
"Kamu memperalat ku demi tujuan mu sendiri dengan berpura-pura baik dan berpura-pura menolong ku?" Kaget Alya.
"Bukan memperalat, lebih tepatnya membodohi mu dengan gaya!" ujar Rudy seraya tertawa puas, membuat bulu kuduk Alya merinding di buatnya.
Kali ini mau tidak mau Alya harus setuju dengan pendapat Rudy jika dirinya mudah di bodohi, terlebih jika ingat dirinya tadi dengan penuh percaya diri membentak dan memarahi Marcel karena mencurigai Rudy tanpa alasan sekaligus menuduh Rudy yang bukan-bukan, betapa malunya Alya jika Marcel sampai tahu kalau pria yang tadi dia bela mati-matian itu ternyata benar-benar tidak sebaik yang dia kira.
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak mau mengikuti mau mu?" tantang Alya.
"Seharusnya kamu sudah bisa menyimpulkan orang seperti apa aku, dan aku bisa melakukan apa saja demi untuk mewujudkan keinginan ku, sebenarnya aku tidak ingin menggunakan cara seperti sekarang ini, hanya saja, kamu terlalu lambat, sementara aku sudah di buru penagih hutang untuk segera membayar hutang-hutang ku." Rudy menyeringai, sebelah tangannya terus meraba dan membelai pipi mulus Alya membuat wanita itu merasa risih dan sangat tidak nyaman di buatnya.
"Aku berhenti, aku mengundurkan diri dari Persada dan juga kerja sama mu dengan Salim grup, jangan pernah libatkan aku lagi." ujar Alya sambil terus berusaha menghindar dan berontak dari cekalan Rudy.
"boleh, tentu saja boleh, asal kamu mampu membayar biaya finalty sebesar lima ratus juta rupiah, saat kamu memutuskan bergabung dengan Persada, aku sudah mempersiapkan semuanya kamu menanda tangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa kamu siap mengganti uang finalty sebesar lima ratus juta rupiah jika kamu mengundurkan diri dari Persada sebelum masa kerja mu satu tahun lamanya." Rudy terbahak dengan sangat puas melihat Alya lagi-lagi terhenyak kaget.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak pernah menanda tangani surat seperti itu, tidak mungkin! Kenapa,,,kenapa kamu melakukan ini semua pada ku?" Mata Alya mulai berkaca-kaca, betapa saat ini dia menyesali kebodohannya, keteledorannya sampai-sampai terjadi hal seperti ini.
"Kalau kamu bertanya mengapa,,, itu semua karena Marcel. Marcel sialan itu sudah dua kali menolak proposal kerja sama yang aku ajukan terhadap Salim grup sejak dua tahun yang lalu, padahal aku sangat membutuhkan uang saat itu, untuk membangkitkan kembali Persada dari keterpurukan, sampai pada akhirnya saat aku ingin mencoba peruntungan ku yang ke tiga kalinya beberpa bulan yang lalu, aku memutuskan untuk menggunakan jalan lain, saat aku tahu kamu bekerja di Salim dan mempunyai kedekatan khusus dengan bos Salim grup, sepertinya Tuhan memuluskan jalan ku untuk mewujudkan semua impian ku, setelah aku lama mengumpulkan strategi ternyata membodohi mu dan memperalat mu ternyata tidak se-sulit yang di bayangkan, terbukti dengan hasil yang kini mulai terlihat, dengan di buka kannya jalan kerja sama antara Persada dan Salim grup, proyek demi proyek datang mengalir silih berganti mmasuk ke perusahaan ku yang kini sudah mulai bangkit kembali." cerita Rudy panjang lebar.
Rupanya pria itu memang sudah merencanakan semuanya dengan matang, bagaimana cara dia mendekati Alya dan memikirkan strategi bagaimana cara dia memperalat Alya agar Persada bisa tembus kerja sama dengan Salim grup.
Lima ratus juta tentu bukan jumlah uang yang sedikit bagi Alya, dari mana dia bisa mendapatkan itu semua, bahkan jika dirinya menjual rumahnya sekali pun uangnya tidak akan terkumpul sebanyak itu, dan Rudy tentu saja sudah bisa mengukur kemampuan finansial Alya, dia menuliskan jumlah uang finalty yang kira-kira tidak akan sanggup untuk Alya penuhi, sehingga mau tidak mau Alya akan tunduk dan patuh pada dirinya.
Saat perhatian Rudy tertuju pada Alya yang berada dalam kungkungannya, rupanya dia lengah dan tidak menyadari jika Marcel kini seudah berada di antara mereka, bahkan sebuah bogem mentah dari layangan tinju Marcel mendarat tepat di telinga kiri Rudy yang langsung tersungkur dan merasakan telinganya berdengung kencang sekaligus panas akibat tinju Marcel yang tepat pada sasarannya.
"Sial, bere-ngsek kau!" Tunjuk Rudy ke arah Marcel sambil sebelah tangannya terus memegangi telinga kirinya yang kini terasa seperti ada sesuatu yang basah dan mengalir dari sela tangannya.
"Marcel awas!" Teriak Alya saat tangan kanan Rudy mengambil vas bunga kristal dan hendak di lemparkan ke arah Marcel, sehingga dengan mudah Marcel cepat menghindari dari vas melayang yang hampir saja mengenai wajahnya itu.
__ADS_1
"Aku akan menuntut mu dengan pemukulan yang kau lakukan, dan aku akan meminta ganti rugi biaya pengobatan, kau harus membayar mahal atas penyerangan yang kau lakukan ini!" Ancam Rudy sambil terus meringis menahan sakit di telinganya, dia juga sedikit panik sat darah yang merembes lewat sela-sela jarinya semakin banyak.
"Aku tunggu laporan mu, dan ingat, kerja sama kita di batalkan, kau dan perusahaan mu tidak akan mendapatkan apa-apa dari pembatalan kerja sama ini, dan itu sudah kau setujui di awal perjanjian kita atas kesadaran mu, mungkin kau juga lupa jika aku bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan mu, aku bisa menghasut perusahaan-perusahaan lain untuk tidak bekerja sama dengan Persada, dan kau tau itu sangat mudah aku lakukan." Marcel menyeringai.
"Aku akan tetap melaporkan mu, kau harus membayar semua yang kau lakukan pada ku, ini penganiyayaan!" Rudy mengeluarkan ponselnya dan merekam semua yang terjadi di sana, merekam telinga kirinya yang berdarah akibat serangan Marcel untuk dia jadikan bukti pada polisi nanti, dan juga bisa dia jadikan senjata untuk di jual ke media, para pemburu berita pasti akan berani membayar berita tentang penganiyayaan yang di lakukan oleh pemimpin Salim grup, an ini akan menjadi berita paling trending di tanah air.
"Tidak usah repot-repot merekam dengan ponsel mu, rumah ini baru saja di pasangi cctv dua hari lalu, nanti aku akan mengirimkan pada mu bagaimana kau menyekap ku dan mengancam ku tadi" Kata Alya menunjuk ke arah kamera pangawas yang baru dia pasang dua hari lalu.
"Haha, baguslah kamu sudah memasang cctv, sehingga tidak akan ada lagi yang mengaku-ngaku masakan orang lain sebagai masakannya, dan perbaikan rumah yang di lakuakn orang lain, di klaim inisiatifnya, menjijikan!" cibir Marcel.
"Aku rasa lebih baik kau pergi, dan menjauhlah dari sini mulai sekarang! Jauhi Alya, jangan sampai aku menghajar mu lebih dari ini jika sampai aku tau kau dekat-dekat dengan Alya apalagi sampai menyentuhnya, aku pastikan jika itu terjadi, kau tidak akan aku lepaskan!" ancam Marcel.
"Aku tidak akan menyerah semudah itu pada kalian, ingat ada harga yang harus kalian bayar dari semua kejadian malam ini!" kata Rudy yang mulai merasa terpojok karena memang dirinya dalam posisi salah, apalagi jika Alya menggunakan rekaman cctv rumahnya dirinya akan menjadi satu-satunya orang yang bersalah di antara mereka betiga, jadi pergi dari tempat itu merupakan pilihan yang paling baik untuk saat ini, terlebih dia juga harus segera neneriksakan telinganya yang semakin terasa sakit.
__ADS_1