
Marcel setengah berlari menuju mobil jemputan yang di kendarai Darma di bandara, dia harus pulang lebih cepat, bahkan pertemuannya yang baru di mulai harus di tunda nya akibat sebuah pesan masuk ke ponselnya mengirimkan gambar Alya yang sedang terikat.
"Apa kau tak bisa berkendara lebih cepat lagi? Alya dalam bahaya dan kau mengendarai mobil seperti siput!" Bentak Marcel yang hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada Darma, karena saat ini hanya dia yang ada bersamanya.
"Tapi kemana tujuan kita pergi bos?" Gugup Darma bercampur takut.
"Sial! Rudy ban-gsat!" Marcel meninju dashboard mobilnyaberulang kali saat dirinya baru tersadar jika dirinya belum mengetahui dimana Rudy menyembunyikan Alya.
"Apa tim IT kita belum bisa berhasil melacak keberadaan nomor yang aku kirimkan tadi?" Sembur Marcel lagi.
"Nomor yang bos berikan itu nomor luar negeri, jadi membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk melacak nya." Jawab Darma.
Rupanya Rudy lebih prepare dalam melakukan aksinya kali ini, dia sudah bisa menebak hal-hal apa saja yang mungkin Marcel lakukan, termasuk kemungkinan Marcel melacak nomornya.
"Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja bos?" Usul Darma.
"Tidak, aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada Alya, Rudy mengancam akan melakukan kekerasan pada Alya jika aku sampai melaporkannya pada polisi." Tolak Marcel.
"Berarti kita hanya akan menunggu perintah selanjutnya dari Rudy?" Tanya Darma lagi.
Marcel sungguh benci untuk mengakui jika apa yang di katakan Darma kali ini benar, dia hanya bisa menungu dan tidak bisa berbuat apa-apa, ini sangat menyebalkan namun tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari pada duduk menunggu kabar, sungguh dia tidak keberatan sedikit pun dengan uang tebusan yang Rudy minta selama keselamatan Alya terjamin,.
"Kita tunggu di kantor saja." Titah Marcel.
*
"Pak Marcel, ada seorang wanita bernama Hana yang mencari anda tadi, katanya ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan anda." Ujar seorang resepsionis Salim grup saat Marcel baru saja sampai di kantor dan melintas di area resepsionis.
__ADS_1
"Hana?" Beo Marcel, dia mengernyitkan krningnya hingga kedua alisnya bersatu, seingatnya dia tidak merasa mempunyai teman atau kolega bisnis bernama Hana.
Resepsionis itu mengangguk, tanda mengiyakan beo-an Marcel, jika wanita yangvmencarinya bernama Hana.
"Aku tidak punya teman atau kenalan bernama Hana," ujar Marcel sambil berlalu mengabaikan resepsionis yang lagi-lagi hanya bisa mengangguk patuh, Marcel merasa tidak ada waktu untuk mengurusi hal tidak penting seperti yang resepsionis itu sampaikan padanya, lagi pula dia tidak tertarik dengan wanita mana pun, diaa hanya menginginkan Alya saat ini, pikirnya. Tanpa dia sadari jika wanita bernama Hana ini ingin memberinya informasi penting mengenai Alya.
Setengah jam berlalu, brlum ada tanda-tanda pesan dari Rudy untuknya, berulang kali Marcel mengintip layar ponselnya berharap ada pesan masuk untuknya, namun nihil.
Sampai dia mendengar keributan dari luar ruangannya, tidak banyak staf yang di perbolehkan berada di lantai tempatnya bekerja, namun kini malah terdengar keributan, mbuat dirinya yang sedang dalam keadaan stress akibat memikirkan keberadaan dan keselamatan Alya sontak naik pitam dan bergegas keluar ruangan untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada ribut-ribut di sini, apa kalian ingin aku pecat semuanya, hah?!" Bentak Marcel pada seorang security dan juga seorang staf yang sedang ribut dengan seorang perempuan.
"Maaf bos, ini ada seorang wanita yang nekat ingin bertemu bos, padahal kami sudah melarangnya, tapi kami tidak bisa menahannya untuk naik ke sini." Terang seorang staf pria yang ikut membantu security menegangi wanita itu.
"Kalian dua pria tidak bisa menangani satu oarang wanita? Apa tidak sebaiknya kalian memakai rok saja?" Maki Marcel murka.
Marcel menoleh ke arah wanita yang memanggilnya, sayangnya wajah wanita itu asing baginya, dia sama sekali tidak mengenalnya.
"Aku tidak mengenal mu, jangan ganggu aku. Jika tidak, aku akan melaporkan mu pada yang berwajib karena menerobos masuk tanpa izin!" Ancam Marcel menakut-nakuti sambil melengos dan membalikan badannya hendak masuk kembali ke dalam ruang kerjanya, dia tidak i gin membuang waktu untuk urusan wanita tidak penting itu.
"Tapi ini tentang Alya, kamu harus segera menyelamatkannya!" Teriak Hana lagi.
Mendengara nama Alya di sebut, Marcel langsung berbalik dan mendekat ke arah Hana,
"Apa maksud mu?"
"Aku tau di mana Alya, izinkan aku berbicara empat mata dengan mu!" Pinta Hana.
__ADS_1
Marcel memberi isyarat pada dua karyawannya untuk melepaskan Hana lantas mengajak dia ke ruang kerjanya, meski Marcel tidak sepenuhnya percaya jika Hana membawa informasi penting tentang Alya, namun tidak ada salahnya mendengarkan apa yang ingin dia spaikan padanya.
"Bagaimana kau tau Alya, dan juga bagaimana kau tau aku?" Marcel membuka pembicaraan.
"Aku mantan istri Ivan, emh-- maksud ku, yang merebut Ivan dari Alya. Kita seperti ya pernah bertemu beberapa kali dulu," ujar Hana.
"Aku tidak ingat! Ingatan ku kurang bagus untuk hal-hal yang tidak terlalu penting." Sinis Ivan.
"Lantas apa yang ingin kau bicarakan pada ku?"
"Aku tau keberadaan Alya, dia di culik oleh seseorang bernama Rudy, dan di sekap di gudang di kasino milik kekasih ku." Beber Hana.
"Bagaimana aku bisa mempercayai mu, bukankah jika kau pernah merebut Ivan dari Alya, itu berarti hubungan mu dengan Alya tidak bagus?" Marcel tidak ingin percaya begitu saja dengan apa yang di sampaikan Hana.
"Itu sudah berlalu, aku ingin menebus rasa bersalah ku pada Alya, aku merasa terus di hantui rasa bersalah setiap waktu. Aku tidak mau anak ku harus menanggung karma karena kejahatan yang pernah aku lakukan nantinya." Jujur Hana yang masib tetap tidak di percayai oleh Marcel.
"Bagaimana kau membuktikan jika kau tidak menipu ku? Bisa saja ini sebuah jebakan dan kau bekerja sama dengan mereka, mengingat kau kekasih pemilik kasino yang konon katanya tempat Alyaa di sekap?" Todong Marcel.
"Ini alamat kasino itu, namun sekarang ini penjagaan sangat ketat, sehingga akan sangat sulit menembus ke sana." Hana memberikan secarik kertas berisi alamat kasino berkedok ruko itu.
"Aku baru tau jika ada kasino di daerah sini," gumam Marcel.
"Aku akan menggambarkan denah dimana Alya di sekap," Hana mengambil kertas kosong dan juga bolpoin yang ada di atas meja kerja Marcel.
"Masuklah lewat ruko sebelah, ruko itu prmiliknya nenek tua, nanti bilang saja kalau kau teman ku, aku biasa bertemu pria lain di ruko itu, aku akan menunggu mu di rooftop dan aku akan membantu mu untuk masuk ke tempat penyekapan Alya, namun sebelumnya aku harus memastikan situasi aman, jika kamu setuju, malam ini kita lakukan rencana ini." Ujar Hana pa jang lebar.
"Kenapa aku harus percaya pada mu? Dan kenapa aku harus mengikuti rencana mu? Apa kau menjamin ini berhasil dan tidak akan membahayakan nyawa Alya? Bisa saja kau ingin mencelakakan aku dan Alya?" Tuduh Marcel.
__ADS_1