Celana merah jambu

Celana merah jambu
Penikmat senja


__ADS_3

Selesai mengungkapkan semua isi hatinya di hadpan ayahnya dan juga Alya, Marcel lantas membawa Alya segera keluar dari rumah itu, setelah sebelumnya dia juga memperingatkan ayahnya untuk jangan pernah coba-coba mengusik Alya.


Alya yang masih syok dengan pernyataan Marcel tadi hanya bisa pasrah dan seperti orang terkena hipnotis yang menuruti saja saat tangannya di tarik dan di bawa Marcel untuk keluar dari rumah itu dan memasukannya ke dalam mobil untuk di bawa pergi dari sana.


"Maaf, aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan itu semua di hadapan ayah ku dan-- kamu," ucap Marcel membuka sura setelah dia berhasil mengendalikan dirinya sendiri untuk kembali 'normal'.


Seperti tersadar dari lamunannya, Alya juga berusaha untuk kembali 'normal' meski dia masih terlihat linglung, terlebih permintaan maaf Marcel barusan terdengar ambigu bagi Alya.


'Maaf, aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan itu semua' , Alya sekuat tenaga mencerna kata-kata yang di ucapkan Marcel, asumsi Alya yang pertama, Marcel tidak punya pilihan lain selain berbohong mengatakan kalau dia mencintai dirinya, dan asumsi yang ke dua yang membuat seluruh tubuh Alya merinding hebat, Marcel tidak punya pilihan lain selain berkata jujur kalau dia benar-benar mencintainya.


Memikirkan semua itu membuat Alya semakin tidak bisa berkata-kata, namun untuk bermain aman, Alya lebih mempercayai asumsi nya yang pertama, rasanya itu lebih logis dan masuk akal.


"Harusnya bapak tidak perlu berbohong seperti itu di depan ayah anda, bukankah itu nantinya akan menjadi bumerang untung kehidupan rumah tangga bapak, bagaimana jika hal itu sampai ke istri anda, betapa saya akan sangat merasa bersalah dengan itu semua." Protes Alya.


"Aku bisa menanganinya, seperti yang sudah aku ucapkan pada mu sebelumnya, istri ku tidak mudah percaya dengan omongan orang lain. Jadi kamu tidak perlu merasa takut atau merasa bersalah atas apapun." Sanggah Marcel.


"Pak, apa saya boleh bertanya sesuatu pada anda?" Ujar Alya ragu-ragu, Marcel yang mendengar itu terlihat mengangguk meski tak mengeluarkan suara, matanya masih fokus ke jalanan di tengah dia serius berkendara.


"Apa saya boleh tau tentang janji apa yang anda langgar?" Tanya Alya, tiba-tiba kekepoannya meningkat sangat tinggi ketika dia mengingat perkataan Salim perihal Marcel yang melanggar janjinya sendiri karena dirinya, jujur saja itu sangat menggelitik rasa kepenasarannya sejak tadi.


"Akan ku beri tahu jika kamu benar-benar ingin tahu, namun sebelumnya aku ingin meminta bantuan mu, maukah menemani ku ke suatu tempat?"


"Ke suatu tempat? Kemana itu?"


"Kalau kamu keberatan, aku tidak akan memaksa," ujar Marcel.


"Baik, aku akan menemani mu." Kata Alya tanpa menayakan kemana Marcel akan membawanya, entah mengapa dia percaya begitu saja pada pria itu, meski arah yang di tuju mereka sekarang ini menuju ke luar kota.


Alya yakin kalau Marcel tidak akan berbuat hal yang tidak-tidak padanya, apalagi pria itu juga berulang kali menolongnya saat dalam kesulitan.

__ADS_1


"Bukankah ini arah ke Bandung?" Tanya Alya penasaran.


"Hmm, apa kamu takut?"


"Tidak. Saya percaya kalau anda tidak akan berbuat jahat pada saya." Jawab Alya yakin.


"Kamu terlalu gampang percaya pada orang," ujar Marcel seraya tersenyum hambar.


**


Setelah beberap jam berkendara, mereka tiba di sebuah rumah sederhana namun terlihat begitu asri dan bersih terawat, bangunannya masih bangunan tempo dulu, dengan halaman luas dan di tumbuhi pohon jambu air dan pohon rambutan yang sedang berbuah sangat lebat, sementara beberapa tanaman hias berjejer rapi di teras rumah tampak jelas jika semua itu di rawat dengan baik.


Udara dingin di dataran tinggi Jawa Barat itu langsung menyambut Alya, saat dia baru saja turun dari mobil, mengekor Marcel yang sudah terlebih dahulu turun dan berjalan menuju pekarangan rumah, sore itu.


"Rumah siapa ini?" Tanya Alya terlihat sangat takjub dengan pemandangan indah di sekitar rumah yang di kelilingi sawah dan kebun singkong, tentu saja itu pemandangan yang sangat langka dan jarang di temui di Ibu kota, sehingga membuat Alya tak henti mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu dengan mata yang berbinar.


"Rumah almarhum ibu ku." Jawab Marcel seraya mendudukan dirinya di sebuah kursi anyaman rotan yang berada di teras rumah itu.


"Hahaha, apa aku tak salah dengar? Bukankah para wanita modern seperti kalian akan lebih nyaman tinggal di tempat yang dekat dengan Mall, kafe, tempat hiburan?" Kata Marcel.


"Bagi saya, pemandangan seperti itu lebih mahal di banding tempat-tempat yang anda sebutkan tadi." Alya menunjuk ke arah matahari yang perlahan bersembunyi di balik gunung yang terlihat jelas dari arahnya berdiri sekarang ini, langit berwarna kuning keemasan di sekitarnya membuat Alya tidak memalingkan pandangannya sedikit pun, tak terbayangkan sebelumnya jika saat ini dia bisa merasa sangat bahagia hanya karena menikmati pemandangan matahari tenggelam di tempat yang sederhana seperti ini.


"Penikmat senja juga, rupanya?" Ucap Marcel, yang juga sangat menyukai pemandangan kala senja, namun senja kali ini sangat berbeda, senja kali ini terasa lebih indah, karena dia menikmatinya dengan orang yang spesial.


"Ayo masuk, sebentar lagi gelap, udara juga semakin dingin." Ajak Marcel seraya membuka kunci pintu depan rumahnya.


"Apa tidak ada yang tinggal di rumah ini?" Tanya Alya ragu-ragu, karena melihat Marcel membuka kunci, itu pertanda jika rumah ini kosong.


"Tidak ada, apa kau mulai merasa takut pada ku?" Marcel menaikan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Ah tidak. Hanya saja rumah ini terlihat bersih dan terawat, seperti bukan rumah kosong." Kilah Alya yang jujur saja mulai ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumah itu, apalagi saat tahu tidak ada orang lain di sana kecuali mereka berdua. Bagaimana pun, Marcel adalah suami orang.


"Dua hari sekali biasanya ada orang datang ke sini untuk membersihkan rumah, aku biasanya datang ke sini jika pikiran ku sedang tidak tenang, atau sedang banyak masalah." Ujar Marcel.


"Apa saat ini anda sedang tidak tenang gara-gara masalah saya dengan ayah anda?"


"Mungkin salah satu penyebabnya karena itu, tapi ada beberapa hal lain yang juga membuat pikiran ku kacau saat ini." Ujarnya.


"Maaf, karena saya menambah beban di pikiran anda." Sesal Alya.


"Itu hanya hal kecil bagi ku, bahkan bisa di bilang tidak ada apa-apanya, karena masalah ku sendiri lebih banyak dan lebih kompleks jika di bandingkan dengan masalah perseteruan antara Kau dengan ayah ku, apa kau mau mendengar cerita ku?" Tanya Marcel.


"Jika tidak juga tidak apa-apa, aku tidak memaksakan orang lain untuk mendengar cerita ku." sambung Marcel saat tidak mendapat respon atau jawaban apapun dari Alya.


"Jika bercerita akan membuat bapak tenang, saya akan mendengarkannya." Melihat wajahmemelas Marcel membuat Alya tidak tega, tidak ada salahnya bukan, meringankan pikiran orang yang sudah bolak-balik membantunya dalam kesulitan, apalagi hanya dengan mendengarkan ceritanya saja.


"Saat itu, ayah ku tertipu investasi bodong oleh teman dekatnya sendiri, sampai perusaan terjerat hutang yang sangat besar, hampir saja perusahaan bangkrut, namun salah satu teman ayah ku yang lain menawarkan bantuan, dia bersedia menutup semua hutang ayah ku, dengan syarat aku harus menikahi putrinya yang tengah hamil oleh kekasihnya yang tidak bertanggung jawab, tentu saja, aku menolaknya. Aku yang saat itu masih bekerja pada perusahaan asing, merasa percaya diri untuk menolak permintaan ayah ku, karena jikapun aku tidak di akui anak lagi oleh ayah ku, aku masih bisa menghidupi diri ku sendiri. Namun lain cerita ketika ibu ku yang datang memohon dan menangis pada ku, hal itu membuat ku tidak bisa menolak permintaannya, ibu ku tidak pernah meminta apapun, selama ini, ini adalah permintaannya yang pertama dan sekali gus yang terakhir." Marcel menghentikan ceritanya, dadanya mulai terasa sesak dengan tenggorokan yang tercekat.


Kembali mengingat masa-masa itu membuat emosinya sungguh tak terkendali, itu adalah masa-masa tersulit yang harus dia alami di sepanjang hidupnya.


Alya bangkit dari duduknya dan bergegas ke dapur, untuk mencari air minum, dia tahu jika tak mudah bagi Marcel menceritakan kisah kelam hidupnya.


Marcel kembali meneruskan ceritanya setelah menghabiskan segelas air yang di berikan Alya.


"Aku menerima permintaan itu, sehari setelah menikah, tiba-tiba ibu meninggal, setelah sebelumnya dia menelpon ku meminta maaf. Ibu ku bunuh diri karena merasa sangat bersalah telah meminta ku menanggung beban yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab ku, usut-punya usut, ternyata ibu juga mendapat tekanan dari ayah ku, sehingga dia memaksa ku melakukan pernikahan itu, sehingga sejak kematian ibu membuat aku bersumpah untuk tidak akan menginjakan kaki ku ke rumah itu lagi, meski ayah ku mati sekali pun, karena aku merasa ayah ku lah yang menyebabkan kematian ibu ku." Raut kesedihan di wajah Marcel tiba-tiba berubah menjadi kemarahan dan kebencian yang sangat mendalam.


"Aku benci, aku membenci semuanya, ayah ku, istri ku, satu-satunya alasan aku bertahan sampai sekarang ini hanya Daniel, dia bayi tak berdosa yang menjadi korban dalam masalah ini selain aku, hanya pada dia selama ini aku bercerita, hanya dia yang mau mendengar keluh kesah ku."


"Kenapa bapak menceritakan semua masalah ini pada saya?" Tanya Alya.

__ADS_1


"Karena kau seperti Daniel, bukan siapa-siapa ku, namun aku menyanyanginya, ingin melindunginya, dan selalu menjadi tempat ternyaman untuk bercerita." Ujar Marcel dengan lugas.


__ADS_2