
'Sebaiknya kamu jangan ke kantor hari ini, dan juga jangan keluar apartemen. Sebentar lagi aku akan datang ke sana menemui mu dan juga Daniel'
Begitu isi pesan yang di kirimkan Marcel pada Alya pagi itu, sejak semalam entah menapa Daniel rewel, dan sebenarnya niatnya pagi ini dia akan membawa Daniel ke rumah sakit untuk bertemu dokter anak, selain memang sudah jadwal pemberian vaksin, Alya juga berniat memeriksakan Daniel yang semalam sempat muntah, sebagai orang awam yang tidak mengerti cara mengurus bayi tentu saja hal itu membuat dirinya panik, sempat terbersit untuk menghubungi Marcel, namun niat itu dia urungkan begitu saja karena Daniel justru akan semakin kencang menangis jika tidak dia timang-timang, jadilah dia menimang Daniel semalaman sampai dirinya tidak sempat tidur sama sekali.
Mendapat pesan seperti itu dari Marcel membuat Alya merasa bingung, apalagi saat Marcel tiba-tiba melarangnya untuk pergi kemana-mana dan menyuruhnya untuk tinggal di rumah saja, sementara baginya membawa Daniel ke rumah sakit tidak bisa di tunda lagi.
Alya mencoba menghubungi Marcel untuk meminta izin untuk ke rumah sakit sebentar, namun ponsel kekasihnya itu tidak dapat di hubungi, tentu saja hal itu semakin membuat dirinya kebingungan, karena selama ini Marcel hampir tidak pernah mematikan ponselnya, namun Alya juga tak ingin terlalu ambil pusing lagi, dia nekat untuk tetap pergi ke rumah sakit membawa Daniel untuk periksa, toh hanya sebentar saja, pikir Alya, apalagi taksi online yang tadi di pesannya sudah memberi kabar kalau dia sudah menunggu di depan loby apartemen.
Tanpa menaruh curiga atau berprasangka buruk apapun, Alya pergi dengan menggendong Daniel, namun setibanya di loby apartemen, dia merasa kaget dengan banyaknya wartawan berkerumun, namun merasa dirinya tidak ada hubungannya dengan itu semua, dia melenggang dengan santainya melangkah ke luar loby.
Namun betapa terkejutnya Alya saat puluhan wartawan itu justru mendekati danmengerubuti dirinya yang sedang menggendong Danil dan kesusahan mencari di mana taksi online pesanannya itu berada.
Para wartawan itu tanpa ampun memotret dirinya dan mengajukan berbagai pertanyaan ke hadapan Alya, bahkan dengan sok tahunya dan dengan kurang ajarnya mereka bahkan menyebut kalau Daniel adalah anak dari hasil hubungan gelap dirinya dan Marcel.
"Mbak Alya, berarti benar rumor yang mengatakan kalau anda punya affair dengan pak Marcel, direktur Salim grup? Apakah ini anak hasil hubungan gelap kalian berdua? Berapa bulan kini usianya?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang membuat telinga Alya panas dan wajahnya memerah terus saja di lontarkan dari mulut para wartawan yang seolah tidak berperasaan itu, ya,,, mungkin memang benar mereka mencari uang dari mencari berita, namun cara mereka menanyai nara sumber itu sepeti melupakan etika, apalagi di sana ada anak bayi.
Alya hampir saja hilang kendali dan ingin sekali menghardik para p[encari berita itu jika saja dirinya tidak sedang menggendong Daniel saat ini, sungguh dirinya tidak habis pikir, bagaimana bisa para wartawan itu memburu dirinya, sementara dirinya bukan selebriti, tokoh politik atau istri pejabat yang doyan flexing yang sedang di incar wartawan dan netizen.
Di tengah kekalutan dan kebingungan karena seolah maju kena mundur kena, posisi Alya saat ini benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan namun juga tidak bisa kembali masuk ke apartemen karena seolah terjebak para wartawan yang menghadangnya, Alya di buat kaget karena tiba-tiba Marcel menerobos kerumunan dan memeluk bahunya lantas membawanya keluar dari kerumunan para awak media, dengan bantuan Darma yang ikut membukakan jalan untuk mereka.
"Jangan ganggu anak dan kekasih ku jika kalian tidak ingin berurusan dengan pihak yang berwajib karena aku tak akan segan-segan untuk melaporkan kalian yang mengusik mereka!" Tegas Marcel saat dua orang wartawan berusaha menghalangi langkah Marcel yang sedang memeluk Alya juga Daniel saat hendak masuk ke dalam mobil nya.
Alya sibuk menenangkan Daniel yang terbangun dari tidurnya akibat keberisikan para wartawan tadi, sementara Marcel serius dengan kemudinya.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah bilang untuk tidak usah ke mana-mana dan diam di dalam apartemen untuk menunggu ku datang?" Tanya Marcel setengah kesal karena dia merasa Alya tidak mengikuti perintahnya untuk tidak kemana-mana sampai dirinya datang.
"A-aku,,,aku,,," Alya yang masih merasa syok dengan kejadian tadi dan di tambah harus menghadapi Marcel yang kini terlihat kesal pada nya, di tengah Daniel yang juga terus menangis di pelukannya, membuat dia tak bisa berkata-kata, dan hanya bisa melelehkan air matanya yang sejak tadi hanya menggenang di sudut matanya.
"Apa kamu sengaja ingin membuat ku khawatir, kenapa kamu tidak mau mendengar kan ku?" Sambung Marcel lagi.
Terkadang orang panik bisa melakukan hal-hal di luar kendalinya, seperti yang terjadi pada Marcel sekarang ini, panik melihat Alya dan Daniel di kerubuti para wartawan tadi membuat pria itu seolah ingin menumpahkan kemarahan yang seharusnya kepada para wartawan, namun menjadi seolah di tujukan pada Alya.
Mendapat tuduhan seperti itu, air mata Alya smakin deras mengalir di pipinya, sungguh dia tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga dia memutuskan untuk pergi, apalagi kepergian nya tadi hanya untuk ke rumah sakit saja, bukan untuk main atau keluyuran, namun Marcel seolah tidak mau tau dan tidak mau mendengarkan alasan Alya.
Ini pertengkaran pertama mereka setelah menjadi sepasang kekasih.
Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Alya Marcel akhirnya tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya terdiam sambil mengemudikan kendarannya dalam kebisuan, begitu pun Alya yang juga memilih untuk menutup rapat bibirnya dan lebih memilih menyibukan diri untuk menidurkan Daniel kembali, dia juga tidak bertanya sedikitpun pada Marcel, kemana kekasihnya itu akan membawa nya pergi, terus terang saja Alya juga merasa sedikit dongkol pada kekasihnya saat ini karena dia tak menanyakan alasan dirinya pergi, tapi langsung menjudge nya 'sengaja tidak menuruti ucapannya'.
Benar saja ketika membuka akun sosial medianya, dia mendapat banyak sekali pesan dari orang-orang yang tidak di kenalnya, bahkan banyak sekali di antara mereka yang men-tag namanya, semalaman dia hampir tidak memegang posel sama sekali karena sibuk mengurusi Daniel, rupanya video dirinya dan Marcel saat di tempat kost Darma yang sempat di jaikan ancaman pada Salim yang membuat Salim akhirnya memutuskan untuk membayar ganti rugi pada JT grup dan tidak melanjutkan tuntutannya, kini tersebar luas di media, bahkan akun-akun gosip ikut memberitakannya.
Dengan judul affair pengusaha perusahaan semen terbesar dalam negeri bersama mantan karyawannya, di sana juga di tunjukkan dengan jelas foto dirinya yang di sandingkan dengan foto pernkahan Marcel dengan Sita, seolah-olah Alya adalah pelakor atau orang ketiga yang berada di antara rumah tangga Marcel dan Sita. Belum lagi beberapa akun yang sengaja membanding-bandingkan antara dirinya dengan Sita dengan judul 'cantik mana, istri sah atau selingkuhannya?' postingan itu ramai di komentari netizen yang hampir 99 persen menghujat Alya.
Isu perselingkuhan atau pelakor memang sangat sensitif dan cepat sekali mendapat respon dari netizen yang antusiasme nya sangat tinggi jika membicarakan hal-hal seperti itu, apalagi di jaman sekarang ini akun-akun gosip banyak bertebaran tanpa di bayar pun mereka akan dengan senang hati memposting berita-berita yang nantinya akan semakin melambungkan nama nya sehingga endorse-endorse berdatangan pada mereka dengan sendirinya.
Begitulah, menjatuhkan nama orang lain saking mudahnya di jaman yang serba internet ini, seolah semua orang menjadi alim dan menghujat hal yang bahkan belum tentu kebenarannya.
"Tidak usah di lihat lagi!" Marcel merebut ponsel yang sedang di lihat Alya tanpa berkedip itu dengan tangan kirinya dengan cepat, dia tidak mau Alya menjadi sedih karena membaca komentar-komentar pedas yang di tulis jari-jari netizen yang tak bertanggung jawab yang di tujukan pada nya.
"Mas, tolong kembalikan!" Pinta Alya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau pikiran mu di penuhi hal-hal sampah seperti ini." Tegas Marcel seraya menepikan mobilnya di sebuah rest area, setelah dia mengisi bahan bakar kendaraannya.
"Maaf, membuat mu terseret dalam masalah seperti ini karena aku." Lirih Marcel.
"Maaf juga karena ketidak tahuan ku sehingga aku ceroboh membawa Daniel keluar tadi, aku hanya ingin ke rumah sakit karena ini jadwal vaksin Daniel dan dia juga semalam muntah, sehingga aku ingin memeriksakannya sekalian." Urai Alya yang akhirnya membeberkan alasan kenapa dirinya ngeyel keluar tadi.
"Seharusnya kamu memberi tahu ku tadi, kalian bisa menunggu ku dan kita pergi ke rumah sakit bersama." Raut penyesalan dan rasa bersalah Marcel sangat terlihat jelas karena tadi sempat kesal dan menuduh Alya yang tidak-tidak tanpa mau mendegarkan pejelasannya terlebih dahulu.
"Aku sudah menghubungi mu, namun ponsel mu tidak aktif," terang Alya.
Marcel menepuk jidatnya sendiri, dia baru ingat jika ponselnya memang sengaja dia matikan karena dia malas banyak sekali orang yang menghubunginya, termasuk ayahnya dan juga mertuanya menanyakan tentang berita panas yang kini sedang beredar luas.
"Maafkan aku, aku yang salah, maaf karena aku terlalu panik dan terlalu mengawatirkan mu, tolong maafkan aku," Marcel memeluk kekasihnya dengan wajah penuh sesal, bahkan tadi dia sempat sedikit membentak kekasihnya yang pasti kebingungan dan ketakutan itu.
"Aku mengerti, namun lain kali bisa kah kamu meminta penjelasan ku terlebih dahulu, sebelum kamu marah? Aku takut, kamu sangat menyeramkan saat marah." Jawab Alya.
"Iya sayang, aku janji aku tidak akan mengulangi hal-hal bodoh yang membuat mu ketakutan padaku lagi, maafkan aku." Kata Marcel yang berulang kali mengulang kata maaf nya karena dia benar-benar merasa menyesal dan merasa bersalah.
Marcel mengusap air mata yang tak berhenti membasahi pipi kekasihnya, wajahnya ikut mendekat, bibir Alya yang merah merekah bak buah cery membuat dirinya tergoda dan ingin mencicipi manisnya, saat bibirnya mendarat di bibir Alya yang hanya bisa pasrah sambil terpejam saat itu, tangisan Daniel tiba-tiba terdengar sangat kencang, membuat keduanya menjauhkan wajahnya dan menoleh ke arah Danil yang berada di car seat baby di jok penumpang tepat di belakang mereka.
"Sepertinya jagoan ayah cemburu, karena mamanya di cium ayah, ya?" Ujar Marcel
Blush,,,
Wajah Alya terasa panas, selain merasa malu karena ciuman yang gagal tadi, sepanjang dirinya merawat Daniel, baru kali ini Marcel menyebut dirinya dengan sebutan mama untuk bayinya, padahal selama ini dirinya juga bingung menyebut dirinya apa pada Daniel.
__ADS_1