
Bruak!
Suara pintu utama yang tiba-tiba di dobrak dari luar membuat Sita dan juga Marcel yang sedang berbicara di ruang tengah merasa kaget, begitu pun dengan Alya yang spontan berontak dan berlari keluar dari kamar karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi di luar kamar, sejak tadi dirinya hanya bisa mendengarkan perdebatan Sita dan Marcel dari dalam kamar tanpa bisa berbuat apa-apa karena Sita sempat mengancam akan mencelakai Marcel jika dirinya sampai keluar kamar.
Namun mendengar suara dobrakan keras dari luar kamar membuat Alya nekat dan keluar kamar demi memastikan jika Marcel baik-baik saja.
"Mas!"
"Alya!"
__ADS_1
Marcel dan Alya saling bersahutan memanggil satu sama lain saat pandangan mereka beradu.
"Beren-gsek, siapa yang berani masuk ke sini tanpa izin!" Teriak Sita seraya melongok ke arah kegaduhan.
"Aku! Kau lah yang beren-gsek karena berani-beraninya memaki ayah mu sendiri,bukankah seharusnya kau menyambut kedatangan ayah tercinta mu yang kau harapkan hartanya ini?" Haryanto tiba-tiba saja muncul dari ruang tamu rumah itu, wajah tidak bersahabat yang di tunjukkannya membuat Sita terlihat sangat kaget saat melihat kedatangan ayahnya yang benar-benar di luar prediksinya itu.
"Kau, kau menghianati ku, bukankah sudah aku bilang untuk datang sendiri dan jangan berulah, kau pikir ucapan ku hanyalah sebuah ancaman?" Sita menataptajam ke arah Marcel, tuduhannya sangat kuat jika Marcel lah yang sudah membawa ayahnya datang ke tempat itu.
Andai pun Alya tidak datang di kehidupan Marcel dan Marcel tidak jatuh cinta pada Alya, itu semua tidak akan merubah apa yang terjadi pada diri Sita, dia tetap menjadi seorang istri yang tidak di cintai dan tidak di inginkan oleh Marcel, dan tidak akan merubah kebiasaan buruknya yang tetap akan mencari kesenangan dan kepuasan di luaran sana bersama para pria yang juga penganut kebebasan seperti dirinya serta memanfaatkan nya untuk mendapatkan uang lebih banyak dari memuaskan Sita.
__ADS_1
Wajah semua orang yang berada di sana menengang, tanpa terkecuali Haryanto yang tidak menyangka jika putrinya berani berbuat sejauh itu hanya demi menginginkan hartanya, padahal sebagai anak tunggal, Sita tentu saja akan menjadi pewaris semua hartanya kelak, toh semua harta kekayaan juga perusahaannya tidak akan di bawanya mati, hanya saja haryanto ingin memberikan ketegasan pada putrinya itu untuk berubah menjadi pribadi lebih baik.
Tentu saja sebagai ayah Haryanto tidak mau putri semata wayangnya terus berada dalam jalan hidup yang salah, maka dari itu dia mberusaha mencarikan pendamping hidup yang menurutnya bisa membimbing Sita ke arah yang benar, dan sejauh ini Haryanto melihat Marcel adalah sosok yang paling pas untuk menjadi pasangan Sita, selain dia pintar dalam megelola perusahaan, dia juga sangat tulus menyayangi Daniel yang jelas-jelas bukan darah dagingnya.
Pantaslah jika Haryanto keukeuh ingin membuat Sita dan Marcel kembali bersatu bahkan karena dia tahu sang putri sangat menginginkan perusahaan, dia menjadiakan rujuk sebagai syarat untuk mendapatkan keinginan Sita itu.
Hanya saja Haryanto lupa jika dalam hal ini tidak hanya menyangkut kehidupan dirinya dan putrinya sehingga dia menjadi sangat egois tidak memikirkan dari sisi Marcel yang juga punya keinginan dan kehidupan sendiri.
"Sita, jangan macam-macam, letakan senjata itu, itu berbahaya nak! Kamu bisa melukai orang lain dan juga akan mencelakai dirimu sendiri, pikirkan anak mu, pikirkan juga bayi yang ada dalam perut mu, ayah akan memberikan perusahaan pada mu!" Panik Haryanto, sungguh tak terbayangkan olehnya jika saja Sita sampai gelap mata memuntahkan peluru dari senjata yang di genggamnya pada orang lain, dan putrinya harus meringkuk di tahanan akibat perbuatannya itu.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa baru sekarang kau menghawatirkan anak-anak ku, ayah? Bukan kah anak ku itu adalah aib bagi mu? Bukankah kau bahkan tidak sudi mengakui mereka sebagai cucu mu? Tidak usah sok peduli, lagi pula dalam hal ini sudah lagi mengenai uang dan perusahaan, tapi tentang harga diri, aku harus menyingkirkan wanita ini untuk dapat memiliki Marcel, Maaf Alya,,, anak-anak ku lebih membutuhkan Marcel untuk menjadi ayahnya, jadi relakan dia untuk ku!" Sita sempat tersenyum miring sebelum akhirnya dia meletuskan senjata ke arah Alya yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar tempatnya di sekap sebelumnya.