
Setelah sekte tahu kalau Guan Long adalah orang yang berada di balik semua masalah yang terjadi, Zhao Yuan membentuk pasukan penjaga dan membangun sebuah kantor pengawas di kota Xuanzhou. Meskipun pada kebenarannya, mereka hanya mengincar Mu Chen Xiao akan tetapi, hal itu mungkin yang akan menjadi penyebab datangnya penyusup lainnya yang akan mengacaukan Sekte.
Dan keesokan paginya, suasana telah kembali normal tanpa ada ketegangan apapun. Dan saat itu, ketika Mu Chen Xiao berjalan di sekitar lapangan pelatihan, perhatiannya seketika berpusat pada Xing Ruo yang sekarang ini sedang berjalan tidak jauh di depannya. Belum lama ini, ia merasa pernah berbicara dengan Xing Ruo namun, ia lupa dimana tempatnya dan hal apa yang mereka bicarakan.
Karena itulah, Mu Chen Xiao akhirnya berlari menghampirinya dan langsung menepuk punggungnya begitu ia telah berada di belakangnya.
"Ruo Gege!" Seru Mu Chen Xiao saat ia menepuk punggung Xing Ruo. Namun, setelah ia melakukannya Xing Ruo tampak kesakitan dan tangan kanannya yang penuh dengan luka, terus memegangi bahunya yang terasa sakit setelah ia dipukuli oleh laki-laki yang ditemuinya kemarin malam.
"Ruo Gege? Kau baik-baik saja?" Tanya Mu Chen Xiao setelah ia melihatnya tampak kesakitan.
Sadar kalau suara ini adalah suara Mu Chen Xiao, Xing Ruo langsung saja menoleh ke belakang dengan ekspresi terkejut dan terdiam selama beberapa saat.
"Oh, Tuan muda! Aku baik-baik saja." Jawab Xing Ruo sesaat kemudian sambil memegangi bahu kirinya yang masih terasa sakit.
"Apa Ruo Gege terluka?" Tanya Mu Chen Xiao yang memperhatikan tangan dan wajah Xing Ruo yang memiliki luka memar dan bekas darah yang ada di bawah bibirnya.
Xing Ruo yang melihat Mu Chen Xiao begitu memperhatikannya, merasa terkejut dan segera melepaskan tangannya yang terus memegang bahu kirinya.
"Aku baik-baik saja. Tuan muda tidak perlu begitu memperhatikan ku." Ucap Xing Ruo dengan wajah yang terlihat menahan sakit.
Melihat Xing Ruo yang terus saja menyangkal ucapannya, Mu Chen Xiao langsung menarik tangannya dan berkata, "Kenapa Ruo Gege selalu saja berpura-pura seperti ini? Tidak apa-apa jika harus merendah sesekali."
Xing Ruo terlihat sangat terkejut setelah ia mendengar ucapan tersebut. Ia terdiam selama beberapa saat dan mengingat kembali kejadian kemarin malam yang begitu memalukan untuknya jika saja seseorang menontonnya dari belakang. Kemarin malam, ia begitu merendah dan tidak berani berkata-kata pada orang itu. Ia hanya terdiam dan menerima semua kekerasan dan hinaan yang laki-laki itu lakukan padanya.
Dengan perlahan, kedua matanya terlihat sembab dan berair begitu Mu Chen Xiao mengakhiri kalimatnya. Ia berulang kali mengusap-usap matanya dan tetap menunduk saat itu juga.
"Ee? Ruo Gege! Apakah yang aku katakan ini salah?" Tanya Mu Chen Xiao begitu ia melihat kedua bola mata Xing Ruo yang tampak berair.
"Tidak. Tidak salah sama sekali." Jawab Xing Ruo saat ia masih mengusap kedua matanya. "... Terima kasih karena Tuan muda telah mengatakan sesuatu yang bermanfaat bagiku." Ucapnya sambil menunjukkan ekspresi senangnya saat ini.
[[ Protagonis utama menganggap Anda sebagai saudara ]]
[[ Sistem memberikan poin B+100 ]]
__ADS_1
[[ Sisa poin akhir +700 ]]
”Apakah ini yang dimaksud 'semua orang akan menjadi pemeran utama'?” batin Mu Chen Xiao setelah ia melihat sistemnya kembali muncul di depan wajahnya.
"Eh,... Kalau begitu aku akan mengobati lukamu terlebih dahulu." Ucapnya sambil mencoba menarik Xing Ruo menuju tempat terdekat.
"Tidak perlu!" Jawab Xing Ruo yang langsung menarik tangannya kembali.
"Ada apa? Kau tidak ingin aku mengobati lukamu?"
"Bukan itu. Tadi, Guru besar Zhao bilang kalau dia ingin menemuimu sekarang juga."
"Menemuiku? Untuk apa?"
"Aku tidak tahu. Tapi, dia bilang kalau dia menunggumu di paviliun Yu'an."
”Mengapa dia ingin aku menemuinya di paviliun Yu'an? Apakah tidak bisa di tempat lain?” batin Mu Chen Xiao yang sangat ingat kalau paviliun Yu'an adalah sarangnya Zhao Yuan dan beberapa petinggi sekte lainnya.
...~ Chapter 107 ~ ...
Beberapa petinggi sekte tampak sedang berada di dalam Paviliun Yu'an. Mereka seringkali membicarakan tentang masalah-masalah yang terjadi di dalam maupun di luar Sekte. Semua orang, kecuali Zhao Bingyan yang sangat tidak ingin mendengar masalah-masalah terjadi satu persatu.
Untuk saat ini, ia sedang menunggu seseorang di depan paviliun sambil memperhatikan beberapa murid yang sedang berlatih pedang di halaman depan. Ia begitu memperhatikannya dengan baik termasuk murid-murid mana yang mengalami peningkatan drastis.
"Sepertinya ada sedikit kemajuan yang mereka alami. Mereka sudah mendapatkan pedangnya sejak usianya tujuh tahun dan pedang itu pastinya berasal dari keluarga mereka masing-masing. Apa jadinya jika ada seorang murid yang tidak memiliki keluarga sama sekali seperti Mu Chen Xiao?" Gumam Zhao Bingyan yang memperhatikan murid-murid tersebut.
"Guru besar Zhao! Apakah Guru mencariku?" Seru seorang anak laki-laki yang sekarang ini sedang berlari menghampirinya.
Zhao Bingyan menoleh ke arah anak laki-laki tersebut dan ia pun tahu kalau orang itu adalah Mu Chen Xiao yang sedang berlari menghampirinya.
"Xiao'er! Akhirnya kau sampai kemari." Jawab Zhao Bingyan dengan senyum ramahnya yang biasa ditunjukkan olehnya pada semua orang.
"Ada apa? Mengapa Guru besar memanggilku?" Tanya Mu Chen Xiao begitu ia berhenti di hadapan Zhao Bingyan.
__ADS_1
"Semenjak Xiao'er berguru pada tetua Hao Shu, apakah ada perubahan dalam dirimu? Sudah berapa tingkatan yang kau tembus?" Tanya Zhao Bingyan sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
Mu Chen Xiao berpikir sebelum menjawab, "Eee,... Selama tiga tahun, aku hanya sampai di level tujuh alam bumi." Ucapnya yang dibarengi dengan tawa canggungnya karena merasa hal ini adalah hal yang memalukan baginya.
Mendengar hal itu membuat Zhao Bingyan melengkungkan senyum ramahnya rela membungkuk di hadapan Mu Chen Xiao yang jauh lebih pendek darinya.
"Apakah Xiao'er penasaran mengapa aku memanggilmu kemari?" Tanya Zhao Bingyan yang membuat Mu Chen Xiao semakin canggung untuk menatapnya.
"Tidak juga. Apakah guru besar akan menyampaikan sesuatu yang penting untukku?" Tanya balik Mu Chen Xiao yang merasa penasaran dengan apa yang disembunyikan di belakang punggung Zhao Bingyan.
Zhao Bingyan sedikit tertawa karena melihat Mu Chen Xiao yang tampaknya sangat penasaran dengan apa yang disembunyikan di belakang punggungnya.
"Sebenarnya, ini bukanlah hal yang penting. Tapi, aku harus segera menyerahkannya padamu karena sudah terlambat."
”Hah? Memangnya apa yang ingin dia berikan padaku?” batin Mu Chen Xiao yang memperhatikan.
Tidak lama setelah mengakhiri kalimatnya, Zhao Bingyan mengeluarkan sebuah pedang bersarung hitam dan memiliki corak merah seperti api. Setelah mengeluarkannya, ia pun memberikannya pada Mu Chen Xiao yang belum memiliki pedang sama sekali.
"Eh? Pedang siapa ini? Mengapa Guru memberikannya padaku?" Tanya Mu Chen Xiao yang keheranan setelah ia melihat sebuah pedang yang berdiam di atas kedua tangannya.
"Pedang ini, aku akan memberikannya padamu. Terserah kau akan memberikannya nama seperti apa yang jelas, pedang ini sudah menjadi milikmu." Ucap Zhao Bingyan dengan lembut saat memberikan pedang tersebut.
”Sebuah nama? Hmm,... Selama ini aku belum pernah bertanya tentang nama pedang mereka masing-masing. Yang jelas, nama itu tidaklah mirip dengan nama yang diberikan pada anak manusia.” batin Mu Chen Xiao yang memikirkannya.
"Terima kasih karena Guru besar telah memberikanku pedang." Ucap Mu Chen Xiao dengan senyum kekanak-kanakannya. "... Aku sudah memberikannya nama! Karena Guru besar memberikannya di akhir musim dingin, aku akan memberikannya nama Lingxue."
[[ Pelanggaran Karakter Mu Chen Xiao ]]
[[ Sistem mengurangi poin -50 ]]
[[ Sisa poin akhir +650 ]]
”.....”
__ADS_1