Ivan seraya mengusap pipi kekasihnya yang masih terasa basah akibat air matanya.
Hana membuka laci di sebelah ranjang mereka, lantas mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Ivan.
"Aku mungkin bisa bersabar, tapi bagai mana dengan anak kita, apa kamu akan suruh dia bersabar seumur hidupnya untuk menyandang predikat anak haram, anak yang terlahir dari wanita selingkuhan yang tidak pernah di nikahi?" Kata Hana berapi-api.
"A-apa maksud semua ini? Apa kamu---" Ivan melihat lagi baik-baik alat tes kehamilan yang di berikan hana padanya, terdapat dua garis di sana yang menandakan kalau wanita yang melakukan tes itu sedang berbadan dua.
"Ya, aku hamil," angguk Hana.
Ivan tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini, ada rasa bahagia, haru, namun juga bingung.
Sisi batinnya merasakan kebahagiaan atas kabar itu, karena tidak dapat di pungkiri, selama ini dalam rumah tangganya bersama Alya memang dia sebenarnya menginginkan keturunan, namun Tuhan belum berkehendak memberi mereka momongan, hanya saja Ivan juga tidak pernah pesimis, apalagi usia pernikahan mereka yang baru hampir berjalan dua tahun, baginya masih banyak waktu untuk mendapatkannya.
Namun jika ternyata kali ini dia mendapatkan anugrah itu, tentu saja dia merasa bahagia dan terharu, meski ada rasa bingung karena titipan Tuhan padanya ini dari wanita selingkuhannya, jika Ivan harus jujur, sebetulnya Ivan merasa sedikit kecewa karena sebenarnya dia berharap mendapatkan buah hati bersama Alya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bahagia mendapat kabar baik ini? Atau kamu malah tidak menginginkan anak ini?" Tegur Hana yang melihat Ivan justru masah bengong seperti terkesima dengan alat uji kehamilan di tangannya.
"Aku bahagia, tentu saja aku bahagia!" Jawab Ivan tersadar dari lamunannya, yang sedang memikirkan bagaimana cara dia menghadapi situasi sulit ini, padahal dirinya dan Alya dalam proses berbaikan, tapi Tuhan seolah menghalangi dirinya untuk kembali bersama Alya dengan menghadirkan buah hati di antara dia dan Hana yang tentu saja akan menjadi jurang terjal bagi hubungannya dengan Alya yang tidak pernah ingin dia akhiri.