
"Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya Marcel sambil memeriksa keadaan Alya yang masih ketakutan akibat kejadian itu, padahal Rudy sudah pergi beberapa saat yang lalu dari rumahnya.
"Terimakasih sudah menolong ku, maafkan aku yang sempat tidak percaya dengan apa yang kamu katakan pada ku tentang Rudy, sunguh aku bodoh, aku naif dan aku terlalu mudah percaya dan juga mudah di tipu juga di manfaatkan oleh orang, aku malu,,," lirih Alya, kali ini dia benar-benar merasa malu pada Marcel dan juga merasa menyesal dengan apa yang sudah di lakukannya.
"Kamu boleh marah dan memaki ku, sesuka mu, aku memang bodoh!" lirihnya lagi, matanya berkaca-kaca, sungguh dia lelah dengan semua yang terjadi dengan hidupnya.
Hidupnya berubah menjadi seperti dalam neraka setelah dia menemukan celana berwarna merah jambu di mobil Ivan saat itu, sejak itu satu demi satu penderitaan dan masalah hidupnya datang silih berganti, seolah celana merah jambu itu sebuah kutukan baginya sebagai gerbang pembuka penderitaan hidupnya.
Celana merah jambu yang merupakan awal petaka kehidupan yang menenggelamkan dirinya dalam kesedihan dan kepahitan yang seolah kini tiada berujung.
"Tidak ada yang akan marah dan memaki mu, aku peduli padamu," Marcel memeluk tubuh Alya yang seperti kehilangan pegangan hidupnya, merasa lelah dengan semua yang terjadi.
"Aku pikir hidup ku akan berakhir di tangan Rudy, hiks,,," ujar Alya di sela isak tangisannya yang kini pecah di dada Marcel.
"Bukankah malah bagus jika hidup mu berakhir dengan pria penolong mu yang selalu baik pada mu itu?" Ejek Marcel.
"Mas,,, jangan mengejek ku!"
Marcel tersentak di jauhkannya tubuh Alya yang sejak tadi menempel di dadanya itu, lalu dia menatap dalam-dalam mata Alya yang kini terlihat sembab karena wanita itu terus menangis meski entah menangisi apa.
"Katakan sekali lagi, kamu memanggil ku apa barusan?" Tanya Marcel yang sudah lama rasanya tidak mendengar Alya memanggilnya dengan sebutan 'mas' seperti saat mereka masih menjadi sepasang kekasih dulu.
__ADS_1
"Apa sih," Alya tersipu, dia melengos dan meninggalkan Marcel yang senyum-senyum sendiri.
"Ayolah, panggil aku seperti barusan sekali lagi saja, aku ingin mendengarnya, cepat, panggil sekali lagi," kata Marcel seraya bergegas membuntuti Alya yang masuk ke dapur untuk mengambil minum, tenggorokannya tiba-tiba terasa panas dan kering karena menahan rasa malu.
Entah ide dari mana juga Alya tiba-tiba memanggil Marcel dengan sebutan 'mas' seperti tadi, mungkin karena pelukan Marcel membuatnya kembali teringat masa-masa mereka masih berpacaran, sehingga mulutnya tak terkondisikan untuk keceplosan memanggil Marcel dengan panggilan itu.
"Alya, apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?" tanya Marcel yang di jawab dengan anggukan Alya dengan pasrah, kali ini dia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari Marcel.
"Apa kamu dan Rudy benar-benar sepasang kekasih?" lanjut Marcel ragu.
Tiba-tiba Alya tertawa geli sambil membuka lemari pendinginnya, lalu mengeluarkan semangkuk sup sisa beberapa hari yang lalu buatan Rudy.
"Semua gara-gara ini!" Alya lantas membuang sup di mangkuk itu ke wastafel.
"Ya, dan gara-gara kamu juga! Waktu itu aku penasaran dan bingung siapa yang memasak sup saat aku sakit, Rudy mengaku jika itu masakannya, namun aku juga tidak sengaja mendengar obrolan mu dengan Darma yang mengatakan jika sup itu kamu yang memasaknya, tadinya aku ingin menjebak Rudy, aku menyuruhnya untuk memasakkan ku kembali sup yang pernah dia buat, jka dia ingin aku menerima cintanya, karena sat itu Rudy terus mendesak ku dan meminta aku untuk menjadi kekasihnya, dan ternyata dia bisa membuat sup itu, sialnya juga rasa sup itu sama persis dengan rasa yang sup yang pernah aku makan saat sakit itu, saat itu Rudy menyimpulkan kalau kami sudah jadian, meski saat itu aku tidak menolak ataupun mengiyakan nya." Beber Alya.
"Haha kamu bodoh, tentu saja memasak sup yang standar seperti itu merupakan hal sepele bagi Rudy, terlebih dia pernah bekerja sebagai asisten koki di sebuah restoran ternama saat perusahaannya di nyatakan pailit." terang Marcel.
"Asisten koki? Dari mana kamu tahu semua itu? Kenapa justru malah aku tidak tahu?"
"Aku mencari tahu dan mencari segala informasi tentang dia, mana mungkin aku merelakan kamu pada pria sembarangan, dari awal aku sudah curiga dengannya, makanya aku memutuskan untuk bekerja sama dengan Persada." jawab Marcel.
__ADS_1
"Hmmm, rupanya dia sudah tahu jika aku dan kamu pernah dekat dan dia memang sudah merencanakan semuanya, mendekati ku untuk memperalat ku agar dia bisa tembus ke Salim grup." Beber Alya menceritakan kembali pengakuan yang tadi dia dengar dari mulut Rudy secara langsung saat menyekap dan mengintimidasinya.
"Sudah ku duga, dia pasti tau betapa aku masih mencintai mu sehingga dia pasti akan mendapatkan semua yang dia mau jika menggunakan mu." Seloroh Marcel.
"Gombal!" Alya melempar serbet yang tergeletak di meja makannya. "Masih cinta kok, malah meninggalkan demi mantan istri," sungut Alya.
"Aku punya alasan, bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan menjelaskannya pada mu nanti saat kita sama-sama bertemu Sita, apa kamu tidak percaya pada ku?" Marcel mendekat dan menangkup kedua pipi Alya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku sangat marah dan cemburu saat tangan ba-jing-an itu meraba pipi mu, rasanya ingin ku patahkan saja tangannya, apa dia melakukan sesuatu yang lain terhadap mu?" Tanya Marcel dengan nada yang sedikit kesal karena mengingat kembali kejadian tadi.
Alya menggeleng, "Tidak, beruntung kamu tiba pada saat yang tepat dan menyelamatkan ku, membuat Rudy tidak melakukan hal lebih jauh lagi, tapi bukankah kamu tadi sudah pulang, kenapa kamu malah balik lagi?"
"Mungkin karena Tuhan ingin kita bersatu lagi, bersama lagi seperti dulu, meski jalannya harus se-pahit ini, aku mencintai mu, aku tidak akan membiarkan mu menjauh lagi dari ku, aku tidak akan berbuat bodoh lagi sehingga membuat aku tersiksa karena kehilangan mu, aku sungguh mencintai mu," satu kecupan manis melengkapi kata-kata manis yang keluar dari bibir Marcel malam itu, tidak ada penolakan dari Alya, karena apa yang Marcel rasakan sejujurnya sama seperti apa yang Alya rasakan, dia juga tidak ingin kehilangan dan jauh dari pria yang kini sedang mengecup bibirnya dengan mesra itu.
Perjalanan baru untuk mereka sepertinya akan segera di mulai lagi, belum terambat untuk memperbaiki semuanya, memperbaiki hubungan yang pernah terjeda karena berbagai kesalah pahaman dan keegoisan, tapi bukankah dengan semua kesalahan itu mereka akhirnya bisa belajar dan menyadari betapa mereka saling membutuhkan dan menginginkan satu sama lain.
Meski mungkin perjalanan cinta mereka tidak akan seindah dunia novel.
**
"Sial,,, berani-beraninya Marcel sia-lan itu benar-benar memutus kerja sama dengan persada, dia juga membuktikan ucapannya dengan menghasut para pemberi proyek, bajing-an,,, awas saja,,, aku kan membalasa semuanya!" Teriak Rudy yang baru saja mendapatkan surat pemutusan kerja sama dari Salim grup, belum lagi beberpa proyek yang masuk ke perusahaannya mendadak di batalkan tanpa alasan yang jelas, dan Rudy yakin jika itu merupakan ulah Marcel yang membuktikan ancamannya, terlebih Alya pun kini sudah mengundurkan diri dari Persada juga menolak untuk di temui olehnya sehingga dia tidak mungkin menggunakan Alya lagi untuk membujuk Marcel.
__ADS_1
"Aku akan membalas mu, tunggu saja!" geram Rudy.