
Alya sedang di mintai keterangan Di kantor polisi saat dua orang pria yang datang hampir bersamaan langsung menerobos masuk dengan panik.
"Saya akan bertanggung jawab dan membebaskannya dengan jaminan," Ujar pria yang terlihat ngos-ngosan karena sepetinya terburu-buru datang ke sana.
"Saya akan mencabut tuduhan istri saya terhadapnya," timpal pria satunya yang tidak kalah panik dan pucat wajahnya seperti pria di sebelahnya.
Rupanya Marcel dan Ivan datang kebetulan secara bersamaan, jika Marcel langsung datang ke kantor polisi karena di telepon Darma, entah siapa yang memberitahu Ivan perihal penangkapan mantan istrinya yang berusaha di jebloskan ke dalam tahanan oleh istrinya yang sekarang, yang jelas secara kebetulan keduanya datang hampir bersamaan.
Ivan dan Marcel saling melempar pandangan saat baru sadar jika mereka tidak datang sendirian. Tatapan yang sarat akan permusuhan saling mereka berikan satu sama lain.
"Anda berdua siapa?" Tanya penyidik.
"Saya---"
"Saya---"
Keduanya terlihat kebingungan saat hendak menjawab pertanyaan yang di lemparkan kepada mereka berdua.
"Yang ini mantan suami saya, dan yang itu mantan bos saya, pak." Jawab Alya seolah menjadi juru bicara kedua pria yang dia tunjuk secara bergantian, untuk menerangkan siapa mereka pada petugas.
"Saya akan menjadi penjamin Alya, tolong bebaskan dia, sebentar lagi pengacara yang saya hubungi akan sampai di sini." Ujar Marcel.
__ADS_1
"Tidak perlu, kau bukan siapa-siapa dan tidak punya hak untuk menjadi penjamin Alya, lagi pula laporan ini akan segera di cabut," sanggah Ivan tidak terima jika Marcel harus selangkah lebih unggul di banding dengan dirinya.
"Hana, cepat cabut laporan itu!" Lanjut Ivan yang kini menatap galak pada istrinya yang melakukan hal di luar sepengetahuannya.
Mendapat tatapan seperti itu, Hana bukannya takut, tapi malah balik menantang Ivan, "Kenapa harus aku cabut? Dia mengambil mobil yang seharusnya menjadi milik ku, dia tidak berhak atas barang milik mu, karena dia bukan siapa-siapa mu lagi, Mas!" Teriak Hana penuh emosi.
Bagaimana dia tidak emosi jiwa, dua orang pria tampan dan gagah berbondong-bondong datang ke kantor polisi dan berlomba untuk membebaskan Alya dari sana, bahkan salah satunya adalah suaminya sendiri yang dia kira akan mendukung nya, namun di luar dugaan, ternyata Ivan juga mengharapkan kebebasan Alya.
'Oh, betapa keberuntungan selalu memihak pada Alya' geram Hana dalam hatinya.
"Tolong jangan membuat masalah, jangan membuat keadaan menjadi rumit, mobil itu milik Alya, hanya saja memakai atas nama ku, cepat cabut laporan mu!" Titah Ivan sekali lagi.
Jujur saja dia merasa gengsi di hadapan Marcel karena takut di anggap kalau dirinya berada di kubu Hana untuk mengambil mobil mantan istrinya dengan tidak tau malu, di sisi lain juga Ivan merasa kasihan dengan Alya yang sama sekali tidak mendapatkan apapun dari perceraian mereka, lagi pula, saat Alya bisa membuktikan kalau dia yang mencicil kreditan mobil itu sampai lunas, istrinya akan lebih di permalukan lagi, dan itu berarti dirinya juga harus ikut menanggung malu atas ulah yang buat oleh istrinya itu.
"Mas, kamu membentak aku yang sedang hamil anak mu hanya karena kamu membela mantan istri mu? Keterlaluan!" Geram Hana seraya tangannya memukul-mukul dada Ivan, sehingga beberapa orang polisi yang berada di sana dengan sigap memisahkan suami istri yang malah berkelahi itu.
Tak lama pengacara yang hubungi Marcel tiba di sana, dia langsung mengurus masalah yang sedang di hadapi Alya dengan istri dari mantan suaminya itu.
Tak sampai setengah jam, pengacara itu sudah berhasil menangani kasus Alya dengan baik, meski Hana bersikeras tidak mau mencabut laporannya, pengacara itu bisa membuktikan kalau Alya tidak bersalah dan memastikan kalau ini hanya miss komunikasi antara Ivan dan Hana, dalam hal ini Ivan ikut membenarkan pernyataan Alya dan pengacaranya sehingga kasus itu berakhir secara kekeluargaan dan mau tidak mau laporan Hana di anggap tidak memenuhi syarat.
"Van, aku tidak ingin berhutang budi atau berhutang apapun pada mu, untuk saat ini aku belum bisa mengembalikan uang yang kau pakai untuk membayar uang muka mobil ku, tapi jika ini membuat kalian jadi terus mengusik ku, aku berikan mobil ini pada kalian, anggap saja uang cicilan yang aku bayar tiap bulannya selama dua tahun ini adalah uang rental mobil kalian." Alya menyerahkan kunci mobilnya pada Ivan, sungguh dia tidak mau ada sedikit pun hal tersisa pada dirinya yang berkaitan dengan Ivan, sehingga itu memancing Hana untuk mengusiknya, terlalu banyak hal lain yang harus dia urus selain hanya mengurus masal lalu yang sudah tak ingin di lihatnya kembali.
__ADS_1
"Tidak, itu milik mu. Ambil dan pakai saja, aku tidak ingin mengambilnya." Tolak Ivan.
Namun secepat kilat tangan Hana menyambar kunci mobil itu dari tangan Alya.
"Tapi aku sangat ingin mengambilnya!" Ujar Hana tanpa basa basi.
Alya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat kelakuan Hana yang sungguh tidak tahu malu itu.
"Aku harap setelah ini tidak ada hal yang menyangkut pautkan lagi aku dengan kalian. Tolong jangan usik aku lagi!" Tegas Alya dengan pandangan mata ke arah Ivan dan Hana secara bergantian.
"Aku tidak janji, tergantung mood ku, jika aku merasa ingin mengganggu mu, tidak akan ada orang yang bisa melarang ku untuk melakukannya, meski itu kamu sekali pun, Mas!" Hana memutar bola matanya tepat di hadapan Ivan, hatinya masih sangat marah karena Ivan secara terang-terangan malah membela mantan istrinya dari pada mendukungnya.
"Terserahlah!" Pasrah Ivan pada akhirnya, lagi pula dengan Hana mendapatkan mobil itu, bukankah itu berati dirinya tak harus di teror terus-menerus olah istrinya itu menagih untuk di belikan mobil.
"Kau, aku harap kau menjauhi Alya, ini terakhir kalinya aku melihat mu berada di sekitar Alya dan seolah ingin terlihat sebagai pahlawan di hadapa Alya, karena kalau tidak, kau akan menyesal!" Ancam Ivan.
Merasa tidak terima saat mendengar ancaman Ivan pada Marcel, membuat Alya akhirnya angkat bicara, " Apa hak mu melarang orang lain untuk dekat dengan ku? Apa kau lupa kita sudah tidak ada hubunganapa-apa lagi? Dengan siapa aku berteman bahkan menjalin hubungan, itu harusnya bukan lagi menjadi urusan mu, uruslah istri mu itu agar tak terus mengusik hidup ku, jangan katakan aku kejam karena melawan wanita hamil, jika sekali lagi dia mencari masalah dengan ku, karena aku tak akan tinggal diam lagi!"
"Jangan libatkan anak ku dalam masalah kita," geram Ivan sontak terbakar emosi, karena Alya membawa-bawa tentang kehamilan Hana, yang berarti itu sama saja mengancam keselamatan calon anaknya, bagaimana pun, naluri seorang ayah, dia tidak ingin siapapun mengusik anaknya, meskipun dia yakin kalau itu hanya gertakan Alya, Ivantau kalau Alya tidak akan se tega itu, namun untuk antisipasi, tetap saja Ivan harus memperjelas dan memberi garis agar Alya tidak melakukan hal yang di luar batas.
"Maka jangan libatkan dia dalam masalah kita!" Balas Alya sambil menoleh ke arah Marcel yang sejak tadi hanya diam meski hatinya berbunga-bunga karena Alya secara terang-terangan membelanya di hadapan Ivan secara langsung, meskipun dia sangat mampu untuk melawan dan membela dirinya sendiri dari serangan kata-kata Ivan, namun dia lebih senang membiarkan Alya membela dirinya dalam keadaan ini.
__ADS_1
Selain itu, Marcel yakin hal itu akan semakin membuat Ivan merasa kesal dan marah karena Alya lagi-lagi dengan lantangnya pasang badan untuk dirinya.
"Oke, jika itu pilihan mu, kita lihat saja, sebelum kau mengusik anak dan istri ku, maka kalian yang akan terlebih dahulu aku hancurkan, tunggu dan bersiaplah!" Merasa geram dengan sikap Alya yang terus saja membela Marcel, membuat Ivan yang tadinya berniat hanya ingin menghancurkan Marcel saja, kini dia juga ingin melakukan hal yang sama pada mantan istrinya, rasa cemburu dan marah membuatnya gelap mata dan melakukan hal-hal yang di luar nalar.