
Kemah para prajurit, Tenda Permaisuri Yong Qi.
"Yang Mulia! Saya mohon maaf karena telah membiarkan mereka pergi begitu saja." Ucap Du Yang yang langsung berlutut di hadapan Yong Qi ketika perang tersebut telah berakhir.
Yong Qi tidak berekspresi saat Du Yang mengakui kesalahannya. Meskipun begitu, setidaknya karena bantuan dari para arwah pegunungan Jinya dan Baixue, mereka bisa menghabisi setengah dari jumlah pasukan Luoyang dan jumlah prajurit mereka yang mati hanya sekitar 50 orang.
"Tidak ada gunanya kau merendah di hadapanku." Ucap Yong Qi yang membuat Du Yang langsung mengangkat kepalanya karena terkejut. "... Setidaknya kita sudah membuat mereka semua terpojok. Itu mungkin cukup bagus karena kita bisa menyerang wilayah mereka secara bersamaan."
"Yang Mulia benar. Setelah mereka kehilangan banyak prajurit dan hewan sihir mereka, kita memiliki peluang untuk menjatuhkan kota mereka dalam waktu dekat." Ucap Cheng Xing Xian yang mendengar seluruh percakapan tersebut di dalam tenda milik Yong Qi.
"Jenderal Cheng Xing benar. Besok tengah malam, kita akan menyerang kota Luoyang dan dua wilayah Chuye dan Lianyu. Masing-masing membawa dua ribu pasukan dan sisanya akan berjaga di sini." Jelas Yong Qi sambil membuka kembali peta miliknya.
Saat Yong Qi memberikan sebuah keputusan, tidak ada seorangpun yang menentangnya dan itu artinya semua orang saat ini telah menyetujuinya dan akan bergerak sesuai perintah Permaisurinya.
...~ Chaos System ~...
...~ Chapter 115 ~...
"Haah! Hari ini aku kenyang sekali!" Keluh Xun Ji'an setelah ia memakan seluruh magical beats milik pasukan Luoyang tanpa memikirkan keadaannya saat itu.
"Apakah sebanyak itu hingga kau sangat kenyang seperti ini?" Tanya Lun Quo yang saat itu sedang berjalan di sebelah Xun Ji'an menuju tenda milik Permaisuri Yong Qi.
"Ya,... Kira-kira seperti itu. Setidaknya aku sanggup memakan seekor beruang besar dalam satu kali gerakan dan seekor kalajengking yang beracun." Jawab Xun Ji'an sambil memegangi perutnya yang terlihat besar dibandingkan dengan biasanya.
"Apakah itu artinya kau akan tidur dalam waktu yang lama?" Tanya Lun Quo, "Bukankah biasanya seekor ular yang telah memakan mangsanya, ia tidak akan makan dan terus tidur selama sebulan?"
Xun Ji'an memasang ekspresi terkejut begitu Lun Quo langsung saja menyimpulkan keadaannya saat ini. "... Yang benar saja! Apakah kau sedang menyamakan kedudukan ku dengan seekor ular sempurna? Aku ini arwah yang bisa melakukan segalanya. Tidak mungkin aku akan langsung saja tidur selama itu!" Celetuk Xun Ji'an saat ia mendengar Lun Quo berbicara.
"Lalu, kenapa kita berjalan menuju tenda Permaisuri? Bukankah seharusnya kita membantu Nona Xu untuk mengobati beberapa pasukan yang terluka?" Tanya Lun Quo begitu ia teringat pada Xu Wuya yang sedang mengobati para pasukan yang terluka parah.
"Sudahlah. Jangan khawatirkan dia. Orang itu pasti bisa melakukannya sendiri." Jawan Xun Ji'an dengan abai karena merasa dirinya tidak akan berguna jika tetap terlibat didalamnya.
__ADS_1
"Hei! Kalian berdua!" Seru seorang prajurit Yong Fei yang sekarang ini sedang menghampiri keduanya.
"Bukankah kalian berdua adalah pasukan bantuan dari Istana Zhang?" Tanya prajurit yang berhasil membuat keduanya langsung berdiri menghadap ke arahnya.
"Hmm,... Sepertinya." Jawab Xun Ji'an dengan bingung.
"Kalau begitu, bergabunglah dengan kami! Saat ini kami sedang membakar seluruh hewan Magical Beats yang kami bunuh saat perang. Di sini kami sangat jarang sekali makan daging seperti hari ini." Jelas prajurit yang membuat Xun Ji'an merasa mual setelah ia mendengar kata makanan dalam kalimatnya.
"Ahh,... Mungkin kau ajak saja Lun Quo. Aku sudah cukup kenyang." Ucap Xun Ji'an yang tidak berhenti memegang perutnya dengan wajah asam yang tampaknya tidak tahan untuk meninggalkan mereka berdua.
"Ahh,... Kalau begitu tidak apa-apa. Aku hanya akan mengajak Lun Quo saja." Ucap prajurit yang langsung berdiri menghadap ke arah Lun Quo.
"Tidak! Bagiku makan itu tidak penting karena aku hanyalah arwah yang tidak berbentuk. Mungkin sebaiknya kalian mengajak Baixue dan Xu Wuya. Mereka mungkin sangat kelelahan setelah perang pertama mereka." Celetuk Lun Quo yang langsung berdiri di sebelah Xun Ji'an yang semakin menjauh darinya.
Wajah prajurit tersebut seketika menjadi kecewa karena ia gagal mengajak Lun Quo dan Xun Ji'an untuk makan bersama mereka. "... Kalau begitu, mungkin aku pergi saja. Kami akan menyisakan beberapa bagian untuk kalian!" Ucap prajurit yang mendadak langsung ceria begitu ia mengatakan kalimatnya dan pergi meninggalkan mereka berdua di tempat yang sama.
”Kenapa harus repot-repot mengajak kami?” gumam Xun Ji'an yang memperhatikan saat perutnya merasa mual ketika mendengar kata makanan.
Sementara ini, di kota Nianfeng istana Zhang.
"Ahh,... Lelah sekali!" Ucap Lian Luo dan Mu Chen Xiao secara bersamaan dan keduanya langsung terjatuh dari atas kudanya karena kedua kaki mereka yang terasa pegal-pegal.
”Haah? Mereka langsung jatuh?” batin Zhang Xiuzhen yang merasa heran setelah melihat keduanya telah terjatuh dari atas kudanya.
"Guru besar Zhao! Apakah kita boleh beristirahat di sini?" Tanya Ying Tian yang tampaknya terlihat sangat lelah sama seperti kedua orang tadi.
Zhao Bingyan yang mendengar pertanyaan tersebut langsung menoleh ke arahnya dan menjawab, "Silahkan! Kalian boleh berkunjung kemana saja asal jangan pergi ke tempat hiburan dan kabur dari penugasan." Jawab Zhao Bingyan yang langsung menatap dingin ke arah Mu Chen Xiao.
”Haah? Apakah dia baru saja menyinggung diriku?” batin Mu Chen Xiao yang merasa tertuduh setelah Zhao Bingyan menatapnya dengan dingin.
Karena kota yang begitu ramai, Zhang Xiuzhen langsung turun dari atas kudanya disusul dengan kedua orang lainnya yang berada di depannya saat ini. Ia pun segera menghampiri Mu Chen Xiao dan mengulurkan tangan untuknya.
__ADS_1
"Sebelumnya Xiao Xiao tidak pernah berkunjung kemari, bukan?" Tanya Zhang Xiuzhen dengan senyum ramahnya ketika ia sedang membuat Mu Chen Xiao harus menatap ke arahnya. "... Kalau begitu, aku akan mengantarkanmu berjalan-jalan di kota termasuk mengunjungi rumah makan yang menjual banyak makanan enak."
”Dia pikir aku ini orang yang rakus?!” batin Mu Chen Xiao setelah ia mendengar kalimat tersebut.
"Ya iya, aku sangat lapar. Antarkan aku ke tempat itu!" Jawab Mu Chen Xiao yang langsung berdiri menggunakan kedua kakinya sendiri.
Ketika keduanya akan pergi, Lian Luo langsung berdiri kembali dan berkata, "Yang Mulia! Anda harus segera kembali ke istana!" Ucapnya yang berhasil membuat keduanya berhenti dan menoleh ke arah Lian Luo yang sedang berdiri di belakang mereka.
"Haah,... Nanti saja! Katakan pada paduka kalau aku sedang berjalan-jalan keluar!" Celetuk Zhang Xiuzhen yang langsung menarik Mu Chen Xiao pergi dari tempat tersebut.
"T,... Tapi! Yang Mulia,..." Lian Luo hanya bisa terdiam tidak berekspresi begitu ucapannya telah diabaikan oleh Zhang Xiuzhen yang lebih mementingkan tamunya dibandingkan dengan pelayan setianya.
Melihat keduanya pergi, Zhao Bingyan langsung berdiri di sebelah Ying Tian dan berkata, "Ikuti mereka berdua." Ucapnya yang membuat Ying Tian seketika merasa senang begitu ia melihat Zhao Bingyan akan berjalan bersamanya.
”Aku benar-benar telah diabaikan.” batin Lian Luo yang menyaksikan keempat orang yang telah mengabaikannya dan meninggalkannya bersama kuda-kuda mereka.
”.....”
Sebuah kedai makanan besar yang terbangun di sekitar kota Nianfeng bernama Kedai Makanan Tanhua, memiliki banyak pengunjung yang berasal dari Istana dan pelayan-pelayan mereka yang terlihat anggun dan mempesona. Makanan mereka sangat mahal sehingga tidak sembarang orang bisa mengunjungi tempat tersebut.
”Kedai makanan Tanhua? Jadi, ini yang dia maksudkan memiliki banyak makanan enak?” batin Mu Chen Xiao yang memperhatikan para pengunjung kedai yang tampak bersinar seperti emas.
"Xiao Xiao! Kemarilah! Ada beberapa meja yang telah disiapkan untuk para tamu Istana!" Seru Zhang Xiuzhen begitu ia mengetahui bahwa ada beberapa baris meja yang dikhususkan untuk para tamu Istana yang akan melakukan tugasnya besok.
Sebuah meja panjang tampak berbaris memenuhi salah satu ruangan VVIP yang berada di kedai tersebut. Tepat di atasnya sudah terdapat beberapa makanan termahal dan beberapa minuman anggur yang berdekatan dengan piring-piring mereka.
”Aku pikir, Istana akan mengadakan sebuah perjamuan untuk menyambut kami. Ternyata, perjamuannya diadakan di sebuah kedai yang penuh sesak seperti tempat ini. Apakah aku sedang bermimpi atau aku salah mengira?” batin Mu Chen Xiao yang memperhatikan meja tersebut.
Lalu, ketika ia sedang memperhatikan mejanya. Tiba-tiba saja dari belakang, seseorang telah menaruh tangannya di atas pundak Mu Chen Xiao dan berhasil membuatnya tersentak kaget setelah ia merasakan hal itu.
"Lama tidak bertemu, Mu Chen Xiao."
__ADS_1
Pandangannya pun seketika teralihkan ke belakang dan ekspresinya berubah sangat terkejut setelah ia melihat laki-laki ini!
”Dia,... Adalah Shang Ren?!”