
Alya mengalah, di tengah rasa penasarannya yang melihat perubahan sikap Marcel yang kini menjadi terkesan dingin saat bertemu dengannya.
Alya memutar ingatannya kembali mencari-cari dalam pikirannya barangkali dia pernah berbuat salah pada pria yang kini seperti menjaga jarak darinya itu, sayangnya tidak dia temukan satu alasan pun, sebaliknya dia malah mengira jika Marcel memutuskan untuk kembali pada Sita setelah apa yang terjadi.
"Apa mungkin Marcel mengorbankan dirinya untuk kembali bersama Sita agar mantan istrinya itu berhenti mengganggu hidup ku?" Batin Alya, hanya itu satu-satunya alasan yang masuk akal yang menyebabkan berubahnya sikap Marcel padanya.
Entah apa yang terjadi, namun kesalah pahaman di antara mereka berdua sepertinya semakin meruncing dan melebar, masing-masing seperti punya asumsi sendiri-sendiri dengan apa yang di lihatnya, tanpa satu pun yang mau mengalah untuk meminta penjelasan atau membicarakan apa yang menjadi ganjalan dalam dirinya.
Terkadang memang yang membuat semua masalah terasa lebih sulit itu adalah ego kita sendiri, sering kali kita keras kepala dan tidak mau memgalah pada ego kita sendiri yang akhirnya justru malah merugikan dan lebih jauhnya mencelakakan diri kita sendiri, benar kata pepatah, jika musuh utama dalam hidup kita adalah ego dan gengsi diri kita sendiri.
Mereka di mintai keterangan secara terpisah satu persatu, hanya saja khusus pengecualian saat giliran Sita yang akan di mintai keterangan, saat itu Marcel ikut masuk untuk menemani dan mendampingi mantan istrinya yang terlihat sangat sangat gugup itu, tampak beberapa kali Marcel mengusap pundak Sita penuh rasa sayang seraya ingin memberikan kekuatan pada wanita yang wajahnya terlihat kacau dan menyimpan banyak tekanan itu, bahkan sesekali Marcel membisikkan kata-kata yang mungkin sebagai semangat untuk mantan istrinya itu.
Alya berusaha sebisa mungkin menjauhkan pandangannya dari interaksi intens kedua mantan suami istri yang membuat dadanya tiba-tiba saja merasa terbakar, tenggorokannya pun ikut merasa penuh dan sakit seolah tidak bisa menelan bahkan untuk menghirup udara sekalipun, pemandangan itu terlalu menusuk bukan hanya penglihatannya saja, namun juga hatinya.
__ADS_1
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Ivan tiba-tiba yang sepertinya mulai menyadari jika ada yang aneh dengan sikap Alya dan Marcel yang tidak lagi sepeti sebelumnya.
"Tidak," Alya menggeleng pelan, namun sorot matanya tidak bisa berbohong, ada kilauan kesedihan yang tak mampu dia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri sekalipun.
"Bicara baik-baik, jangan pendam masalah, jika ada sesuatu hal yang di rasa mengganjal, sebaiknya segera selesaikan, atau kamu ingin aku membantu mu untuk berbicara padanya?" Ivan menawarkan diri untuk menjembatani perbincangan antara Alya dengan Marcel yang di rasanya sedang tidak baik-baik saja itu, namun Alya langsung menggeleng dan menolak niat baik mantan suaminya itu.
"Tidak usah, aku bisa menanganinya sendiri, lagi pula aku juga tidak mau memaksakan perasaan pada orang lain, jika dia sudah tidak ingin berteman dengan ku dan memilih untuk kembali ke pelukan mantan istrinya, aku tidak akan menghalang-halanginya." Tolak Alya, pantang bagi dirinya untuk mengemis cinta, sebesar apapun perasaan yang di milikinya untuk Marcel.
"Cih, kau tidak pernah berubah, terlalu gengsian! Hati-hati, gengsi mu itu justru akan menenggelamkan mu dalam kesedihan dan penyesalan mu sendiri, saran ku, jika kau mencintainya, kejar dan dapatkan dia, jangan lepaskan lagi," ucap Ivan setengah mengejek Alya, dia sungguh paham dengan sifat mantan istrinya yang terlalu menjunjung tinggi rasa gengsinya, namun dalam hal ini, sebagai teman yang baik Ivan harus mengingatkan Alya agar dia tidak menyesal di kemudian hari karena terlalu mementingkan gengsinya, Ivan sangat tau jelas jika Alya sangat mencintai Marcel, begitupun sebaliknya.
Beberapa jam berlalu, pemeriksaan selesai di lakukan, ada yang ganjil dari pemeriksaan ini, Ivan tetap berstatus saksi meski dirinya berkata jujur jika dirinya ikut terlibat dalam penjebakan Alya, tidak ada penaikan status dirinya menjadi tersangka, padahal Ivan sudah menceritakan semua rentetan kejadian sejak awal sampai akhir, dan yang lebih mengejutkan lagi ketika Haryanto keluar dari kantor polisi bersama Marcel, tanpa Sita di antara mereka, membuat Alya dan Ivan saling melempar pandangan penuh tanda tanya.
**
__ADS_1
Dua hari yang lalu, Marcel di hubungi Sita, dan di minta untuk bertemu dengannya, meski dengan perasaan yang gamang, Marcel akhirnya menyetujui permintaan Sita untuk bertemu, meski dia tidak tahu apa maksud pertemuan itu, mengingat bagaimana Sita menyerang Alya terakhir kalinya, sebenarnya dia agak was-was jika Sita berniat jahat padanya, namun Marcel hanya bisa pasrah, lagi pula semua permasalahan harus di selesaikan dengan Sita, ada banyak hal juga yang ingin dia bicarakan dengan mantan istrinya itu, termasuk tentang Haryanto yang tiba-tiba menggantikan posisinya sebagai tersangka, banyak hal yang perlu di luruskan dengan wanita yang pernah terikat pernikahan dengannya meski atas dasar keterpaksaan itu.
"Aku ingin menyerahkan diri, aku ingin mempertanggung jawabkan semua yang aku lakukan kemarin, aku baru sadar jika ternyata ayah ku menyenyangi ku, aku tidak bisa melenggang begitu saja bebas berkeliaran melakukan hal-hal yang aku suka, sementara ayah ku harus menanggung dosa dan kejahatan yang tidak pernah dia perbuat sama sekali." Curhat Sita pada Marcel saat mereka bertemu di rumah persembunyian milik Haryanto di pinggiran kota, Sementara Marcel mendengarkan curhat mantan istrinya itu sambil bermain bersama Daniel dan melepas rindu dengan bocah laki-laki yang lama tidak di temuinya itu.Daniel memang sudah di antarkan oleh orang kepercayaan Haryanto ke rumah itu, karena rencananya malam ini mereka akan pergi ke luar negeri untuk selamanya.
"Kali ini ucapan mu terdengar benar, tapi kenapa kau mengatakan semua ini pada ku? Apa hubungannya dengan ku?" Tanya Marcel dingin, dia masih belum bisa memaafkan Sita yang hampir saja menghilangkan nyawa wanita yang di cintainya jika saja Ivan tidak mengorbankan dirinya untuk menjadi tameng.
Dan sialnya, meski Alya tebebas dari maut, ulah Sita itu tetap saja membuatnya harus kehilangan Sita karena pengorbanan Ivan membuat mereka kembali bersama, setidaknya itu yang Marcel tangkap dalam pikirannya.
"Karena ini ada hubungannya dengan mu, dan semua ini juga tergantung dengan keputusan mu." Kata Sita berteka-teki.
"Berhubungan dengan keputusan ku? Apa yang harus aku putuskan?" Marcel mengernyit.
"Permintaan ku pada mu." Ucap Sita dengan tenang.
__ADS_1
Perasaan Marcel mulai tidak enak enak hati, jangan-jangan permintaan Sita pemintaan yang aneh-aneh lagi seperti sebelumnya, haruskah dia berkorban demi Sita mengakui kejahatannya di depan polisi, dan mempertanggungjawabkan semua kejahatannya?