Celana merah jambu

Celana merah jambu
Sebiru hati ku


__ADS_3

"Wow,,, cantik sekali!" Puji Rudy saat Alya keluar dari dalam rumahnya menemui Rudy yang sedang menunggu dirinya sore itu di teras rumah Alya.


Hari ini mereka akan datang ke acara undangan pernikahanIvan dan Fitri yang di gelar di rumah kediaman Yuni, atau mantan ibu mertuanya.


Alya tidak mengenakan gaun yang mencolok ataupun mewah, dia hanya mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda selutut tangan panjang dengan bagian bahu yang sedikit terbuka, memperlihatkan kulit putih mulusnya, sebuah cluth hitam dan high heels hitam menjadi pelengkapnya, namun aura yang di pancarkan oleh janda dari Ivan itu sangat bersinar, gaun berwarna biru laut yang di kenakannya membuat wajahnya terlihat semakin segar.


"Aku memang selalu cantik, apa kamu baru menyadarinya?" Ledek Alya sembari menjulurkan lidahnya.


"Tapi tunggu, kenapa kita seperti janjian memakai baju biru-biru begini?" Sambung Alya sambil menunjuk bajunya dan baju Rudy yang baru dia sadari ternyata sama-sama memakai baju dengan warna senada.


"Mungkin karena kita sehati, atau mungkin juga karena sesuai dengan suasana hati ku saat ini, sebiru hati ku!" Ujar Rudy berusaha mengungkapkan sedikit demi sedikit isi hatinya meski di balut candaan.


"Haishhh sejak kapan pak bos ku yang satu ini menjadi begitu puitis dan romantis," timpal Alya.


"Sejak aku menemukan cinta pertama ku," mata Rudy terus terpaku menatap kecantikan Alya yang masih berdiri di hadapannya sampai wanita itu terlihat agak serba salah di perhatikan seperti itu olehnya.


"Diih pamer, mentang-mentang aku jomblo." Alya membuang pandangannya, rasa-rasanya dia tidak kuasa menahan malu karena di pandangi terus-terusan oleh Rudy yang menatapnya dengan begitu mengagumi.


"Ya udah jadi pacar ku aja biar gak jomblo lagi, gimana?" Todong Rudy.


"Haishhh sudahlah, jangan bercanda lagi, ayo cepat kita pergi kondangan, keburu bubar acaranya, gak enak tau kalau datang terakhiran." Alya mengalihkan pembicaraan dan mengajak Rudy untuk segera pergi.

__ADS_1


"Alya, aku serius! Aku suka pada mu sejak zaman kuliah dulu, mungkin kesalahan ku tidak pernah berani untuk mengatakan itu pada mu sampai akhirnya kamu berpacaran dengan mantan suami mu itu, tapi sekarang aku tidak mau mengulangi kesalahan ku lagi, aku ingin mengatakannya pada mu, kalau aku menyukai mu, maukah kamu jadi kekasih ku?" Ucap Rudy tak ingin menunda dan menahan lagi untuk mengungkapkan perasaannya pada Alya yang sontak menghentikan langkahnya dan mematung di tempatnya berdiri sekarang ini.


Sejenak otaknya blank, Alya tidak bisa memikirkan apapun, dia juga tidak tau harus menjawab dan mengatakan apa pada Rudy atas pengungkapan perasaan yang di lakukan pria itu padanya.


"Kamu tak harus buru-buru untuk menjawabnya, aku masih sanggup dan bersedia menunggu, pikirkan saja dulu matang-matang, aku hanya tidak ingin menyimpan lebih lama lagi perasaan itu, sehingga aku ungkapkan pada mu saat ini, kamu juga jangan sungkan untuk menolak ku hanya karena aku atasan mu di kantor, aku tidak akan menaruh dendam atau benci jika pun kamu tidak bisa membalas perasan ku ini, kita masih bisa berteman seperti sebelumnya." Lanjut Rudy lagi.


"Hmm, ini terlalu mendadak dan mengagetkan ku," cicit Alya.


"Maaf," sesal Rudy.


"Hey, mencintai atau menyukai seseorang bukan suatu kesalahan, apa lagi aku seorang jomblo, kamu tidak harus meminta maaf. Kamu hanya harus lebih bersabar, karena aku ingin kita lebih mengenal dulu satu sama lain sebelum kita memutuskan untuk bersama, kita tidak perlu terburu-buru, bukan?" Tanya Alya.


"Apa itu artinya kamu memberi ku kesempatan? Kamu tidak menolak ku?" Rudy meraih kedua tangan Alya meyakinkan jika persepsinya tidak salah.


"Hemh, mari kita saling mengenal satu sama lain, aku pernah gagal dalam berumah tangga, dan aku tidak ingin mengulangi hal yang sama di kemudian hari, ada baiknya kita tidak terburu-buru memutuskan suatu keputusan yang penting bagi kehidupan kita, apa kamu mau bersabar untuk ku?" Alya tersenyum, lewat senyumnya dia seolah mengatakan jika masih ada harapan untuk mereka bersama, hanya saja butuh proses dan waktu.


"Ya, tentu saja. Aku akan bersabar untuk kita, terimakasih atas kesempatan yang kamu berikan." Rudy mencium tangan Alya, sungguh hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya.


Sepanjang perjalanan menuju tempat resepsi senyuman tidak pernah luntur dari bibir Rudy, jika saja dia bisa meminta pada Tuhan, dia ingin menghentikan waktu sampai hari ini saja sehingga mati pun dia dalam keadaan bahagia dan tersenyum.


Rudy mengulurkan tangannya setelah dia membukakan pintu mobil untuk Alya setelah mereka sampai di tempat acara, mereka berjalan bersampingan saat melangkah menuju halaman rumah mantan mertuanya itu, tangan kanan Alya melingkar di lengan kiri Rudy yang mengenakan kemeja slim fit yang juga berwarna biru, dengan kancing depan yang di buka sebatas dada, memperlihatkan sebagian tubuh kekar berototnya dan dada yang sedikit berbulu.

__ADS_1


Tidak salah memang Alya memilih Rudy sebagai teman untuk datang ke acara pernikahan mantan suaminya itu, karena beberapa tamu khususnya tamu perempuan mencuri-curi pandang ke arah Rudy yang tampak tampan dan gagah sore itu.


"Eh ibu, Fitri pikir ibu gak akan datang, terimakasih sudah berkenan hadir untuk memberikan doa dan restunya untuk Fitri dan mas Ivan, ya bu." Sambut Fitri yang masih menaruh hormat pada Alya layaknya Alya masih menjadi majikannya seperti dulu.


"Ish, tidak usah sungkan seperti itu, tentu saja aku datang dan memberikan doa serta restu pada kalian berdua, kalian sekarang adalah teman ku, dan kebahaagiaan kalian juga kebahagiaan ku juga, semoga pernikahan mu kali ini yang terakhir ya Van, sampai maut memisahkan, jangan yang aneh-aneh lagi!" Ujar Alya pada Ivan.


Ivan hanya tergelak dan mengaminkan doa serta ucapan mantan istrinya yang terdengar begitu tulus itu, namun perhatiannya juga tidk luput pada sosok pria yang kini berdiri di sebelah Alya.


"Tunggu,,, sepertinya dia tidak asing bagi ku!?" Ivan mengernyitkan keningnya seperti sedang mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan Rudy.


"Ini Rudy, kakak angkatan ku saat kuliah dulu, dia juga sering menjadi pembicara di seminar akuntansi dulu." Kata Alya mengingatkan Ivan.


"Oh iya,,, pantas saja wajah mu tidak asing, apa kalian----" Ivan menaik turunkan alisnya.


"Kepo!" Bantah Alya membuat semua orang yang berada di sana tergelak melihat interaksi akrab antara mantan sepasang suami istri yang kini bak teman akrab itu, dalam kesempatan itu Yuni juga meminta maaf pada Alya atas perbuatannya dulu.


"Sudahlah bu, yang lalu biarlah berlalu, Alya sudah bahagia, dan alya harap Ivan juga bahagia dengan keluarga barunya, Fitri anak yang baik, Alya rasa dia akan membawa pengaruh baik juga bagi Ivan, jangan ungkit lagi masa lalu yang tidak mengenakan, anggap saja kita ini saudara sekarang." Ucap Alya bijak, membuat Yuni tak kuasa menahan rasa haru lantas memeluk mantan menantu yang sempat di curangi dan di hianati olehnya.


Sementara dari tempat lain, sepasang mata terus memperhatikan Alya dari sejak Alya datang ke tempat itu sampai saat ini, sudah hampir lebih dari satu jam lamanya dia rela bertahan berada di sana demi menunggu kedatangan Alya di acara itu, Dialah Marcel, yang hatinya berdebar dag dig dug tak menentu saat menantikan kedatangan Alya, namun sat dia tahu Alya datang bersama pria lain rasa antusias untuk bertemu Alya kini berubah menjadi rasa kecewa.


Namun begitu dia juga akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah Alya dan Rudy berdiri, sudah satu jam lebih lamanya dia berdiri menunggu Kedatangan Alya dia tidak ingin kesempatan itu terbuang begitu saja, kakinya mantap melangkah mendekat, dan berhenti tepat di hadapan Alya yang sedang asik mengobrol dengan Rudy.

__ADS_1


__ADS_2