
Alya terdiam sejenak, ada sorot kemarahan di matanya, "Ayo kita pura-pura putus, Mas!" Ujar Alya semakin membuat Marcel bingung, bahkan setelah di jelaskan kini Alya malah meminta untuk berpura-pura putus.
"Apa maksudnya Al?" Kenapa harus pura-pura putus?" Tanya Marcel bingung.
"Ada yang perlu aku pastikan mas, semoga saja ini hanya pikiran buruk ku saja, tapi aku belum bisa mengatakannya pada mu, aku harus memastikan terlebih dahulu." Kata Alya penuh tanda tanya.
"Al?" Marcel menatap kekasihnya dengan tatapan yang sangat dalam, meminta Alya untuk berbagi cerita dengannya meski itu hanya dia sampaikan lewat tatapannya, dan Alya mengerti apa yang di minta Marcel darinya.
"Mas, percaya pada ku. Aku akan menceritakan suanya pada mu saat aku menemukan kebenarannya." Ujar Alya dengan sorot mata meyakinkan Marcel.
"Hmmm, baiklah. aku percaya pada mu, dan akan menunggu kamu menceritakan semua alasan dari pura-pura berpisah ini, hanya saja aku munta apapun yang kamu lakukan, hati-hati. Jaga diri mu, meski aku pasti akan selalu menjaga mu." Marcel terpaksa harus mengalah, dia yakin jika apa yang akan di lakukan Alya bukan hal buruk dan dia akan mendukung apapun yang akan di lakukan Alya, pasti ada alasan penting dan kuat mengapa Alya memintanya berpura-pura seperti itu, dan diam-diam dia juga akan mencari tahu sendiri kenapa Alya memintanya untuk melakukan itu.
**
Tok,,,tok,,,tok!
Suara pintu rumah Yuni di ketuk berulang-ulang membuat Fitri yang baru saja berhasil menidurkan Nayla menggerutu kesal karena akibat ketukan pintu yang lebih terdengar seperti
gedoran pintu penagih hutang bayi yang susah payah dia tidurkan itu akhirnya kembali terbangun dan menangis kencang.
__ADS_1
Yuni yang tadi sedang berada di dapur mau tidak mau akhirnya membukakan pintu, karena Fitri harus kembali mengurus putri Ivan yang kini di asuhnya itu.
"Tolong aku bu, sembunyikan aku!" Setengah menabrak Wina yang ternyata datang siang itu menerobos masuk ke rumah Yuni, wajahnya terlihat ketakutan, matanya terus saja memperhatikan ke arah pintu utama yang belum tertutup kembali.
"Tutup pintunya bu, gordennya juga! Tolong aku bu, aku harus bertemu mas Ivan, hanya dia yang bisa menolong ku." Ucap Wina memohon.
"Ada apa kau datang ke sini dengan keadaan seperti ini? Apa kau mabuk?" Tanya Yuni yang masih menyimpan rasa kesalnya pada menantunya yang dengan tega meninggalkan dirinya dengan Nayla sendirian karena tidak ingin di repotkan, namun kini tiba-tiba saja menantu tak tahu dirinya itu datang meminta bantuan ayah dari bayi yang sempat ingin dia sebut sebagai beban dan ingin dia titipkan di panti asuhan itu, tebal sekali mukanya, pikir Yuni.
"Bu, aku di fitnah, ini semua gara-gara mba Hana, aku jadi buronan polisi saat ini." Terang Wina, meskipun tetap saja tidak membuat Yuni mengerti apa maksud dari perkataan menantunya itu.
Yuni memang tidak tahu jika Wina kini menjadi buronan polisi karena tuduhan orang yang dengan sengaja mengambil gambar dengan tujuan jahat pada Marcel dan Alya, sehingga dirinya kini sangat ketakutan, sementara Hendri sang suami terkesn tidak peduli dan malah terkesan tidak ingin ikut terbawa-bawa dan lepas tangan dengan kasus yang di hadapi istrinya itu.
"Aku tidak peduli apa masalah mu dengan Hana, kalian sama-sama bejatnya, setelah apa yang kau perbuat pada ku dan cucu ku, kau masih punya muka untuk meminta perlindungan pada ku? Cuih,,, aku tak sudi di bebani oleh menantu tak tahu diri seperti mu, pergi kau dari sini!" Usir Yuni dengan lantang, jari telunjuknya mengarah tepat ke arah pintu utama yang masih terbuka, sebagai isyarat kalau dia menginginkan Wina untuk segera pergi dari rumahnya, dia tidak ingin terlibat dengan masalah Wina, sebagaimana Wina tidak mau membantu dirinya dan Nayla.
"Kau masih butuh pertolongan ku rupanya?" Ivan yang ternyata berada di rumah itu dan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut dari ruang tamu langsung menghampiri ibu dan adik iparnya yang terlibat cekcok mulut itu.
"Mas,,, Mas Ivan tolong aku, Mas Ivan beri kesaksian pada polisi kalau semua ini adalah ide dari mba Hana, dan aku hanya suruhan mba Hana saja, tolong aku mas!" Seperti mendapatkan oase di gurun pasir, Wina terlihat sangat berharap pada Ivan untuk membantunya.
"Oh, begitu, baiklah, karena mengingat kau adalah istri dari adik kandung satu-satunya yang sangat aku cintai dan sayangi (Sarkas Ivan) maka aku bersedia untuk membantu mu." Ujar Ivan dengan senyuman dinginnya.
__ADS_1
"Ivan, untuk apa kamu menolong ular itu, nak. Mereka seperti ular berbisa, bahkan kamu beri makan sampai kenyang tetap saja mengginggit mu." Kata Yuni.
"Bagai mana pun, dia mentu mu, bu." Ujar Ivan membuat Yuni kesal karena Ivan dengan gampangnya terbujuk oleh air mata buaya Wina.
"Terima kasih, mas." Wajah Wina yang tadinya pucat kini kembali di aliri darah karena merasa mempunyai secercah harapan.
"Santai saja!" Ivan menarik salah satu sudut bibirnya.
Selang sepuluh menit, rumah Yuni sudah ramai dengan petugas kepolisian yang mengepung sekeliling rumah itu, Ivan sengaja membukakan pintu utama sebelum petugas polisi mengetuk pintu.
"Orang yang anda cari ada di dalam, silahkan masuk." Kata Ivan mempersilahkan.
Rupanya di balik kebaikan Ivan yang tadi seolah menerima Wina di rumah itu hanya jebakan, karena dia sudah menelpon polisi sesaat setelah dia mengetahui jika yang datang ke rumah ibunya adalah Wina, orang yang dengan teganya menyebut putrinya sebagai beban dan ingin menitipkan putrinya di panti asuhan, sungguh dia tidak akan memaafkan begitu saja.
"Mas, kau baji_ngan, kau menipu ku, kau menjebak ku !" Umpat Wina saat dirinya di seret polisi ke luar rumah.
Tentu saja polisi bergerak cepat menangani kasus ini, selain kasus ini sudah viral, yang melapor juga bukan orang sembarangan, Sita, anak pemilik saham terbesar Salim grup, mereka tidak ingin mempertaruhkan citranya jika mengangani kasus seperti itu saja tidak becus.
***
__ADS_1
Jalanan terasa lengang, karena dini hari seperti ini tak banyak orang berlalu lalang di jalan raya, Adela biasanya mempunyai daya tahan yang tinggi untuk alkohol, tapi kali ini tak biasanya kepalanya terasa sedikit berat, mungkin karena tadi dia menghabiskan terlalu banyak minuman tanpa dia sadari, Adela meraup wajahnya dengan kasar untuk menghilangkan efek mabuk di kepalanya dan agar matanya yang mulai berat tetap fokus, namun tanpa di sangka-sangka sebuah truk bermuatan tiba-tiba sudah ada di depan mobilnya, membuat dia tidak bisa mengendalikan kendaraannya untuk menghindari truk besar tersebut dan akhirnya, BRUAK! Sebuah tabrakan tidak bisa di hindari, mobil yang Adela kendarai bahkan sampai terpental dan terguling-guling beberapa meter, Adela berteriak kencang, namun bersamaan dengan itu pandangannya tiba-tiba gelap, dan sebuah pusaran awan berwarna hitam seperti menghisap jiwanya ke dalam sana, sehingga kini Adela hanya seonggok raga tanpa ruh yang terluka parah antara hidup dan mati di dalam mobil yang ringsek tak berbentuk di kegelapan.
Bagi yang suka cerita time travel, melipir ke cerita di atas ☝️ yuk, masih anget, judulnya ANOTHER LIFE ADELA. Dukungan kakak-kakak semua sangat berarti buat Othor, terimakasih 🙏❤️🥰🙏